
" Selamat malam Tuan!," Andre membungkuk kan sedikit tubuh nya seraya memeberi salam. Saat Damar tiba di markas itu,
"Kau masih disini?, " Damar mengkerut kan alis nya saat melihat Andre di antara jejeran anak buah nya yang menyambut kedatangan nya,
"Iya Tuan! saya di tugas kan Tuan Roy untuk tetap disini untuk sementara, hingga urusan dengan merdeka selesai, " Jawap pria tegap itu,
"Hem!, Dimana?, "
"Di ruang bawah tanah Tuan!, " Sahut ketua dari anak buah nya yang bernama Boby,
Tanpa kata Damar berjalan menuju dimana kedua tahanan itu berada, Setibanya disana pemandangan pertama yang ia lihat adalah.Kedua manusia biadab itu kini tengah saling menguat kan dengan kepala si wanita yang bersandar di bahu sang pria dengan keadaan terikat di kursi yang bersebelahan,
Prok!! Prok!!!
"Wah hebat!! Hebat sekali. Kalian memang pasangan yang sanga serasi dan sama biadab nya," Ucap Damar dingin,
Sabira dan Adit terkejut saat melihat Damar sudah ada di depan mereka berdua, Tidak bisa di pungkiri jika keduanya sedikit takut dengan perangai sang tangan kanan dari Azka itu,
Namun sebisa mungkin kedua nya menepis rasa takut itu, dan bersikap biasa saja, keduanya merasa sangat tidak pantas jika menunjukkan ketakutannya kepada seorang Damar yang bukan siapa-siapa itu,
"Heh. Sesama sampah nggak usah saling menghina!," Ucap Adit dengan dagu terangkat, Wajah pria itu sudah babak belur hasil karya tangan-tangan anak buah Damar,
"Nggak usah sok berkuasa. kamu bukan apa-apa bagiku.Kamu hanya sampah yang di buang di jalanan dan dipungut oleh Tuan besar karena belas kasihan," Suara Aditya menggema di ruangan itu saat melontarkan hinaan nya terhadap Damar,
Di samping nya Sabira menyungging kan senyum sinis serta merendah Damar, Hal itu sangat terlihat di mata sekretaris Azka itu,
"Ya! Saya memang hanya seonggok sampah yang dipungut oleh Tuan besar, Tetapi saya tumbuh dengan baik dalam asuhan kasih sayang Keluarga Dewantara, Dan tidak sedikitpun saya melupakan darimana saya berasal," Jelas Damar dengan tatapan tajam nya yang tertuju kepada kedua manusia tak berperasaan itu,
"Hahahaha!! Apa aku harus terharu mendengar semua itu?,". Tawa Adit dengan tampang sombong nya.Tawa yang begitu kentara akan keterpaksaan nya,
"Kita sama-sama sampah yang di kasihani oleh keluarga kaya raya, akan tetapi kita jauh berbeda, Anda terlalu serakah. Anda Maruk akan kemewahan yang telah di berikan oleh keluarga baik hati itu," Lanjut Damar sengaja membuat Adit kesal karena perkataan nya,
Terbukti pria itu kini telah mengeras kan rahang nya dengan kedua tangan nya yang terkepal kuat,
"Kenapa Tuan Adit? Apa saya salah bicara dan telah menyinggung perasaan anda?," Tukas Damar lagi tersenyum miring kepada Adit yang kini menatap nya dengan kesal,
__ADS_1
"Anda tidak perlu tersinggung akan perkataan saya,karena semua itu benar adanya, Jadi siapa sampah yang sesungguhnya nya disini,"
"Sialan!! Lepaskan aku brengsek! Aku tidak akan mengampuni mu.akan ku hajar kau!!," Teriak Adit dengan berusaha melepaskan ikatan tangan nya,
"Percuma Anda berteriak tuan. Karena semua itu akan percuma saja, Sebaiknya anda simpan saja tenaga anda untuk nanti," Tukas Damar lagi sembari duduk di sebuah kursi yang telah disiapkan oleh anak buah nya,
Sabira yang biasanya selalu mengeluarkan kata-kata kasar kepada Damar, kini wanita itu terlihat diam dan takut, Hal itu tidak lolos dari
Pengamatan Damar,
"Kurang ajar!! Lepaskan aku.akan kuberi kau pelajaran!!," Teriak Adit lagi sembari meronta dalam ikatan nya, Rupanya pria itu masih belum menyerah juga dengan keadaan nya sekarang,
Braak!!!
"Melepas kan kalian! Itu tidak mungkin, Kalian berdua harus merasakan akibat dari perbuatan kalian yang hampir saja merenggut nyawa istri ku," Damar berucap dengan menggebrak meja di samping nya,
"Boby!!!,"
"Saya bos!!," sahut sang empunya nama yang sejak tadi berdiri di belakang Damar,
"Siap bos!!," Boby dengan cepat menjalan kan perintah dari Bos nya,
"Sialan!! Aku tidak ingin meminum obat apapun!,"
"Aku juga nggak mau mas!!,"
Keduanya kompak mengatupkan mulut mereka dengan rapat saat Boby ingin meminum kan obat itu kepada mereka,
"Lepaskan aku brengsek! Aku tidak butuh obat apapun darimu." Adit kembali berteriak kearah Damar yang duduk dengan santai di hadapan mereka,
"Andre!!,' Panggil Damar ,
"Ya Tuan saya disini," sahut Andre yang berada tidak jauh dari tempat Damar duduk,
"Paksa mereka untuk menelan obat itu, Pastikan mereka menelan nya hingga habis.jangan sampai ada yang di muntahkan, " Perintah Damar dingin dengan wajah datar yang sesungguh nya,
__ADS_1
Adit dan Sabira yang baru pertama kali melihat dan mendengar instonasi suara tegas Damar dan juga wajah dingin nya, seketika membuat tubuh mereka menggigil ngeri,
"Siap Tuan!," Sahut Andre dan langsung mendekati Adit dan Sabira, Andre yang memiliki postur tubuh yang tegap dengan lengan nya yang berotot membuat nya sangat gampang untuk melumpuhkan lawan nya,
Sehingga Adit tidak bisa berkutik dibawa kuasa pria itu, Begitu pun dengan Sabira wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa saat berhadapan dengan Andre yang berwajah sama datar nya dengan Damar saat ini,
"Beres Tuan,Semua obat nya telah ditelan dengan sempurna oleh keduanya," Lapor Andre,
" Bagus!! setelah itu kirim mereka ke pulau yang sangat terpencil yang minim penduduk, Biarkan mereka merenungi kesalahan mereka, menikmati arti kesengsaraan dalam kesendirian yang sesungguh nya," Tukas Damar sembari bangkit dari duduk nya,
"Selamat menjalani dan menikmati lembaran kehidupan baru kalian, Semoga kalian bisa merenungi dan memetik hikma dari semua ini," Setelah mengatakan hal itu Damar segera meninggalkan ruang penyekapan itu,
Damar menghentikan langkah nya tepat di ambang pintu, Kemudian berbaik menatap kedua pasangan suami istri itu tanpa expresi.
"Bersyukurlah Saya masih berbaik hati kepada kalian, Terlepas apa yang telah kalian lakukan, dengan tidak melenyapkan nyawa kalian dengan tangan ku sendiri, " Setelah mengatakan hal itu Damar berlalu tanpa menoleh kebelakang lagi,
πππππππππππ
"Eum!!," Suara Arum mengalihkan perhatian Azka dari layar ponsel nya, Pria itu bergegas mendekati sang istri yang mulai membuka kedua kelopak matanya,
"Sayang!," Azam menggenggam tangan Arum yang terbebas dari jarum infus dan mengecup nya dengan lembut " Sayang kamu sudah sadar.". sapa Azka penuh haru, pria itu bangkit dari duduk nya kemudian mendaratkan kecupan nya di setiap inci wajah istrinya,
"Sayang terima kasih telah bertahan hidup ntuk Mas dan juga Arkha," Azka kembali mengecup kening istrinya yang masih memicingkan kedua matanya demi menghalau silau dari cahaya lampu yang menyoroti wajah nya,
"Mas! aku dimana?," Arum bertanya dengan suara serak, setelah membuka kedua matanya dan menyadari jika dirinya tengah berada di tempat asing,
HALLO ALL BESTIE!! APA KABAR HARI INIπ
SEMOGA KITA SEMUA SELALU DALAM KEADAAN BAIK YAπ€π€
TERIMAKASIH UNTUK SEMUA DUKUNGAN NYA YA, π€π€
TANPA ALL BESTIE AKU BUKAN APA-APA π₯Ί
OYA JANGAN LUPA KOMEN KOMENN NYA YA ALL BESTIE SAYANG,ππππ€π€
__ADS_1
SAYANG KALIAN SEMUA,πππ€π€