
"Selamat malam pak! " Salam Budi kepada Yono sembari meraih tangan keriput Yono dan menyalim nya dengan khidmat,
Sedang Yono nampak heran dengan kedatangan seorang pemuda yang ia ketahui sebagai salah satu kontraktor yang membangun rumah mewah tepat di sebelah gubuk tua nya,
"Maaf pak Yono.boleh kah saya masuk?. Saya ingin berbicara serius dengan bapak," Ucap Budi lagi dengan sopan,
"Oh iya silahkan.silahkan masuk," Yono membuka pintu reaot itu sedikit lebar agar Budi bisa masuk kedalam gubuk tua nya,
Budi masuk dan langsung di persilahkan duduk di atas karpet yang lumayan bagus, sepertinya masih baru.ua terlihat dari warna nya yang masih cerah dan bersih,
Yono ikut menyusul duduk, tak lupa pria tua yang sudah penuh keriput itu mengambil sebuah asbak dan menaruh nya di tegah antara dirinya dan Budi,
"Ada perlu apa nak...,"
"Maaf pak nama saya Budi," Budi segera mengulurkan tangan nya seraya menyebut namanya saat Yono menggantung kan kalimat nya,
"Ya ada perlu apa nak Budi kemari? Apa ini ada kaitan nya dengan rumah sebelah?," Tanya Yono was-was, bukan apa-apa pria tua itu khawatir jika sang pemilik rumah mewah itu akan menggusur gubuk reyot nya,
"Oh bukan tentang itu pak,Bapak tenang saja saya kesini bukan karena urusan proyek yang saya tangani, "
"Lalu tentang apa jika bukan karena itu," Potong Yono dengan cepat,
Budi tersenyum kecil saat melihat kekhawatiran tercetak jelas di mata Yono,
"Saya kesini membawa niat baik untuk melamar Cucu bapak. Wati," Budi berkata dengan raut serius menatap pria tua yang tengah menghisap sebatang rokok itu,
Sejenak Yono terdiam, rokok ditangan nya perlahan ia matikan walaupun puntung nya masih cukup panjang, jika biasanya ia akan menghisap benda itu hingga habis demi menghemat uang untuk membeli benda yang selalu menjadi candu bagi kaum Adam itu,
Wati yang berada di kamar nya memegang sebelah dada nya yang berdegup kencang. Benarkah apa yang ia dengar barusan?,
"Ternyata mas Budi serius dengan ucapan nya, " Batin Wati penuh haru, Ibu satu anak itu tidak menyangka jika pria yang menolong nya beberapa minggu lalu dari serangan istri tua juragan Gatot itu benar-benar berniat ingin menikahinya,
Wati mengintip sedikit dari celah papan yang menjadi dinding kamar nya, melihat wajah pria yang berusaha mendekati nya beberapa waktu ini,
"Mas apakah kamu benar-benar menyukai ku, " Tanya Wati pada dirinya sendiri, " Aku tidak semenarik wanita-wanita di luar sana, " lanjut nya lagi masih berbicara sendiri dengan suara pelan,
Tidak bisa di pungkiri pernikahannya dengan juragan Gatot meninggalkan sedikit trauma kepadanya, Ia khawatir akan mengalami hal yang sama,
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
"Syla! Coba kamu hubungin lagi mbak mu, Ibumu harus segera mendapat perawatan yang lebih, kita harus membawanya kerumah sakit, " Nety berkata pelan kepada Syla. Supaya tidak membangun kan Yuli yang baru saja tertidur karena pengaruh obat yang dokter berikan setengah jam yang lalu, Wanita itu baru saja kembali dari menemui dokter yang bertugas di puskesmas itu,
__ADS_1
"Kita nggak bisa nunda lagi Syl. Penyakit ibumu itu sudah semakin parah sekarang, Tadi bude aja sampai kena omel sama pak dokter nya, Untung ganteng kalau nggak udah bude omelin balik tuh dokter, " Tukas Nety dengan wajah sedikit cemberut di akhir kalimat nya,
"Ish bude ini, jangan begitu ah. jangan terlalu galak jadi orang, nanti bude gak laku-laku karena terlalu galak sama cowok," Tukas Syla
" Eh anak kecil, Tahu apa tentang laku gak laku, Biar tampang bude pas-pasan tapi banyak yang ngantri loh, " Belanya sembari memasang wajah sok imut,
Sedang Syla hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Bude Nety tersebut,
"Jangan lupa telpon mbak mu Syl, " Peringat nya lagi
"Iya bude. Nanti Syla coba hubungin mbak Linda lagi, Em Syla pamit pulang sebentar ke rumah ya bude, Kasian Ibam nanti nyariin. Sekalian mau ambil baju salin, Syla titip ibu ya bude, "
"Iya minta tolong mas Sidiq aja yang anter. Dia ada didepan kek nya. Sebentar bude telpon dia, "
"Nggak usah bude. Syla naik ojol aja, Kasian om Sidiq udah di repotin sejak kemarin, " Tolak Syla cepat sebelum Nety menelpon Sidiq,
"Oh ya udah kalau begitu, Hati-hati ya di jalan, kalau bang ojol nya genit. Timpuk aja kepalanya pake helm, biar nyaho! " Nasehat nya dan hanya di angguki oleh gadis itu sembari berjalan keluar dari ruang inap sederhana sang ibu,
.
Hanya butuh waktu 10 menit saja Syla sudah sampai di rumah nya, Syla menyerahkan helm yang ia pakai kepada sang driver ojol tersebut. Kemudian membayar ongkos nya sesuai yang tertera di aplikasi,
Lampu rumah nya sudah menyala, itu artinya Ibam sudah pulang dari sekolah, Syla mengetuk pintu yang terkunci itu sedikit kuat agar Ibam mendengar nya,
"Ibu harus di rawat dirumah sakit besar Ib, kakak pulang hanya mau mandi dan ambil baju salin aja, kamu do'ain ibu ya Ib kasian ibu, " Tukas Syla,
"Iya kak, " Jawab nya sembari menggekori sang kakak menuju dapur, "kak Syla sudah makan?, " Tanya Ibam lagi,
"Belum Ib. Kamu juga belum makan ya? " Syla menoleh adik nya yang duduk didepan meja kayu yang berada di dapur itu,
"Belum kak, " jawaban nya pelan,
.
Nurlinda menoleh kiri kanan saat keluar dari dalam kamar nya. Dengan segala doa ia ucapkan agar bisa keluar dari rumah itu, Bukan untuk kabur tapi ia berniat mencari warnet(Warung internet) untuk menghubungi adik nya Syla,
Perasaan nya semakin tidak enak, ia kepikiran ibunya terus, firasat nya mengatakan jika saat ini ibu nya sedang tidak baik-baik saja,
Andre yang baru saja kembali dari markas Damar. Dibuat kesal saat melihat wanita itu ingin melarikan diri lagi, "Wanita ini kenapa selalu saja mengujiku, " Geram Andre,
Dengan langkah lebar ia menghampiri Nurlinda yang tidak menyadari akan kehadiran nya, Sebab Andre memang masuk melalui pintu samping rumah itu,
__ADS_1
greep!!
Nur terlonjak saat sepasang lengan berotot itu melingkari perut nya, ingin memberontak namun saat menghirup aroma maskulin yang tidak asing bagi indera penciuman nya. Wanita itu hanya diam dan pasrah,
"Kau ingin melarikan diri lagi hem, " Tanya Andre tepat di telinga Nur, " Kau selalu saja tidak patuh pada perintah ku, " Tukas pria itu dengan suara dinginnya,
Sedetik berikutnya nya ia membalikan tubuh wanita itu langsung menghadap nya, "Kenapa selalu tidak patuh hem, " Andre kembali melontarkan pertanyaan yang sama, Sangat kentara jika pria itu tengah menahan emosi nya,
"Maaf bang. Aku.. aku nggak berniat kabur kok, " Nurlinda berkata dengan suara terbata-bata, wanita itu bahkan tidak berani menatap sorot tajam yang seakan ingin menelan nya hidup-hidup,
"Benarkah? " Andre semakin mengeratkan belitan lengan kokoh nya membelit pinggang kecil Nurlinda yang terlihat tidak berdaya sama sekali saat berada dalam kuasa nya,
Nurlinda mengangguk kan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Andre, Pria itu selalu bisa mengintimidasi nya setiap kali bertatap muka,
"Jadi kau pikir aku ini buta dan bo doh. Sehingga tidak bisa membedakan yang mana ciri-ciri orang yang ingin melarikan diri. Begitu?"
"Bukan..! bu bukan begitu. Aku.. aku hanya ingin keluar untuk mencari warnet disekitar sini. Aku ingin menghubungi keluarga ku di kampung, "
Nurlinda berkata dengan sedikit cemas, Cemas kalau-kalau perkataan nya akan semakin membuat Pria mengerikan itu marah kepadanya,
Nurlinda melirik ragu kepada pria yang ada di samping nya itu, Apakah pria kejam itu sedang berbaik hati dengan meminjamkan ponsel nya,
"Kenapa? Kau bilang ingin menghubungi keluargamu kan? " Tanya nya setelah sekian menit Nurlinda hanya memandangi layar ponsel nya tanpa melakukan apapun,
"Apa kau ingin membohongi ku dan berpura-pura ingin mencari warnet, Dan... "
"Nggak bang. Aku beneran ingin menghubungi keluarga ku, " Nurlinda memotong cepat perkataan Andre yang menuduhnya ingin kabur,
"Lalu.kenapa kau tidak menelpon mereka sekarang. Malah bengong saja sejak tadi, " Pria itu berkata sembari mengangkat tubuh mungil Nurlinda dan mendudukan nya ke pangkuan nya,
"Bang!!, " Pekik Nur tak siap dengan tindakan Andre yang tiba-tiba itu, Belum hilang keterkejutan nya akan tindakan Andre yang selalu saja tidak terduga, Kini wanita itu kembali terkesiap. tubuh nya kaku tak bisa bergerak sedikitpun,
Kala merasakan benda kenyal itu melu mat bibir nya dengan gerakan cepat terkesan tak sabaran,
Sebelah tangan Andre menahan tengkuk nya dan semakin memperdalam ciu man nya,
Nurlinda hanya pasrah dengan perlakuan pria itu, Dirinya tidak bisa melawan atau menolak semua yang Andre lakukan padanya, Dirinya tidak punya pilihan selain diam dan menurut dengan apa yang pria itu lakukan,
JANGAN LUPA YA ALL BESTIE KOMEN NYA,❤😘
ATAU TULIS SURAT CINTA UNTUK OTHOR JUGA BOLEH KOK💞😍🏃♀️🏃♀️
__ADS_1
DAN MAAF YA BELUM BISA MEMBALAS KOMEN2 All BESTIE SEMUA, TAPI NANTI AKAN OTHOR BALAS KOK JIKA SUDAH ILANG PENYAKIT MAGER NYA😌😌🤣