7 KINGDOMS : conqueror

7 KINGDOMS : conqueror
38.serangan Duke Russel


__ADS_3

Hari terakhir berlalu, kini pasukan Noran telah mencapai level 100 seluruhnya, mereka bisa di bandingkan dengan pasukan khusus milik para bangsawan.


Untuk pasukan kerajaan Rosvelt, mereka lebih kuat lagi. Pasukan reguler memiliki level 120 dan pasukan khusus setidaknya memiliki level 150.


"Sudah waktunya kita kembali ke kota Artus." ucap Noran.


Noran memimpin pasukannya kembali ke kota Artus, masih di butuhkan waktu beberapa jam agar mereka tiba.


Sementara itu di benteng kota Artus, seluruh pasukan Duke Aaron telah ia tempatkan seperti permintaan Noran, namun karena setengah pasukan dibawa Noran, mereka menjadi kekurangan Orang.


Seluruh pria yang bisa mengangkat senjata di arahkan untuk menjaga benteng, meski kini ada total 4.000 pasukan, namun sebagian besar hanya memiliki level rendah.


Juga, perlengkapan yang mereka gunakan juga dibawah standar pasukan reguler. Bisa dikatakan pertahanan kota Artus saat ini sangat lemah.


"Dimana Noran? Mengapa ia belum kembali?" Duke Aaron merasa cemas.


Noran mengatakan ia akan kembali setelah tiga hari, namun ia masih belum kembali.


Dari dua arah, dua pasukan dalam jumlah besar bergerak menuju ke arah Kota Artus.


Total pasukan berjumlah 8.500 pasukan dengan yang paling rendah berlevel 70. Jumlah itu terlalu besar di bandingkan dengan pasukan Duke Aaron.


Terlebih, kurang dari setengah pasukannya, yakni hanya 1.500 yang merupakan prajurit terlatih.


Duuuuuu... Duuuuuu.....


Terompet besar terdengar di bunyikan, itu adalah tanda peringatan musuh yang datang.


Dua prajurit berlari ke arah Duke Aaron yang berada di benteng kota, dirinya berdiri tepat di atas gerbang kota.


Di sisinya, sekitar 200 pemanah berbaris rapi. Hampir semua pemanah ini adalah penduduk yang mengangkat senjata.


"Tuan! Musuh terlihat dari arah timur! Jumlahnya diatas 5.000 pasukan!" ucap seorang prajurit.


"Tuan! Musuh terlihat dari arah barat! Jumlah musuh lebih dari 2.000 pasukan!" ucap prajurit lainnya.


Duke Aaron terkejut, satu pasukan dari arah timur saja sudah cukup untuk membuatnya kalah telak.


Kini, ada dua pasukan yang menyerang dari arah yang berbeda.


"Duke Russel..." Dirinya bergetar saat mengatakan nama itu.


Melihat pasukannya yang juga bergetar, ia menahan dirinya. Dengan tegas ia berbicara.


"Perkuat pertahanan, hidup atau mati kita akan bertempur. Jangan biarkan mereka menang, jangan biarkan mereka menangkap keluarga kita." ucap Duke Aaron.


Semua mata pasukannya menjadi bersemangat, kini amarah mereka membara. Dalam peperangan, tawanan sudah menjadi hal yang biasa.

__ADS_1


Bahkan tak jarang musuh menangkapi wanita dan anak anak dari pihak yang kalah untuk di jadikan budak.


Mereka semua tidak ingin itu terjadi, meski harus membayarnya dengan nyawa, mereka akan melakukannya.


Pasukan semakin mendekat, terlihat Duke Russel dengan dua orang bangsawan tingkat Baron memimpin ribuan prajurit menuju ke kota.


Satu pasukan dengan jumlah terbesar membawa bendera wyvern bersama mereka, 2 bendera lain juga terlihat, Duke Aaron mengenali mereka.


"2 Baron?!" Duke Aaron terkejut.


Sekutu Duke Russel lebih banyak dari yang ia kira, Duke Russel menunggang kudanya dan membuatnya maju beberapa langkah.


Dibelakangnya, 500 prajurit berperisai berbaris rapi, lalu di samping kanan dan kirinya adalah dua baron yang juga membawa 500 pasukan.


"Duke Aaron! Inikah yang kamu sebut dengan berbuat kekerasan?" Duke Russel tersenyum mengejek.


Ia tahu sebagian besar pasukan Duke Russel hanya rakyat sipil, terlihat jelas dari cara mereka memegang dan mengangkat senjata mereka.


"Tak kusangka kamu sekarang dalam kondisi sangat buruk." ucap Duke Russel sembari memberi ekspresi kecewa.


Namun, semua orang dapat tahu jika ia sangat gembira saat ini, kedua Baron di sampingnya juga tertawa dengan lepas.


"Aku tidak akan pernah menyerah! Bahkan jika aku mati!" ucap Duke Aaron.


"Jika itu maumu, aku akan mengabulkannya. Serang!" teriak Duke Russel.


"Tembakkan panah!" teriak Duke Aaron.


Ratusan pemanah mengacungkan busur mereka, melepaskan ratusan anak panah yang membentuk hujan panah.


Beberapa prajurit berperisai terbunuh karena panah menembus perisai mereka, segera prajurit lainnya menutup posisi yang kosong.


200 heavy armored infantery milik Duke Aaron telah  berbaris rapi di belakang gerbang kota bersama ribuan prajurit dan prajurit rekrutan.


"Serang!" kedua Baron juga memberi aba-aba, 1.000 pasukan lainnya maju dan menggempur kota Artus.


Semua pasukan duke Russel juga maju, ada sekitar 1.000 pemanah dan 500 pasukan berkuda dengan tombak di tangan mereka.


Semua pasukan mengenakan armor full plate, nampak menakutkan melihat mereka menyerbu kota Artus seperti air bah.


"Jangan gentar! Hidup atau mati, kita akan terus berjuang!" teriak Duke Aaron.


Duke Aaron mengangkat pedang miliknya, itu adalah pedang yang di berikan oleh Noran.


"Kirimkan penghancur gerbang!" teriak Duke Russel.


Belasan prajurit menarik sebuah alat besar, sebuah besi besar tergantung semacam pasak besar di tengahnya, dengan ujung runcing berada di depan.

__ADS_1


Ada 4 tali panjang yag terikat di ujungnya, dengan masing-masing tali di pegang oleh 20 prajurit.


"Tarik!" teriak sang pemandu.


Semua prajurit menarik tali dengan kencang, membuat pasak besi terangkat ke belakang.


"Lepaskan!" teriak sang pemandu.


Buummm...


Pasak besi yang besar dan berat menghantam gerbang kota, membuat benteng menjadi bergetar.


"Tarik!" teriak sang pemandu.


Gerbang terus di gempur dengan pasak besar tersebut, para pemanah menembaki pasukan yang menarik tali tersebut.


Gerbang hanya bertahan selama beberapa saat, gempuran kuat lainnya meluncur, membuat gerbang hancur menjadi beberapa bagian.


Mereka menarik alat pengepungan mundur, pasukan berperisai merangsek masuk ke gerbang berhadapan dengan heavy armored infantery.


Duke Aaron yang mengenakan zirah perak turun dari atas gerbang dan ikut bertempur dengan pasukannya.


Semakin banyak prajurit musuh yang masuk ke dalam kota, membuat Duke Aaron dan pasukannya perlahan terdorong.


"Duke Russel, apa kita tidak ikut menyerang?" tanya seorang baron.


Baron berambut coklat dan mata kebiruan menatap Duke Russel, Duke Russel tersenyum mendengar pertanyaannya.


"Tidak perlu, mereka saja sudah cukup." ucap Duke Russel.


Baron lainnya hanya mengangguk, memandang pertempuran yang terjadi di dalam kota.


Puluhan pemanah berjatuhan satu-persatu saat pasukan mereka menyerang dan naik keatas benteng.


Dari sisi lain, 2.500 pasukan memasuki gerbang dengan mudah, hanya ada beberapa ratus pasukan saja yang menjaga gerbang tersebut.


"Maju terus! Duke Russel pasti telah menunggu kita." ucap Baron Luksvile.


Ketiganya memimpin pasukan menjelajahi setiap sudut kota Artus dan menyerang setiap prajurit yang terlihat.


"Cepatlah nak! Kami sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi." gumam Duke Aaron.


Saat ini dirinya menghadapi belasan prajurit musuh dan terkepung bersama dua ratus Heavy Armored Infantery.


.............................................................


Mohon maaf jika kurang memuaskan, ini karya pertamaku, silahkan di vote dan komen ya? Makasih.

__ADS_1


.............................................................


__ADS_2