
sepanjang malam pasukan gereja terus mundur menerobos hutan yang gelap. dengan bantuan Aero, mereka bisa lebih leluasa mundur.
Licius masih terus mengikuti dari bayag bayang pohon yang gelap.
dirinya tertawa melihat pasukan gereja kabur seperti kucing kecil.
"hahahaha, larilah! terus lari! dan aku akan terus mengejar kalian!" gumam Licius.
Licius menarik panah hitam yang cukup besar, melihat naga raksasa yang terus menyemburkan angin kuat pada pasukannya.
"sungguh, kadal besar yang merepotkan." gumam Licius.
ia mulai menarik busurnya dan membidik pada sang naga, penglihatan ras vampir terbilang baik di kondisi gelap.
setelah beberapa lama menunggu, Licius melepaskan busurnya. panah hitam yang besar dan tajam melesat ke arah Aero, melaju dengan cepat.
"panah hitam keluarga kami pasti akan melukaimu!" gumam Licius.
ia tersenyum dan memandang tajam pada naga raksasa yang masih di atas langit. sayap besar yang terentang luas kini menjadi target panah hitam licius.
"graaoooo!!!"
Aero mengaum keras, mencoba menghentikan panah hitam dengan kekuatannya.
angin puyuh kuat melesat ke arah panah hitam, mengitarinya dengan kuat.
"upaya yang sia-sia." gumam Licius.
shuuu...
panah hitam melesat menembus angin puyuh, mengoyak sayap besar Aero dan melukai tulang sayapnya.
"graaooo!!"
Aero menjerit keras saat perlahan terjatuh ke tanah. tubuhnya mulai mengecil kembali, menunjukkan luka yang serius pada sayapnya.
di dalam kereta, Angel memandang dengan mata lebar. tidak ada yang tidak mendengar dentuman keras itu.
"Aero!" teriak Angel.
3 malaikat yang tersisa masih bertarung, namun mereka hanya bertarung di sekitar kereta kuda.
setiap kali ada musuh yang mendekat mereka akan menebasnya. sosok pemanah misterius juga belum di temukan.
semua orang bertanya-tanya sosok seperti apa pemanah tersebut? mengapa begitu kuat?
sang kapten dan para paladin tidak berani sedikitpun menjadi ceroboh. kali ini, musuh yang mereka hadapi menjadi lebih berbahaya.
'selamatkan aero!' ucap Angel melalui pikirannya.
2 malaikat segera melesat ke arah Aero jatuh, melihat kawah raksasa bekas Aero jatuh.
di tengah kawah, hanya ada seekor naga kecil meringkuk di tengah kawah. terlihat sayapnya yang tengah terluka cukup parah.
__ADS_1
salah satu malaikat mendekat dan mengangkat Aero, sementara yang lain melindungi rekannya.
saat mereka mencoba kembali, sebuah panah kembali melesat. malaikat menangkis panah tersebut.
namun ada beberapa panah lain yang datang, dan salah satu panah menembus wajahnya.
malaikat yang tersisa segera mengepakkan sayapnya dan melesat pergi ke kereta kuda.
Angel kembali muntah darah, terlihat darah menetes di sudut mulutnya. luka dalamnya bertambah lebih parah dari sebelumnya.
ia merasa begitu kesakitan saat ini, seluruh organ dalamnya terasa di sayat sayat.
Aero kemudian di bawa masuk ke dalam kereta kuda, mereka menambah kecepatan mundur mereka.
setelah beberapa lama, akhirnya medan berubah. hutan kini berganti menjadi padang rumput yang luas, dengan bintang-bintang yang menghiasi langit gelap.
dari 20 paladin, hanya tersisa 11 paladin, dengan 2 priest dan sekitar 70 prajurit.
Licius berhenti mengikuti, ia melihat banyak obor menyala di kejauhan. dirinya memandang obor obor itu dengan waspada.
"ada orang lain di tempat ini?" gumam Licius.
para penyerang terus mengejar, karena di medan yang cukup rata, kereta kuda mampu bergerak dengan cepat.
sekelompok orang datang menghampiri mereka, setelah cukup dekat terlihat banyak prajurit berzirah yang menunggangi kuda.
"siapa kalian?" ucap seorang prajurit.
penampilannya terlihat lebih tegas dan berwibawa dari prajurit lainnya yang berada di sekelilingnya.
"pasukan gereja?" ucap sang prajurit.
dirinya memandang pasukan gereja yang masih bertarung. sebagian besar dari mereka telah terluka dan terlihat dalam kondisi yang buruk.
"bantu mereka!" teriak sang prajurit.
semua prajurit mengangguk, mereka melesat ke arah para penyerang dan mengayunkan pedang mereka.
ada sekitar 50 dari mereka. namun karena semua prajurit menunggang kuda, mereka mampu menghadapi pasukan yang berjumlah 2 kali lipat.
"panggil tim patroli lain dan minta bantuan." ucap sang prajurit.
3 prajurit yang tersisa mengangguk dan pergi mencari tim patroli lainnya. orang yang memberi perintah adalah salah satu bawahan terpercaya tuan Truques.
sang kapten bergabung dan menebas para penyerang. dengan satu ayunan, dua penyerang rubuh dengan mudah.
"bunuh sebanyak yang kalian bisa!" teriak sang kapten.
Licius berhenti dan menatap tajam pad sang kapten, panah telah teracung lurus pada sang kapten.
shua...
panah hitam melesat dengan sangat cepat ke arah sang kapten. merasakan bahaya yang mendekat, sang kapten mengangkat pedangnya.
__ADS_1
trang!
panah hitam berdentang, membuat pedang miliknya retak dan terbelah menjadi dua.
sresh...
bahu sebelah kiri berhasil terluka oleh panah hitam itu, meskipun ada armor yang melindunginya, namun armor berhasil melukainya.
"siapa itu?" gumam sang kapten.
ia menjdi lebih waspada, memndang ke arah hutan yang gelap gulita. ia merasakan ancaman yang besar dari arah hutan.
"pemanah yang kuat." gumam sang kapten.
di sisi lain, Licius menjadi ragu. ia tidak menarik busurnya kembali dan menyimpan anak panah terakhir.
"seorang pengguna pedag yang terampil?" gumam Licius.
ia memperhatikan jubah yabg ada di belakang armor sang kapten, jubah merah dan bendera yang di bawa mereka.
"the red bull? pasukan Truques? sialan!" decak Licius.
ia segera pergi tanpa ragu, berhadapan dengan Truques saat ini sangat berbahaya baginya.
"pria gila itu masih hidup!" gumam Licius.
pasukan gereja terus bertarung, dengan bantuan dari pasukan Truques mereka berhasil menekan para penyerang.
dari kejauhan, terlihat cahaya merah dari obor obor yahg menyala. bala bantuan telah tiba, dan semangat tempur pasukan menjadi meningkat.
"serang!" teriak seorang komandan.
sekitar 50 penunggang kuda lainnya datang dan mulai membabat para penyerang, mereka bersenjata tombak dengan bilah yang cukup panjang seperti pedang.
swing swing...
pertempuran berakhir dengan cepat, dua komandan saling memberikan hormat saat bertemu.
cukup banyak para penyerang yang kabur, namun sebagian besar telah mereka lenyapkan.
"Yonas, kamu memiliki keberuntungan." ucap sang kapten.
"keberuntungan apa? hanya bertemu dengan sekelompok bandit, terimakasih atas bantuannya Pars." ucap kapten yang di panggil Yonas.
"hanya masalah kecil, terlebih pasukanku belum bertempur nyata akhir akhir ini." ucap kapten Pars.
kedua kapten berjalan dan menemui para paladin, kapten Yonas teringat jika sang priest mengatakan mereka adalah pasukan yang di kirim paus.
"kalian pasukan yang di kirim tuan paus?" ucap kapten Yonas.
"ya, tuan paus yag mengirim kami." ucap salah seorang paladin.
"mengapa tuan paus mengirim kalian?" tanya kapten Pars.
__ADS_1
keduanya merasa penasaran. sangat jarang sang paus mengirim pasukan ke wilayah mereka yang terpencil.