
" Maaf ya Bu saya lama, Jadi nggak enak saya sama Buibu yang cantik-cantik ini," Arum meminta maaf karena sudah membuat kedua teman baru nya itu menunggu,
Sedang Azka si pembuat ulah malah santai tanpa rasa bersalah sedikitpun telah membuat ke dua Ibu-ibu rempong itu menunggu nya, yang tengah mencumbu Arum tadi,
" Santai aja Rum, kek sama siapa aja, iyakan Tin," Bu Siti mencolek lengan Bu Tina yang berjalan di sisi nya,
" Iya Rum santai aja, nggak usah jadi pikiran, kita berdua ini sudah biasa dalam urusan tunggu menunggu," saut Bu Tina sambil Terkekeh-kekeh,
" ini masih jauh ya Bu, " Tanya Arum kemudian, Yang mendorong kursi roda Suaminya, Saat ini mereka ber empat tengah berjalan kaki menuju klinik pijat refleksi yang di rekomendasikan oleh kedua Ibu-ibu di samping nya itu,
"Dikit lagi kok, kita Sampai, Tinggal belok di ujung gang sana, " Saut Bu Tina, sembari menunjuk ujung gang yang sudah dekat dengan mereka,
" Rum, Besok-besok kalau kamu ajak suamimu terapi, kamu jangan lupa pakaikan dia topi, Kasian kepanasan tuh sampai merah gitu muka nya,"
Bu Siti berbisik di telinga Arum, Yang seketika menunduk melihat Wajah Azka yang sudah memerah karena terpapar sinar matahari sore, Kulit Azka yang putih bersih sangat kontras dengan wajah nya yang merah itu,
.
"Jadi Suami Ibu ini sudah dua tahun lebih kecelakaan nya? Dan semenjak itu juga tidak bisa berjalan nya?,"
Tanya seorang terapis yang sedang memeriksa keadaan Kaki Azka sampai kepinggang nya,
"Iya Pak," Jawab Arum dengan menoleh Azka yang mengganguk samar kepadanya,
" Ok, saya coba kasih bijatan di bagian pinggul sini, apabila terasa sakit atau kram, ngomong ya Pak," Tukas sang terapis tersebut, kepada Azka, yang kini posisi nya telah tengkurap di atas bed khusus pasien itu,
Beberapa saat berikut nya, Azka terlihat sedikit meringis saat tangan terapis itu memijat area pinggang dan juga pinggul nya,
__ADS_1
" Auuh sakit Pak, Terasa seperti kram juga gitu," Azka berkata dengan wajah menahan nyeri,
" Sakit banget ya Mas?, Arum menanyai suaminya itu dengan mengusap setitik peluh yang timbul di dahi Suaminya itu,
" Iya sayang agak sakit dan ngilu, Tapi nggak apa-apa, Mas masih tahan kok," Azka mencoba tersenyum kepada istri nya itu,
" Ini bagus semua kok hanya saja memang Anda perlu terapi untuk memulihkan syaraf-syaraf yang syok akibat kecelakaan itu, Kenapa Baru di bawa sekarang Bu Suaminya?
Kenapa nggak sejak Dulu di terapi, Apa Dokter yang menanganinya saat itu tidak menyarankan untuk terapi?, "
Mendapat pertanyaan yang seolah tengah menghakimi nya,
Arum hanya terdiam, ia bingung harus menjawab Apa, akan pertanyaan Bapak Terapis itu, Dirinya tidak tahu kenapa dulu Suaminya itu tidak langsung di terapi di rumah sakit, melihat keadaan nya yang mampu, Tidak akan ada masalah dengan biaya nya,
"Saat itu saya yang menolak untuk di terapi Pak, karena pada saat itu, Kepercayaan diri saya sangat menurun, jadi saya menolak pengobatan dalam bentuk apapun, " Azka terpaksa menjawab pertanyaan terapis itu dengan kebohongan,
" Hem sayang sekali Anda berpikir seperti itu ya Pak, Padahal jika Anda mau saat itu, Anda tidak akan menderita selama ini, Tapi nggak apa-apa yang penting sekarang Anda sudah mau terapi,. Ok cukup, Saya akan menjadwalkan waktu terapis nya ya, dua kali seminggu, Setiap hari Senin dan Sabtu, untuk jam nya, seperti biasa sore hari, Saya juga akan memberikan Resep untuk nanti di tebus di sebuah Rumah sakit ya Bu, karena ini Resep paten, jadi tidak di jual di sembarang apotek, ini khusus resep dari Dokter spesialis syaraf,"
Arum dengan tekun mendengarkan penjelasan panjang lebar Sang terapis itu, Besar harpn nya jika Suaminya akan sembuh total dan bisa kembali berjalan,
Kemudian Pria parubaya itu menulis kan resep untuk Di tebus di sebuah Apotek Rumah sakit,
" Ini, Mungkin ini agak sedikit mahal, Tapi ini yang paling paten dan semua pasien sayabsangat cocok dengan resep ini, " pungkas sang terapis itu, Dengan menyodorkan selembar kertas putih Kepada Arum, yang duduk di hadapan nya,
Azka sudah kembali duduk di kursi Roda nya dengan di bantu seorang Pria yang bertugas di tempat itu,
" Semangat Pak Azka, Semoga bisa di segerkaan di beri kesembuhan, Dan bisa berjalan lagi seperti sediakala, Saya tunggu di jadwal selanjut nya Pak semangat,"
__ADS_1
Sang terapis memberi semangat penuh untuk Azka, Arum sangat senang melihat Suminya tersenyum lebar Sore itu,
" Gimana-gimana, Apa kata Terapis nya? Masih bisa sembuhkan Rum?,"
Bu Siti menyambut Arum dan Suaminya dengan pertanyaan nya, Sedang Bu Tina hanya ikut menyimak di sebelah Teman nya itu,
" Alhamdulillah Bu, Suami sayabmasih bisa Sembuh, Kita juga udah di jadwal kan waktu terapi nya seminggu Dua kali, " Jawab Arum Senang,
" Ahh Syukur lah kalau gitu, Yang semangat ya Ayah nya Rakha semoga segera bisa berjalan lagi, kan kita bisa mintbtolong buat panjat pohon mangga yang ada di depan Rumah Saya," Tukas Bu Siti dengan tertawa tawa, dengan perkataan nya sendiri,
" Ya Ampun Ti. Kamu ini belum apa-apa Ayah nya Rakha udah mau di suruh panjat pohon aja, Jangan mau Ayah nya Rakha di kerjain sama Bu Siti ini," Saut Bu Tina, dengan menyenggol pinggang teman nya itu,
Sedang Arum dan Azka hanya Terkekeh-kekeh di buat nya,
" Semua berkas dan tuntutan sudah masuk kepengadilan Tuan, Tinggal menunggu panggilan sidang saja, "
Tukas Riko, dibhadapan Adit yang tengah duduk di sofa ruangan nya dengan Sabira yang selalu menempel di dekat nya,
" Bagus, Lanjutkan pekerjaan mu, " Adit mengibas kan tangan nya mengusir Asistennya itu, Agar cepat berlalu dari hadapan nya,
Setelah Riko berlalu dan menutup rapat pintu ruangan Atasan nya itu, Riko kembali menuju meja nya yang berada di sebelah Rungan Adit,
" Bagaimana Sayang, Kamu dengar sendiri kan, Semua sudah sesuai dengan rencana kita, " Adit berucap dengan menindih Tubuh kekasih nya itu di atas Sofa,
" Hem.., Iya semua nya sesuai rencana kita, Aaahh," Sabira menggigit bibir bawa nya, ketika tangan nakal Adit telah menyelinap di bawah tubuh nya itu,
Next..
__ADS_1