
"hey pelakor!!, "
Suara nyaring nan cempreng itu berasal dari seorang wanita parubaya, Yang berdiri tepat di belakang Desi yang baru saja membalik kan tubuh nya hendak masuk kedalam rumah nya,
Desi yang kaget karna ulah wanita itupun, Segera membalik kan tubuh nya kembali, Hingga ia berhadapan dengan sang empunya suara itu, Wanita parubaya itu memandang nya dengan tatapan sinis, Membuat Desi mengkerut kan kening nya,
Siapa beliau. Ia merasa tidak mengenal wanita ini, Lalu mengapa wanita ini mendatanginya dengan wajah tidak bersahabat,
"Ya!. Ibu mencari siapa? , Tanya Desi dengan sopan dan ramah,
" He. ternyata kamu wanita pelakor itu, Tidak tahu diri banget ya, Sudah miskin masih aja menggoda suami orang, Cih murahan sekali kamu," Ucap Nyonya Gayatri yang tiada lain adalah mantan mertua Devan, Ibu dari almarhum istrinya
Wanita parubaya itu berucap dengan Menunjuk-nunjuk wajah Desi dengan jari telunjuknya, Suara nya yang nyaring membuat tetangga Desi yang berada di kiri kanan rumah nya pun ikut keluar, Karena mendengar suara ribut-ribut tersebut,
Desi sangat kaget dirinya di katakan pelakor oleh wanitaparubaya yang berdiri di hadapan nya itu, Desi merasa tidak pernah mengganggu suami orang, Lelaki yang dekat dengan nya pun hanya Devan saja,
"Maaf Bu, apa maksud ibu mengatai saya pelakor? Saya tidak pernah mengganggu atau menggoda suami orang bu, Saya...., "
"Pelakor ya mana mau ngaku. dasar tidak tahu diri kamu murahan sekali jadi janda, Kamu kegatalan banget jadi janda, sehingga kamu mengganggu menantu saya, Saya peringatkan kamu ya wanita murahan, jauhi Devan dan Citra, Jangan ganggu mereka,"
Mendengar dua nama yang di sebut oleh wanita itu, Sontak membuat Desi sangat terkejut, bukan main, Di tatap nya wajah wanita di depan nya itu, Sekilas memandang nya memang sedikit mirip dengan wajah Citra,
'Jadi wanita ini adalah. mertua nya mas Devan, Lebih tepat nya mantan mertua, Nenek dari Citra, Tetapi bukan nya ibunya Citra sudah lama tiada?, Lalu mengapa dia mengatai ku seorang pelakor,'
Desi bertanya-tanya dalam hatinya, Ia sedikit merasa aneh dengan wanita di depan nya ini,
__ADS_1
" Maaf Bu sepertinya ibu salah paham dengan saya, Saya tidak pernah mengganggu Mas Devan dan juga Citra, Mereka sendiri yang datang kepada saya,"
"Tidak usah mengelak kamu, Tampang-tampang kek kamu ini sudah sering saya jumpai, Wanita macam kamu ini sengaja mendekati lelaki kaya hanya untuk menumpang hidup, Dengan menjajakan Tubuh kalian, Sungguh murahan sekali dasar Per*k, " Hina nya lagi,
Geg!!
Jantung Desi bagai di remas dengan kuat oleh tangan tak kasat mata, Mencabik-cabik nya dengan tanpa perasaan, Saat mendengar rentetan kata-kata yang dengan begitu kejam nya dari wanita parubaya yang masih berdiri di hadapan nya itu,
"Jaga ucapan ibu ya, Saya tidak seperti yang ibu tuduhkan, Saya masih mampu berusaha dan berkerja untuk menafkahi diri dan anak-anak saya tanpa harus mengemis dengan orng lain,. Apalagi sampai menjual diri seprti yang ibu katakan itu, "
Desi berkata dengan wajah yang sudah memerah, Menahan emosi, Bisa-bisanya wanita tua itu mngucapkan kata-kata yang tidak pantas untuk nya,
Sedang wanita itu hanya menanggapi ucapan Desi tatapan sinis Dengan sesekali mengibaskan tangan nya dengan rentegan perhiasan yang memenuhi jari dan juga pergelangan tangan nya,
Sengaja memamerkan nya kepada Desi dan juga orang-orang di sekitarnya nya, Yang tengah menonton perdebatan mereka,
Bisik-bisik tetangga tersengar jelas di telinga Desi, Sebagian tetangganya yang tidak menyukainya, Malah sengaja menghibahinya terang-terangan,
"Kalau begitu buktikan ucapan mu itu, Jauhi Devan dan Citra. Kastamu sangat berbeda jauh dengan nya, Ingat! Ini peringatan dariku jika kamu tidak mendengarkan dan menuruti ucapan ku, Kamu akan tahu akibat nya, "
Setelah mengucapkan kata-kata itu Nyonya Gayatri segera berlalu dari hadapan Desi yang masih mematung, Ibu-ibu julid yang sedari tadi menguping dan menghibahinya pun kini mulai beranjak dan kali kerumah nya masing-masing,
Tak terasa bukiran cairan bening itu sukses meluncur dari kedua netral nya, Dadanya sesak hatinya sangat sakit, Kata-kata Nyonya Winda yang begitu menyakitkan hati itu masih terus terngiang-ngiang di kepalanya,
Desi juga bingung harus bagaimana.menghadapi Devan dan Citra, Apakah ia akan sanggup menghindari mereka, Lalu alasan apa yang harus ia berikan untuk penolakan nya, Citra pasti akan sangat kecewa, Jika ia melakukan hal itu, Gadis kecil itu sudah sangat riang dengan panggilan baru untuk nya, Ya itu Ibu.
__ADS_1
Desi melihat binar kebahagiaan dari mata gadis kecil itu, Saat dirinya mengijinkan nya untuk memanggil nya Ibu, Lalu apakah ia tega membuat nya kembali murung dengan penolakan dirinya,
Desi menyusut air matanya dengan ujung lengan bajunya, kemudian ia kembali masuk kedalam rumah nya, Untuk melanjutkan pekerjaan nya,
.......................................
Brak!!
"Brengsek!!! Beraninya kau berkhianat padaku, Riko!!, "
"iya Tuan, "
'Cari dan temukan si brengsek itu sampai dapat, Bawa dia ke hadapanku, Beraninya dia bermain-main dengan ku, Akan ku cincang kau pria tua, "
"Siap tuan, Anak buah kita sedang mencarinya, Kita tunggu saja kabar dari mereka, "
" Ada apa ini sayang? Kenapa ruangan kamu berantakan seperti ini?,"
Sabira yang baru saja sampai ke kantor Suaminya itu terkejut. Dengan apa yang dia lihat, Ruangan suaminya itu sudah mirip dengan kapal pecah, Sangat berantakan sekali,
"Hem, "
Aditya mengibaskan tangan nya ke arah Riko, Sebagai kode menyuruh nya keluar, Dirinya butuh sang istri untuk menenangkan pikiran nya yang sedang kacau saat ini, Akibat perbuatan salah satu karyawan nya yang dia percayai, Namun dengan brengsek nya pria tua itu kabur dengan membawa sejumlah uang perusahaan nya,
Riko yang mengerti dengan kode atasan nya itupun kini segera undur diri dari ruangan itu,
__ADS_1
Next...
Jangan lupa like dan komentar nya bestie, Love u all 😘