
Udara di sekitar gua menjadi menebal dan lebih berat. Lapisan tipis muncul di udara dan semakin turun.
Lapisan tipis berwarna merah dan bercampur aura hutam, sementara itu sosok bertopeng gagak nampak acuh tak acuh. Ia merasa memandang sekelompok budak tidak berguna di bawahnya.
'Hanya sekelompok serangga.' gumamnya.
Noran melihat ke atas, hanya untuk menatap sosok bertopeng dengan aura yang mengesankan.
'Orang kuat lainnya?' gumam Noran.
Ia menancapkan pedangnya ke tanah, membuat selusin cakar raksasa muncul. Pilar-pilar kemerahan yang transparan muncul, menahan lapisan tipis untuk turun lebih dekat lagi.
"Oh?"
Pria itu merasa sedikit terkejut, kelompok yang ia sebut serangga ternyata mampu melakukan perlawanan padanya.
Namun bagaimanapun ia berpikir, kelompok di bawahnya tidak akan bisa menang melawannya.
Perbedaan level dirinya mencapai 300+ dengan Noran. Setidaknya ia telah berada di level 800 untuk waktu yang lama.
Tekanan bertambah kuat, membuat banyak pilar cakar menjadi lebih transparan dan retak.
Demon claw sword yang ia tahan sekuat tenaga kini bergeser dan tercabut paksa dari tanah. Noran merasakan gemetaran di tangannya.
Pria bertopeng itu bukanlah orang yang bisa di anggap remeh. Kini Noran telah berada di level 500, dengan peningkatan kekuatan dari semua skillnya, ia bisa mempertipis jarak.
Namun, masih akan terlalu sulit untuk mengalahkannya. Belum lagi, ia tidak bisa melihat sekuat apa level pria bertopeng itu.
Noran mengangkat pedangnya dan bersiap untuk menahan tekanan penghalang tipis itu, namun sebelum penghalang itu menekan mereka, penghalang telah lenyap.
...
(Dimana kamu? Kami membutuhkanmu di sini.)
Sebuah suara serak terdengar di telinga pria bertopeng. Sebuah alat bulat mirip sebuah kelereng, terpasang di telinga kanannya.
Alat komunikasi yang langka dan mahal, kini di kenakannya dengan santai. Pria di sisi lain adalah pria tua, dengan pakaian mage.
__ADS_1
Rambut putih, wajah penuh kerutan dan tubuh kurus. Ia terlihat sangat tua, selain itu aura miliknya berbeda dengan kebanyakan aura mage lainnya.
Mage biasanya memiliki aura tenang, kuat dan kokoh seperti elemen yang mereka kuasai, serta sedikit perasaan terang dan menyegarkan dari elemen cahaya.
Namun, mage tua ini memiliki aura suram dan gelap yang kuat, selain itu matanya berwarna hitam dengan pupil merah seperti reptil.
'Sialan! Orang itu, bisa-bisanya ia berpergian dengan santai di situasi saat ini!' gerutu sang mage.
Pria bertopeng mengangkat tangannya dan menyembunyikan kedua tangannya di balik jubah sebelum menjawab.
"Aku akan segera ke sana." ucapnya.
Sebuab lorong gelap muncul di hadapannya, ia melangkah masuk dan menghilang dalam sekejap.
...
Noran tersenyum pahit, sosok bertopeng itu terlalu kuat, lebih kuat dari kelompok bertopeng putih di perang kerajaan Rosvelt dan kekaisaran Zugen.
Lebih kuat dari kelompok berjubah yang muncul di markas bandit. Noran yakin pria berjubah itu salah satu sosok terkuat yang pernah ia temui.
Setelah pria itu menghilang, Noran berbalik untuk melihat pasukannya yang kelelahan.
Setelah beristirahat beberapa lama, Noran dan pasukannya memilih kembali ke kota Whitehorn.
Pegunungan Andora sama berbahayanya dengan padang rumput Artenia maupun hutan besar Nours.
Mereka juga membawa semua mayat rekan mereka untuk membuat upacara yang layak. Korban pertempura pertama yang di milikinya harus di perlakukan ddngan layak, itulah yang di pikirkan Noran.
Sementara itu, para goblin juga telah memaksa banyak goblin lai tunduk. Tidak ada satupun monster berperingkat, hanya monster normal yang mereka berhasil taklukan.
Noran tidak mengetahui alasannya, namun sepertinya itu karena sesuatu yang istimewa dengan monster berperingkat.
Setelah kembali ke kota, Noran segera menyuruh untuk membuat pemakaman bagi 200+ prajuritnya.
Sebagian besar adalah mantan bandit, jadi tidak begitu banyak orang yang menangis. Meski begitu, masih terlihat banyak penduduk kota yang bersedih.
Di pemukiman para monster juga di buat area untuk pemakaman yang terpisah. Luasnya setara dengan salah satu pemukiman mereka.
__ADS_1
Setelah proses pemakaman, Noran berkumpul bersama para bawahannya yang terpercaya. Mereka merumuskan rencana masa depan.
Tentu saja, rencana utama mereka adalah ekspansi dan penaklukan wilayah Artenia. Artenia dengan padang rumout yang luas, pegunungan Andora di belakangnya sangat cocok untuk menjadi basis mereka.
"Baiklah, saya telah menunjuk 5 jenderal untuk masing-masing pasukan. Dan untuk para goblin, Yuzan yang akan menjadi pemimpin utama mereka, dengan bantuan Yixin. Ston menjadi pemimpin para Troll, dan aku sendiri akan memimpin seluruh jenderal dan pasukan Dark Order.
Rencana kita adalah wilayab selatan! Area pesisir dan membuat kota pelabuhan! Buat persiapan segera, seluruh pasukan akan kita kerahkan untuk membersihkan area secepatnya." ucap Noran.
"Baik!" jawab semua orang serentak.
Setelah menyelesaikan rapat, semua orang bergegas untuk membuat persiapan. Perbekalan, kesiapan pasukan, senjata dan armor serta tenda dan beberapa persiapan lainnya.
Selain itu, untuk menggunakan seluruh pasukan yang di miliki dan bergerak serentak, artinya kota akan kosong tanpa penjagaan.
Para pemuda dan pria telah di latih beberapa keterampilan tempur dasar dan perlengkapan tempur Normal, setidaknya mereka akan mampu menghadapi serangan pasukan kecil.
15.000 penduduk tanpa perlindungan pasukan membuat semua bawahannya cemas, dan dengan ini Noran memutuskan untuk 2 kelompok di pimpin goblin chief menjaga kota.
Sau pasukan penungang goblin dan satu penunggang falcon, dengan itu penjagaan akan bisa terjamin.
Noran juga menempatkan banyak Troll untuk menjaga kota. Dengan tubuh batu besar serta armor tebal dan berat, mereka lebih mirip seperti golem besi yang mematikan.
Setelah mengatur rencana ekspansinya, Noran duduk di ruang tamu.
Ia merasa lelah, pikirannya juga begitu lelah karena mengurusi banyak hal. Mungkin juga karena ia menggunakan banyak mana dalam pertempuran.
"Kamu susah kembali?" tanya Esline.
Ia tersenyum dan duduk di samping Noran, melihat ekspresi lelah di wajahnya.
"Ya, aku kembali." ucap Noran.
Ia segera mengubah ekspresinya, menghilangkan kesan lelahnya dengan segera. Menunjukkan ia masih lelah akan terlalu membebani Esline dan yang lainnya.
Keduanya berbincang dan sesekali tersenyum dan tertawa bersama, menikmati suasana malam yang sunyi dengan riang.
"Sudah malam, istirahatlah." ucap Esline.
__ADS_1
Setelah mendengarnya, Noran mengangguk. Keduanya berjalan bersama menyusuri lorong sebelum berpisah menuju kamar masing-masing.
"Monster yang muncuk semakin kuat, sepertinya sudah tidak lama lagi.." gumam Noran sembari menggertakkan giginya.