
Setelah berlatih beberapa jam, Noran berjalan masuk ke dalam mansion lagi, kini suasana mansion lebih tenang.
Ruangan yang tadinya penuh dengan makanan dan berbagai benda lainnya kembali seperti semula, begitu rapi dan bersih.
Noran kemudian berjalan menuju ke ruangan Duke Aaron yang berada di lantai dua mansion.
Tok tok tok....
"Masuklah." ucap Duke Aaron.
Noran kemudian membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam ruangan. Terlihat Duke Aaron sedang membaca setumpuk dokumen.
"Ah, itu kamu Noran. Ada apa?" tanya Duke Aaron.
Noran memandangi tumpukan dokumen yang ada, setidaknya berjumlah puluhan atau mungkin ratusan dokumen.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu." ucap Noran.
Wajah Duke Aaron menjadi serius, ia bangkit dan duduk di sebuah sofa dengan Noran di hadapannya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Duke Aaron.
"Aku ingin memberikan sebuah senjata untukmu." ucap Noran.
Duke Aaron mengerutkan keningnya dan memandang pemuda di hadapannya.
"Sebuah senjata?" Duke Aaron merasa penasaran dengan senjata yang akan di berikan oleh Noran.
Noran kemudian mengeluarkan sebuah pedang dari penyimpanannya, itu adalah Iron Sword tingkat epic miliknya.
Dari luar, itu memang terlihat seperti sebuah pedang besi biasa yang sering di gunakan oleh para penjaga.
"Sebuah pedang?" Duke Aaron memandang pedang itu dengan heran.
"Ini mungkin terlihat seperti pedang biasa, namun ini bukan pedang biasa." ucap Noran.
"Apa maksudmu?" Duke Aaron bingung dengan perkataan Noran.
Noran kemudian berbicara kembali, " ini adalah sebuah pedang tingkat Epic."
"Tingkat Epic katamu?!" Duke Aaron terkejut.
Senjata tingkat Rare saja sudah memiliki harga tinggi di ibukota, dan senjata tingkat super Rare bahkan lebih tinggi lagi.
Dalam istana kerajaan, ada beberapa senjata tingkat Epic dan mereka adalah harta kerajaan yang berharga.
__ADS_1
Untuk senjata tingkat Super Epic bahkan lebih sedikit, kerajaan Rosvelt ini hanya memiliki 3 buah saja.
Dan Noran kini mengatakan bahwa ia akan memberikan senjata tingkat Epic kepadanya.
Ia merasa pemuda di hadapannya sedang bermain-main.
"Nak, jangan bercanda, senjata tingkat Epic adalah senjata yang sangat langka." ucap Duke Rosvelt.
Senjata yang ia gunakan saat ini hanyalah sebuah senjata tingkat Super Rare, dan juga ia dapatkan dengan susah payah dan banyak harta.
"Aku tidak bercanda, ikutlah ke halaman belakang mansion." ucap Noran.
Keduanya kemudian turun dari lantai dua dan keluar menuju halaman belakang mansion.
Keduanya berdiri di tengah halaman, Noran memberikan pedang itu kepada Duke Aaron.
"Cobalah serang pohon itu dengan serangan jarak jauhmu." ucap Noran.
Duke Aaron mengikutinya, berdiri dengan kuda-kuda yang kuat, ia melepaskan skill serangan jarak jauhnya.
"Wave Slash!" teriak Duke Aaron.
Swush..
Bilah kemerahan terlihat dari pedang itu, membentuk tebasan seperti bulan sabit dan melesat kedepan menuju sebuah pohon.
Hanya satu serangan, pohon rubuh dan terpotong rapi. Duke Aaron kemudian mendekati batang pohon yang masih tertanam di tanah.
"Sangat halus..." ia terkejut ketika melihatnya.
Potongannya begitu halus, seperti bukan di potong menggunakan pedang. Selain itu, ia juga merasakan kerusakan dari serangannya meningkat.
"Itu adalah iron sword tingkat Epic, mampu meningkatkan kerusakan sebesar 5%. Iron sword ini bukanlah senjata Epic biasa." ucap Noran.
Duke Aaron juga dapat merasakannya, pedang ini memang istimewa. Penampilan pedang yang biasa, ini sempurna untuk mengecoh lawan dalam pertarungan.
"Dengan tingkat kekuatan anda saat ini, aku yakin pedang ini akan menjadi senjata mematikan di tangan anda." ucap Noran.
Pedang ini tidak memiliki sarung, untuk membuat sarungnya dibutuhkan ingot besi lainnya.
"Kamu bisa membuat sarungnya sesukamu." ucap Noran.
Duke Aaron memandang pedang di tangannya, ini akan berharga ribuan atau bahkan puluhan ribu koin emas.
"Bagaimana aku bisa membayarnya?" tanya Duke Aaron.
__ADS_1
Menerima sesuatu tanpa memberikan yang senilai bukanlah budaya para bangsawan.
"Aku sudah mengatakannya, ini adalah hadiah untukmu." ucap Noran.
"Tidak, aku tidak bisa menerimanya begitu saja, aku akan memberimu sebuah tanah di wilayahku." ucap Duke Aaron.
Noran hanya mendengarkannya, sepertinya gaya hidup para bangsawan ini lebih rumit dari yang ia duga.
Keduanya berbincang beberapa saat sebelum berlatih tanding di halaman.
Noran mengeluarkan black steel Sword miliknya, yang juga merupakan senjata peringkat Epic.
Noran merasa aneh, mengapa para bandit itu bisa memiliki senjata tingkat epic? Apakah hanya keberuntungannya saja atau ada hal lainnya.
Tring tring tring...
Keduanya bertarung dengan intens, noran hanya menggunakan kekuatan aslinya, tidak menggunakan skill. Dirinya ingin melihat seberapa tinggi ilmu berpedang miliknya.
Di atas balkon, terlihat dua perempuan cantik duduk dan memandang pertarungan Noran sembari menyesap teh.
Mereka adalah Duchess Emma dan Esline, memandang latihan mereka yang intens.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Duchess Emma.
Ia memandang wajah putrinya itu, yang sedang memandang dua pria di halaman belakang.
"Ya, aku menyukainya." ucap Esline.
"Pemuda yang kuat, juga fokus dan pemberani, akan sulit jika kamu ingin mendapatkannya." ucap Duchess Emma.
"Mengapa?" Esline terkejut mendengar perkataan Ibunya itu.
"Aku dapat melihatnya, ia akan menjadi sosok yang besar dan di hormati. Aku tidak bisa melihat takdirnya dengan jelas, hanya sebuah kilatan samar.
Jika kamu ingin mendapatkannya, kejarlah dan berusaha dengan tekun untuk bisa sejajar dengannya." ucap Duchess Emma.
Esline mengangguk, menaati ucapan ibunya itu dan akan berusaha lebih keras dari sebelumnya.
Duchess Emma memandang Noran dengan mata lembutnya. Takdir yang tidak bisa di baca begitu aneh baginya.
Biasanya, Duchess Emma bisa melihat takdir seseorang, meski hanya sekilas. Namun untuk Noran ia hanya bisa melihat sebuah gambaran yang samar.
"Anak ini bukan anak biasa..." gumamnya.
.............................................................
__ADS_1
Mohon maaf jika kurang memuaskan, ini karya pertamaku, silahkan di vote dan komen ya? Makasih.
.............................................................