
6 kelompok berpisah menempuh jalan masing-masing. noran kini memimpin pasukannya yang terdiri dari Dark order dan goblin rider.
Total pasukan miliknya hanya berjumlah 300 prajurit, bersama dengan 100 wind wolf, 400 individu yang bisa bertarung.
Noran tidak merasa khawatir, ia masih memiliki pasukan hantu untuk membantunya bertempur.
Target pertamanya adalah perkemahan bandit tulang besi. Perkemahan tingkat menengah dengan ribuan anggota bandit.
Bisa di pastikan jalur yang di pilih Noran adalah jalur yang palibg berbahaya dengan berbagai kelompok bandit besar dan kuat yang menghadang.
Melewati suasana malam dengan sinar bulan yang samar, Noran memandang perkemahan di kejauhan dengan tajam.
Ia sudah memegang gagang pedangnya sejak lama, memandang perkemahan di hadapannya sebagai perkemahan musuh.
Ia harus berhasil membersihkan Artenia selatan dari kelompok bandit sebelum membersihkan keseluruhan daratan Artenia dan menjadikan basisnya.
"Markas bandit ada di depan! Angkat senjata kalian dan jatuhkan mereka!" teriak Noran.
Demon claw sword ia angkat tinggi-tinggi, memancarkan sedikit kilauan samar karena sinar bulan.
Para prajuritnya mengikuti, mengangkat pedang dan tombak mereka tinggi-tinggi. Dengan kecepatan penuh, mereka mendekati markas bandit.
Dalam waktu singkat, Noran dan pasukannya telah tiba di dekat markas bandit. Noran merapal banyak bola api dan melemparkannya ke tenda-tenda bandit.
Api mulai membumbung tinggi, membuat semua bandit yang berjaga maupun beristirahat terkejut. Suasana perkemahan menjadi kacau karena serangan Noran.
Pasukan Dark Order maupun para goblin rider segera melesat dan menebas bandit-bandit yang berlarian sibuk memadamkan api.
Noran bersama Tresvis juga bergabung dan membunuh par bandit yang panik. Dalam waktu singkat ia telah melepaskan puluhan wind slash ke berbagai arah.
"Sialan! Siapa yang berani membuat kerusuhan di perkemahanku?! Bandit tulang besi?!" teriak sesorang.
Pria gemuk dengan badan besar serta pelindung kepala dengan dua tanduk banteng di atasnya. Ia terlihat memegang rantai hitam dengan bola besi besar yang di penuhi duri-duri tajam.
Sosok kabur bergerak dengan cepat ke arahnya. Bayangan putih yang tidak jelas, membuatnya bingung.
Siapa yang berani menyerang markasnya? Apakah itu kelompok bandit pembantai? Atau kelompok bandit bunga darah?
Namun, sepertinya itu bukan kedua saingannya. Siapa pihak lain yang menyerangnya.
__ADS_1
Noran melesat dengan sangat cepat ke arah pemimpin bandit. Dengan ayunan santainya, angin berhembus kuat.
Hembusannya mamou membuat bandit-bandit terdorong beberapa meter di sertai luka sayatan.
"Siapa kamu?!" tanya pemimpin bandit.
Wajahnya menjadi kaku saat melihat bayangan itu mendekat dengan sangat cepar. Ia tidak bisa melihat dengan jelas, namun ia bisa melihat tatapan menakutkan dari sosok itu.
Swing!
Tanpa pemberitahuan apapun, kepalanya telah menggelinding ke tanah. Tubuh besarnya terjatuh ke tanah dengan lemah.
Bahkan, ia tidak sempat tahu siapa yang menyerang markasnya dan membunuhnya.
Setelah membunuh pemimpin bandit, Noran melanjutkan membantai semua anggota bandit yang mencoba kabur.
Setelah membunuh semua anggota bandit yang berjumlah 3000 an anggota, Noran mengumpulkan semua harta rampasan.
Hanya dengan sapuan ringan, seluruh harta yang ada tersimpan di cincin miliknya.
"Kita akan melanjutkan perjalanan." ucap Noran.
Jika benar yang kedua, maka Noran tidak akan ragu untuk membunuh mereka semua. Bandit berdarah yang suka membunuh korbannya tanpa ampun, tidak memerlukan ampunan saat bertemu musuh.
Di sisi lain, pasukan para jenderal beroperasi dengan gaya yang berbeda.
Shin memiliki gaya tempur yang mirip dengan Noranz hanya saja ia menerobos lurus dan segera membunuh pemimpin bandit sebelum mengirim pasukannya mengejar bandit yang kabur.
Mike akan mengendap bersama pasukannya dan memimpin serangan malam yang senyap, melumpuhkan para petugas patroli dan membunuh semua bandit di tengah kesunyian malam hari.
Ruli akan memimpin pasukannya untuk menembakkan ribuan panah api ke markas lawan, membuat kekacauan di pihak musuh.
Setelah kacau, pasukan lain akan masuk dan membunuh para bandit dari berbagai sudut.
Toun mengatur pasukannya menjadi 2 tim, menjepit markas bandit dari kedua sisi dengan formasi militer dan menembakkan panah dari dalam formasi.
Herton yang pernah memimpin pasukan sebelumnya, membentuk tim-tim kecil dan menyebarkannya, sementara pasukan berkuda ia gunakan sebagai ujung tombak untuk membersihkan bandit-bandit.
Berhari-hari telah berlalu, keenamnya telah berhadapan dengan banyak bandit. Kelompok kecil, menengah maupun besar.
__ADS_1
Bandit yang berspesialis dalam berbagai serangan dan bahkan berhadapan dengan pasukan khusus kelompok bandit yang kuat.
Penunggang banteng dengan armor besi berat dan tombak dengan bilah ganda yang panjang di kedua ujungnya.
Noran berhadapan dengan 100 dari mereka dan berhasil membantainya. Sudah tak terhitung berapa banyak rampasan yang mereka dapatkan, dan ada ribuan tawanan maupun budak yang mengikutinya.
Kini Noran telah tiba di titik yang di tentukan. Tak kurang dari 8.000 orang memilih mengikutinya, mereka bingung hendak pergi kemana.
Keputusan mereka membuat Noran pusing dan senang di saat yang sama. 8.000+ orang bukan jumlah kecil, dan sulit untuk mengatur semuanya dengan benar.
Noran masih menunggu bawahannya berkumpul sebelum melanjutkan rencana mereka. Tenda-tenda di dirikan dan tim-tim patroli di buat untuk memastikan keamanan setiap orang.
Setiap malam, Noran terus membuat lebih banyak potion dan memasak secara teratur untuk semua orang, membuat skill alchemy dan skill cooking miliknya berkembang dengan pesat.
Selain itu, pertempuran yang tak terhitung melawan para bandit membuat skill swordmanship miliknya berkembang dengan pesat.
"Dimana mereka?" gumam Noran.
Ia duduk di dalam tenda dan mengeruk kursinya beberapa kali. Sudah waktunya bagi mereka untuk berkumpul kembali untuk melanjutkan tahap selanjutnya.
Seorang prajurit berjalan masuk dengan nafas tergesa-gesa. Ia berlutut dan memberikan hormat kepada Noran.
"Tuan, pasukan lain telah tiba." ucap sang prajurit.
"Siapa yang tiba?" tanya Noran.
"Itu pasukan jenderal Herton dan jenderal Sin. Mereka datang membawa banyak orang." ucap sang prajurit.
"Banyak orang? Berapa jumlahnya?" tanya Noran.
"Itu... Hamba tidak tahu tuan. Yang pasti lebih dari 3.000 orang." ucap sang prajurit.
Noran mengangguk dan berdiri, sementara si prajurit bergegas keluar untuk kembali melakukan tugasnya.
Pada waktu yang sama, Herton dan Sin berjalan memasuki tenda dan berlutut.
"Tuan!" ucap keduanya.
"Kalian sudah tiba?" tanya Noran.
__ADS_1