
"Pak Damar mau ngapain!! " Pekik Lulu dengan sedikit panik, Sebab Damar semakin mengikis jarak diantara mereka, Lulu tidak. Bisa mundur lagi karena sudah mentok dengan dinding,
Damar sangat menikmati wajah panik Lulu, Entah sejak kapan menggoda gadis cerewet itu menjadi hal yang menyenangkan baginya,
"Menurutmu? " Goda Damar dengan satu tangan nya membelai pipi mulus Lulu yang kini semakin merona, Ibu jarinya mengusap bibir chery yang selalu membuatnya ingin mencicipinya lagi dan lagi,
"Bapak jangan macam- macam ya! Nanti aku teriak loh!," Ucap Lulu panik, Dengan detak jantung nya yang kian bertalu,
Tangan Damar yang hangat menyentuh pipi nya, Reflek Lulu menutup matanya.meresapi hangatnya telapak tangan Damar yang menempel di pipi nya,
Kenyamanan itu harus terusik dengan Keusilan Damar yang mengusap-usap bibir nya, Lulu membuka matanya dan berusaha untuk meloloskan diri dari kurungan Damar,
Damar yang tahu jika Lulu ingin kabur dari kukungan nya, Segera memegang pinggang nya dengan sebelah tangan nya, Dan menarik nya hingga menempel erat di tubuhnya, Sedang sebelah tangan nya lagi memegang dagu nya hingga wajah Lulu mendongak menatap nya dengan jarak yang sangat Dekat,
Hembusan nafas keduanya saling menerpa wajah masing-masing, Detak jantung mereka saling berlomba seakan ingin menunjukkan siapa yang paling unggul,
Keduanya Terdiam menyelami perasaan satu sama lain, Netra pekat keabuan milik Damar menatap intens iris coklat Lulu
Dengan tubuh yang saling menempel, karena tidak adanya jarak di antaranya,
"Apa kamu masih meragukan ucapanku? " Tanya Damar setelah sekian detik hanya keheningan yang terjadi diruangan itu, "Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku!" Lanjut nya masih dengan memeluk erat pinggang Lulu,
Lulu hanya bungkam. Tak tahu harus berkata apa, Kondisi jantung nya saat ini sedang tidak baik-baik saja, Lulu berusaha memalingkan wajahnya dari tatapan Damar,
Namun Damar menahan nya, Sehingga tatapan mereka kembali bertemu, "Tatap aku. apa dimataku terlihat kebohongan? " Tanya Damar lagi dengan suara yang sangat lembut,
Lulu menatap intens netra pekat keabuan pria dingin yang sedang memeluk nya itu, Tidak ada kebohongan disana, Hanya saja hati kecilnya tetap tidak yakin jika Sekretaris dari suami sahabatnya itu tidak memiliki kekasih di luar sana,
Pria modelan Damar yang memiliki karir gemilang di dunia bisnis, dengan postur tubuh yang Atletis, dan paling di takuti oleh semua karyawan DEWANTARA GROUPS itu sangat tidak mungkin jika tidak memiliki wanita di luar sana,
__ADS_1
Lulu khawatir akan Nasip nya dikemudian hari, Lulu tidak siap jika harus sakit karena sudah terlanjur memcinta, Pada tempat yang salah,
"Tapi… tapi aku.. "
"Syut, Percayalah padaku, semua kekhawatiran mu itu tidak akan pernah terjadi, " Tukas Damar dengan memeluk erat Tubuh Lulu yang pasrah, Dengan perlakuan Damar
…
" Bapak!!"
Pekik Lulu pagi itu, Kala melihat ulah sang bapak, "Aduhh. bapak!! apa-apa'an sih! Kenapa menyuruh pak Damar melakukan itu? "
Kesal Lulu memandang bapak nya dengan tatapan permusuhan, Kemudian menoleh ke arah Damar yang hanya nyegir kuda menampak kan deretan giginya yang putih dan rapih,
" Kenapa memangnya? Apa ada yang salah! Dia berani melamarmu,itu tandanya dia juga harus bisa bekerja keras! " Ucap pak Bambang dengan santai sembari mengelus-elus kumis nya yang tipis, Tapi baginya sudah menyerupai kumis mas Adam susanto
"Ya jelas salah lah pak! pak Damar itu pekerjaan nya di kantor bukan di sawah seperti ini," Ucap Lulu lagi makin kesal setelah mendengar alasan sang bapak melakukan hal itu kepada Damar,
Awal nya pak Bambang menolak lamaran Damar, sebab dia sudah berjanji kepada Pak Lurah Jarot jika Lulu akan menikah dengan putra nya Randy,
Akan tetapi dengan keahlian nya dan tutur kata yang sempurna, Akhirnya Damar bisa. Meluluhkan hati calon bapak mertuanya itu,
Dan pagi pagi sekali pak Bambang sudah mengajak Damar berkeliling sawah, Hingga matahari menampak kan dirinya dengan malu-malu, Kedua pria beda generasi itu masih berada di sawah, Karena Pak Bambang ingin mengerjai Pemuda kota itu,
"Sudah.nggak apa-apa kok aku bisa melakukan nya! " Ucap Damar tidak enak hati kala melihat Lulu berdebat dengan bapak nya,
Lulu kembali memperhatikan Damar yang sedang memegang cangkul, Lulu memperhatika penampilan Damar dari ujung kaki hingga kepala,
Damar memakai celana jeans pendek sebatas Lutut, dengan kaos pres body menunjukkan tonjolan otot-otot lengan dan juga dadanya, Sebuah mahakarya Tuhan yang Maha sempurna sekali
__ADS_1
Kulit putih bersih nya kini telah merah karena sengatan matahari yang mulai meninggi,
"Noh dia aja gak masalah, " Ucap pak Bambang membela diri,
Lulu hanya melengos kesal, Dengan perkataan bapak nya itu, Kemudian berjalan mendekatkan Damar, yang sedang mencangkul tanah,
"Pak Damar kenapa mau aja sih disuruh begini sama bapak!, " Tanya Lulu dengan wajah manyun, Sebab kasian melihat Damar yang biasanya bekerja di balik meja komputer, Tapi kini malah disuruh mencangkul sawah,
"Apa kamu meragukan ku? " Tanya Damar menatap Lulu yang berdiri didepan nya dengan menaikan sebelah alisnya,
"Bukan begitu.tapi kan pak Damar nggak pernah menggarap sawah," Ucap Lulu, yang sedikit khawatir jika Damar akan melukai dirinya nanti sebab tidak terbiasa memegang cangkul,
"Hem jangankan menggarap sawah. Menggarap dirimu saja aku bisa, " sahut Damar dan sukses membuat Lulu melotot kan matanya,
" ishhh mesuumm, " Kesal Lulu dengan memalingkan wajahnya kesamping menahan malu,
Sedang Damar hanya terkekeh kecil menyaksikan wajah bersungut-sungut gadis barbar nya itu, Sangat menggemaskan!
" Sudahlah sebaik nya kita pulang dan bersihkan dirimu, setelah itu temani aku kerumah Nenek nya Arum, Aku ingin mengantarkan titipan Arum untuk Mereka, "
Ucap Lulu lagi menyuruh Damar menyudahi acara cangkul menyangkul sawah tersebut, Tanpa menghiraukan tatapan protes dari sang bapak,
Pak Bambang sesungguhnya masih memutar otak nya berpikir, bagaimna menyampaikan hal ini kepada Pak Lurah Jarot,
Mereka pasti tidak akan Terima dengan semua ini, Apalagi Randy yang memang sudah sangat menyukai Lulu sejak jaman mereka sekolah dulu,
Mendengar nama Nona muda nya di sebuat, Damar pun akhirnya mau menyudahi pekerjaan nya, Ia begitu penasaran ingin melihat langsung bagaimna tampang keluarga Nona muda nya itu,
Menggapa mereka setega itu berlaku tidak adil kepada Nona muda nya,
__ADS_1
Pak Bambang hanya memandang punggung putrinya dan Damar yang berjalan berdampingan, meninggalkan dirinya yang masih berpikir mencari jalan keluar yang baik, Dengan tangan Damar yang menggandeng tangan Lulu agar tidak terpeleset karena jalanan yang licin,
"Semoga dia memang pria yang tepat untuk mu Nak, Bapak hanya ingin hidup kamu dimasa depan bahagia, " Gumam pak Bambang,