
" Bu, Arum sangat merindukan Ibu, Ibu kemana saja selama ini?," Arum masih memegang tangan Wanita yang ia panggil Ibu itu, Bahagia campur haru manakala ia bertemu Ibu nya yang sudah sangat lama ia rindukan,
" Apaan sih, Siapa kamu? Aku nggak kenal? "
Arini menghentak kuat tangan nya dari genggaman tangan Arum, Seraya menatap nya sinis,
Arum terhenyak kala mendapat perlakuan seperti itu dari sang Ibu, Ibunya tidak mengenali nya? Atau kah Ibu nya telah melupakan nya karena sekian tahun tidak bertemu,
" Bu, Ini Arum Bu, Anak Ibu." Arum kembali meraih tangan Ibunya, Namun sekali lagi di tepis dengan kasar oleh Arini,
" Mah, Dia siapa? Kenapa dia ngaku-ngaku anak Mama?,"
Seorang wanita muda berdiri dari duduk nya dengan satu tangan berada di pinggang nya, dan satu tangan nya lagi mengelus perut nya yang sudah membesar,
" Nggak tahu Fik, Mama nggak kenal, siapa Dia, Tiba-tiba manggil Mama Ibu, Mama nggak kenal,
Wanita parubaya yang bernama Arini itu adalah Ibu Arum, Ibu yang telah meninggalkan nya untuk merantau, dan tidak pernah kembali, Bahkan mengiriminya uang saja tidak pernah,
Arum tercenung saat mendengar perkataan menyakitkan itu, Keluar dari mulut Ibu yang telah melahirkan nya ke dunia ini,
Apa salah nya, sehingga ibu kandung nya tidak mengakuinya sebagai anak, Selama ini dia tidak pernah menuntut terlalu berat kepad Ibu nya itu,
" Tapi Bu, Saya memang Anak Ibu, Nggak mungkin kan Ibu lupa kepada anak nya sendiri?," Arum menyusut air mata nya yang menetes tanpa perminsi itu,
Sedikit terhenyak kala telapak tangan nya di genggam seseorang yang selama dua bulan ini memberikan kehangatan kasih sayang, Yang ia hausi selama ini,
Masih bercucuran air mata Arum menoleh, Dimana suaminya yang kini telah Menggenggam tangan nya, Dengan senyum lebar yang menyenangkan,
" Kamu salah orang Nona, Saya bukan ibu kamu," Sinis Arini, dengan wajah geram,
Sedikit melirik seseorang yang mendekati Mereka dengan kursi Roda nya, ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu, Sebab Topi yang ia gunakan sedikit melindungi wajah nya,
" Eh mba, Jangan asal ngaku-ngaku deh kamu, Mana mungkin Mama Aku punya Anak miskin seperti kamu, Bangun woi jangan mimpi disiang bolong,"
Tukas Wanita muda yang berdiri di samping Arini, dengan Nafas Ngos-ngosan saat mencecar nya barusan,
" Ada apa ini Mah?, Sayang?, kenapa kalian Ribut-ribut begini,. Aduh jangan marah-marah dong sayang Kasian anak Papa didalam sana," Ucap pria yang baru saja datang itu, dengan mengelus perut buncit istrinya itu,
Deg!!
Belum lagi sakit di hatinya mereda akibat penolak kan sang ibu, Kini Arum kembali di kagetkan dengan suara bass seorang pria yang begitu sangat ia kenali hanya dari suara nya saja,
Arum membalas genggaman tangan Azka lebih kencang, Saat menyadari siapa yang kini telah berdiri di depannya,
__ADS_1
" Ini Mas, wanita ini ngaku-ngaku Anak Mama, Padahal Mama udah bilang kalau nggak
kenal, tapi dia ngotot,"
Pria yang sedikit menunduk karena sedang mengelus perut istri nya itupun, Kembali menegak kan tubuh nya, kemudian menoleh Wanita yang telah membuat keributan dengan Istri juga Ibu mertuanya itu,
" Maaf Nona, Anda_"
" Maaf kan saya, Saya salah orang," Potong Arum cepat, Dengan menagkupkan kedua tangan nya di depan dada,
Deg!!
Pria yang baru saja membuka mulut nya untuk menegur wanita yang mengaku-ngakui Ibu mertuanya sebagai Ibu nya itu, Seketika terdiam kaku, Tak dapat melanjutkan kata-katanya saat melihat wajah yang sangat ia kenali kini berdiri di hadapan nya
Wanita yang ia cintai beberapa tahun yang lalu, kini ada di hadpn nya, Jantung nya seakan berhenti berdetak kala tatapan mereka bertemu, Ia bisa melihat tatapan kebencian serta kekecewaan dari manik mata wanita muda yang terpaksa ia tinggalkan karena ulah sang Nenek,
.
"Nona Arumni Diang Selasi!!"
Suara panggilan yang mengalun dari Spekeer Loket Apotek itupun Membuat Arum dengan cepat berbalik dengan mendorong Kursi Roda Suami nya, Dengan sedikit tergesah, tubuh nya sedikit gemetar,
" Perminsi, Maaf telah mengganggu kenyamanan kalian," Ucap nya sebelum n
berlalu dari hadapan ketiga manusia yang masih terbengong itu, khusus nya dua orang di antara mereka itu,
Masih merasa syok, dengan apa yang dia lihat barusan, Arum, kekasih nya dua tahun lebih yang lalu, kini ada di kota itu, Dengan seseorang yang duduk di kursi Roda, Siapa dia, Apakah pria yang duduk di kursi Roda itu adalah majikan nya,? Apa Arum kerja sebagai Art di kota besar itu?,
Berbagai pertanyaan bermunculan di kepala nya, Dan hal itu tak jauh berbeda dengan Wanita parubaya yang berdiri di samping nya, dengan pikiran yang sama, sama-sama bertanya dalam hatinya,
Sedang Apa Arum di kota besar ini, Apa dia bekerja? Atau sengaja mencari dirinya? Kalau Arum sengaja datang ke kota besar itu hanya untuk mencari nya, maka ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi,
Arini tidak akan membiarkan Arum merecoki kehidupan mewah nya saat ini, Dirinya yang dinikahi pengusaha kaya 12 tahun yang lalu, Mengaku sebagai janda tanpa Anak, Dan seorang yatim piatu,
Dan kini Anak yang tidak ia harapkan kehadiran nya di kota itu, malah muncul di hadapan nya, Ia tidak ingin Arum mengacaukan kehidupan mewah nya, Tidak akan, Ia harus memperingatkan Arum saat itu juga,
" Em Rangga, Kamu bawa istrimu ke mobil gih kasian dia udah kelelahan berjalan dengan perut nya yang sudah besar itu, Biar Mama yang nungguin Vitamin nya, " Arini menyuru Menantu dan juga Anak sambung nya untuk menunggu nya di mobil saja,
" Iya Bang, Aku capek, Duduk disini juga nggak nyaman, kursinya keras," Sahut Fika,
membuat Rangga mau tidak mau kini harus membawa Istri nya keluar dari gedung Rumah sakit itu,
Matanya masih mengawasih Arum yang kini tengah berada di loket untuk membayar Obat Suaminya,
__ADS_1
" Ya udah, Ayo kita ke mobil," sembari menggandeng lengan Fika menuju loby, Rumah sakit itu,
Setelah Anak dan menantunya sudah tak terlihat lagi, Arini Buru-buru menghampiri Arum yang masih memasuk kan obat-obat itu kedalam Tas nya sebelum kembali akan mendorong Kursi Roda Suaminya untuk keluar menuju Loby, dirinya juga sudah memesan Taxi,
" Tunggu."
Langkah Arum terhenti, Pandangan nya terpaut dengan sepasang kaki yang mengenak kan sepatu mahal dari brand ternama itu,
" Saya mau bicara serius sama kamu," Arini berucap dengan wajah angkuh nya, Memandang Arum yang merupakan Anak kandung nya bersama Surya,
" Saya tidak tahu apa yang sebenar nya, Yang kamu ingin kan dari saya, Tapi saya ingatkan sama kamu, Jangan pernah kamu mengusik kehidupan bahagia saya, Bersmaa Suami dan juga Anak-anak saya, Kamu paham kan dengan kata-kata saya ini, "
Arini melontarkan kata-kata menyayat hati itu kepada Anak kandung nya sendiri, Tanpa perasaan sama sekali,
" Kamu ngapain sih di kota besar ini hah? Kamu sengaja mau menghancurkan kehidupan saya?, Iya?," Tukas Arini geram,
" Nggak Bu, Arum nggak bermaksud begitu, Arum rindu sama Ibu, Arum.."
" Alah, Kamu nggak usah sok, Saya tahu apa maksud kamu muncul di hadapan saya, " Potong Arini kesal,
" Kamu mau apa supaya kamu jangan lagi muncul di hadapan saya?,. Iamu mau uang iya?,"
Arini merogoh Tas mahal nya dan mengeluarkan segepok uang pecahan seratus ribu, Dan..
" Nah, Ambil uang itu, dan pergi dari kota ini, Pulang ke desa sana jangan pernah lagi muncul di hadapan saya dan keluarga baru saya lagi," Arini melemparkan Gepokan uang itu, Tepat mengenai dada Arum, Dengan Nafas ngos-ngosan menahan amarah,
Arum yang mendapat kan perlakuan menyakitkan itu kini menunduk dan memungut Gepokan uang yang jatuh di depan kaki nya,
" Maaf Nyonya, Saya tidak butuh uang Anda, Yang saya butuhkan adalah kasih sayang dan kehangatan pelukan seorang Ibu, Tetapi jika Anda tidak berkenan untuk itu, dan merasa malu karena mempunyai Anak yang miskin dari Desa, Saya terima," Arum menyerahkan kembali Gepokan uang tersebut ketangan Arini,
" Terima kasih, Karena telah melahirkan ku kedunia ini, Bukan Saya yang durhaka, tetapi Andalah yang membuang saya dari kehidupan bahagia Anda, Semoga Nyonya dan keluarga selalu berbahagia,"
Tukas Arum setelah menyerahkan Uang itu kepada pemilik nya,
" Perminsi."
kemudian Arum mendorong kursi Roda Suaminya dengan hati dan perasaan nya yang terluka, bertemu luka masa lalu, Dan bersamaan pula luka baru di torehkan oleh Ibu kandung nya sendiri,
Kaki nya melangkah seakan tidak menjajal bumi dengan sempurna, Tubuh nya sedikit Oleh karena nya,
" Sayang," Suara bariton yang telah menanti hari-hari nya selama dua bulan ini kembalienyadarkan nya dari rasa sakit luar biasa itu,
" Iya mas?," Saut nya pelan,
__ADS_1
.
Next....