Suami Lumpuhku Suamiku Sayang

Suami Lumpuhku Suamiku Sayang
Bab, 168


__ADS_3

Setelah pembicaraan nya dengan sang ibu dua hari lalu, Nurlinda memutuskan untuk menerima pria itu dengan lapang dada, Dan berniat untuk berterima kasih kepada pria dingin yang telah sah menjadi suaminya beberapa jam yang lalu, Atas bantuan yang telah diberikan kepada adiknya,


Ya dua hari setelah pembicaraan nya dengan sang ibu, hari ini Andre telah resmi menikahinya,


Kini keduanya telah berada didalam kamar setelah lelah menyalami beberapa tetangga yang datang untuk mengucapkan selamat kepada mereka,


Pernikahan mereka sangat sederhana. Hanya akad saja yang dihadiri tetangga dekat, Itu semua adalah keinginan dirinya, Dan Andre pun menyetujui apa yang ia mau, Ptia itu tidak protes sama sekali dengan keinginan nya,


Senyum cerah dan bahagia sang ibu sangat berarti untuk nya, Dirinya akan berusaha untuk menerima semua yang telah digariskan untuk nya, Dan tidak mengecewakan ibu dan juga adik-adiknya,


" Bang. terimakasih ya untuk semua bantuan yang abang berikan untuk keluarga ku, " Ucapnya dengan suara pelan, sedikit salah tingkah sebab Andre terus saja menatap nya sejak tadi,


"Kemari, " Andre melambaikan tangan nya agar Linda mendekat kepadanya, " Jika ingin berterima kasih kemarilah biar aku ajarkan bagaimana cara berterima kasih yang baik kepada suami,


Andre tersenyum nakal saat Nurlinda menurut dan menggeser duduk nya tepat di sampingnya,


Grep!!


"Kamu ingin berterimakasih tentang apa hem? " Andre langsung mendekap tubuh mungil Nurlinda dan menyusupkan hidungnya pada celuk leher wanita yang telah menjadi istrinya itu,


Menghirup aroma khas yang telah menjadi candunya itu, Sudah berapa minggu tidak mengukung wanita ini membuat sang junior yang semula anteng kini kembali bangun dan menuntut untuk dibujuk,


" A.. aku berterimakasih atas semua yang... Yang abang berikan un..tuk ahh, " Nurlinda tidak bisa melanjutkan perkataan nya, dengan susah payah menahan rasa geli karena ulah sang suami yang menyesap leher nya, Sudah dipastikan jika akan menunggalkan jejak kemerahan disana,


"Ya.kenapa berhenti? Ayo lanjutkan. Aku ingin mendengar apa yang istriku katakan, " Andre semakin mempererat dekapan nya pada tubuh istrinya itu,


" Bang. hentikan jangan seperti ini, Nanti ada yang masuk bagaimana? " Nurlinda berkata sembari mengigit bibir nya saat tangan nakal Andre telah menyusup kedalam baju nya, tangan nakal pria itu telah bermain-main di bukit kembar nya, Dengan pucuk yang perlahan mulai menegang akibat tangan jahil pria kaku yang mendekapnya dengan erat itu,


"Siapa yang berani masum kesini?, " Tanya nya dengan bibir yang masih sibuk menjelajah leher serta bahu Nur yang sudab berhiaskan bercak-bercak merah hasil karya nya,


"Bang ini kamar nggak adahhh pintunyahh, hanya horden saja sebagai penghalannya dari luar, " Jelas Nurlinda dengan perasaan tak karuan, Sebab suaminya itu tidak melepaskan tangan nya pada bukit kembarnya,


"Hem, "

__ADS_1


Andre mengangkat kepalanya dari celuk leher istrinya, kemudian menoleh kearah pintu kamar dengan horgen yang melambai-lambai oleh terpaan angin dari luar,


Tangan kekar nya meraih wajah Nurlinda yang telah memerah karena menahan gelenyar aneh pada tubuhnya karena ulah sang suami,


Tanpa berkata apapun lagi Andre meraup bibir pink yang selalu membuatnya mabuk itu, Menyesap nya begitu dalam, Andre semakin bersemangat saat Nurlinda membalas pangutan nya,


"Aku merindukanmu, " Ucap nya setelah melepas tautan bibir mereka,


" Besok pagi kita kembali ke kota, Persiapkan apa saja yang ingin kamu bawa, Aku akan bicara dengan ibu, " Tukasnya sembari melepaskan dekapnya pada tumbuh Nurlinda, kepalnya sudah berdenyut nyeri akibat sudah terlalu lama berpuasa,


Namun mengingat keberadaan mereka saat ini tidak memungkinkan untuk ber cinta, Tempat sempit dengan kamar yang tidak memikiki pintu, Ditambah lagi dengan kamarandi yang jauh yang berada di belakang rumah, Membuat Andre mengurungkan niat nya untuk berbuat lebih pada istri nya itu, walaupun sangat menginginkan nya saat ini,


Pria itu kemudian berlalu dari kamar, Untuk menemui ibu mertuanya, meninggalkan Nurlinda yang susah payah menetralkan gejolak aneh dalam dirinya setiap kali pria itu memesrainya,


"Ada apa dengan diriku, Biasanya juga nggak seperti ini," Gumam nya merasa heran dengan respon tubuhnya saat Andre menywntuh nya tadi, Sebab biasanya ia tidak pernah merasakan hal aneh apapun saat pria mencumbu nya. Bahkan saat menidurinya,


Tetapi ini terasa berbeda, seakan ia baru pertama kali melakukan nya dengan Andre,


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Saat ini Lulu tengah memasangkan dasi dileher suaminya yang beraroma minyak telon dan juga parfum bayi, Sesekali hidung nya menempel pada dada bidang sang suami dan memghirup aroma telon yang sang begitu ia sukai itu,


" Oh sudah mau tasyakuran aja ya, abang merasa baru saja kemarin mereka lahir. Tahu-tahu udah sebulan aja. Nggak kerasa, " Ucap Damar menanggapi perkataan istrinya,


"He'eh nggak kerasa bagi kita, Tapi kerasa banget bagi kedua ortunya, yang suda nggak sabar pengen liat anak nya lari-lari kesana kemari, " Timpal Lulu sembari terkekeh,


Setelah suaminya siap, kini giliran dirinya yang bersiap, setelah itu kedunya keluar dari kamar untuk sarapan,


******


" Hay bumil. Apakabar nya? makin cantik dan makin seksoy aja nih! " Arum menyambut dan memeluk sahabatnya nya itu dengan menanyakan kabar nya,


"Ahh busui bisa aja, kabar aku baik, mana si jagoan? "

__ADS_1


" Abang Arkha lagi berenang tuh sama bu Tina dibelakang, " Mereka berjalan masuk kedalam rumab beriringan sembari mengobrol, setelah mobil Damar berlalu daru halaman rumah Arum,


"Wah sudah dipanggil abang aja, " Timpal Lulu sembari menahan senyumnya, membayangkan wajah Arkha yang sudah menjadi seorang kakak yang dipanggil abang,


" Ar. pagi-pagi begini sudah renang aja itu bocah, apa nggak dingin Ar? "


"Entahlah.dia liat ayahnya tenang tadi pagi. jadinya dia pengen juga, " Ya pagi-pagi sekali Azka sudah melakukan olahraga renang,


Renang beneran ya, renang nya dikolam yang penuh air, Bukan renang di kasur yang nggak ada airnya, ๐ŸคฃโœŒ,


*****


"Ciyeee pengantin baru.. makin aduhai aja nih, gimana sepak terjang pak pengacara budes, apa..setangguh penampilannya, ahahahaha, "


Lulu terbahak diakhir kalimatnya, Membuat Arum menggeplak lengan nya dengan gemas, sembari menahan senyum, saat melihat wajah Desi yang salah tingkah


"Ish kalian ini ya, nggak ada hal lain kah yang ingin ditanyakan selain urusan itu. " Jawab Desi dengan memincingkan matanya memandang kedua wanita didepannya itu,


" Ada banyak. tapi yang itu lebih penasaran, iya ngga Ar?, " Tukas Lulu meminta dukungan Arum yang duduk di sampingnya,


" Ho'oh. penasaran juga sih, dimana acara belah duren perdananya dilangsungkan mbaDes?, " Tanya Arum jahil,


Desi hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan Arum dan Lulu yang selalu kompak menjahilinya,


"Walah kalian ini! seneng bener ngusilin kakak nya, Kalian nggak usah penasaran toh punya kalian juga sama saja bentuknya sama-sama kekar dan berotot, " Timpal bu Siti yang muncul diruangan itu sembari membawa nampan berisi minuman dan juga cemilan,


"Nah cakep bu jawaban nya, " Sahut Desi merasa senang ada yang membantunya dari serangan duo jahil itu,


"Aih bu Siti ini. Kita kan pengen tahu bu, bagaimana pengalaman budes melawan pak pengacara, Haha! " Lulu tidak menyerah untuk menggoda Desi,


pengalaman nya sulit di ungkapkan dengan kata-kata Lulu, ๐Ÿคญ


Jangan lupa tunggalkan jejak nya ya bestie,

__ADS_1


maaf jika banyak typo, belum sempat koreksiโœŒ


__ADS_2