
Saat sampai di kota Kristal, Noran membiarkan mereka beristirahat.
"Sepertinya mereka bagus untuk pasukan khusus." gumam Noran.
Seorang gadis tersenyum ringan dan berjalan ke arahnya, itu adalah Esline.
"Kamu masih disini?" tanya Noran.
"Tentu saja, ayah mengatakan aku bebas tinggal disini selama yang aku mau." ucap Esline.
"Jadi ini tujuan pria tua itu?" Noran hanya tersenyum kecut.
Ia teringat saat Duke Aaron menggodanya tentang mendekati Esline, sepertinya pria tua itu tidak main-main.
Seorang gadis lain juga muncul, itu putri Baroness Rianna, Alice. Ia bergabung dengan Noran dan Esline.
"Kamu juga disini?" Noran merasa bingung.
"Ya, mulai hari ini aku juga tinggal disini." ucap Alice.
"Hah?!" Noran terkejut mendengar pernyataannya.
"Tentu saja, ini masih wilayah kekuasaan ibuku, jadi aku bebas tinggal disini." ucap Alice.
Noran merasa tertekan, mengapa mereka pindah begitu saja di sini tanpa meminta persetujuannya.
"Jika kalian ingin tinggal disini, maka aku akan membangunkan kediaman kalian di belakang." ucap Noran.
"Tidak boleh!" keduanya berteriak bersamaan.
"Kenapa?" tanya Noran.
"Bukankah ada banyak kamar di mansion ini?" tanya Esline.
"Ya, biarkan kami menempati salah satunya." ucap Alice.
"Mengapa kalian begitu ingin tinggal disini?" tanya Noran.
Noran menjadi waspada dengan sikap keduanya, menurutnya mereka berdua terlihat aneh.
Menyadari Noran bersikap waspada pada mereka, Esline dan Alice menjelaskan.
"Tempat ini indah, dan kami sangat menyukainya." ucap Esline.
"Dan pemandangan terbagus dapat dilihat dari mansion ini." ucap Alice.
"hah~terserah kalian saja, aku masih ada urusan lain, sampai jumpa." ucap Noran.
Noran kemudian pergi menuju barak, tempat para prajurit beristirahat.
...
Di barak, terlihat para prajurit tengah menikmati makanan mereka, dan beberapa tengah beristirahat sembari berbincang.
__ADS_1
Toun yang berada di barak, segera menemui Noran dan memberi hormat.
"Tuan." ucapnya.
"Hm, dimana para prajurit berlevel 150?" tanya Noran.
"Mereka sedang berlatih tuan." ucap Toun.
Toun kemudian membawa Noran ke lapangan pelatihan, terlihat 50 prajurit tengah berlatih dengan serius.
Para prajurit menghentikan pelatihan mereka melihat Noran. Noran memandang mereka dan berjalan maju.
"Kini level kalian telah mencapai level 150, menjadi prajurit reguler tidak akan sesuai untuk kalian." ucap Noran.
Noran mengeluarkan 50 dark armor dan 50 dark shield, mereka memandang armor full plate itu dengan mata berbinar.
"Mulai saat ini, kalian akan menjadi pasukan khusus dari kota kristal, Dark Order." ucap Noran.
Para prajurit menunduk dengan satu lutut di tanah dan pedang mereka tertancap lurus ke tanah.
"Kesetiaan kami sepenuhnya milik anda tuan." ucap para prajurit tersebut.
Sebuah layar notifikasi muncul, menampilkan kesetiaan di angka 90, hampir mencapai kesetiaan sepenuhnya.
Untuk Sin dan yang lainnya, mereka telah memiliki kesetiaan mutlak, bila Noran menyuruh mereka mati, mereka akan melakukannya tanpa ragu.
"Ambil perlengkapan kalian, saat ini kalian akan tinggal di mansion." ucap Noran.
Di bagian belakang mansion, terlihat sebuah bangunan lainnya. bangunan itu memiliki 2 lantai dengan masing-masing lantai memiliki 50 kamar.
"Apakah aku bisa mengajarkan skillku?" pikir Noran.
Jika bisa, maka akan bagus baginya. Ratusan tamer dengan ribuan monster di belakangnya, puluhan blacksmith dan alchemy berkualitas akan membantu wilayahnya makmur dengan cepat.
Sebuah pesan muncul di hadapannya, itu dari pengirim misterius.
[Kamu tidak bisa mengajarkan skill milikmu untuk sekarang, kamu hanya bisa mengajarkan setelah mendapatkan skill Teaching.]
Noran merasa itu masuk akal, jika ia bisa mengajarkannya pada semua orang, bukankah itu akan merusak keseimbagan dunia?
[Oh! Satu hal lagi, kamu hanya bisa mengajarkan skill tingkat rendah. Skill tingkat tinggi seperti Battle Aura, Acceleration, dan lain-lain tidak bisa di ajarkan.]
Noran hanya bisa tersenyum membaca pesan itu, ia berpikir apakah itu sang dewa pengurus dunia ini?
Noran memutuskan kembali ke mansion, menemui dua gadis itu, entah mengapa Alice merasa kesal saat melihat Noran.
"Kenapa kamu kesal?" tanya Noran.
"Kamu hanya memberi cincin kepada Esline, aku juga mau satu." ucap Alice.
"Kamu mau?" tanya Noran.
"Te-tentu saja aku mau." ucapnya dengan lirih dan malu-malu.
__ADS_1
Noran mengeluarkan cincin lainnya dan memberikannya pada Alice, ia menjadi begitu senang dan berlari bersama Esline.
"Ada apa dengan mereka?" pikir Noran.
Di tempat lain...
Di ibukota kerajaan, kaisar merasa begitu marah. 3 kota perbatasan miliknya telah jatuh ke tangan musuh, dan untuk 7 kota lainnya hanya menunggu waktu sebelum jatuh.
"Dimana perdana menteri?" tanya Sang kaisar.
"Perdana menteri belum hadir yang mulia." ucap seorang penjaga.
"Seret dia kemari!" teriak sang kaisar.
Jenderal Reylight memandang kaisar yang tengah frustasi, kehilangan 3 kota dan hampir seratus ribu prajurit adalah pukulan besar bagi mereka.
Dalam hal apapun, kekaisaran Zugen 2 kali lebih baik dari kerajaan Rosvelt.
"Kota Sinvil dan kota Trusce telah jatuh tuan, 2 komandan dan 1 jenderal terbunuh." ucap seorang penjaga.
"Apa?!" teriak kaisar.
5 kota telah jatuh ke tangan mereka, dengan pernyataan perang kekaisaran, mereka sepertinya mengerahkan kekuatan penuh.
Masih tersisa 5 jenderal di lima kota, dan dua jenderal terpaksa mundur, kerajaan Rosvelt memiliki 5 sekutu yang merupakan kerajaan kecil.
Namun, mereka tidak mengirimkan pasukan bantuan. bagaimanapun, meski mereka menggabungkan kekuatan, invasi Kekaisaran Zugen terlalu kuat.
Sang kaisar merasa begitu fristasi, ribuan tahun kerajaan ini berjuang hingga menjadi sebesar ini. apakah kerajaan ini akan hancur di bawah pimpinannya?
Ia merasa begitu frustasi dan bodoh, jika saja ia menghentikan peperangan dua Duke penyokong kekuatan kerajaan, mungkin invasi ini tidak akan terjadi.
"Yang mulia, kita harus bertindak dan menghentikan invasi mereka." ucap jenderal Reylight.
Sebagai jenderal besar, ia memiliki pegaruh yang kuat di militer setelah sang kaisar.
"Biarkan saya memimpin pasukan dan menghadang mereka." ucap jenderal Reylight.
"Reylight, kamu hanya akan terbunuh dalam perang ini." ucap sang kaisar.
Dirinya menghela nafas dengan begitu berat, mungkin ini memang waktu kehancuran untuk kerajaan Rosvelt.
"Untuk kerajaan ini saya rela mati, asalkan kerajaan kita masih berdiri dan bebas seperti ribuan tahun selama ini." ucap jenderal Reylight.
Sang kaisar memandang jenderal Reylight dengan mata menyala, apa yang dikatakan oleh Reylight itu benar, demi kerajaan mereka harus berkorban.
"Panggil semua jenderal dan komandan, aku akan mempertahankan kerajaan ini hingga aku mati." ucap sang kaisar.
Jenderal Reylight mengangguk, dirinya lalu pergi keluar dari ruangan tahta, melaksanakan perintah sang kaisar.
.............................................................
Mohon maaf jika kurang memuaskan, ini karya pertamaku, silahkan di vote dan komen ya? Makasih.
__ADS_1
.............................................................