
Hari berlalu dengan cepat seiring waktu yang terus berjalan, Tidak terasa kini sebulan sudah usia bayi kembar Arum, Baby Ar dan baby Sil,
Kedua bayi menggemaskan itu tumbuh begitu baik,
Keduanya kini sudah berisi dan montok, Dan kemarin kedua putri kembar Dewantara itu sudah tidak lagi menghuni box hangat inkubator yang telah menjadi tempat ternyaman keduanya selama sebulan lebih ini,
Dokter serta perawat pun sudah kembali kerumah sakit, setelah memastikan kedua bayi menggemaskan itu sehat sempurna,
Dan tentu saja yang paling repot saat ini selain Arum adalah Arkha, bocah tampan itu sibuk ingin menggendong kedua adiknya sekaligus,
"Mah abang mau dendong adik. Tapi kalo dendong catu, catunya nanti nangis, Kalo dendong dua-duanya boleh?, " Tanya nya kepada sang Mama yang sedang menyusui salah satu adik nya, sedang satunya lagi sudah tertidur pulas didalam box nya karena telah lebih dulu menyusu,
" Abang belum bisa gendong adik, Karna adik nya masih sangat kecil, Em nanti ya kalau adiknya sudah besar dikit baru bisa abang gendong, " Ucap Arum lembut
Arkha terdiam sejenak setelah mendengar penuturan mama nya, Jelas sekali kekecewaan di wajah tampan nya, sebab dirinya sudah begitu lama menunggu untuk bisa menggendong sang Adik,
Arum menyadari hal itu, Namun mau bagaimana lagi, dirinya belum berani menyerahkan h&
"Tapi ma. abang ingin dendong adik, " Ucap nya lirih dengan wajah sedih,
"Loh kenapa putra ayah yang tampan ini terlihat sedih?, " Azka yang baru selesai mandi setalah pulang dari kantor itupun menghampiri anak dan istrinya di ruang keluarga,
"Ayah. abang mau dendong adik, " Rengek nya dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca, memandang sang ayah yang datang memeluk nya sembari mengecup pipi bulatnya,
"Hem.mau gendong adik? "
"He'eh.abang kan syudah lama nunggu buat dendong adik, Tapi... " Bocah tampan itu menjedah kalimatnya dengan menoleh sang mama yang duduk disampingnya,
Azka pun ikut menoleh kepada istrinya yang sedang menyusui salah satu putri nya, "Tapi kenapa?, " Tanya Azka kembali menatap wajah tampan Arkha yang berada di pangkuannya,
"Tapi kata mama belum boleh, adik masih kecil. Abang gak akan nakal kok yah, cuma dendong ajah, " Lanjutnya dengan wajah memelas berharap sang ayah mengasihani nya kemudian mengizinkan nya memangku sang adik,
__ADS_1
Arum membuang wajah nya kesamping. Demi menyembunyikan senyumnya, Wajah memelas putranya itu sangat lucu dan menggemaskan,
"Uluh! jagoan ayah. yang tampan ini mau gendong adik nya ternyata, " Azka mencium kedua pipi bulatnya dengan gemas,
"Oke boy! Sekarang duduk disini dengan kaki bersilah ya " Azka membantu putra nya duduk di sofa dengan kaki bersilah, kemudian ia menghampiri sang istri yang baru saja menutup resleting baju yang ia kenak kan setelah usai menyusui putrinya,
"Mas nanti... "
"Sudah.kamu tenang aja biar mas yang jagain, Sini baby nya kasian tuh abang nya sedari pulang dari rumah sakit sudah ngebet mau gendong adiknya, " Azka meraih putri nya yang sudah kenyang setelah menyusu selama hampir setengah jam,
Suara tawa Arkha terdengar renyah, saat tubuh mungil bayi yang baru berumur satu bulan itu berada dalam rengkuhan nya,
"Ayah abang bisa dendong adek!, " Ucapnya dengan wajah berseri-seri sedang bibir nya tak henti menciumi pipi bulat sang adik,
"Iya sayang, abang hebat ya, bisa gendong adiknya, Kelak jadi pelindung adik-adiknya ya bang, "
Tukas Azka sembari mengusap pucuk kepala sang putra yang tengah asik memandang wajah adiknya yang kembali terlelep setelah kenyang,
" Yang ini namanya siapa yah?, "
Arkha pun mandang lekat bayi dalam gendongan nya itu, memperhatikan setiap inci lekuk wajah hidung mata alis dan juga rambut,
"Ayah.sekarang abang mau dendong baby Sil, Boleh?, "
"Boleh dong sayang, " Azka mengambil baby Ar dan meletakkan nya kedalam boxnya, kemudian menggendong baby Sil yang masih nyenyak dengan tidur nya, Bayi mungil itu tidak terganggu sama sekali walaupun tubuhnya diangkat oleh sang Ayah,
" Nah ini baby Sil, " Azka meletakan baby Sil kepangkuan sang putra yang sudah bersiap menyambut adiknya itu,
Sama seperti baby Ar, baby Sil pun tidak lepas dari kecupan-kecupan sayang dari sang kakak,
"Coba perhatikan wajah bahagianya sayang, Apa kamu tega membiarkan nya bersedih karena nggak bisa gendong adiknya, " Ucap Azka kepada Arum,
__ADS_1
"Aku bukan nya tega mas. Tapi khawatir aja jika terjadi sesuatu, Adiknya masih kecil banget, aku aja masih takut-takut gendong nya, " Jelas Arum, yang memang benar apa yang ia khawatirkan adalah hal itu, Bukan tidak mengijinkan,
Arum memperhatikan kedua anak nya, Putranya itu duduk bersilah dengan mendekap sang adik yang masih terlelep, Ada rasa bersalah karena tadi menolak keinginan putranya itu,
"Iya sayang mas ngerti kekhawatiran kamu, besok-besok jika dia minta hal yang sama, kamu bisa mengikuti cara ini, Dan tetap mengawasinya, paling beberapa menit saja dia sudah capek dan minta di angkat adik nya, " Ujar Azka lagi sembari merangkul bahu istrinya, Dan Arum pun mengganguk kan kepalanya mengerti,
Benar saja apa yang dikatakan Azka, baru dua menit bocah tampan itu sudah menyerah, Dengan masih mendekap sang adik ia memanggil Ayah nya,
"Ayah abang syudah capek, besok lagi ya dendong adiknya, " Ucapnya dengan senyum simpul nya,
"Siap boss, abang memang yang terbaik. Sayang sama adik-adiknya, " Azka mengangkat baby Sil dan meletakkan nya kedalam box,
"Ayah. mereka sangat mirip ya, abang sulit bedain nya, " Arkha ikut melongokan kepalanya mengintip kedalam box dengan kaki berjinjit demi menjangkau box kedua adik nya itu,
" Hem. Nanti juga abang akan bisa membedakan mereka, " Ucap Azka tangan nya terulur meraih tubuh montok sang putra dan menggendongnya, Agar bisa leluarsa memandang kedua adiknya,
Arum tersenyum melihat interaksi ayah dan anak itu, Kedua pria yang begitu ia cintai,
πΈπΈπΈπΈπΈ
Arini terduduk dengan lesu di sebuah bangku dihalaman belakang rumah nya, Sejak kejadian itu suaminya masih marah kepadanya dan tidak menegurnya sama sekali,
Bukan hanya suaminya, Kini Vika pun ikut-ikutan mendiamkan nya setelah mengetahui semuanya, Kedua anak dan ayah itu kompak mendiamkan dirinya,
Hanya Rangga yang masih bersikap seperti biasa dan masih mengajaknya berbicara, Arini sangat mencemaskan nasib nya saat ini, Bagaimana jika Anton tidak memaafkan dirinya,
"Hah! " Arini menghela nafas nya dengan berat, memikirkan masalah yang tengah melanda hidupnya, kepalanya serasa pening karena kurang tidur,
Sejak kemarahanya saat itu Anton selalu pulang tengah malam. setelah dirinya terlelep suaminya itu selalu menghindarinya, bahkan tidurpun terpisah, Anton lebih memilih tidur dikamar tamu. Ketimbang tidur dalam satu kamar dengan dirinya
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Sepertinya mas Anton sangat kecewa padaku, Selama ini dia tidak pernah marah, " Gumam nya muram,
__ADS_1
.
BESTIE TERSAYANG KU, TERIMAKASIH YA SELALU SETIA MENANTI UP2 SELANJUTNYA π