Suami Lumpuhku Suamiku Sayang

Suami Lumpuhku Suamiku Sayang
Bab 106


__ADS_3

Sepanjang perjalanan kerumah sakit, Desi tidak membuka mulut nya sedikit pun, Hanya suara Citra yang terus bertanya ini itu kepada Danur,


"Mas kakinya masih sakit nggak? " Tanya nya dengan pandangan tertuju pada kaki Danur yang patah,


"Sudah nggak terlalu sakit Dek, Kan sudah diobatin sama pak Dokter, " Jawab Danur lembut,


"Kalau ini? " Tunjuk nya pada bahu nya yang masih terbalut kain perban, untuk menyangga tulang bahunya yang retak agar tidak bergeser,


"Kalau ini sudah nggak sakit, sepertinya sudah mulai pulih, Doakan Mas ya supaya cepat sembuh, " Ucap Danur dengan tersenyum kecil,


"Iya mas Citra do'ain terus kok, Citra berdoa semoga Mas cepat sembuh dan bisa gendong Citra lagi hehe, " Ucapnya, sambil terkirim,


"Aamin, Nanti kalau Mas sudah sembuh Mas akan menggendong Citra sepuasnya, " Ucap Danur lagi hal itu tentu saja di sambut antusias oleh Citra,


Damar yang menyetir mobil ikut tersenyum mendengar obrolan di belakangnya, Begitupun dengan Desi yang ikut menahan senyum,


Setelah melakukan seragkaian pemeriksaan, Dan dokter memggatakan jika perkembangan Kaki Danur sangat baik, bahkan di prediksi sebelum 3 bulan Danur sudah bisa berjalan dengan normal seperti sedia kala,


Desi tak hentinya berucap syukur kepada sang Pencipta, Atas segala kemudahan yang di berikan kepada Danur,


Devan juga sangat puas dan bahagia dengan hasil yang disampaikan Dokter yang menangani Danur selama ini,


Setelah selesai urusan di rumah sakit kini Devan membawa calon keluarga nya itu kesebuah restoran mewah untuk menikmati santap siang, Karena mang sudah waktunya makan siang,


Walaupun belum ada jawaban sampai sekarang, Namun Devan terus bersabar menanti jawaban itu dari wanita yang duduk di sebelahnya itu, Entah kapan hari itu tiba.


Desi masih mengingat perkataan Danur tadi pagi, Jika Devan adalah orang yang tepat untuk dirinya, " Ahh apakah itu benar? "Batinnya bertanya pada dirinya nya sendiri,


Jika ia tetap menolak maka Danur akan sangat kecewa padanya, Dan juga apa ia bisa terus menerus membohongi diri, Jika sejatinya dirinya juga telah mencintai Devan,

__ADS_1


"Des! bisa kita bicara berdua?" Deva menahan tangan Desi yang hendak kedapur untuk membuatkan Devan minuman,


Setelah selesai membawa Danur kekamar nya dan di temani oleh Dara dan Citra,


Desi terdiam sejenak sebelum akhirnya mengiyakan permintaan Devan, Dan mengajak nya ke belakang ditempat mereka dulu pernah berbicara,


Sebelum nya Desi mengambil dua botol kemasan air mineral dingin di lemari es, Kemudian menyusul Devan kebelakang rumah,


" Mau bicara apa mas? " Tanya Desi setelah mendudukkan dirinya di hadapa Devan,


"Tentang kita! " Tukas Devan singkat dengan menatap iris coklat milik Desi,


"Maafkan aku jika terkesan buru-buru dan tidak sabaran, Tapi Des aku hanya.., "


" Aku menerima lamaran mas Devan," Potong Desi dengan cepat, Wajahnya tertunduk karena malu jika Devan melihat kedua pipinya yang sudah ia pastikan akan semerah tomat,


Seakan berlomba siapa yang paling unggul di antara keduanya, Devan seakan tidak percaya jika pada akhirnya wanita di depannya ini akan memberikan jawaban yang sesuai harapan nya,


" Des! Coba ulangi lagi perkataanmu barusan!, " Ucapnya dengan senyum mengembang menatap wajah cantik Wanitanya,


"Wajah Desi semakin memanas menahan malu, Sebab di tatap seperti itu oleh pria yang telah mencuri hati nya itu,


" Aku mau menjdi istri Mas Devan! Aku mau Menjadi ibu untuk Citra mas, " Ulang Desi dengan suara nyaris tak terdengar, Namun begitu jelas di telinga Devan,


Tanpa menunggu lama Devan segera bangkit dri duduk nya, dan menghampiri Desi yang masih setia menundukkan kepalanya, Menyembunyikan rona merah di wajahnya yang begitu kentara,


Devan langsung memeluk Desi dengan erat, Karena terlalu bahagia sampai dia melupakan dimana mereka berada saat ini,


"Mas! lepas malu diliatin ibu-ibu tuh" Ucap Desi dengan wajah yang semakin memerah,

__ADS_1


"Biarkan saja sayang! Mas sangat bahagia hari ini Biarkan mas memelukmu sayang, " Ucap Devan tidak perduli dengan para ibu-ibu yang sedang menahan tawa mereka sebab Melihat perlakuan Devan kepada Desi,


… … . … … … … … . … … . . … ..


"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang? " Azka yang melihat istrinya sedikit melamun setelah keberangkatan Lulu tadi pagi, "Ingat kamu nggak boleh stres! Kasian baby twins didalam sini, " lanjuta Azka dengan mengelus perut buncit istrinya,


"Aku hanya ke ingat dengan kakek dan nenek aku di desa Mas, " Jawab Arum setitik air mata telah lolos dari netral indahnya yang sejak tadi sudah membendung disana,


Azka memeluk istri kesayangan nya dengan sesekali mengecup pucuk kepalanya dengan sayang, Seandainya tidak sedang hamil, Mungkin Azka akan mengajak istrinya untuk menjenguk kedua kakek dan nenek nya di desa,


Dirinya begitu penasaran akan reaksi kedua orang tua itu, Jika mereka tahu jika Arum kini telah hidup berkecukupan, Apakah mereka akan berubah menyayangi Arum atau hanya akan memanfaatkan nya saja,


" Iya Mas! Aku hanya kasian dengan mereka, Ibu benar-benar telah melupakan kedua orang tuanya, Aku nggak habis pikir dengan jalan pikiran ibu Mas! " Tukas Arum mengingat sikap Ibunya yang tidak mengakuinya sebagai anak,


" Sudah sayang, jangan terlalu dipikirkan! Jangan sampai hal itu menjadi beban di pikiran mu, Mas nggak mau kamu kenapa-napa, Soal ibu biarkan saja dia seperti itu, Kita doakan saja semoga beliau segera sadar jika apa yang dia lakukan selama ini itu tidak benar,"


Mendengar nasehat suaminya akhirnya Arum mengganguk dan menuruti perkataan suaminya, Yang harus ia pikirkan saat ini adalah kesehatan nya dan juga anak-anaknya,


Biarlah ibunya hidup dengan tenang tanpa da keluarganya yang memngangu nya, Arum hanya bisa berdoa semoga ibunya segera dapat hidayah dari sang Pencipta, Agar tidak menjadi anak durhaka karena telah mengabaikan kedua orang tuanya yang susah lanjut usia,


"Iya mas terimakasih ya! Mas selalu ada buat aku, Selalu bisa menenangkan aku disaat hatiku sedang tak karuan, " Ucap Arum sembari membalikkan tubuhnya sehingga kini mereka berhadapan,


Dengan jarak yang sedikit renggang, sebab perut buncit Arum yang menjadi penghalang mereka, Usia kehamilan Arum sudah memasuki 6 bulan tidak terasa 3 bulan lagi baby twins akan hadir kedunia ini,


Arum dan juga Azka sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba,


Terutama si Rakha, Hampir setiap hari terus bertnya kapan adik nya keluar,


Jangan lupa tinggalkan jejak nyanya bestie 🤗🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2