
Arini mengemudi kan mobil nya dengan pikiran yang terus mengingat ingat dimana kah dia pernah melihat wajah yang begitu mirip dengan Anak laki-laki tadi,
Tiba-tiba bayangan wajah seseorang menelusup kedalam ingatan nya, Sontak saja hal itu membuat nya terkejut, Dan dengan spontan menginjak rem mobil nya, Sehingga membuat para pengendara lain nya menekan klakson secara bersamaan, Belum lagi protesan dan juga makian dari pengguna jalan lain nya yang hampir saja celaka karena nya,
Arini menepikan mobil nya di sisi Taman kota yang tidakbhmjauh dari rumah tempat tinggalnya bersama suami dan juga anak nya sambungnya Fika,
Wanita itu masih saja berusaha menenangkan detak jantung nya, Benar kah Anak laki-laki yang ia temui tadi adalah anak Arum yang berarti adalah cucu nya, Senyum nya serta mata indah nya sangat mirip dengan milik Arum,
"Ya Tuhan benar kah yang aku temui tadi adalah cucuku, Dia sangat mirip sekali dengan Arum, Tapi jika dilihat sekilas dia juga mirip dengan Rangga," Ucap Arini yang masih jelas mengingat detail wajah tampan Rakha yang juga mirip dengan menantunya Rangga, ,
Menyadari jika ia telah berpikir yang tidak-tidak Arini pun dengan cepat menepis semua itu, " Ahh bicara apa aku ini mana mungkin dia anak Rangga, Itu pasti hanya kebetulan saja, " Ucap nya dengan kembali menyalahkan mesin mobil nya dan segera pulang di rumah cucu nya sudah menunggunya,
Tidak butuh waktu lama Arini telah sampai, Begitu ia membuka pintu mobil nya Cucu nya langsung berlari memeluk nya, Sembari menyerukan Panggilan Nenek kepadanya,
"Nenek… nenek dari mana saja Aur dari tadi mencari nenek tapi ngak ada di mana pun, " Ucap gadis kecil satu tahun di bawah Arkha,
"Uluh Cucu nenek sudah wangi ternyata, Siapa yang mandiin sayang? " Arini menggendong cucunya dengan sesekali menciu pipi gembul nya, Sehingga membuat gadis kecil itu tertawa kegelian,
Arini teringat dengan Anak laki-laki yang mirip dengan Arum tadi, Hati kecil nya merasa miris sebab Cucu kandung nya sendiri tidak perna ia buai dan manjakan seperti cucu dari anak sambung nya itu,
Namun dengan cepat ia menepis rasa bersalah yang menyusup di hati nya, Definisi dari Ego yang mendominasi
Maka sebaik apapun orang tersebut tatap saja tidak terlihat di matanya, Atau memang tidak ingin membuka hati nya untuk hal yang lebih baik,
Baginya Arum adalah sesuatu yang harus ia tutupi dari orang-orang terutama yang bersangkutan dengan Suaminya saat ini Dirinya tidak siap jika suaminya mengetahui kebohongan nya,
Entah sampai kapan ia akan menutupi semua ini,Arini lupa jika pepatah mengatakan sepandai-pandai nya menyembunyikan bangkai maka lama-lama akan tercium juga
__ADS_1
Tinggal menunggu saja sampai kapan ia sanggup menutupi kebenaran, Lambat laun juga akan ketahuan. Bagaikan boom waktu bila tiba saat nya nanti pasti akan meledak,
Dirumah sakit,
Desi sudah terjaga sejak subuh, Tidurnya sangat nyenyak dengan usapan lembut nan hangat tangan Devan yang mampu menenangkan hati dan pikiran nya, Wajah nya kembali merona kala mengingat perlakuan Devan kepadanya semalam, Ya semalam Devan menemani Desi di rumah sakit dirinya tidak tega meninggalkan wanitanya dalam keadaan yang kurang baik,
Menjelang subuh Devan berpamitan karena khawatir kepada Citra yang iabtinggalkan bersama Bibi di rumah, Devan berjanji akan datang kembali bersama Citra untuk menjenguk Danur nanti,
Namun jika mengingat peristiwa yang menimpa Danur dan alasan menggapa Danur bisa mengalami semua ini, Senyum Desi seketika surut, Bagaimna jika hal seperti ini kembali menimpa keluarganya jika ia terus bersama dengan Devan,
Wajahnya kembali murung ketika membayangkan semua itu, Desi menghela nafas nya dengan berat, Seperti ia harus mengambil keputusan untuk dirinya dan juga keluarga nya,
Untuk hari ini dirinya akan fokus dengan operasi Danur, Kesembuhan Danur lebih utama sekarang, Semoga saja Danur kuat dan bisa menerima keadan nya
Dirinya akan berusaha sekuat tenaga untuk kesembuhan Danur agar dia bisa kembali normal seperti sedia kala dan melakukan aktivitas nya seperti sebelum nya,
Rasa takut dan juga trauma kehilangan seseorang karena kecelakaan, Membuat nya begitu syok kala mendapat kabar jika Danur mengalami hal yang sama, Hal yang begitu ia takuti,
"Bu.ibu jangan bersedih seperti ini, Maafkan Danur yang kurang berhati-hati sehingga hal seperti ini terjadi, " Remaja yang sebentar lagi akan lulus sekolah tingkat menengah pertama itu sangat merasa bersalah kepada ibu nya, Dengan semua yang menimpa dirinya saat ini secara tidak langsung ia telah menyusahkan ibunya,
Danur tidak tega melihat ibunya bersedih, Danur sangat menyayangi Desi dan juga Kedua adik nya,
"Ibu tidak bersedih Dan. Ibu sangat bersyukur karena Tuhan masih berbaik hati kepada kita, Danur masih di beri keselamatan oleh yang maha kuasa, Ibu sangat bersyukur karena itu," Desi membelai pucuk kepala Danur dengan sayang
"Kamu jangan banyak pikiran kamu harus semangat sebentar lagi kamu akan di operasi, Jangan lupa berdoa semoga operasi nya berjalan dengan lancar ya sayang, " Ucap Desi lagi,
"Iya bu pasti Danur akan semangat, " Jawab nya sambil tersenyum kepada Desi, Menutupi segala kesedihan nya karena kondisi yang ia alami saat ini
__ADS_1
Padahal dua minggu lagi ada pertandingan Karate antar sekolah dan dirinya pun sudah mendaftar untuk ikut, Namun apa daya kenyataan berkata lain, Dirinya harus mengalaminperistiwa naas ini yang menyebabkan Kaki kanan nya patah dan bahu kirinya retak,
Danur Harus menahan rasa sedih nya demi ibunya, Jika dirinya bersedih dan terpuruk maka bagaimana dengan keadaan ibunya yang akan terus merasa sedih karena kondisinya,
Danur bertekad dirinya harus kuat, Dirinya harus bisa melewati semua ini walau berat, Ia yakin pasti ada hikma di balik semua peristiwa naas yang menimpanya ini,
Ketukan di pintu menyadarkan lamunan Danur, Ia menoleh ke sumber suara saat Desi berjalan dan membukakan pintu, Danur sudah bisa mendengar suara ribut dan celotehan Adik kesayangan nya Dara, Gadis kecil yang sangat cerewet ia yakin sebentar lagi pasti akan ada suara panggilan dengan sedikit nyaring, ,
"Mas Danur… !"
Benar saja dugaan nya Adik bawel nya itu sudah memanggilnya dengan intonasi tinggi, Sehingga membuat Dimas menegur nya karena sang adik telah melupakan janjinya saat sebelum turun dari mobil tadi,
"Dek ingat apa kata Mama Arum! " tegur Dimas dengan mencolek lengan Dara, sehingga membuat Dara menutup mulut nya,
"Oh iya kak, Dara lupa hehe maaf ya bu. Maaf ya Mama Arum,
Arum dan Desi hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Dara, begitupun juga dengan Danur ia terkirim geli saat melihat mimik wajah malu adik nya itu, Walaupun sambil meringis menahan rasa sakit di bahu dan juga kaki nya,
Arum sudah mewanti-wanti ketiga anak itu agar tidak berisik saat masuk kedalam rumah sakit, sebab memang tidak di perbolehkan bagi anak-anak untuk berkunjung Namun tujuan Arum adalah agar Danur semangat untuk menjalani operasi nya, Karena Ada adik-adik yang menunggunya,
Next………..
Jangan lupa ya All besti tinggalkan jejaknya🤭
Mohon maaf ya jika banyak typo🙏🤧
Semoga masih bisa up lagi hari ini untuk yg ketiga😅
__ADS_1
Semoga mager tidak datang melanda 🙈🙈