
" Mas.. " panggil Arum.
" Hem." Azka hanya bergumam karena masih terus menyesap bergantian puncak kesukaan nya itu, dengan sesekali memijatnya lembut,
" Besok Mas ikut ya, Kerumah sakit, Nebus obat? kita naik Taxi nanti Biar Rakha kita titip ke rumah mba Desi,"
Tukas Arum sambil membelai kepala Azka yang masih setia berada di dada nya, menyisir rambut Azka yang hitam dan lebat itu dengan jari-jarinya, Rambut Suaminya itu sudah mulai memanjang lagi, Azka makan ganteng di matanya,
" Iya, Mas ikut, Mas nggak mau kamu pergi sendiri, Nanti banyak yang godain kamu, dibliar sana,"
Azka mendongak setelah melepaskan Dada Istri nya itu,
Arum hanya tersenyum, menyaksikan raut muka suaminya itu,
" Aku nggak akan tergoda sama lelaki di luar sana mas, Kamu udah lebih dari yang aku harapkan selama ini, Bagiku Mas adalah suami yang sempurna, terlepas dari seperti apa kondisi mas saat ini, Aku yakin mas kan segera Sembuh,"
Arum masih menyisir rambut lebat Azka, Baginya Azka adalah Rumah nya, tempat nya berkeluh kesah, tempat ternyaman nya,
" Kamu itu cantik banget sayang, Aku nggak mau kamu sampai di ambil orang," Setelah mengatakan itu Azka kembali memaangut Bibir Arum, menyesap dan memberikan gigitan-gigitan kecil di sana,
Dengan satu tangan nya tak berhenti memijat dan memilin puncak Dada Arum secara bergantian, Membuat Arum mendesah, Dengan perlakuan Suaminya itu,
" Aku sayang kamu, kamu adalah milikku sayang," Lanjut Azka, tangan nya dengan cekatan menaikkan daster tipis istri nya, sampai melewati kepala,
kemudian tangan nya meraba punggung Arum dan melepaskan pengait bra yang ia singkat tadi, Kini kedua benda paling menakjubkan itu sudah terpampang sempurna di hadapan nya, Tanpa penghalang,
Kulit putih nan halu ini adalah milik nya,
Dalam sekejap saja Tubuh Arum telah polos, Hanya menyisahkan kain segitika yang masih membungkus **** ***** nya,
"Mas..., Rintih Arum, Saat merasakan jari Azka telah membelai lembut inti tubuh nya,
Membuatnya merinding bagai tersengat Listrik,
" Iya sayang, keluarkan semua suara indah mu sayang, Mas mau dengar," Dengan Susah payah Azka menggeser tubuh nya dengan keadaan kedua kaki nya yang mati rasa itu,
" Geser sedikit sayang, Bantu Mas," Azka telah melorot ke bawah dengan mendorong sedikit tubuh Arum agar ke atas sedikit,
Setelah posisi nya telah pas, Azka menarik penutup terakhir milik Istrinya itu, Arum yang menyadari jika penutup Tubuh nya sudah di lepas pun sempat terpekik,
" Mas.. mau ngapain?," Tanya nya Polos,
Ia bingung mau ngapain Suaminya itu terus saja kebawah sana, Selama ini jika mereka bercumbu, belum pernah Sampai seperti itu,
" Mas mau Cium ini," menyentuh inti tubuh nya yang sudah bebas dari penutup terakhir itu,
__ADS_1
" Boleh ya sayang," Suara Azka sudah serak, dengan tatapan mata sayu,
Azka sudah merentangkan kedua kaki nya dengan ia yang berada di antara nya, denga. bertumpu dengan kedua siku nya,
Tanpa menunggu persetujuan Arum, Azka sudah menunduk mencium dan menyesap bagian bawah sana, Seketika Tubuh Arum bergetar, perut nya geli seperti di hinggapi ribuan kupu-kupu yang berterbangan,
" Aahh.." Arum kaget dengan suara nya sendiri, dengan segera ia menutup mulut nya, takut jika membangunkan Rakha, dalam keadaan yang tidak memungkinkan itu,
" Pelankan suaramu sayang. Rumah kita ini nggak kedap suara," Azka tersenyum penuh kebanggaan, Saat dia bisa memberikan ke puasan kepada Istri nya itu,
Walaupun ia belum bisa leluasa dengan pergerakan nya karena keadaan nya yang lumpuh,
Setelah puas menciumi milik Arum yang sl membuat tak berhenti untuk terus menyesap nya itu, Kini ia mendongak menatap wajah Arum memerah, dengan nafas yang terengah-engah,
"Sekarang giliranku sayang, Sini, Naik kesini," Azka menuntun Arum untuk naik ke tubuh nya yang sudah melorotkan boxer nya,
Dengan Sabar Azka menuntun Arum, mengajari nya dan juga mengarahkan nya Agar mereka bisa menyatu, Dengan segala keterbatasan yang di miliki Azka,
Malam itu, Untuk pertama kali nya Arum kembali merasakan dimasuki oleh seorang lelaki yang merupakan Suminya. dengan penuh kelembutan,
...****...
" Mba. Titip Rakha ya, aku nggak bisa lama, Mas Azka ada di mobil, mau turun tapi rempong, harus geret kursi Roda lagi, Ucap Arum sambil mencium pipi gembul Putra nya.
" Abang sama Bude dulu ya sayang, Mama nggak lama kok, setelah dari sana Mama langsung mampir kesini, jemput Abang lagi, "
" Iya Rum berangkat gih, kasian Suami kamu nunggu nya kelamaan Nanti, Anak kamu a kan baik-baik aja di sini, Paling bentar lagi Danur pulang," Potong Desi,cepat,
Arum terkekeh mendengar ucapan Desi, " Iya mba ku, Aku pergi dulu ya,"
" Maaf ya mas lama," Ucap Arum, setelah mendudukan dirinya di sebelah Azka,
" Nggak apa-apa, Sayang,"
Setelah perjalanan 20 menit kini Arum telah mendorong kursi Roda Suaminya menuju Apotek di dalam Rumah sakit Elite itu,
Setelah bertanya kepada petugas Resepsionis Dan menunjukankan letak Apotek tersebut,
Arum berjalan santai dengan masih mendorong kursi Roda Suaminya, Azka sangat ganteng hari ini pikir nya,
Dengan celana pendek berbahan Cinos, dipadu padankan dengan kaos berkerah warna hitam, Sangat kontras dengan kulit putih nya, Tak lupa Arum juga telah memakaikan topi kekinian yang ia beli di sebuah Distro yang tidak terlalu mahal, Sangat cocok di tubuh suaminya yang memiliki wajah rupawa itu,
" Mas Tunggu disini ya, Aku serahkan ini dulu," Tukas Arum seraya meninggalkan Azka di deretan kursi besi yang berjejer di Depan Apotek tersebut,
Azka hanya mengangguk, saja, pandangan nya tak lepas memperhatikan Arum yang berjalan meninggalkan nya menuju loket Apotek tersebut,
__ADS_1
" Kamu cantik banget Sayang, Istriku," Gumam Azka, matanya masih tak lepas memandang Arum darinkekauhan, yang tengah berbicara kepada petugas loket itu,
" Mas mau minum?, " Suara Arum mengagetkan Azka, dirinya tidak sadar kalau Arum sudah kembali dan sekarang telah berdiri di samping nya,
" Maaf Mas, Membuatmu kaget, Sedang memikirkan Apa?, Sampai nggak sadar kalau aku udah di sini," Arum yang telah mendudukan dirinya di kursi besi itupun memandang lekat wajah Suaminya,
" Aku mikirin kamu, Kamu makin cantik" Jawab Azka, sembari tersenyum, memandang wajah Arum yang tengah Merona, Mendengar perkataan Suaminya itu,
" Gombal," Tukas Arum pelan, Yang membuat Azka terkekeh-kekeh karena nya,
" Duduk dulu sayang, Mama mau kasih ini dulu ke Loket,"
Suara seorang wanita parubaya di sebelah mereka yang berjarak 3 kursi dari nya, Membuat Arum reflek Menolehkan wajah nya,
Deg!!
Seketika tubuh nya mematung dengan jantung berdebar, Tak beraturan, Wanita itu, Tak mungkin Arum salah mengenali seseorang yang bertahta di hatinya,
Arum berdiri, Dan hal itu di sadari oleh Azka jika Ada sesuatu dengan Istri nya itu, yang tak ia ketahui,
" Sayang," Panggil nya dengan menggenggam tangan kanan Arum,
" Sebentar Mas, Tunggu sebentar,"
Setelah berkata seperti itu, Arum segera menghampiri Wanita parubaya itu, Yang telah kembali duduk di kursi tunggu dengan seorang wanita muda lain nya dengan perut buncit nya,
Sesekali wanita itu mengelus perut buncit itu dengan Sayang, Arum sempat mendengar perkataan Wanita parubaya itu,
" Sehat-sehat ya Cucu Nenek, "
Dengan segenap keberanian Arum menyapa Wanita parubaya itu,
" Ibu, " Panggil Arum tepat di belakang punggung wanita itu,
Dan saat mendengar suar Arum yang memanggil nya Ibu, wanita parubaya tersebut menoleh ke sumber suara,
Seketika matanya membulat dengan raut wajah syok,
" Ibu.. Ibu kemana saja, kenapa selama ini nggak perna ada kabar, Ibu udah ngelupain aku Bu?, "
Arum menghampiri wanita itu seraya memegang satu tangan nya, Air matanya sudah menetes membasahi kedua Pipi nya,
.
Next..
__ADS_1