
bang!
dengan lembut Noran mendorong kapten Ruter, membuatnya terdorong maju beberapa langkah.
kapten Ruter menatap kosong dengan yang terjadi padanya. tangannya kini gemetaran, matanya melebar dengan wajah yang di penuhi rasa tidak percaya.
'sejak kapan tuan muda sekuat ini?' gumam kapten Rater.
seluruh prajurit yang mengelilingi mereka juga terkejut, mulut mereka terbuka lebar dengan ekspresi kosong.
tak ada satupun dari mereka yang menyangka kapten Rater akan kalah begitu mudah.
Noran menepuk pelan pakaiannya, mengusir debu-debu yang menempel. aura berwibawa terpancar jelas ketika sinar matahari menyinari tubuh Noran.
Noran memandang kapten Rater yang masih termenung seperti patung. kapten Ruter berbalik dan menoleh ke arah Noran.
"tuan muda, kita harus segera meninggalkan ibukota. jika tidak-" ucap kapten Rater.
di saat keduanya tengah berbincang, sekelompok besar prajurit berbaris mengelilingi mereka.
ada ratusan prajurit berarmor ringan mengelilingi mereka, masing-masing memegang pedang dan perisai.
terlihat juga seorang ksatria muda menunggangi kuda putih, dirinya mengenakan zirah perak full plate dengan mententeng helmnya.
rambut merah pendek yang sedikit acakan, wajahnya cukup tampan dengan sepasang alis tajam.
"kalian kembali ke ibukota? bagus, sangat bagus. aku tidak perlu repot repot mengejar kalian lagi." ucap sang ksatria.
para prajurit mulai mengambil posisi bertahan, jumlah keduanya terlalu berbeda dan terlihat pasukan musuh lebih siap dalam pertempuran.
"kapten, apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang prajurit.
kapten Rater kembali mengangkat pedangnya, kali ini pedangnya tergenggam erat.
matanya menunjukkan tekad gigih. pandangan kapten Rater terarah lurus pada sang ksatria.
"Lucas, beraninya kamu bergabung bersama mereka!" teriak kapten Rater.
"oh?! siapa itu?! mantan jenderal yang di buang menjadi kapten penjaga? hahaha, pak tua, kamu tidak akan pernah memahami ambisi anak muda.
sekarang, tuan Morten pasti akan senang melihat kepala siapa yang akan datang padanya." ucap Lucas.
dirinya memegang gagang pedang dan melihat ke arah kapten Rater dan kelompoknya dengan sinis.
"serang mereka!" teriak Lucas.
para prajurit mengangkat senjata mereka dan mulai menyerang kelompok kapten Rater.
"lindungi tuan muda!" teriak kapten Rater.
__ADS_1
pedangnya bersinar kemerahan samar, menambah tajamnya pedang beberapa kali lipat.
50 prajurit berhadapan dengan sekitar 200+ pasukan musuh, jumlah mereka berkali-kali lebih banyak.
desingan pedang terdengar di mana mana, bersamaan dengan teriakan yang keras. kapten Ruter di kepung beberapa prajurit, yang membuatnya dalam terdesak.
beberapa prajurit juga terlihat mulai mengelilingi Noran. mereka mengira jika pria muda yang tenang di hadapan mereka adalah pangeran yang mereka cari.
"pangeran juga kembali? tuan Morten pasti akan sangat senang dan membalasku dengan baik." gumam Lucas.
dirinya tersenyum, memikirkan dirinya menjadi bangsawan tinggi yang memerintah salah satu kota. dengan harta yang melimpah dan banyak wanita cantik di sisinya.
Noean tersenyum, mereka hanya memiliki level 50-60, lebih rendah dari level pasukan miliknya.
"siapapun yang membawa kembali kepala pangeran, akan mendapat 100 koin emas!" teriak Lucas.
para prajurit menjadi lebih bersemangat ketika mendengarnya, serangan mereka menjadi lebih kuat.
Noran tersenyum melihat beberapa prajuri yang mendekat kearahnya dengan pedang yang siap terhunus. Noran menghindari setiap tebasan yang mengarah padanya.
papan nama mereka berkedip merah, menunjukkan setiap dari penyerang bukanlah seseorang yang baik.
tanpa ragu Noran menebas mereka, dalam waktu singkat 7 penyerang yang mengelilinginya terbunuh dengan kepala terpisah.
Noran melepaskan wind slash miliknya, membuat penyerang yang berhadapan dengan kapten Ruter terbelah.
kapten Rater terkejut, siapa orang yang membantunya? serangannya terlalu kuat.
tidak ada satupun darah di baju putihnya yang bersih, pedang besi juga terlihat di genggamnya dengan darah yang masih menetes.
"tuan.." ucap kapten Rater.
"Rater, suruh semua bawahanmu mundur. aku akan mengurus mereka sendiri." ucap Noran.
ia menendang salah satu pedang besi di tanah dan pedang berputar di udara. kini tangan kanan dan kirinya telah menggenggam pedang.
"tapi tuan..."
"jangan membantah, mereka hanya akan mati jika terus melawan!" teriak Noran.
kapten Rater diam, ia tahu yang dikatakan Noran benar. namun ia masih khawatir dengan keselamatan Noran.
ia tahu betul jika kemampuan berpedang pangeran pertama hanya bisa dianggap rata-rata, melawan ratusan prajurit musuh sama saja dengan bunuh diri.
"cepat, suruh mereka mundur." ucap Noran.
"baik, kalian semua! mundur!" teriak kapten Rater.
para prajurit penjaga segera mundur mengikuti instruksi dari kapten Ruter. mereka bingung, apakah kapten mereka akhirnya memilih untuk menyerah?
__ADS_1
di saat berpikir, sebuah sosok kabur melesat dengan cepat. satu persatu para prajurit musuh berjatuhan dengan luka di dada ataupun lehernya.
tak sedikit juga yang terbunuh dengan kepala terpenggal. semua bawahan kapten Rater dan kapten Rater sendiri hanya bisa melihatnya dengan takjub.
tidak ada yang bisa melihat apa yang terjadi, hanya beberapa saat satu prajurit terbunuh dan tak lama di ikuti prajurit lainnya.
boommm!!
bola api meledak dengan keras, membakar puluhan prajurit yang berada dalam formasi.
[ding! membunuh prajurit kerajaan Mecius! exp +100!]
[ding! membunuh prajurit kerajaan Mecius! exp +100!]
[ding! membunuh prajurit kerajaan Mecius! exp +100!]
...
[ding! membunuh prajurit kerajaan Mecius! exp +100!]
pemberitahuan terus berdengung di kepalanya saat kedua pedangnya memanen nyawa para prajurit.
"wind slash!" ucap Noran.
belasan bila angin tersebar ke segala arah, memotong para prajurit yang mendekat ke arahnya seperti pemotong rumput.
hanya butuh beberapa saat dari 200+ prajurit untuk menjadi sekitar 40 prajurit. semua prajurit yang ada menjadi gemetaran, melihat sosok pemuda tampan itu seperti malaikat pencabut nyawa mereka.
"pangeran pertama sekuat ini?" gumam Lucas.
ia mengernyitkan dahinya, melihat sosok yang berdiri di depan tumpukan mayat bawahannya. rambut hitam yang berkibar karena hembusan angin dan mata hitam yang seakaan mampu menembus segalanya.
"hanya dengan kemampuan seperti itu, jangan menganggap dirimu orang terkuat di benua ini. hmph!" ucap Lucas.
"aku tidak pernah mengatakan aku yang terkuat di benua ini, namun aku lebih dari cukup untuk membuatmu lenyap." ucap Noran sembari tersenyum.
orang lain akan melihat senyumannya cukup hangat, namun bagi Lucas dan para prajurit lainnya senyumannitu seperti senyuman malaikat maut.
"humph! terlalu sombong! hari ini, aku akan mengubah kepalamu menjadi pajangan dinding! hahahah!" ucap Lucas.
"terlalu banyak bicara." ucap Noran.
ia melemparkan pedangnya dengan kuat, pedang melesat dengan cepat seperti anak panah yang di tembakkan dari busurnya.
shua..
ngkiiikkkkk!!
kuda putih meringkik kesakitan, bagian depan tubuhnya kini telah tertanam pedang besi yang cukup panjang. hanya gagangnya yang terlihat, sementara bilahnya telah mengoyak bagian dalam tubuhnya.
__ADS_1
bruukkk...