
Herton dan Ruli terus memacu kuda mereka, kini mereka hampir sampai di ibukota.
gerbang kota yang terbuka lebar terlihat di pandangan mereka, pasukan kavaleri segera memacu kuda mereka lebih cepat dan melewati para pasukan infanteri.
"biarkan aku membawa mereka terlebih dahulu." ucap Ruli.
"baiklah, pimpin mereka dengan baik." ucap Herton.
Ruli segera mempercepat kudanya dan meninggalkan pasukan utama dengan pasukan kavaleri yang mengikutinya.
Sementara itu, Falcon rider masih terbang di ketinggian dan mengawasi dari kejauhan. Misi mereka hanya mengawal pasukan yang di kirim, bukan bergabung dalam pertempuran.
"tuan, kami akan segera datang dan membantu anda." gumam Herton.
tangannya telah menggenggam erat pedang yang tergantung di pinggangnya. ratusan pasukan infanteri di lengkapi perisai ringan serta para pemanah, jumlah yang cukup menurutnya sebagai bala bantuan.
...
Ruli telah menerobos gerbang kota dan masuk, langsung menuju ke istana. sepanjang perjalanan mereka bertemu dengan beberapa kelompok kecil prajurit, namun mereka bisa di lenyapkan dengan mudah.
100 pasukan kavaleri dengan perlengkapan super Rare bukanlah sesuatu yang bisa di hentikan kelompok kecil prajurit normal.
tak lama mereka tiba di dekat istana, menyaksikan puluhan ribu prajurit musuh yang mengepung benteng istana.
bang!
sebuah ledakan terdengar, Ruli melihat ke arah ledakan itu. ia tersenyum menyaksikan siapa yang tengah bertarung.
"tuan masih bertarung! jadikan diri kalian berguna dan berharga di sini!" teriak Ruli.
ia mulai menembakkan panah pada para musuh. gerakan tangannya begitu cepat, hanya dalam waktu singkat beberapa panah melesat dalam waktu hampir bersamaan.
shua shua....
"arrggghhh!" para pasukan berteriak serempak sebelum memacu kudanya dan mulai menyerang.
100 kavaleri dengan mudah membunuh ratusan prajurit musuh. di barisan paling belakang juga terlihat ratusan anak panah terus menghujani para prajurit.
tak hanya para pemanah yang bertarung dengan baik, para prajurit berpedang juga melawan pasukan Ertios dengan sengit.
"ini..."
kapten Rater membeku di atas dinding, ia menyaksikan pasukan yang datang membantu mereka dengan mata melebar.
bagaimana bisa pasukan berjumlah kecil menekan pasukan Ertios hingga seperti ini?
juga, masing-masing dari mereka terlihat ahli dalam bertempur serta memiliki perlengkapan yang baik.
ngkiikkkk!!
__ADS_1
ringkikan kuda terdengar, kuda perang berwarna hitam dengan dj balut armor yang indah berjingkrak dan mengangkat kedua kakinya.
di atasnya terlihat seorang ksatria paruh baya yang berwibawa, mengangkat pedangnya tinggi tinggi.
"tunjukkan semangat kalian! kita akan memenangkan perang ini!" teriak Herton.
"ooohh!!" para prajurit menjerit dan menjadi lebih bersemangat.
Herton melompat turun dan menebas setiap prajurit yang mendekat ke arahnya.
"pasukan yang kuat." gumam sang jenderal.
ia juga terkejut melihat pasukan bantuan yang datang, dari mana asal pasukan kuat ini?
meski berjumlah sedikit, mereka mampu melawan pasukan yang jumlahnya lebih banyak.
"pemanah itu... ia terlihat sangat kuat." gumam pangeran Arexes.
kapten Rater merasa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, ia sekarang menyadari mengapa pemuda itu bersikap tenang.
"apakah dia dari keluarga bangsawan yang kuat? tapi siapa bangsawan kuat di wilayah seperti ini?" gumam kapten Rater.
Noran bangkit dan melawan kembali, tebasan tunggal ia lepaskan bersama jurus miliknya.
"Wave Crusher!" teriak Noran.
sang assassin bertopeng perak terkejut. ia melebarkan matanya melihat bilah angin yang semakin melebar hingga beberapa meter.
bilah angin terus melesat, meratakan banyak bangunan yang di lewatinya dan memotong pasukan Ertios menjadi dua.
tak kurang dari 5000 prajurit terbunuh dalam serangan tunggal ini, bersamaan dengan puluhan bangunan yang runtuh.
"!!!"
sang raja, jenderal, kapten Rater dan banyak prajurit di atas tembok melebarkan matanya. Sejak kapan ada serangan sekuat itu?
'orang ini bukan orang biasa, ia tidak bisa di singgung sedikitpun.' Gumam kapten Rater.
sang raja dan jenderal gemetaran, mengingat bagaimana mereka memperlakukan Noran sebelumnya.
Noran melesat kembali dan mengejar Ertios yang mencoba kabur. ia tersenyum melihat ekspresi ngeri di wajah pria itu.
"mencoba lari? cobalah." ucap Noran.
bilah angin melesat dan membunuh kuda yang ia tunggangi. detik berikutnya Noran muncul di samping Ertios, ia menebaskan pedangnya dan membunuhnya.
notifikasi terus berdengung, beberapa kali Noran mendengar pemberitahuan naik level. bar Exp miliknya terus bergerak.
"tuan, kami sudah membunuh mereka semua." ucap Seth.
__ADS_1
"bagus, bergabunglah dalam pertempuran." ucap Noran.
Seth mengangguk dan bergabung dalam perang. setelah beberapa lama pasukan pemberontak akhirnya menyerah.
dari 50.000 pasukan yang menyerang, hanya tersisa 23.000 pasukan dan 5.000 di antaranya mengalami cedera ringan sampai berat.
kapten Rater, raja Mecius dan sang jenderal hanya bisa tersenyum pahit. jika bukan kedatangan pasukan Noran, mereka mungkin sudah terbunuh saat ini.
dan 70% yang tewas berada di tangan pasukan Noran, ini membuat mereka semakin malu.
Noran berjalan ke istana bersama Ruli dan Herton, Seth telah kembali ke dalam cincin tanpa satupun yang mengetahui.
sang raja dan yang lain menyambut Noran dengan hangat, begitu juga dengan para bangsawan yang terus menyanjungnya.
'mereka... aku mulai membenci para bangsawan...' pikir Noran.
"tuan muda, sungguh tuan muda memang hebat. Pasukan tuan muda begitu kuat." ucap seorang bangsawan.
Noran hanya tersenyum, melihat para prajuritnya yang beristirahat. terlihat juga banyak prajurit kerajaan yang bergelimpangan.
"mari beristirahat dahulu, pertempuran ini pasti melelahkan kita." ucap sang raja.
dirinya memimpin Noran dan yan lain menuj ruang jamuan. Noran bisa melihat perbedaan sikap sang raja aan yang lainnya.
Noran memilih untuk tidak memperdulikan mereka dan berbicara dengan Herton. Dari cerita Herton, perkembangan kota kecil merek cukup bagus.
dan mereka kini telah membuka area pertanian di hutan, selain sawah mereka juga membuka kebun buah.
"para goblin yang menjaga mereka tuan." ucap Herton dengan berbisik.
"para goblin? apakah Yuzan yang memberi mereka perintah?" gumam Noran.
"kami juga sudah memulai pertenakan domba bertanduk besi dan tambak kecil. wilayah kita semakin luas setiap harinya." ucap Herton.
"begitu ya, aku senang dengan itu." ucal Noran.
Noran tidak menyangka perkembangan kota kecil itu akan sangat pesat. sementara itu sang raja dan yang lain terkejut shock.
siapa yang mampu memperluas wilayah mereka setiap harinya? dan juga, ini daratan Artenia, wilayan tanpa tuan yang kacau.
"apa rencana tuan untuk ke depannya?" tanya Herton.
"t-tuan?!"
mereka kembali shock saat mendengarnya, apakah pemuda di hadapan mereka benar benar yang memiliki pasukan kuat ini?
"akan kupikirkan nanti, untuk saat ini tetap jalankan rencana sebelumnya. di mana Grim?" ucap Noran.
secara tiba tiba, grim muncul di belakanv Noran dan menunduk.
__ADS_1
"saya menemui tuan." ucap Grim.
"apakah baik baik saja?" tanya Noran.