7 KINGDOMS : conqueror

7 KINGDOMS : conqueror
24.duel dengan Duke Aaron


__ADS_3

"Apakah kamu siap?" tanya Duke Aaron.


"Aku selalu siap kapanpun." ucap Noran.


Noran berdiri dengan tegak, pedang besi ia pegang dengan ujung menyentuh tanah.


Duke Aaron mengangkat pedangnya tinggi tinggi, pedang berada di hadapan wajahnya dan berdiri tegak menghadap langit.


"Baguslah, kalau begitu mulailah serang aku." ucap Duke Aaron.


"Tidak, kamu saja yang menyerang lebih dulu." ucap Noran.


Duke Aaron tersenyum, ia menyukai pemuda yang percaya diri, namun sepertinya pemuda di hadapannya kali ini terlalu percaya diri.


Duke Aaron melesat dengan cepat, dalam waktu singkat jarak puluhan meter menjadi kurang dari 3 meter.


"Wave Slash!" teriak Duke Aaron.


Sebuah bilah tajam terbentuk, melesat dengan cepat menuju ke arah Noran.


"Swordmanship! Battle Aura!" teriak Noran.


Wuushh...


Aura kekuningan samar menyelimuti tubuhnya, membentuk pilar transparan setinggi 2 meter.


Serangan Wave Slash menghilang saat mengenai aura milik Noran.


Duke Aaron mengalami tekanan yang cukup kuat, ia tidak menyangka pemuda di hadapannya memiliki battle Aura, yang juga cukup tinggi.


"Seberapa tinggi levelmu nak?" tanya Duke Aaron penasaran.


Di sekeliling lapangan, nampak beberapa orang melihat dengan serius.


Guran, Esline, beberapa penjaga dan pelayan serta istri Duke Aaron yang menonton di atas balkon lantai dua.


"Battle Aura?!" semua orang terkejut.


Pemuda yang baru berumur 16 atau 17 tahun sudah memiliki battle Aura, dan juga tekanannya cukup tinggi.


Bahkan, mereka yang berada di tepi lapangan juga merasakan sedikit tekanannya.


Noran tersenyum, ia memandang Duke Aaron yang termenung.


"Jika aku mengatakan levelku 170 kamu tidak akan percaya bukan?" ucap Noran.


"170?!" Duke Aaron terkejut mendengar ucapannya.


Pemuda berumur 16 tahun memiliki level 170? Tentu saja ia tidak akan mempercayainya.


Noran mengeluarkan kartu guild miliknya, kartu berwarna emas yang mengkilap, di ujungnya tertulis sebuah huruf besar.


A


Duke Aaron memandang ke arah kartu itu dan membaca level yang tertera.


"170!" ia terkejut memandangnya.

__ADS_1


Bagaimana mungkin pemuda yang baru berumur 16-17 tahun ini memiliki level setinggi itu.


"Aku tidak akan kalah semudah itu! battle Aura!" teriak Duke Aaron.


Aura merah keluar dari tubuhnya, ini lebih terang dan tebal dari aura milik Noran.


[Battle aura : lv5]


"Level 5?!" Noran terkejut, levelnya jauh lebih tinggi dari miliknya.


Dengan meningkatkan kekuatannya hingga 20%, kini kekuatan Noran menyamai petarung berlevel 204.


Duke Aaron kembali mengayunkan pedangnya, Noran menangkisnya.


Perbedaan kekuatan terlihat, membuat Duke Aaron terdorong ke belakang.


"Kekuatannya terlalu besar!" Duke Aaron terkejut. Ia merasa sedang bertarung dengan ahli berlevel 200.


"Light Sword!" teriak Duke Aaron.


Cahaya terang menyelimuti bilah pedangnya, menambah ketajaman pedang hingga 50%.


Noran meghindarinya, keduanya terus bertarung dan mengayunkan pedang, tekanan aura keduanya membuat banyak penjaga  yang berlevel 80 tertekan.


"Kekuatannya terlalu besar!"


"Aku kesulitan bernafas!"


"Ini adalah pertarungan dua ahli!"


Noran bergerak menghindar dan menyerangnya, ia berhasil melukai lengan Duke Aaron.


Srissh..


Luka ringan tercipta di lengan Duke Aaron, Duke Aaron kemudian menyerang lebih keras, keduanya terus bertarung hingga cukup lama, tubuh keduanya di penuhi oleh luka sayatan kecil.


Namun, luka yang ada pada Duke Aaron lebih banyak dari luka Noran.


Swush...


Dalam sekejap ia berada di depan Duke Aaron dan mengacungkan ujung pedangnya ke arah tenggorokan Duke Aaron.


"Apa kamu menyerah?" tanya Noran.


Duke Aaron tersenyum ringan, menunjukkan giginya yang putih bersih. Ia melepaskan pedangnya dan mengangkat tangan.


"Aku menyerah." ucap Duke Aaron.


Para penjaga dan pelayan mansion berteriak tidak percaya, Duke Aaron yang perkasa telah di tundukkan oleh seseorang, dan itu adalah seorang pemuda.


Noran membantu Duke Aaron berdiri, dan berjalan berdampingan dengannya menuju ke sebuah kursi.


Keduanya duduk berhadapan, Noran lalu mengeluarkan dua potion yang telah ia beli.


Meski ini lebih rendah dari potion miliknya, ini masih berguna.


"Apa aku menjual potion saja?" pikir Noran.

__ADS_1


Itu akan menjadi bisnis yang menguntungkan, mungkin ia akan melakukannya lain kali.


Keduanya meminum potion dan luka luka ringan mereka pulih, sementara pakaian mereka, tentu saja masih sama, penuh dengan lubang.


"Hahaha, kamu kuat!" ucap Duke Aaron.


Guran dan yang lainnya juga merasa tidak percaya, pemuda itu lebih kuat dari tuan mereka, Duke Aaron.


"Menakjubkan!" Esline masih terpesona dengan pertarungan Noran.


Saat berada di hutan, ia tidak menyaksikan bagaimana Noran menyerang para goblin itu, ia hanya mendengarnya dari Guran dan para penjaga.


Saat ini, ia menyaksikannya sendiri. Kekuatan luar biasa, sikap tenang dan serangan yang mematikan.


"Sekarang, aku memperbolehkanmu berkencan dengan putriku." ucap Duke Aaron.


"Kenapa kamu membahas itu?" Noran kembali terbatuk.


Apakah para bangsawan selalu berbicara seperti itu?


"Hahaha, aku hanya bercanda. Namun, jika kamu serius aku tidak akan menolaknya." ucap Duke Aaron.


"Ayah! Jangan bercanda!" Esline menghampiri keduanya dan memarahi ayahnya.


Sikap ayahnya selalu seperti ini, ia selalu saja usil dengan orang yang ada di dekatnya.


Tanpa di sadari hari sudah menjadi gelap, ini hampir malam.


"Sepertinya hampir malam, aku harus pergi. aku akan meminta kamu untuk menemaniku besok." ucap Noran.


Noran hendak bangkit dan pergi, namun Duke Aaron menahannya.


"Kenapa kamu terburu-buru? Ikutlah makan malam bersama kami." ucap Duke Aaron.


Semua pelayan dan penjaga mengangguk, menandakan persetujuan mereka.


"Bagaimana menurutmu Esline?" tanya Duke Aaron.


Semua tatapan menuju wajah Esline, menunggu reaksi darinya.


"Yah, aku rasa itu cukup bagus..." ucap Esline.


"Nah, kalau sudah begitu maka sudah di putuskan, kamu akan ikut makan malam bersama kami." ucap Duke Aaron.


Noran merasa begitu di permainkan oleh Duke Aaron, ia mengajaknya makan malam dan menanyakan pendapat setiap orang, namun ia tidak menanyakan pendapat dirinya.


"Ayo nak, hari sudah gelap, ini waktunya makan malam." ucap Duke Aaron.


Keduanya bangun dan berjalan masuk ke dalam mansion, tangan Duke Aaron melingkar di bahu Noran, seperti seorang ayah yang bersama anaknya.


Noran hanya bisa menggaruk lembut pipinya sembari berjalan menuju ruang makan.


.............................................................


Mohon maaf jika kurang memuaskan, ini karya pertamaku, silahkan di vote dan komen ya? Makasih.


.............................................................

__ADS_1


__ADS_2