
Setelah beberapa hari menempuh perjalanan, akhirnya Noran dan yang lainnya telah tiba di ibukota.
Noran dan yang lainnya kembali ke akademi, hanya ada 6 kereta yang kembali, sepertinya ada 150 murid yang terbunuh, dengan di tambah 20 dari kelas Noran, total ada 170 murid yang gugur.
2 guru akademi juga gugur dalam peperangan ini, medan perang terlalu keras dan berbahaya.
Master Wilberd kemudian masuk ke ruang kepala akademi, menemui Tuan Neil dengan para guru lainnya.
"Tuan Neil, kami telah lalai." ucap Master Wilberd.
Pak tua itu menghela nafas, menyedot tembakau yang kini tengah terbakar di mulutnya.
"Aku sudah menduganya, jadikan ini pelajaran untuk para murid, kembalilah." ucap Neil.
Ia memandang ke arah kejauhan, mungkin waktunya bertugas kembali hampir tiba.
Di tempat lain, para murid di berikan istirahat selama satu minggu, Noran memilih kembali ke kota Kristal.
...
Noran kini telah tiba di kota Kristal, ia memacu kudanya dengan pelan sembari melihat perkembangan kota, sepertinya kota kecil ini berkembang dengan baik.
Hanya ada 100 prajurit yang berpatroli menjaga keamanan kota, itu di sesuaikan dengan kota yang aman, hanya membutuhkan sedikit tenaga untuk berpatroli.
Para prajurit memberi hormat kepada Noran ketika melihatnya, selain memberi tempat tinggal, Noran juga telah membuat mereka seperti sekarang.
Kini, nama Noran telah menjadi suci di hati mereka, mereka menjadi lebih loyal pada Noran dan meningkatkan kesetiaan mereka.
Beberapa restoran dan penginapan mewah telah di bangun di samping danau, ini sumber penghasilan pribadi yang besar untuk Noran.
"Mungkin memiliki beberapa pandai besi akan berguna." gumam Noran.
Noran memasuki mansion, terlihat pria tua telah menyambutnya dengan hangat.
"Selamat datang kembali tuan." ucap Grim.
"Ya, aku kembali." ucap Noran.
"Apa tuan ingin mandi atau makan?" tanya Grim.
"Aku akan mandi dahulu." ucap Noran.
Grim menyuruh beberapa pelayan untuk menyiapkan air hangat dan makanan untuk Noran, ia lalu berjalan masuk ke kamar.
Setelah air hangat siap, Noran memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, ia kini telah mengenakan pakaian bangsawan miliknya.
Makanan sudah terhidang di hadapannya, Noranpun memakannya dan memandang Grim yang masih berdiri.
__ADS_1
"Mengapa kamu masih berdiri?" tanya Noran.
"Tuan, seorang pelayan akan makan setelah tuannya selesai makan." ucap Grim sembari tersenyum.
"Duduklah dan makan bersamaku." ucap Noran.
Ia memaksanya untuk bergabung, Grim ingin menolaknya namun Noran memaksanya dengan kekuatannya, membuat Grim tidak bisa menolak.
"Seberapa kuat Tuan Noran ini?" pikir Grim.
Ia meyangka jika dirinya termasuk kuat, namun tak ia sangka Noran dapat dengan mudah memaksanya.
Setelah selesai memakan makanan mereka, Noran bertanya bagaimana situasi kota saat ini.
"Bagaimana situasi kota?" tanya Noran.
"Situasi kota saat ini semakin bagus tuan, ada 5.000 penduduk baru yang datang. Saat ini kota Kristal memiliki penduduk yang cukup." ucap Grim.
Noran teringat dengan situasi kota Turin dan tiga desa lainnya, mereka tidak memiliki pasukan yang cukup.
"Kirim perintah pada Toun untuk membawa 150 prajurit ke kota Turin, dan bawa prajurit berlevel rendah mereka ke sini.
Aku akan melatih mereka menjadi prajurit yang kuat.
Aku juga ingin membuka pendaftaran militer bagi para pemuda, biarkan Ruli mengurusnya." ucap Noran.
Grim mengangguk, dirinya kemudian pergi meninggalkan Noran dan melaksanakan perintahnya.
Kini semua goblin dan wind wolf yang ada telah mencapai level 100 dan berevolusi mejadi monster tingkat Cheif.
Di alam liar, untuk monster mencapai level 100 akan sangat sulit, hanya beberapa dari ribuan monster yang berhasil.
Dengan bimbingan Noran, mereka meningkatkan kecerdasan dan menaikkan level dengan aman dan efisien, ini meningkatkan peluang mereka secara drastis.
Ada 100 goblin normal terlihat di sekitaran hutan ini, puluhan rumah pohon berukuran cukup besar di bangun dengan beberapa jembatan menghubungkan mereka.
Para goblin naik melalui sebuah tangga yang di buat dari sulur dan ranting yang ada, mirip dengan tangga dari tali.
Di bawah pohon, mereka membuat tempat untuk para wind wolf beristirahat. Sepertinya kecerdasan mereka meningkat pesat.
Terlihat juga sekitar 20 goblin dan 20 windwolf menjaga terowongan yang menghubungkan pemukiman mereka dengan hutan.
Noran kemudian memutuskan untuk pergi menuju ke hutan yang ada di wilayah Rosvelt, masih ada 15 goblin rider lainnya di sana.
Noran terkejut ketika melihatnya, ada lebih banyak goblin dan wind wolf disini, para goblin segera berkumpul dan mengelilingi Noran.
25 goblin dan 25 wind wolf lainnya telah naik tingkat, kini ada 250 goblin dan 250 wind wolf di sekitaran gua.
__ADS_1
Noran membawa mereka ke hutan pinus, membiarkan mereka membangun pemukiman mereka.
Noran kemudian kembali ke mansion, cukup banyak urusannya akhir-akhir ini.
"Bukankah aku memiliki 2 mistery skill book lagi?" pikir Noran.
Noran kemudian memilih membuka kedua mistery skill book tersebut.
[Ding! Skill baru terdeteksi! Skill : Acceleration! tambahkan ke daftar skill?
Ya/tidak]
[Ding! Skill baru terdeteksi! Skill :Silent Step! Tambahkan ke datar skill?
Ya/tidak?]
"Ya!" pikir Noran.
Dua skill lainnya kini ditambahkan ke daftar skillnya, satu skill untuk meningkatkan kecepatan dan satu skill untuk meniadakan suara saat bergerak.
Silent step biasa dimiliki oleh para assassin bersamaan dengan shadow step, ilusion body dan beberapa skill lainya.
Di saat ia hendak melihat skillnya, seseorang datang memasuki kamarnya dan mendatanginya.
Rambut pirang serta mata biru cerah seperti safir, dirinya mengenakan gaun yang cukup sederhana, menambah kecantikan alaminya.
"Esline? Kenapa kamu disini?" Noran terkejut melihatnya.
Gadis itu hanya tersenyum memandang Noran, ia mendatanginya dan duduk disampingnya.
"Aku dengar kamu sudah kembali, makanya aku kesini." ucap Esline.
Dirinya duduk di samping Noran, menanyakan situasi di perbatasan kerajaan.
"Bagaimana situasi di perbatasan?" tanya Esline.
"Situasi di sana buruk, kekaisaran Zugen mengirim banyak pasukan mereka dan menyerang kota Wensol, tempat kami datang.
Kami kalah, dan kini kota Wensol jatuh di tangan mereka, aku rasa ada beberapa kota lain yag telah jatuh juga." ucap Noran.
Melihat Ekspresi pahit Noran, Esline mengalihkan pembicaraan dan mengajak Noran berkeliling, ia datang untuk bermain dengan Noran.
"Bukankah kamu seharusnya di akademi?" tanya Noran.
"Kami sedang bebas saat ini." ucap Esline sembari menarik Noran pergi.
.............................................................
__ADS_1
Mohon maaf jika kurang memuaskan, ini karya pertamaku, silahkan di vote dan komen ya? Makasih.
.............................................................