Suami Lumpuhku Suamiku Sayang

Suami Lumpuhku Suamiku Sayang
Bab, 162


__ADS_3

"Dam.kamu kenapa dari tadi sepertinya kurang semangat begitu? " Azka menegur sekretaris nya itu sebab sedari pagi ia datang wajah pria itu telah bermuram durja,


Tidak ada cerah nya sama sekali, Seperti sinar mentari yang tertutup awan gelap, yang siap menurunkan hujan lebat,


Damar menghela nafas nya dengan kasar, saat mendengar pertanyaan dari Tuan Mudanya itu, Pria itu kemudian bangkit dari tempat duduk nya yang semula duduk disofa dengan laptop dipangkuan nya,


Damar menarik kursi yang ada didepan meja Azka, kemudian mendudukkan dirinya disana, Dengan wajah kusut nya ia menghadap sang Tuan Muda berharap ada pencerahan dari sang Tuan muda untuk masalah yang ia alami saat ini,


Azka yang melihat wajah kusut sekretaris nya itupun akhirnya menghentikan pekerjaan nya sejenak, "Ada apa. Apa ada sesuatu yang..., "


"Lulu mual jika berdekatan denganku, " Ucap nya dengan memalingkan wajahnya kesamping setelah memotong pertanyaan Azka dengan sebuah peryataan aneh tapi nyata, yang tengah dialaminya saat ini,


Azka tercengang dengan pernyataan dari sekretaris nya tersebut, " Mual bagaimana maksud kamu Dam?, " Tanya Azka bingung dengan perkataan Damar,


"Ehem, begini Tuan Muda, pagi tadi saat saya memeluk nya, Lulu langsung mual dan muntah-muntah, Katanya aroma tubuh saya tidak enak, malah membuatnya mual dan ingin muntah, " Jelas Damar dengan wajah murung nya,


" Haa. Kok bisa begitu? Apa kamu nggak pernah mandi sampai istri mu mual mencium bau tubuhmu?, " Tanya Azka dengan wajah heran,


"Tadi pagi saya baru saja mandi saat dia bilang begitu, Dan yang aneh nya. saya juga nggak bau kok, " Ucap Damar sembari kembali mencium kedua ketiak nya demi meyakinkan diri jika tubuh nya memang tidak bau seperti yang dituduhkan sang istri kepadanya,


"Coba sini, " Azka sedikit mencondongkan tubuh nya demi mencium aroma tubuh Damar. dirinya juga ingin membenarkan perkataan sekretaris nya itu,


Damar pun mencondongkan tubuhnya seperti permintaan Azka, "Bagaimana Tuan tubuh saya nggak bau kan, " Tanyanya kemudian setelah memperbaiki duduk nya kembali,


"Hem iya, nggak bau kok Dam, Tapi kok istri kamu sampai muntah-muntah begitu sih? " Heran Azka,


"Jadi apa yang harus saya lakukan tuan? Apa tuan tahu solusi apa yang bisa saya gunakan agar Lulu mau saya dekati tanpa ada keluahan mual seperti tadi pagi? "


" Kalau soal itu Aku juga kurang paham Dam, Arum kemarin nggak seperti itu, Dia malah senang tidur di ketiak aku, " Jelas Azka dengan bangga,


Damar kembali menghela nafas nya dengan berat, Tubuh nya kembali loyo tidak bersemangat saat tidak mendapatkan jalan keluar untuk masalah yang ia alami saat ini,


Kedua pria itu terdiam sejenak dengan pemikiran masing-masing, Sampai akhirnya tercetus ide dari Azka untuk bertanya kepada Roy yang sudah memiliki pengalaman dalam menghadapi wanita hamil,

__ADS_1


"Ahh coba kita tanya kepada yang lebih berpengalaman, " Tukas Azka sembari meraih ponsel nya diatas meja dan mendial nomor yang di tujunya,


Disinilah sekarang disebuah CAFE KOPIDAENG, Sebuah cafe yang lumayan ramai pengunjung, yang kebanyakan adalah anak muda, ketiga pria yang sama-sama sudah memiliki istri itu, beda nya Salah satu diantaranya masih sangat awam mengenai masalah ibu hamil,


Ya ketiga nya janjian bertemu saat jam makan siang,


"Jadi apa yang kalian ingin tahu mengenai wanita hamil? Bukan nya elu sudah anak tiga bro? " Tukas Roy sembari menoleh Azka yang sedang menyeruput minuman nya,


Bukan apa-apa Roy bertanya demikian kepada pria itu, Bukankah kini Azka baru saja menyambut kelahiran bayi kembar nya bersama Arum, Tidak mungkin kan jika sahabat nya itu tidak punya pengalaman apa-apa mengenai wanita hamil yang selalu berubah mood nya,


" Bini gue ngidam nya nggak kek bini dia Roy, Malahan bini gue pengen dikelonin terus setiap hari, " Jawab Azka nyengir kuda,


Roy mendengus saat mendengar penuturan Azka barusan, "Heh pasti elu untung banyak kan, enak banget idup loe, " Cibir Roy kepada Azka


Yang hanya ditanggapi dengan kekehan oleh pria itu,


"Jadi bagaimana solusi yang baik untuk masalah saya ini tuan Roy? " Tanya Damar dengan wajah risau,


"Ehem begini Dam, " Roy berdehem sejenak sebelum menjelaskan nya kepada Damar,


"Dulu juga Nury begitu nggak suka gue deketin, bahkan sampai menjelang lahiran dia nggak suka aroma tubuh gue, Jadi setiap malam gue mandi dan pakai parfum dan juga minyak telon bayi baru mau gue peluk, "


"Seriusan bro. elu setiap hari pakai parfum bayi? " Tanya Azka penasaran seorang Roy yang terkenal dengan penampilan perfect nya itu mau memakai segala perlengkapan bayi,


"Iyalah, daripada gue gak dapat jatah, mending gue pakai itu perlengkapan bayi demi keamanan si otong hahhaha, " Roy terbahak diujung kalimatan,


Azka mencibir sahabatnya itu dengan mendegus, Tapi tidak bisa di pungkiri jika kemakmuran si otong lebih utama, mereka kaum pria akan melakukan apapun demi keamanan hidup si otong,


"Terima kasih tuan Roy nanti saya coba sepulang kantor nanti, " Ucap Damar dengan wajah cerah, berharap apa yang disarankan Roy tersebut bisa berhasil,


"Yup.semoga berhasil bro! "


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


"Apa-apaan semua ini..!! " Suara Anton menggema diruangan itu, Dengan Arini yang semakin gemetar saat melihat kertas berserakan di lantai yang baru saja dilemparkan oleh suaminya kepada dirinya,


"Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku Arini..!!! " Anton kembali berteriak dihadapan wajah Arini yang semakin ketakutan, mendengar suara keras nya,


"Jawab...!!! "


"Ma.. Maaf kan aku mas. a.. aku.. "


" Keterlaluan sekali kamu membohongiku selama bertahun-tahun, Kamu membuatku seperti Lelaki yang tidak berguna, mengabaikan kedua orang tuamu yang sudah Sepuh, Dan tidak mengakui putrimu sendiri, "


Anton mengeluarkannya segalanya amarah nya dengan dada kempang kempis menahan kobaran api yang telah meluap dikepalanya Berusaha mengontrol dirinya, Agar tetap waras,


Sementara Arini sudah tidak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar kata-kata suaminya, Apalagi yang hendak dibantah nya, semua sudah terkuak,


" Maaf kan aku mas. Aku bisa menjelaskan semuanya, Aku.. "


"Mau menjelaskan apalagi Arini? mau menyangkal lagi jika itu bukan anakmu, mau tidak mengakui lagi jika kedua orang tua yang telah Sepuh itu bukan orang tuamu begitu?, "


"Mau sampai kapan kamu tidak mengakui Arum sebagai putrimu? "


Cercah Anton tidak memberikan Arini kesempatan untuk berbicara, rasanya dirinya sangat tidak becus menjadi seorang menantu dan juga Ayah sambung untuk putri yang tidak diakui oleh wanita yang beberapa tahun silam ia nikahi itu,


Wanita yang mengaku sebagai janda tanpa anak, dan seorang yatim piatu, yang ternyata itu adalah kebohongan semata,


Dari luar ruangan Rangga yang awal nya ingin bertemu dengan papa mertuanya itupun urung mengetuk pintu, Setelah mendengar suara keras sang papa mertua,


Alhasil dirinya hanya berdiri di depan pintu dengan satu tangannya masuk kedalam sakunya,


Bukan niatnya untuk menguping pembicaraan hanya saja, mendegar nama Arum wanita yang begitu dicintainya dimasa lalu, membuatnya urung menjauh dari tempat itu,


"Ada apa dengan Arum, apa kaiatanya dia dengan kemarahan papa? " Monolog nya dengan perasaan cemas, Jangan sampai papa mertuanya itu mengetahui hubungan nya dengan Arum dimasa lalu,


Maaf ya bestie telat lagi up nyaπŸ™ˆ

__ADS_1


jangan lupa like komen nya ya,


TERIMAKASIH πŸ₯°πŸ™πŸ’•


__ADS_2