Suami Lumpuhku Suamiku Sayang

Suami Lumpuhku Suamiku Sayang
Bab, 175


__ADS_3

Hari-hari berat kini tengah di lalui oleh wanita paru baya yang bernama Arini, Wanita itu tampak murung dengan penampilan nyang tidak terawat,


Sejak memergoki suaminya bersama wanita lain yang tiada lain adalah sekretaris nya sendiri, Sejak itu pula ia sering melamun dengan mengabaikan dirinya sendiri,


Arini menjadi murung. tidak lagi memperhatikan penampilan nya saat ini


Makan tidak teratur, Waktu tidurpun menjadi kurang kurang karena pikiran yang tidak tenang,


Apalagi Anton belum menemuinya untuk memberi penjelasan tentang perbuatan nya,


'Menggapa semua menjadi kacau seperti ini, apakah ini semua adalah karma untuk ku, Apa ini semua adalah balasan atas sikap dan perbuatan ku?' Arini terus membatin dengan pandangan kosong jauh menerawang masa lalu,


Vika yang memperhatikan secara diam-diam ibu sambung nya yang bermuram durja itupun merasa iba, Walau bagaimana pun Arini adalah ibu sambung yang baik.


Arini selalu memperhatikan kebutuhan nya. merawat nya dengan penuh cinta, Arini tidak pernah mengasarinya, sikap nya tulus dan benar-benar menyayanginya,


Arini tidak pernah memrahinya secara berlebihan jika ia melakukan kesalahan, wanita yang sedang bermuram itu menyayangi nya dengan tulus bukan di buat-buat,


" Mama. " Vika menghampiri Arini yang sedang duduk melamun sejak beberapa jam yang lalu, dibangku taman halaman belakang rumah. yang selalu menjadi tempat favorit nya kala bersantai,


Secangkir teh serta cemilan dibiarkan teronggok begitu saja di atas meja yang ada dihadapan nya, Tidak ada selera untuk menyentuh makanan yang disajikan oleh Art nya itu,


Selera makan nya menguap sejak Anton mengusir nya dari kantor, Dengan alasan tidak ingin diganggu,


Arini mendongak kala suara Vika menyapa indera pendengaran nya, Dari jarak dekat ia melihat anak sambung nya yang selama beberapa pekan ini ikut mengabaikan nya,


Tetapi hari ini datang menegur nya, apakah ada sesuatu. apa Vika sedang butuh bantuan nya? Arini masih membisu menatap wajah cantik Vika yang perlahan mulai menghampiri nya,


Vika berjalan mendekatinya dengan expresi yang sulit ditebak,

__ADS_1


"Hem ada apa nak? " Arini bertanya dengan menegak kan punggung nya menyambut kedatangan Vika, bersiap mendengar kan apa yang akan disampaikan oleh putri sambung nya itu,


"Apa kamu perlu bantuan mama untuk menjaga Revi? Mana Revi nya biar mama jaga kan, " Arini kembali bertanya dengan celingukan mencari keberadaan sang Cucu namun tidak ia jumpai disekitar nya,


Vika sangat merasa bersalah karena telah ikut-ikutan menyueki Arini, Ia bisa melihat kesedihan diwajah tua yang masih terkihat cantik di usia yang sudah tidak muda lagi itu,


Walaupun kini wajah ibu sambung nya itu sedikit kusam dengan pipi tirus, Sangat kentara sekali jika sang mama tidak bersemangat,


Ternyata sikap nya dengan sang Papa telah membuat wanita parubaya itu bersedih, sehingga mengabaikan kesehatan nya,


"Nggak ma. Vika mencari mama bukan untuk itu, " Vika menjeda kalimat nya dengan menatap lekat wajah Arini, yang tidak terawat selama beberapa minggu ini,


"Oh bukan ya," Arini menghela nafas nya dalam, "lalu ada apa kamu mencari mama? "


"Vika mencari mama karena... Karena Vika ingin minta maaf karena telah ikut-ikutan menggabaikan mama, " Vika meraih tangan kanan Arini kemudian mencium nya dengan tulus,


Arini sedikit terkejut mendengar permintaan maaf keluar dari bibir Vika. tidak menyangka Vika mau meminta maaf kepadanya, rasa haru pun kini menyeruak di hatinya, Pikiran nya menerawang jauh, mengingat putri kandung nya yang telah ia abaikan selama bertahun-tahun,


"Iya sayang. Mama juga minta maaf sama kamu, karena telah berbohong akan status mama yang telah memiliki putri dimasa lalu,


'Arum maafkan mama nak, maaf kan mama yang telah berlaku buruk padamu, ' permintaan maaf itu hanya bisa ia suarakan dalam hati,


Arini menyeka sudut matanya yang berair, sebab hatinya mendadak melow kala menyadari satu kesalahan besar yang telah ia lakukan kepada putri dan juga kedua orang tuanya,


Niat hati ingin meminta maaf. Namun ego masih menjadi penghalang untuk memulai duluan, Sebab merasa diri sebagai orang tua yang seharusnya didatangi anak, bukan malah mendatangi,


Padahal tidak ada salah nya sebagai orang tua meminta maaf terlebih dahulu kepada sang Anak, jika memang ia menyadari kesalahan nya,


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


" Bagaimana menurutmu sayang. Apa sebaik nya kita minta pendapat ibu dan bapak? " Damar baru saja menyampaikan niat dari Tuan Muda nya kepada sang istri,


"Em. Nanti aku telpon ibu deh. buat minta pendapatnya bang, Jika ibu deal aku akan langsung kabarin ya, " Ucap Lulu dengan masker yang menutupi sebagian wajah nya,


Pagi ini ia harus menutup hidung nya menggunakan dua lapis masker, Untuk menghalau aroma parfum Damar yang mengguar hampir di seluruh ruangan. Dan hal itu sangat menyiksa indera Penciuman nya, Disertai rasa mual, yang tidak tertahankan,


"Iya sayang nanti setelah bicara dengan ibu. Segera kabarin abang ya, " Damar meringis dalam hati merasa kasihan terhadap istrinya yang memakai masker demi manghalau rasa yang tidak nyaman saat menghirup aroma parfum nya,


Pagi ini Damar tidak bisa menjadi bayi besar bagi sang istri, karena pagi ini ada meeting dengan Relasi yang akan berlangsung pukul 9 pagi, Hal itu mengharukan dirinya siap dan rapih dari rumah,


Dengan berat hati akhirnya nya Lulu terpaksa merelakan bayi besar nya untuk hari ini tidak bisa memakai perlengkapan bayi,


"Maafkan abang ya sayang. Jika saja pagi ini nggak ada pertemuan, pasti abang akan dengan senang hati menjadi baby kesayangan Nyonya Erlangga, "


Lulu terkekeh dibalik masker yang ia kenakan,


memang setiap pagi Lulu selalu rajin mendandani sang suami dengan semua perlengkapan bayi,


"Iyan bang nggak apa-apa, Aku ngerti dengan posisi abang saat ini, " Jawab Lulu sembari tersenyum dibalik maskernya,


"Oya nanti sore Sekitar jam 3 an abangbjemput ya, kita surfei rumah yang mau kita beli yang berada satu komplek dengan Rumah Tuan muda, kemarin orang nya baru aja ngabarin jika hari ini bisa bertemu." Jelas Damar setelah meneguk segelas air putih hangat yang disediakan sang istri,


"Wah jadi perkataan abang waktu itu serius ya? " Binar bahagia sangat terlihat di mata nya saat tahu jika suaminya benar-benar merealisasikan perkataan nya waktu itu,


"Iya dong. Untuk kebahagiaan istriku apapun akan aku lakukan. Selagi aku mampu untuk memenuhinya, " Tukas Damar tatapan hangat dan penuh cinta ia berikan kepada sang istri.


Bestie terimakasih atas dukungan nya ya๐Ÿ™


Maafkan jika belum sempat membalas komen kalian satu2, ๐Ÿ™๐Ÿ’•

__ADS_1


Bukan sombong tapi beneran belum sempat bestie๐Ÿ™


Jika ada typo mohon maklumin ya, ini tuh ngedit nya sambil terkantuk-kantuk ๐Ÿคญ


__ADS_2