
Devan menghela nafasnya dengan kasar, Setelah Kuncoro keluar dari ruangan nya, Kenapa paman nya itu masih saja seperti ini,
Dibaikin malah semakin melunjak, Bukan tidak bisa ia membungkam paman satu-satunya itu,
Tetapi hati nuraninya masih memikirkan nama baik sang paman dan juga dirinya, jika ia membawa nya ke meja hijau, yang malu bukan hanya paman nya tetapi juga anak-anak serta cucunya,
Itu yang Devan pikirkan, Jika hal itu terjadi, Sudah pasti dirinyalah yang akan dipersalahkan disini, Dunia luar pasti memandang nya sebagai seorang keponakan yang di rawat sejak kecil oleh paman nya malah tega menggugat sang paman yang telah berjasa membesarkan nya,
Nama baiknya sebagai seorang pengacara akan ternoda karena itu, Orang luar yang tidak tahu menahu tentang permasalahan keluarganya. Sudah pasti akan mencemooh dirinya dan menganggap nya sebagai anak tak tahu balas budi,
Apalagi sang paman sudah tua begitu, pasti orang-orang akan merasa kasihan melihatnya, Mereka tidak tahu saja, dibalik wajah dan tubuh tuanya pria itu masih memiliki ambisi yang tidak berkesudahan,
Devan sudah menyerahkan seluruh aset peninggalan kedua orang tuanya kepada Kuncoro, Kecuali kebun sengon, yang memang sudah atas namanya, Almarhum ayahnya sudah berpesan kepadanya jika itu adalah hak nya, dan tidak boleh jatuh ke tangan siapapun kecuali dirinya dan anak-anak nya kelak,
Devan memejamkan matanya dengan tangan memijat kepalanya yang terasa pening, pening memikirkan paman nya yang sudah uzur tetapi masih memikirkan harta dunia yang tiada habis nya,
Tok! tok! tok!
Suara ketukan pintu membuat Devan membuka matanya dan mempersilahkan nya masuk, Ia tahu jika itu pasti sekretaris nya Lilik,
"Maaf tuan 15 menit lagi ada pertemuan dengan client, Beliau sudah perjalanan kemari, " Lapor Lilik dengan sedikit membungkuk kan badan nya kepada Devan,
"Oke siapkan semuanya, Arahkan beliau langsung ke ruang pertemuan, " Perintah Devan sembari berdiri kemudian merapihkan dasi dan juga Jasnya,
"Baik tuan, " Lilik pun undur diri dari hadapan Devan dan segera melaksanakan tugas nya,
πΊπΊπΊπΊ
Sore hari setelah pulang kantor Damar melajukan kendaraan nya dengan kecepatan normal, Tak sabar dirinya ingin segera sampai dan menjalankan seperti yang disarankan Roy padanya,
Saat menunggu lampu merah berganti hijau, Damar melirik paper bag dengan logo salah satu supermarket yang ada di kota itu yang berisi perlengkapan bayi, yang dibeli nya saat usai makan siang bersama Azka dan Roy siang tadi,
"Hah semoga saran Tuan Roy ini berhasil ya," Gumam nya, Sebab memang
Sudah lama si otong berpuasa, dan sekarang si otong sudah merindukan tempat ternyaman nya itu,
Setelah melewati macet yang lumayan panjang akhir nya Damar kini telah memarkirkan mobil nya di parkiran apartemen yang ditempati nya,
__ADS_1
Dengan semangat pria tampan itu keluar dari mobil nya, Tidak lupa membawa serta kantung yang berisi perlengkapan bayi tersebut, Dengan bersiul Damar menaiki lift menuju lantai unit nya,
Dalam benak nya ia sudah membayangkan merengkuh tubuh sintal sang istri, Meraih nikmatnya surga dunia didalam selimut yang sama,
Hingga denting lift berbunyi kemudian pintu terbuka, Dengan langkah lebar ia berjalan menuju unitnya,
"Sayangku aku pulang, " Gumam nya pelan dengan harapan yang begitu besar jika saran dari Roy akan ampuh untuk meluluhkan singa betina nya,
Setelah menekan beberapa tombol angka guna memasukan pasword pintu pun terbuka, Wangi aroma kue langsung menyapa indera penciumanya,
Damar berjalan mengendap kearah dapur untuk memastikan keberadaan sangat istri, Benar saja istri cantik nya itu sedang asik memanggang kue dengan headset yang menutupi kedua telinganya,
"Hem wangi sekali, " gumamnya,
Damar menelan saliva nya dengan susah payah, Saat menilik penampilan istrinya itu, Yang begitu menggoda, Lulu hanya mengenakkan daster midi warna putih yang mencetak jelas dalaman nya,
Membuat si otong kedat ledut menggeliat ingin bangun,
"Ahh Ternyata kamu lebih rewel di banding aku, " Ucap Damar pelan sembari membelai kebanggaan nya itu,
"Sebaik nya aku segera mandi dengan semua perlengkapan bayi ini, " Lanjut nya dengan segera ia masuk kedalam kamar nya untuk menjalankan ritual mandi nya,
"Astaga aku benar-benar melakukan hal konyol ini, " Gumam nya setelah membalur tubuh nya dengan minyak telon dari ujung kaki hingga ujung rambut,
"Apa harus pakai ini juga? minyak telon saja aku merasa sudah sangat wangi, " Ucap nya sembari menghirup aroma tubuh nya yang wangi minyak telon hingga mengguar di seluruh ruangan kamarnya,
Damar membuka pintu kamar nya dan menutup nya dengan pelan, kemudian berjalan menuju dapur dengan percaya diri dengan penampilan nya saat ini,
"Sayang.lagi buat apa?, " Tanya nya sembari merengkuh tubuh istrinya,
Lulu yang sedang asik menata kue kedalam toples pun terkejut saat ada lengan kokoh yang merengkuh pinggang nya dari belakang,
"Abang!! " Jerit nya kaget, Lulu langsung melepaskan headset dari telinga nya, kemudian membalikan tubuhnya hinggal kini saling berhadapan dengan sang suami yang menatapnya lapar,
"Abang kapan pulang nya? Kok aku nggak tahu!" Tanya Lulu terkejut, " Ini aku lagi buat kue kering buat nyemil, " Jawabnya kemudian seraya menunjukkan kue nya yang sudah mateng, Hidungnya reflek mencium aroma tubuh suaminya yang begitu dekat dengan nya, Aroma tubuh suaminya itu berbeda dari biasanya,
"Abang juga sudah mandi ya, dan ini seperti aroma... Bayi. Ya aroma telon. abang pake telon? " Lulu menyusupkan hidungnya ke dada bidang Damar yang hanya mengenakkan kaos tipis, Nyaman. itulah yang selalu dirasakan Lulu saat berada dalam dekapan hangat suaminya,
__ADS_1
"Bagaimana kamu suka? Nggak mual lagi kan? " Damar menarik sudut bibir nya kesamping menyetak senyum yang begitu indah bila dipandang mata, Senyum yang penuh kemenangan tentunya,
"He'em. Abang wangi seperti bayi, " Jawab Lulu mendongak kan kepalanya menatap suaminya dengan senyum manis di bibirnya, yang juga menatapnya,
Tanpa membuang kesempatan yang ada Damar segera menyatukan bibir nya dengan bibir sang istri,
Menyesapnya begitu dalam, menyalurkan rasa rindu dan hasrat yang selama hampir 3 minggu lebih ia pendam, Lulu menyambut permainan suaminya dengan membalas gerakan bibir suaminya dengan gerakan yang sama,
Tidak bisa dipungkiri dirinya juga sangat merindukan belaian dan sentuhan suaminya itu, Sentuhan yang selalu membuatnya terbuai dan juga candu,
Lama kelamaan sesa pan lembut itu kini berubah menjadi sesa pan yang menuntut lebih, Dengan sebelah tangan nya Damar menyingkirkan nampan dan juga toples yang berada di meja pantry itu, menggeser nya ke samping,
Kemudian mengangkat tubuh Lulu dan mendudukkan nya di atas meja tersebut, tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Tangan kekarnya menyelusup dibalik kain daster yang di kenakkan sang istri, Menurunkan resleting daster tersebut, menurunkan nya dengan perlahan,
Menampakkan kulit putih nan mulus sang istri, Dengan lincah jemarinya mencari pengait bra dan melepaskan nya, Setelah kain penutup benda favoritnya itu terlepas tanpa menunggu lama tangan nya sudah memainkan benda favoritnya nya yang semakin padat dan penuh,
"Ahh aku begitu merindukan mu sayang, Dan juga ini " Tukas Damar menatap kedua benda yang dirindukan nya itu dengan mata berkabut oleh gai rah yang membumbung efek berpuasa beberapa minggu lamanya, si otong pun sudah tegak berdiri tanpa di suruh, Si otong sudah siap tempur,
Lenguhan dan de sahan Lulu begitu merdu ditelinga nya Yang semakin membuatnya semangat untuk melakukan lebih,
Perlahan bibirnya menyusuri leher meninggalkan jejak-jejak cintanya disana, Sampai tiba di benda kenyal itu dan menyesap nya bagai bayi yang begitu kelaparan, Membuat Lulu tak kuasa menahan de sahan nya degan tangan nya yang sibuk meremas rambut setengah basah Damar yang asik menyu su dengan begitu lahap nya,
Entah bagaimana dan siapa yang memulai kini keduanya sudah tidak mengenakannya apapun lagi, Tidak khawatir ada yang melihat aktivitas mereka, Karena tidak ada orang lain selain mereka berdua, Lulu menolak Art yang ditawarkan Damar,
Hentakan demi hentakan Damar lakukan dengan hati-hati demi kenyamanan sang calon bayi yang dikandung sang istri, Bulir-bulir keringat sudah mulai mengembun di pelipis dan juga keningnya,
kue kering yang menjadi saksi bisu, Hanya ikut bergoyang saat meja pantry diterpa gempa lokal, Gempa lokal yang tidak membahayakan sama sekali apalagi membuat panik, Malahan membuat ketagihan,
KABORRR ADA GEMPAAAπββοΈπββοΈπββοΈ
Maafkan Othor yang kurang perfect yaπ
Maklumlah Othor masih perawan belum tahu apa2ππ hanya menebak-nebak sajaπ
Jangan lupa like komen nya ya bestie,
Dan terimakasih yang sudah setia menunggu,
__ADS_1
Lope2 sekebon cabe Allπππ₯°