
Arini sedikit tersentak kala Arum menghentak kan piring yang ada di tangan nya ke meja dengan begitu kuatnya,
Hatinya sedikit mencelos kala mendapatkan sebuah reaksi yang sedikit menggores ulu hatinya, Tidak Terima bila mendapat kan perlakuan seperti itu,
Harga dirinya sebagai seorang ibu sedikit terluka akan tindakan Arum barusan, Sepertinya wanita parubaya itu lupa dengan status mereka saat ini,
Lupa jika dirinyalah yang telah memutuskan dan tidak mengakui Arum sebagai anak nya,
"Memang nya apa peduli Nyonya terhadap hidup saya? Apakah semua itu menggangu ketentraman keluarga Nyonya yang terhormat!, " Ucap Arum dengan mimik wajah yang semakin kelam,
"Nyonya tidak perlu bersusah paya mengurusi hidup saya, Sebaik nya Nyonya memperhatikan putri kesayangan anda saja itu lebih baik," Lanjut Arum dengan hati yang mencelos nyeri, Ternyata pandangan ibunya seperti itu terhadap nya,
"Aku hanya sangat tidak menyangka sebagai wanita kamu tega berlaku seperti itu, Aku tidak mengurusi mu hanya menasehatimu saja, " Elak nya
"Apa hak anda ikut campur dalam kehidupan saya?, " Arum berkata tanpa memandang Arini
"Sebaik nya urus saja diri anda jangan sampai anda ceroboh yang akan membuat rugi diri sendiri, " Peringat Arum sembari melirik sekilas wanita yang telah melahirkan nya ke dunia ini,
Sangat kentara di mata tua nya jika perkataan dan nada bicara nya sedikit melukai hati nya,
Namun Arum nampak tak perduli, Bukan diri nya yang menginginkan hal ini,
Bukan kah ibu nya sendiri yang membuat mereka layak nya orang asing, Tidak saling mengenal jadi untuk apa bersikap hormat kepada seseorang ikut campur dalam urusan pribadi,
"Kamu sangat tidak sopan dengan orang tua, Berani berkata seperti itu kepada orang yang telah melahirkan kamu ke dunia ini, " Ucap nya dengan wajah ketus,
Arum hampir menyemburkan tawanya saat mendengar penuturan wanita parubaya itu, Sudah lupakah dengan perkataan nya dahulu ketika mereka baru pertama kali bertemu di kota ini,
Apakah dirinya harus mengingat kan wanita tua itu akan apa yang telah dia lakukan dulu,
Bagaimana wanita sombong itu melemparkan segepok uang kepadanya, Bagaimana perkataan nya yang sangat menyakitkan hatinya sebagai anak yang tidak diakui!,
"Ahh iya maaf kan saya Nyonya. Dan juga terima kasih karena telah melahirkan saya kedunia ini, Saya hanya bersikap selayaknya orang asing yang baru bertemu, Dan sok menghakimi saya tanpa tahu kebenaran nya!, "
Perkataan Arum sukses membungkam Arini yang tidak bisa mengelak sama sekali,
"Tapi sikap kamu itu tidak mencerminkan wanita berkelas," Sahut nya lagi membela diri,
"Apa anda sudah bersikap selayaknya nya wanita berkelas Nyonya?, Tidak mengakui darah daging nya sendiri dan menelantarkan orang tua yang sudah Sepuh, Itu kah yang Anda maksud dengan sikap sebagai wanita berkelas. Sikap wanita terpandang kah itu?, "
"Siapa yang tidak mengakui anaknya dan juga menelantarkan orang tuanya?, " Suara bass penuh keterkejutan itu berasal dari seseorang yang membuat lutut Arini bergetar, Wajah nya seketika pias kala pandangan nya bertemu dengan Suaminya yang menuntut jawaban itu,
"Astaga sejak kapan Anton ada disini, Semoga saja dia tidak mendengar perkataan ku dengan Arum, " Batin nya dengan wajah panik nya,
Dari kejauhan Azka melihat istrinya tengah terlibat pembicaraan serius dengan seseorang itupun segera mengakhiri percakapan nya di telpon dan berjanji akan menghubunginya kembali,
__ADS_1
Dengan Langkah lebar Azka berjalan mendekati istrinya yang sudah berwajah kesal,
"Sayang ada apa?, " Tanya Azka sembari merangkul pinggang Arum dengan khawatir,
Anton yang melihat siapa yang datang sangat terkejut, Seorang Azka Dewantara seorang pengusaha yang cukup sukses itu ada didepan nya,
"Tuan Azka?, " Sapa nya lebih dulu,
Azka menoleh kearah dua orang tersebut dengan wajah yang kurang Ramah, " Ya Tuan Anton. Anda disini juga" Sahut nya pandangan nya beralih kepada Arini yang berwajah pucat,
"Wah senang sekali bisa bertemu dan berbincang dengan anda Tuan Azka, " Seru Anton dengan senyum mengembang, Sembari mengulurkan tangan nya, Sedikit lupa dengan apa yang ia dengar beberapa detik lalu,
Azka menyambut nya dengan expresi biasa saja, Engan rasanya ia bercakap-cakap dengan orang yang berhubungan dengan hal yang menggangu istrinya itu,
Azka masih ingat betul bagaimana wanita parubaya itu melemparkan segepok uang kepada istri nya dulu, Saat dirinya belum bisa apa-apa dan masih bergantung dengan kursi roda,
Kata-kata Arini masih cukup segar di ingatan nya, Saat wanita itu tidak mengakui Arum sebagai anak nya, Bahkan meminta Arum untuk pergi dan tidak mengganggu hidup nya,
"Mas aku ingin duduk, " Bisik Arum pelan kaki nya sudah kram berdiri lama-lama menahan bobot tubuh nya yang sedang hamil besar itu, Ditambah lagi dengan suasana hatinya yang kurang baik,
" Iya sayang ayo!, " Ajak nya kepada istrinya itu, ia tahu jika saat ini istrinya sedang dalam suasana hati yang kurang baik,
"Kami permisi Tuan! Silahkan nikmati hidangan yang ada, " Ucap Azka tanpa berlalu tanpa menunggu jawaban dari Anton yang sedikit kecewa,
Sepeninggal Azka Anton kembali teringat dengan percakapan istrinya dengan Istri Azka tadi, Wajah nya kembali serius saat menatap istrinya yang menunduk,
Hal itu semakin membuat Arini panik, Bagaimana ia akan menceritakan semua kebohongan nya,
"Pa.i.itu tidak seperti yang papa dengar. Maksud mama. Mama tidak mengenal wanita tadi kami baru bertemu disini, " Bohong nya dengan tangan yang gemetar karena panik,
Anton merasa curiga dengan penjelasan Arini Menurutnya ada yang janggal dengan gerakan gerik istrinya itu,
"Baik lah kalau begitu, jika mama tidak ingin berterus terang sekarang, Papa akan mencari tahu sendiri nanti, " Ucap nya tegas.
Perkataan Anton barusan sontak membuat Arini membelalakkan matanya,
"Ya ampun bagaimana ini!, " Batin nya was-was
.
.
"Mau kemana?, "
"Aku mau ke toilet mas, Tolong perhatikan Arkha ya jangan kebanyakan makan es krim, " Arum berdiri untuk ke toilet rasanya ia sudah ingin sekali buang air kecil,
__ADS_1
"Mas temanin aja!, " Tukas Azka yang khawatir jika Arum pergi sendiri ke toilet
"Jangan mas! nggak ada yang awasin Rakha. nanti dia makan terlalu banyak es krim, " Tolak Arum
Azka memandang Arum dan Rakha bergantian, sama-sama berat jika tidak menemani keduanya,
Lulu yang melihat Arum beranjak dari kursinya
segera meminta izin suaminya untuk mendatangi Arum, Dan Damar mempersilahkan istri nya itu,
"Biar Nona bersama saya saja Tuan, " Lulu berkata cepat saat tiba di hadapan Arum dan Azka,
Azka pun bernafas legah sebab ada Lulu yang menemani istrinya ke toilet, "Hati-hati sayang kalau ada apa-apa segera hubungi mas, " Ucap nya, Dengan berat hati, Entah menggapa tapi perasaan nya sangat khawatir saat ini,
Lulu menggandeng tangan Arum menuju toilet. Tidak jauh dari mereka Sabira menyunggingkan senyum devil nya,
"Hah hanya seorang saja pasti bisa ku atasi, Kita lihat saja kamu akan hancur Azka, Enak saja kamu hidup bahagia sementara aku kau buat hancur seperti ini, " Sabira melangkah kan kakinya menuju toilet dengan sebuah botol di tangan nya,
Sejuta harapan sudah ia gantungkan pada rencana nya kali ini, Tidak boleh gagal semuanya harus berhasil,
"Mas aku sudah di tempat sekarang waktunya kamu bertindak! Aku nggak mau kita gagal lagi cepat!!, " Sabira menutup sambungan telpon nya dengan pandangan yang terus mengawasi kedua wanita yang berjalan di lorong menuju toilet itu,
"Ar aku ikut masuk ya?, "
"ihh nggak usah kamu tunggu saja disini aku bisa kok sendiri, " Arum menolak saat Lulu hendak ikut masuk kedalam toilet itu,
"Tapi Ar!, "
"Udah gak apa-apa tunggu aja disini, "
Arum masuk kedalam toilet tersebut sedang Lulu berdiri di depan pintu menunggunya,
ponsel yang ada di saku nya berdering, Lulu merogoh saku celana nya ternyata itu adalah sebuah pesan dari Damar,
Yang menanyakan keberadaan nya sebab ada salah satu kolega bisnis nya yang ingin sekali berkenalan dengan istrinya,
Lulu pun tidak membalas pesan suaminya, Tetapi menelpon nya dengan menghadap ke tembok tepat di samping pintu toilet,
Sedang menunggu suaminya merespon panggilan darinya. Tiba-tiba Lulu berbalik seketika
Bug!!
Sebuah tendangan yang lumayan keras mendarat tepat mengenai sasaran,
ehem!.. ehem!.. EHEEEKK!!! Ups maaf ya🙏🤭
__ADS_1
Anu kita lanjut di sebelah nya lagi ya udahh panjang ternyata🤣🤣🤣
Jangan lupa ya komen-komen nya OTHOR TUNGGUNG LOH🏃♀️🏃♀️🏃♀️