Suami Lumpuhku Suamiku Sayang

Suami Lumpuhku Suamiku Sayang
163


__ADS_3

"Mas! " Rangga sedikit terjengkit kaget saat Vika memanggil nya seraya menepuk pundak nya, Namun dengan cepat ia menetralkan raut wajahnya,


"Mas ngapain disini? Ada perlu sama papa. Kenapa nggak langsung masuk saja...."


" Mas! bukan begitu maksudku, aku.. aku punya alasan menggapa aku menyembunyikan nya darimu, "


Vika tidak melanjutkan perkataan nya saat suara Arini terdengar dari dalam ruangan itu, Ibu sambung nya itu berkata dengan suara terbata-bata,


Walaupun tidak melihat secara langsung, tetapi dapat dipastikan jika saat ini Arini tengah menangis,


"Mas. Mama sama papa kenapa? Apa.. apa mereka sedang berantem?, " Tanya Vika kepada Rangga yang masih setia berdiri disana,


"Mas juga kurang tahu. " Jawab Rangga singkat, Dirinya memang tidak tahu hal dan masalah apa yang membuat kedua mertua nya itu ribut, Lebih tepatnya papa mertuanya lah yang murka,


"Mas mau ngapain tadi? Apa mas sengaja menguping pertengkaran kedua orang tuaku?, " Tuduh Vika memandang Rangga yang mendengus saat istrinya mengatakan hal itu,


"Aku ada perlu sama papa, makanya aku berniat menemuinya, Tapi karna waktu dan sikonya yang kurang tepat jadi nanti sajalah, "


Tukas nya sembari berjalan menjauh dari sana, didepan ruangan papa mertuanya itu, meninggal akan sang istri yang sedikit kesal karena keacuhan nya,


Ceklek!!


Suara pintu yang terbuka membuat Vika menoleh kearah pintu tersebut, Disana papa nya keluar dengan wajah memerah menahan amarah,


Anton berhenti sejenak saat melihat putrinya yang berdiri tidak jauh darinya, Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut nya, pria itu kemudian berjalan melewati Vika begitu saja dengan nafas memburu,


"Papa." Vika memberanikan diri memanggil sang papa, Dirinya begitu penasaran hal apa yang membuat papa nya hingga semarah ini,


Kesalahan apa yang telah dilakukan ibu sambung nya itu,


Anton menghentikan langkah nya tanpa menoleh kebelakang, dimana putrinya berdiri,

__ADS_1


"Ada apa pah. Apa ada masalah serius? " Tanya Vika dengan hati-hati,


"Tanyakan saja kepada mama mu, kesalahan apa yang telah ia lakukan, " Ucap nya sembari berlalu dari tempat itu, meninggalkan Vika yang terdiam dengan sejuta pertanyaan dihatinya,


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Maaf tuan. Pak Kuncoro sedang menunggu anda didalam, " Ucap sekretaris Lilik dengan perasaan tidak enak kepada atasan nya itu,


Pasalnya Devan sudah berpesan jika tidak ingin menerima tamu yang bernama Kuncoro tersebut, Lilik pun sudah berupaya memberi pengertian kepada beliau,


Namun dengan alasan masih kerabat Devan membuat Lilik tidak bisa berbuat banyak untuk membuat pria tua itu pergi dari kantor Devan,


"Hem, " Hanya deheman reaksi dari pria tampan itu, Kemudian berlalu masuk kedalam ruangan nya dimana si tua itu telah menunggunya,


"Apa yang anda lakukan waktu itu belum cukup? Anda masih punya muka juga datang kemari," Tukas Devan sesaat setelah ia mendudukkan dirinya tepat dihadapan pria tua itu tanpa basa basi,


Devan sangat geram saat mengingat peristiwa beberapa hari lalu saat dirinya dijebak oleh pria yang duduk dihadapan nya itu, Dengan memasukkan obat perang sang kedalam minumannya saat mereka bertemu di salah satu restoran ternama di kota itu,


" Apalagi yang akan anda lakukan demi ambisi yang tidak berkesudahan itu, Sampai anda rela berbuat rendah demi semua itu, "


Kuncoro mengeraskan rahang nya saat mendengar kalimat yang Devan lontarkan, Susah sekali keponakan nya ini ditaklukkan, Sudah berbagai cara ia lakukan namun selalu gagal,


"Sungguh sikap yang begitu terpuji, Seorang keponakan berkata sedemikian kepada paman nya sendiri yang telah merawatnya hingga bisa menjadi orang seperti saat ini, " Balas Kuncoro sarat akan sindiran,


Devan menghela nafas nya dengan berat, Apa lagi mau pria tua ini, Bukankah sejak dulu dirinya selalu menurut apapun yang diarahkan nya, Bahkan dijodohkan dengan Almarhum mama nya Citra pun ia Terima tanpa menolak atau protes sedikitpun,


Lalu sekarang apalagi mau nya, " Bukan aku tidak mengerti balas budi atau terimakasih, bukankah semua keinginannya serta kemauan anda sudah aku berikan? Lalu apalagi yang anda inginkan dariku? "


Kuncoro menarik sudut bibir nya, Merasa ada angin segar yang menerpa wajah keriputnya, "Keinginan ku tidak muluk-muluk, hanya memintamu menceraikan wanita itu apa susahnya, Dia... "


" Cukup!! Tuan Kuncoro Mahendra, Ini hidup ku, aku yang menjalani bukan anda, Jadi jika tidak suka dengan istriku maka itu urusan anda, "

__ADS_1


Devan berkata dengan suara tegas nya, wajah nya memerah menahan amarah yang sudah diubun-ubun,


"Hahahaha!! Devan. Devan wanita seperti itu kamu bela-belain, kamu bahkan rela membentak pria tua ini yang jelas-jelas adalah kerabatmu. Keluarga mu, Apa sih istimewanya wanita kampung itu? "


Kuncoro sangat kesal saat mengetahui jika keponakan nya itu telah menikah diam-diam dengan wanita yang jauh dari kriteria keluarga nya, Padahal ia sudah menyiapkan calon yang cocok untuk keponakan nya itu,


"Dia punya nama. Bukan wanita kampung, Dan perlu anda tahu jika dia lebih baik dari wanita manapun, Jadi lebih baik anda pulang dan urusin urusan anda sendiri,


" Ahh baiklah aku rasa tidak perlu banyak bicara, kamu sudah pasti mengerti apa yang aku inginkan Devan, " Kuncoro bangkit dari duduk nya kemudian merapihkan jas nya,


"Kamu tahu yang aku inginkan sejak dulu kan, Jadi buat apa lagi kita berbasa basi, Dan mengenai wanita itu, aku sebagai paman mu hanya mengingatkan mu sebagai bentuk kasih sayangku, "


" Dan juga sebagai bentuk menjaga hartamu agar tidak jatuh ke tangan yang salah, hartamu adalah milikku, " Lanjut nya, dan tentu saja itu hanya dalam hatinya saja tidak berani mengeluarkan nya langsung dihadapan Devan,


" Heh. sudah berapa kali juga aku mengatakan nya. Jika sampai kapanpun aku tidak akan menyerahkan perkebunan itu kepada Anda, itu adalah hak ku, sesuai pesan dan amanah kedua orang tuaku, "


Devan benar-benar sangat pusing dengan paman nya yang maruk akan harta, Padahal beliau sudah mengambil perusahaan milik orang tua Devan tanpa memberinya sepersen pun dari hasil perusahaan tersebut, Tapi pria tua itu masih saja menginginkan perkebunan yang diwariskan oleh orang tuanya kepada dirinya,


mendengar ucapan Devan yang keras kepala, Dan tetap mempertahankan kebun sengon yang tidak lama lagi akan siap panen itu, Membuat raut wajah tua Kuncoro semakin mengeras,


Kuncoro langsung keluar dari ruangan Devan dengan membanting pintu cukup keras, Lilik terkejut hingga tak sengaja menjatuhkan ponsel nya, Untunglah jatuh nya tidak membentur lantai tetapi malah mengenai mata kakinya, Jadi ponsel nya aman dari resiko kerusakan, Berganti dengan kakinya yang nyut-nyutan,


"Astaga orang tua ini, kuat banget jantungnya, Ngebanting pintu segitu keras nya, dia masih oke saja, " Batin Lilik sembari melirik Kuncoro yang melewati mejanya dengan muka datar,


Jangan lupa like komen nya ya bestie ku, 🥰🥰


Maaf ya kalau agak gaje, lagi mumet🤧


Terimakasih untuk semua All bestie yang selalu setia menunggu up nya🥰🤗🤗


Lope2 sekebooon jeruk deh pokonya😘😘🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2