
"tuan.." ucap Grim.
ia gemetaran melihat tatapan tajam Noran, seakan dirinya menemui pembunuh paling berbahaya yang pernah ada.
"kita akan pergi dari sini." ucap Noran dingin.
"baik tuan." jawab Grim.
dirinya segera pergi meninggalkan lantai dua untuk menyiapkan kereta kuda. tidak ada yang berani bersuara di hadapan Noran saat ini.
sementara di tempat lain, sebuah kereta kuda mewah berjalan memasuki ibukota.
50 prajurit dan beberapa ksatria mengawal kereta kuda itu. terlihat pula bendera kerajaan Mecius di atasnya.
di dalamnya, duduk seorang pemuda tampan sebaya dengan Noran.
mata kehijauan dan rambut pirang kecoklatan, telinganya sedikit runcing menunjukkan dirinya bukan sepenuhnya manusia.
"tuan, situasi ibukota masih tidak aman. mengapa anda memilih kembali?" ucap salah seorang prajurit.
"ayah masih di sini, aku khawatir dengan ayah." ucap sang pemuda.
"tuan muda, yang mulia akan baik-baik saja. ada 4 ahli yang selalu melindunginya, juga para ksatria yang selalu di sisinya." ucap sang prajurit.
pemuda itu diam, mengepalkan tangannya. jika musuhnya orang luar, itu akan mudah untuk di tangani.
"tidak, kita harus kembali ke istana." ucap sang pemuda.
"tuan, yang mulia meminta kita untuk bersembunyi dahulu." ucap sang prajurit.
pemuda itu keluar dari kereta dan berlari menggunakan keahliannya.
ia bergerak seperti anak panah di padatnya jalanan ibukota. para prajurit segera mengejarnya sekuat tenaga.
"tuan muda!" teriak sang prajurit.
Noran dan yang lainnya kini bersiap untuk meninggalkan ibukota, dirinya memilih berjalan kaki sembari mengumpulkan informasi yang penting.
'tuanmu? aku tidak peduli. siapapun yang berani mengarahkan senjata padaku, akan aku tumpas.' gumam Noran.
"minggir! minggir!"
suara teriakn terdengar, beberapa prajurit berzirah muncul dan terlihat tengaj mencari sesuatu.
"cari tuan muda, jangan biarkan dia menghilang." teriak sebuah suara.
tak lama, muncul beberapa prajurit, mereka berhenti di hadapan Noran dan memperhatikannya dengan seksama.
Noran memandang para prajurit itu dengan sedikit bingung. mereka mengelilinginya dan terus memprrhatikannya dari atas ke bawah.
"apa ini tuan muda?" ucap seorang prajurit.
"dia pasti tuan muda." ucap sang prajurit.
penampilan dan rupa Noran terlihat sama persis dengan tuan muda yang mereka cari, sang pangeran Mecius pertama.
"bawa dia kembali ke kereta kuda." ucap seorang prajurit.
dua prajurit mencoba menarik Noran kembali. mereka mencoba namun merasa tertahan.
"kenapa tidak bergerak? cepatlah." ucap prajurit lainnya.
__ADS_1
"ini sangat berat, bantu kamu." ucap prajurit yang mencoba menarik Noran.
'siapa mereka?' gumam Noran.
ia berdiri diam dan memperhatikan banyak prajurit berzirah di sekitarnya. kini ada lebih banyak prajurit yang mencoba membawa Noran, namun masih gagal.
"panggil tuan Rater." ucap seorang prajurit.
seorang prajurit pergi dan memanggil kepala prajurit paruh baya yang memimpin mereka, kapten Rater.
mereka masih terus mencoba membawa Noran sembari menunggu kapten Rater tiba.
"kenapa berat sekali?" ucap seorang prajurit.
"ini tidak mungkin, kemarin kita masih dapat membawanya dengan mudah." ucap prajurit lainnya.
mereka juga merasa aneh, tuan pangeran yang dulu mudah untuk di bawa paksa kembali ke kereta kuda.
hanya dengan dua prajurit, mereka sudah bisa membawanya kembali. namun sekarang, lebih dari selusin masih tidak mampu membawanya.
tak lama pria patuh baya datang menghadap Noran, rambut putih urakan dengan kumis tipis dan wajah tegas.
"tuan! kenapa anda kabur? kita harus segera pergi." ucap kapten Rater.
"tuan?" ucap Noran.
ia semakin bingung dengan situasi yang di hadapinya. wajah kapten Rater juga berubah ketika mendengar ucapan Noran.
"tuan, jangan bercanda! keselamatan anda lebih penting! jangan keras kepala." ucap kapten Rater.
"siapa kamu?" ucap Noran.
"tuan, meski anda menolak, saya akan membawa anda pergi dengan paksa." ucap kapten Rater.
ekspresi terkejut tertampil dari sorot matanya. ia merasa aneh mengapa sangat berat menarik tuan muda mereka?
ia kembali mencoba dan mengalirkan seluruh kekuatannya, namun Noran masih tak bergerak sedikitpun.
kapten Rater memperhatikan Noran lebih teliti. ia menemukan warna rambut dan mata Noran berbeda dengan pangeran pertama.
ia berpikir mungkin saja pangeran pertama menggunakan sihir penyamaran. dirinya tidak memperhatikan telinga Noran yang seperti telinga manusia biasa.
"tuan, kita harus menjauh dari ibukota. yang mulia sudah memerintahkannya." ucap Rater.
"yang mulia?" ucap Noran.
...
di tempat lain,
pangeran pertama terus berlari hingga akhirnya berpapasan dengan kereta kuda milik Noran. dirinya di hentikan seorang butler tua dengan mudahnya.
"tuan, kita harus segera pergi." ucap grim.
"tuan? siapa kamu?" tanya pangeran pertama.
"tuan, jangan bercanda. bukankah tuan yang menyuruh kita pergi dari ibukota?" tanya Grim.
terlihat bingung dengan percakapan mereka. Grim memperhatikan ada perbedaan dari penampilan pemuda di hadapannya.
"sejak kapan tuan mengganti warna rambut dan matanya?" gumam Grim.
__ADS_1
"tapi, kalian siapa?" ucap pangeran pertama.
Grim menarik pangeran pertama ke dalam kereta kuda, ia kemudian menyuruh kereta kembali berjalan.
di saat itu, sebuah deringan muncul di kepala Noran.
ding!
[misi : bantuan tak terduga
tingkat : S
deskripsi misi:
kerajaan mecius tengah menghadapi krisis internal, bantu raja untuk menstabilkan kerajaan atau bergabung dengan musuh dan mengambil alih kerajaan.
hadiah:
membantu raja : relasi dengan kerajaan +100 / kemudahan dalam berbagai hal / 1.000 koin emas / fame +200
membantu musuh : relasi dengan musuh +100 / koneksi dengan bangsawan jahat / hadiah tersembunyi ]
"misi baru?!" gumam Noran.
ia terkejut dengan misi di hadapannya, mengapa misi tingkat S muncul begitu saja.
dan yang lebih membingungkannya adalah siapa orang orang di hadapannya? kenapa memanggilnya tuan?
apakah mereka mengenal dirinya? Noran terus berpikir dan merenung, mengabaikan para prajurit yang susah payah menariknya.
"tuan, jangan salahkan saya karena bertindak kasar." ucap Rater.
ia menarik pedangnya dan mengayunkan ke arah Noran. para prajurit menjadi terkejut dengan tindakan kapten mereka.
jarak pedang kurang dari beberapa centi saja, semua orang menghirup udara dingin.
Noran kembali sadar dan menggeser tubuhnya. dalam sekejap ia muncul di belakang kapten Rater.
[nama : Rater
ras : human
gender : pria
job : kapten prajurit kerajaan
level : 120 ]
"kapten prajurit?" gumam Noran.
"tidak mungkin?!" kapten Rater terkejut.
ia tidak menyangka pemuda itu mampu bergerak dengan cepat. bagaimana seseorang berkembang dengan sangat cepat.
"bukankah tuan muda tidak suka berlatih." gumam kapten Rater.
"lambat, tidak waspada, juga terlalu menggunakan emosi. kamu tidak layak di sebut kapten penjaga." ucap Noran.
kata-kata Noran membuat kapten Rater terkejut. tidak ada satupun prajurit yang berani membalas ucapan Noran.
bang!
__ADS_1
dengan lembut Noran mendorong kapten Ruter, membuatnya terdorong maju beberapa langkah.