7 KINGDOMS : conqueror

7 KINGDOMS : conqueror
103.tantangan duel


__ADS_3

Noran berdiri di depan, dua black sword miliknya tertancap di tanah. Tangan kanannya memegang armor helm.


100 Dark Order berbaris rapi di belakangnya, lalu ada 200 goblin rider di sisi kanan dan kiri pasukan Dark Order.


250 falcon rider berbaris rapi di ujung kanan dan kiri barisan. Hanya butuh beberapa menit agar pasukan kekaisaran tiba.


Noran menunggu mereka dengan tenang, sementara itu Faltra terlihat tengah bertengger di atas sebuah menara yang hancur.


Matahari mulai terbenam, sepertinya pertempuran kali ini akan menjadi lebih sulit bagi Noran dan pasukannya.


Beberapa menit kemudian, pasukan kekaisaran berada dalam jangkauan serangan Noran. Mereka berhenti, lalu 5 orang kesatria berkuda maju.


1 jenderal dan 4 komandan, terlihat pula 30 penyihir tengah menunggang kuda dan setiap dari mereka memimpin 1.000 prajurit.


Sang jenderal maju, melihat ke arah pasukan kecil di hadapannya. Bukankah mereka terlalu meremehkan?


Hanya sejumlah ini? Apa mereka bermain-main? Pikir sang jenderal.


40.000 pasukan yang ia pimpin, hanya di hadapankan dengan sekitar 1.000 pasukan saja. Bagaimanapun, ini lebih mirip penghinaan.


"Dimana pemimpin kalian?! Aku menantang untuk berduel!" teriak sang jenderal.


"Aku pemimpin mereka." ucap Noran.


Ia berjalan maju, memakai armor helm miliknya dan mencabut kedua pedangnya sembari berjalan ke arahnya. Kini, jarak keduanya hanya 5 meter.


Noran memandang sang jenderal dengan tajam, pandangan penghinaan terlihat jelas di mata sang jenderal.


"Apa ini? Seorang prajurit rendahan?!" ia mencibir.


Ia lalu turun dari kudanya, menarik pedang kebanggaannya dari pinggang. Sebuah pedang tingkat Epic, yang selalu ia banggakan akan ketajaman dan kekerasannya.


Seorang prajurit lalu maju dan membawa kuda sang jenderal mundur ke arah para komandan.


Dengan helm yang tertutup sepenuhnya, hanya menyisakan bagian mata yang terbuka. Ia memandang Noran yang sedikit lebih pendek dengan tatapan merendahkan.


'Apa yang bisa di lakukan oleh pria kecil seperti ini?' pikir sang jenderal.


Bahkan, ia tidak bisa di bandingkan dengan pasukannya yang berbadan lebih kekar dan berisi.


"Satu pedang atau dua pedang?" tanya Noran.


"Aku tidak akan menindas yang lebih lemah. gunakan seluruh kemampuanmj dan lawan aku." ucap sang jenderal.


Noran hanya tersenyum, level pria itu hanya memiliki level 220, lebih lemah dari dirinya yang berlevel 250.


Tentu saja itu baru permulaan, kekuatan penuhnya mampu menyamai seseorang di level 300. Level 220 tidak mampu mengancamnya.


"Baik." ucap Noran.


Noran hanya menyetujuinya, bagaimanapun ini akan lebih menguntungkannya.


Keduanya lalu mundur beberapa langkah, berjalan memutari tanah dengan posisi siap.

__ADS_1


"Silahkan menyerang lebih dahulu." ucap sang jenderal.


"Tidak, kamu lebih dahulu." ucap Noran.


Ia merasa tidak bisa menurunkan harga dirinya melawan seorang prajurit biasa.


"Kalau begitu, kita akan saling serang bersamaan." ucap sang jenderal.


Keduanya melompat dan saling serang, sang jenderal mengayunkan pedangnya secara vertikal.


Noran menendang kaki kanannya ke tanah dan mengindar ke sisi kiri, pedang di sebelah kanan ia ayunkan ke arah kanan.


Swing...


Sang jenderal menghindari serangan Noran. Berkali-kali mereka saling serang dan menghindar.


Tak ia sangka, pria kecil itu mampu menyamainya dalam gerakan berpedang. Bahkan, kekuatan dan kelincahannya berada di atasnya.


'Apa ia benar pemimpin mereka?' pikir sang jenderal.


Ia menjadi lebih waspada dengan Noran dan terus menyerangnya. Pedangnya kemudian mampu mendarat di atas zirah Noran.


Trang!


Pedangnya berdentang dengan keras, bergoyang hingga ke gagang pedang. Matanya terbuka lebar.


pedang kebanggaannya, yang bahkan bisa membelah baja kini terhenti ketika menyentuh sebuah armor yang kelihatan normal itu.


'Ini tidak mungkin!' pikir sang jenderal.


Damage +8.000!


Sepertiga Hp miliknya berkurang oleh serangan tunggal Noran, membuatnya lebih terkejut. Ia melangkah mundur dan memeriksa lukanya.


zirahnya terkoyak karena serangan tersebut. luka cukup lebar dan dalam terlihat di lengannya.


Jika pedang Epic tidak mampu menembusnya, hanya satu kemungkinan yang ada. Zirah itu lebih tinggi peringkatnya.


'Mungkinkah.... Perlengkapannya tingkat super Epic?!' pikir sang jenderal.


Hanya itu kemungkinannya, dan ia yakin tentang hal itu. Noran melesat ke arahnya dan terus menyerang.


Sang jenderal menghindari serangan Noran dengan susah payah. Satu tebasan lain mendarat di atas tubuhnya.


Damage +8.000!


Sekarang, hp miliknya hanya tersisa kurang dari setengahnya, membuatnya gemetaran setengah mati.


"Takkan kubiarkan kau membunuhku." ucap sang jenderal.


Boomm...


Aura kemerahan muncul di sekeliling tubuhnya, levelnya meningkat hingga mencapai levek 242, sepertinya Battle Aura miliknya sudah mencapai level yang cukup tinggi.

__ADS_1


Noran melesat dan menebasnya, dirinya masih unggul. Sang jenderal tidak dapat mempercayainya.


Bahkan, dengan Battle Aura ia masih belum setara dengan Noran. Para penyihir segera merapal mantera ke arah Noran.


30 bola api berukuran cukup besar melayang dan melesat ke arah Noran. Sang jenderal melesat mundur, mencoba menjauh-sejauh mungkin dari noran.


Badumm..


Ledakan keras terdengar, menciptakan kawah selebar lima meter di sekitar Noran. Noran diam di dalam kawah, namun hanya secuil kerusakan yang ia alami.


Hp -100!


Dalam satu detik, Hp miliknya kembali penuh. Tiga puluh penyihir yang ada memandangnya dengan mata terlebar.


"Beruntung aku mengubahnya menjadi perlengkapan sihir." gumam Noran.


Jika tidak, mungkin ia akan menerima lebih banyak kerusakan. Atau bahkan, ia sekarat saat ini juga.


Noran perlahan bangkit dan menepuk ringan armornya. dirinya berjalan keluar dari kawah.


"Huftt.. Hampir saja!" ucap Noran.


"Tidak mungkin! dia pasti iblis! Serang dia!" teriak sang jenderal.


Para penyihir kembali merapalkan mantera mereka, menciptakan bola api berukuran lebih besar.


Wajh mereka terlihat memucat, dengan keringat dingin terlihat menetes di dahi mereka.


"Tembakkan!" teriak sang jenderal.


Noran kemudian mengambil posisi siap, satu kaki menekuk ke depan dan kaki lain lurus di belakang.


Dua pedang ia rentangkan dan bersiap untuk menyerang mereka.


Brsszzttt..


Brsszzttt..


30 bola api berukuran besar melesat ke arah Noran. Semakin dekat, dan semakin dekat.


Noran melaju ke depan dan melompat ke arah puluhan bola api.


Dua pedangnya ia ayunkan ke samping beberapa kali. 20 diantaranya lenyap, menyisakan 10 bola api yang melesat melewatinya dan meledak.


Boommm!!


kawah lain tercipta di belakangnya karena ledakan bola api tersebut.


"Sekarang giliranku! Wind slash!" teriak Noran.


Bilah angin tajam melesat ke arah sang jenderal. Sang jenderal menatapnya dengan mata tajam dan bersiap menangkis serangan Noran.


.............................................................

__ADS_1


Mohon maaf jika kurang memuaskan, ini karya pertamaku, silahkan di vote dan komen ya? Makasih.


.............................................................


__ADS_2