
Sudah setengah jam setelah Lulu dan Damar pamit dari gubuk reot itu, Namun nek Siti dan Wati masih terdiam menatap satu gepok warna merah yang ada di tangan nek Siti,
Tangan tua nya semakin bergetar saat memegang lembaran warna merah itu, Mimpi apa dirinya semalam. Sehingga hari ini ia mendapat rezeki yang tidak ia sangka-sangka sebelum nya,
Hal itu tidak berbeda dengan Wati yang nampak membulatkan matanya saat isi dari amplop itu dikeluarkan oleh sang nenek,
"Nek banyak sekali uangnya, Betulan ini dari Arum. " Ucap Wati dengan mata tertuju pada gepokan uang itu,
Sedang Armand anak laki-laki itu sedang sibuk memilih-milih jajan yang mana dulu yang akan dia makan terlebih dahulu,
Lupa sudah dengan kesedihan nya akibat olokan teman teman sebayanya, yang selalu saja mengulangi olokan mereka tentang dirinya yang tidak memiliki Ayah,
Anak itu bahkan sudah menghabiskan dua kotak susu kemasan ukuran sedang, Tidak menghiraukan buyut dan juga ibunya yang sedang syok melihat uang sebanyak itu,
" Bu! Alman mau yang ini lagi ya! " Ucap nya dengan mengangkat satu kotak susu kemasan itu lagi, rasa manis pada susu itu, membuat nya kembali menjatuhkan pilihannya kepada susu kemasan siapa minum itu,
"Sudah cukup. Sudah dua kotak kamu minum, Besok lagi.sekaramg simpun semua jajan nya dan bawa kekamar, " Ucap Wati menoleh sekilas kepada anak nya,
Armand menururti perintah ibunya, anak laki-laki itu memasukan kembali jajanan yang di berikan Lulu tadi kepadanya, Kemudian membawanya ke dalam kamar,
Sedang Nek Siti juga wati kini tengah menghitung berapakah jumlah uang yang di kirirmkan Arum itu,
Setelah keduanya menghitung dengan seksama, bahkan samapai menghitungnya dua kali, sebab khawatir jika mereka salah hitung,
Namun hingga dua kali mengulanginya jumlahnya tetap sama yaitu 10juta, " Wahh Nenek banyak juga duit nya si Arum itu, Sehingga dia mengirimkan kita duit sebanyak ini,
"Apa pekerjaan nya di kota ya? " Lanjutnya lagi, sembari memperhatikan lembaran uang yang ada di tangan nya itu,
"Kurang tahu juga nenek. Tadi tanya sama Lulu tapi nggak dijawab, " Ucap sang nenek, masih mengusap-usap uang ditangan nya dengan lembut dan hati-hati layak nya mengussap kepala bayi yang baru lahir biar tidak lecek,
"Nek aku minta dong buat jajan nya Armand, sekalian mau belikan dia baju juga, kasian bajunya sudah robek-robek dan itu sering jadi olok-olokan oleh teman teman nya,"
Ucap Wati sembari menghitung uang yang akan ia ambil,
__ADS_1
Wati mengambil uang sebanyak 2 juta untuk membeli keperluan nya dan juga anak nya,
" Ini sisanya kita bisa gunakan untuk memperbaiki atap rumah kita nek," Ucap Wati lagi, sembari mengangsurkan sisa uang yang ia pengang kepada neneknya,
" Iya Ti. tapi sepertinya belum bisa kita memperbaiki rumah dalam wattu dekat ini, Kamu lihat itu, Tanah kosong di samping rumah. Sedang dalam pembangunan kan, Fondasinya sudah naik itu, " Ucap nek Siti mengingatkan Wati tentang pembangunan yang berada di samping rumah mereka,
"Iya ya nek. Kira-kira siapa ya yang membangun di sebelah rumah kita ini, Sepertinya akan membangun rumah yang sangat besar, "
Ucap Wati membenarkan ucapan sangat Nenek, sembari mengintip dari bolongan dinding rumah nya, Mengintip aktivitas para pekerja di sebelah rumah mereka,
"Sepertinya bakal tetangga kita nanti orang kaya nek, " Lanjut Wati lagi yakin,
"Sepertinya begitu, " Sahut nek Siti,
… … … … … … … . … . …
"Bapak lihat sendiri kan tadi seperti apa sikap keluarga Arum, " Ucap Lulu di balik punggung Damar yang sedang fokus mengebudikan motor nya,
"Mereka itu hanya mau uang Arum aja! Tapi mana perduli dengan kondisi dan keadaan Arum, apalagi si Wati kimprit itu sok sombong, " Lanjut Lulu lagi dengan bersungut-sungut,
"Pak Damar dengar aku ngomong nggak sih! Kok daritadi diem aja. Nggak ada nyaut sekalipun, " protes Lulu sembari memiringkan kepalanya memandang reaksi wajah Damar yang biasa saja,
Mendengar Lulu yang selalu memanggilnya dengan sebutan bapak, membuat Damar gemas dan menghentikan motor nya di pinggir jalan,
"Loh..kok malah berhenti disini sih pak! Kan kita masih jauh dari rumah ini?, " Protes Lulu, bingung,
Setelah mematikan mesin motor nya Damar pun membuka helm dan menoleh ke belakang dimana Lulu masih duduk manis di jok. dengan wajah bingung nya,
"Coba panggil lagi seperti apa tadi? " Tanya Damar gemas,
"Panggil apa emang nya," Ucap Lulu balik bertanya, Dengan memalingkan wajahnya kesembarang arah, Menghindari tatapan mata Damar setelah menyadari kesalahan nya,
Satu sentilan manja memdarat di kening Lulu,
__ADS_1
"Auhh! Sakit ihh seneng bener sentilin kening aku,"Ucap Lulu dengan menggosok-gosok kening nya,
"kamu ini ya bandel banget dibilangin. jangan memanggilku bapak, panggil Mas atau apa gitu! Yang penting jangan bapak, " Tukas Damar lagi,
Lulu terdiam beberapa saat, mencoba berpikir panggilan apa yang pas untuk Damar, Mau manggil mas kok masih berat, mau manggil ayang apalagi, Terlihat seperti. Bucin banget,
" Em baik lah bagaimna jika aku panggil Abang saja? " Ucap Lulu menoleh kepada Damar yang masih setia memandangi nya,
" Ya lebih baik daripada bapak! " Jawab Damar singkat,
Kemudian kembali menyalakan mesin motor nya,
"Em disini warung kopi sebelah mana? " Tanya Damar kemudian,
"Pak.eh Abang mau ngopi? " Tanya Lulu segera memperbaiki panggilan nya kepada Damar sebelum kena sentil lagi,
" Nggak. aku ingin bertemu seseorang, Dan dia bilang sedang di warung kopi tak jauh dari rumah keluarga Nona muda tadi, " Jelas Damar
"Oh warung kopi yang itu. Warung kopi yang itu ada di sebelah sana! " Tunjuk Lulu pada sebuah warung yang berada beberapa meter dari tempat mereka saat ini,
"Seseorang.siapa memang Abang ada kenalan di desa ini?" Tanyanya bungung,
"Abang mau kesana sekarang.?"
"Iya sudah ditungguin dari tadi," Damar melajukan motornya dengan kecepatan sadang kearah warung kopi itu,
" Kenapa harus disana bang.disana itu..." Lulu tidak melanjutkan perkataan nya, Tentang warung kopi itu, Warung kopi horor menururtnya, karena sering nya kena razia kaum. Ibu-ibu,
Warung kopi yang sangat ramai di desa itu, Tempat berkumpulnya para bapak-bapak dan juga para pemuda yang senang nongkrong sambil menggoda sang pemilik warung kopi yang seorang Janda kembang,
Janda tanpa anak yang bernama Marni, wanita manis itu berpisah dengan suaminya setelah 2 tahun menikah namun belum juga memiliki buah hati, Begitulah kabar yang beredar seputar janda kembang itu,
Sikap nya yang centil menjadi salah satu daya tariknya dalam menggaet pelanggan bapak-bapak untuk sekedar minum kopi sembari menggoda nya, Namun tak jarang juga warung kopi itu kena Razia oleh ibu-ibu yang geram karena para suami mereka menjadi betah berlama-lama di warung itu ketimbang berada dirumah,
__ADS_1
Jangan lupa likom nya ya bestie.