7 KINGDOMS : conqueror

7 KINGDOMS : conqueror
39.terdesak


__ADS_3

Perang terus berlangsung, pasukan Duke Aaron kini terdesak mundur hingga ke gerbang kedua, yaitu gerbang di lereng gunung.


Benteng yang memisahkan mansion dengan kota Artus, juga sebagai pertahanan pertama mansion.


Duke Aaron dan pasukannya yang kini hanya tersisa beberapa ratus orang dari 4.000 orang mundur dan mencapai benteng tersebut.


"Duke Aaron di gerbang! Buka gerbangnya!" teriak seorang penjaga.


Gerbang di buka, ratusan pemanah memanah ke arah musuh untuk memberi waktu kepada rekan mereka masuk ke benteng.


Shua shua shua...


Kota Artus sepenuhnya jatuh di tangan pasukan Duke Russel, 8.500 prajurit bukanlah sesuatu yang bisa di tangani oleh Duke Aaron dan pasukannya.


Para prajurit Duke Aaron terus berjuang melawan gelombang musuh yang mendekat.


"Sepertinya kita harus maju sekarang." ucap Duke Russel.


Kedua Baron mengangguk, mereka kemudian maju menuju ke arah pasukan mereka.


"Para pemanah! Bersiap!" teriak Duke Russel.


Ratusan pemanah segera bersiap, menarik busur mereka dan mengarahkannya ke langit.


"Tembak!" teriak Duke Russel.


Shua shua shua..


Ratusan anak panah menghujani benteng, membunuh puluhan pemanah yang berada di atas benteng.


Bum bum bum....


Para prajurit musuh terus mencoba mendobrak paksa gerbang benteng.


Bumm..


Gerbang terbuka, membuat ribuan prajurit musuh terus masuk ke dalam benteng, mendorong pasukan Duke Aaron hingga di benteng terakhir mereka.


"Tuan! Tidak ada jalan keluar lagi!" ucap seorang prajurit.


Moral pasukannya menjadi turun, ini sama saja hukuman mati bagi mereka.


Duke Aaron menggertakkan giginya, memandang ke kejauhan.


"Dimana kau nak?! Jika kamu tidak datang sekarang, kami akan mati!" gumam Duke Aaron.


Sin, Mike, Ruli dan Toun juga berjaga di benteng mansion, mereka memandang ribuan musuh yang ada.


Ruli memimpin para pemanah dan terus memanah pasukan musuh yang maju.


Toun memimpin 20 prajurit berperisai dan menghadang gerbang, Duke Aaron memandang situasi mansion yang kacau, ia telah kehilangan terlalu banyak prajurit.


Di sisi lain...

__ADS_1


1.500 prajurit bergerak menuju ke kota Artus, Noran memandang mayat-mayat yang berserakan, bercampur antara sekutu maupun musuh.


"Kota Artus sudah jatuh?" pikir Noran.


Noran kini telah mengenakan seluruh zirah miliknya kecuali armor helm.


Dua pedang hitam tergantung di punggungnya, menampilkan kesan lain pada dirinya.


"Cepat, kita harus segera ke Mansion!" ucap Noran.


Mereka bergerak menuju ke arah Mansion, terlihat ribuan musuh mulai mendaki menuju mansion.


Hanya pertahanan terakhir yang tersisa dengan beberapa ratus prajurit.


Pasukan musuh terus melepaskan ratusan anak panah ke arah benteng.


"Hunuskan pedang kalian! Ada peperangan yang harus kita menangkan!" teriak Noran.


"Ohh!!!!" para prajurit muda berteriak semangat.


Dengan Noran yang memimpin, ribuan prajurit muda ini terbakar semangatnya dan melesat tanpa rasa takut menerjang barisan musuh yang besar.


seribu pemanah yang berada di barisan belakang menjadi mangsa bagi Noran dan yang lainnya.


1.500 prajurit berlevel 100 bukanlah sesuatu yang bisa mereka hadapi, terlebih para pemanah memiliki Hp sedikit dibandingkan pasukan lainnya.


Swing swing wing...


Melihat ini membuat Duke Aaron merasa lega, ia mengangkat kembali pedangnya, berjalan dan berhenti di samping Toun.


"Waktunya untuk serangan balasan!" teriak Duke Aaron.


"Oohh!!!" suara sorakan para prajurit terdengar.


Bala bantuan yang mereka tunggu akhirnya telah datang, mereka membuka gerbang dan menghantam musuh dari depan.


"Terus serang! Jangan lepaskan satupun!" teriak Toun.


Sin dan Mike melesat menerobos kerumunan musuh dan membunuh sebanyak mungkin, sementara Toun bersama para prajurit berperisai mendorong mereka mundur.


"Duke Russel, situasi menjadi kacau!" teriak seorang Baron.


"Lawan para pemimpin musuh! jatuhkan kembali moral mereka!" ucap Duke Russel.


Mereka mengangguk, 4 baron maju dan menghadapi para bawahan Noran. Duke Russel maju dan melawan Duke Aaron yang di penuhi luka.


Sementara seorang Count menghadapi Noran, Noran tersenyum melihat sang Count.


"Level 100?" ia tersenyum dengan samar.


Count Rude di hadapannya bahkan tidak setara dengan bawahannya. Ia hanya sama seperti prajurit reguler yang ia pimpin.


"Meski kau bocah, aku tidak akan lembut padamu! Sword Slash!" teriak Count Rude.

__ADS_1


Bilah yang tajam melesat ke arah Noran, Noran tersenyum dan memandang bilah tersebut.


"Swordmanship! Battle Aura!" teriak Noran.


Buumm...


Aura yang kuat meledak di sekitar Noran memunculkan pilar transparan kekuningan.


Rambut hitamnya melambai-lambai karena aura besar tersebut, di sekitar pupil, cahaya kekuningan juga muncul.


Kekuatan, intimidasi, dan wibawa dapat dirasakan oleh semua orang, baik pasukan kawan ataupun pasukan lawan.


Nafas mereka menjadi berat, merasakan tekanan besar dari aura kekuningan tersebut.


"Battle Aura?!" sang Count terkejut mengetahui pemuda di hadapannya mampu menggunakan Battle Aura.


Hanya ahli yang melewati banyak pertempuran sulit yang dapat memiliki Battle Aura ini.


Di kerajaan besar Rosvelt saja, hanya ada beberapa orang yang memilikinya. Sekarang, kekuatan Noran menyamai seorang yang berada di level 204. Noran melesat maju, menyerangnya dengan sebuah pedang.


Trang trang trang..


Sang Count terkejut, kekuatan serangan Noran terlalu besar. ia merasakan nyeri dan kebas di tangannya.


"Mengerikan! anak ini mengerikan! Aku tidak bisa membiarkannya hidup." pikir sang Count.


Sang Count dengan susah payah menangkis serangan Noran, setelah beberapa kali menangkis, kini pedangnya terlempar dan jatuh beberapa meter jauhnya.


"Berhenti! Aku menyerah!" teriak sang Count.


Bagaimanapun, ia masih ingin hidup lebih lama, ia akan menggunakan cara apapun agar tetap bisa hidup.


"Dalam perang, hanya ada yang membunuh dan di bunuh." ucap Noran.


Noran menebaskan pedangnya dan membunuh sang Count. Sebuah notifikasi muncul di kepalanya.


[Ding! Membunuh seorang count! Kini semua bangsawan akan menjadi berhati -hati dengan anda!]


Noran tidak memperdulikannya, ia tidak ingin terlibat dalam peperangan. Namun, jika untuk melindungi orang yang penting bagi dirinya, Noran tidak akan ragu untuk berperang.


Satu pedang lainnya ia tarik, hawa membunuh samar terasa dari Noran, matanya menjadi tajam seperti elang.


Swing swing swing..


Cepat, gerakannya begitu cepat, membunuh puluhan prajurit musuh di hadapannya, ia terus melesat maju dan menyerang mereka.


Di belakangnya, ribuan prajurit muda mengikutinya dan membunuh satu persatu prajurit musuh.


.............................................................


Mohon maaf jika kurang memuaskan, ini karya pertamaku, silahkan di vote dan komen ya? Makasih.


.............................................................

__ADS_1


__ADS_2