7 KINGDOMS : conqueror

7 KINGDOMS : conqueror
199.black assassin


__ADS_3

"tuan Ertios sungguh bijaksana!" ucap seorang bangsawan.


"siapkan pasukan kalian, kita akan menggulingkan raja secepatnya." ucap Ertios.


Ertios tersenyum, impiannya sejak lama akan menjadi kenyataan. dirinya memandang ke arah istana dengan penuh kebencian.


"hari ini adalah hari terakhir dirimu menjadi raja dan hari pertamaku memimpin benua Agord!" pikir Ertios.


semua orang juga tersenyum, mereka sudah sepakat membagi keuntungannya setelah membantu Ertios.


di tengah-tengah suasana hening dan nyaman mereka, beberapa pria berjubah muncul secara tiba-tiba.


4 pria berjubah hitam berjongkok di atas langit langit ruangan dengan kedua tangan memegang erat pedang tipis yang panjang.


"Ertios, tuanku meminta kompensasi atas kematian para anggota kami." ucap sebuah suara.


tok tok tok..


langkah kaki terdengar jelas, semua orang berkeringat dingin. mereka melihat ke arah lorong yang cukup gelap, melihat seorang pria berjubah perlahan muncul di hadapan mereka.


"?!"


tidak ada yang berani berbicara, mereka terkejut melihat sosok yang keluar itu. jubah hitam dengan topeng yang menyeramkan.


hanya para petinggi black assassin yang menggunakan topeng ini, sementara anggota lainnya menggunakan topeng yang berbeda.


"tuan, itu kelalaian kami.." ucap Ertios.


"tentu saja itu kelalaian kalian. belasan anggota kami yang terlatih dan berharga terbunuh dalam permintaanmu.


tuanku meminta kompensasi 100.000 koin emas untuk setiap anggota kami yang tewas." ucap sang pria.


"seratus ribu?! itu terlalu besar untuk nyawa satu orang!" teriak salah seorang bangsawan.


pria yang cukup gemuk dan bulat, beeteriak ke arah sang utusan. pria itu mengangkat satu jarinya dan menggerakannya.


shua..


salah satu assassin melesat dan menyerang pria gemuk itu, kepalanya terpenggal dengan puluhan luka sayatan di tubuhnya.


"jangan mencoba untuk menegosiasikannya, atau tuanku akan mencabut kalian semua beserta semua yang kalian miliki." ucap sanh pria.


shua shua..


lebih dari selusin assassin lain muncul, menutupi semua jalan kabur yang memungkinkan.


Ertios dan yang lainnya gemetaran, mereka sekarang menyadari mengapa banyak bangsawan enggan menggunakan jasa black assassin.


selain bayaran yang mahal, kompensasi adalah hal wajib jika anggota mereka terbunuh dalam misi.


"kami mengerti tuan yang terhormat, berikan kami waktu untuk menyiapkan pembayarannya segera." ucap Ertios.


ia mencoba tersenyum ramah, menyaksikan mata dingin sang pria masih membuatnya gemetaran.


"baik, aku akan memberi kalian waktu." ucap sang pria.

__ADS_1


dirinya kembali berjalan ke lorong yang gelap dan menghilang dalam sekejap. para assassin juga mengikutinya pergi meninggalkan ruangan.


"Ertios, apa kamu benar benar ingin membayar mereka?" tanya salah seorang bangsawan.


"apa yang bisa kulakukan?! mereka akan membunuhku jika aku tidak melakukannya! juga, si gemuk ini telah mati, kita bisa menggunakan semua hartanya untuk membayar mereka." ucap Ertios.


semua orang diam, mereka merasa tercekik. harta yang mereka kumpulkan bertahun tahun lamanya, untuk mmenuhi ambisi mereka kini akan memasuki kantong orang lain.


"sialan!" teriak Ertios.


...


di tempat lain, pria yang sebelumnya menemui Ertios kini berdiri di salah satu atap menara penjaga. dirinya memandang ke segala tempat.


para petinggi lainnya juga meminta ia untuk menyelidiki siapa yang mampu membunuh anggota mereka.


"selidiki siapa yang membunuh anggota kita." ucap sang pria.


"baik tuan." jawab seorang assassin.


sekitar 20 assassin menyebar untuk mengumpulkan informasi siapa yang membunuh rekan mereka.


di sisi lain...


Noran baru saja selesai menginterogasi prajurit itu. otak dari segala kekacauan di kerajaan Mecius adalah tuan Ertios yang tak lain adik tiri sang raja.


"Ertios! sialan! dia yang membunuh istriku!" geram sang raja.


bertahun tahun lamanya Ertios berada di sisinya dan selalu menampilkan sikap yang baik padanya.


sekarang ia tahu semua perlakuannya selama ini adalah palsu, ia menggenggam erat tangannya.


Ia tersenyum, melihat mayat yang terduduk dengan ekspresi menyedihkan. terlihat juga lubang di dadanya karena tusukan pedang dari pangeran Arexes.


"sebenarnya kamu siapa? apa maumu?" tanya sang raja.


"yang mulia tidak suka basa-basi, aku juga menyukainya. aku hanya tuan muda kecil dari wilayah Artenia.


saya akan membantu anda mempertahankan kerajaan dan melawan pasukan Ertios. yang saya inginkan adalah sebuah perjanjian." ucap Noran.


"perjanjian? perjanjian apa yang kamu inginkan?" tanya raja Mecius.


Noran memberikan sebuah gulungan kepada raja Mecius. setelah beberapa saat membaca raja Mecius terkejut.


"apa hanya ini yang kamu inginkan?" tanya sang raja.


"ya, hanya itu yang aku inginkan." ucap Noran.


sang raja mengangguk, namun ia masih merasa ragu dengan yang tertulis di atas gulungan itu. permintaannya terlalu mudah untuk di penuhi.


"baiklah, aku akan menyanggupinya." ucap sang raja.


"jika begitu, aku akan menyiapkan pasukanku." ucap Noran.


"berapa banyak pasukan yang kamu miliki?" tanya sang raja.

__ADS_1


"1.000 pasukan, 100 diantaranya adalah pasukan berkuda." ucap Noran.


"1.000 pasukan?" ucap raja Mecius.


dirinya merasa ragu ketika mendengarnya. ia yakin jika Noran hanya tuan muda dari salah satu bangsawan tingkat rendah atau tingkat menengah.


'sepertinya aku terlalu berharap padanya.' pikir raja Mecius.


Noran bisa menebak apa yang di pikirkan oleh sang raja, pasukan ibukota saja mencapai 50.000 pasukan. dan setidaknya 60% pasukan pasti telah di kuasai musuh.


apa yang bisa di harapkan dari 1.000 orang tambahan? mereka akan tetap menjadi mayat menghadapi pasukan musuh yang seperti gelombang.


"kenapa kita tidak lihat dahulu? kemenangan perang bukan di tentukan dari jumlah pasukan, namun dari strategi yang tepat." ucap Noran.


"baiklah, lakukan apa yang kamu mau." ucap sang raja.


dirinya pergi bersama sang pangeran dan kapten Rater, ketiganya meninggalkan ruangan bawah tanah.


"tuan, sepertinya mereka meremehkan kita." ucap Grim.


Noran tersenyum, "lalu apa yang bisa kita lakukan? kita hanya bisa membuktikannya pada mereka."


"tuan benar." jawab Grim.


"Grim, sepertinya para assassin itu mulai menyelidiki kita. berhati-hatilah, kita akan segera menghadapi mereka." ucap Noran.


Grim mengangguk, Noran menciptakan bola api berukuran kecil dan membakar mayat prajurit itu. mayat yang di biarkan memiliki kemungkinan berubah menjadi undead ataupun zombie.


keduanya kemudian pergi menuju kamar yang telah di siapkan. Noran menulis pesan untuk keempat bawahannya yang berada di kamp.


setelah menulisnya, ia bersiul beberapa kali. burung api kecil muncul dan hinggap di pundaknya.


"garuda, berikan ini pada Sin." ucap Noran.


kiakk!!


burung itu menjerit dan menempelkan kepalanya pada Noran sebelum terbang dengan sangat cepat.


"mari kita lihat, berapa jumlah musuh kali ini.." gumam Noran.


[menu


»status


»skill


»inventory


»kekuasaan


»map


»chat ]


"map!"

__ADS_1


[ding! map terbuka, mulai memindai lokasi terbaru! lokasi terpindai, Wilayah Artenia telah tertambah di peta.


lokasi saat ini, kerajaan Mecius, ibukota kerajaan Mecius, kota yoaran, istana kerajaan.]


__ADS_2