
Semalaman Noran terus bekerja keras meningkatkan keterampilan dark alchemy miliknya, dan kini ia juga berhasil menciptakan 10 potion penyembuh tingkat penuh.
[Hp Potion : Full potion
Ramuan penyembuh tingkat full mampu memulihkan semua luka dan menumbuhkan kembali anggota tubuh yang telah hilang.
Efek : hp +500 / detik selama 1 menit. ]
Noran tersenyum puas, ia melihat 10 potion berwarna hijau terang di hadapannya. Selain itu, ada ribuan botol lainnya yang berwarna merah kehitaman.
Itu adalah ramuan racun tingkat menengah yang Noran buat, ramuan yang mampu melemahkan kekuatan seseorang hingga 10%.
Noran merasa ramuan ini cukup bagus, karena ramuan merah ini adalah ramuan tipe area. Namun, ramuan tingkat menengah hanya efektif terhadap musuh di bawah level 100.
"Baiklah, persiapannya telah selesai." ucap Noran.
Noran bangkit dan menyimpan semua botol botol itu ke dalam inventorynya.
Dirinya mengenakan set tempur miliknya, armor hitam dengan pedang merah yang tergantung di punggungnya.
Tok tok tok...
Suara ketukan terdengar ketika Noran hendak mengenakan helm miliknya. Terlihat sesosok pria paruh baya berpakaian pelayan berdiri.
"Tuan, sarapan telah siap tuan." ucap Grim.
"Ya, aku akan segera ke sana." ucap Noran.
"Baik, saya akan menunggu tuan di sana." ucap Grim.
Grim kemudian pergi, meninggalkan Noran sendirian di kamarnya. Saat itu juga terlihat kucing kecil melompat masuk dari jendela.
Noran menoleh dan melihat Trevis berjalan dengan riang ke arahnya.
"Kucing kecil, dari mana saja dirimu?" ucap Noran.
"Tuan, saya berburu di hutan selama beberapa waktu terakhir." jawab Trevis.
"Begitu, perkembanganmu terlihat bagus." ucap Noran.
Noran melihat status trevis yang telah mencapai level 250 dalam waktu singkat.
Faltra juga berdiri di sampingnya, melihat trevis dengan seksama sebelum mengacuhkannya.
"Akan ada pertempuran sebentar lagi, aku ingin kalian menjaga mereka. Jangan biarkan siapapun mendekati mereka." ucap Noran.
Keduanya mengangguk dan keluar dari kamar melalui jendela. Noran juga berjalan menuju ruang makan.
Sang raja dan yang lain telah menunggu Noran, begitu juga dengan kapten Rater dan seorang jenderal kekar.
"Maaf membuat kalian menunggu." ucap Noran.
Semua orang terdiam, melihat penampilan Noran yang berbeda membuat mereka terkejut.
Bagaimana mungkin penampilan seseorang bisa begitu berbeda hanya dengan mengganti perlengkapannya.
__ADS_1
Noran kemudian duduk, makan bersama di mulai dengan tenang dan damai.
Setelah makan siang, rapat terakhir di lakukan. Sang raja mendiskusikan rencana Noran dengan para bangsawan dan sang jenderal.
"Apa?! Yang mulia ingin menyerahkan separuh komando pasukan pada anak kecil sepertinya?" ucap sang jenderal.
"Ya, bagaimana pendapatmu?" tanya sang raja.
"Yang mulia, saya merasa itu terlalu beresiko. Bagi seorang pemuda memimpin 100 pasukan saja akan terlalu sulit, apa lagi 5.000 pasukan." ucap sang raja.
Noran hanya diam dan menutup matanya, mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Semua orang mengangguk, merasa apa yang di katakan sang jenderal masuk akal. Namun, kapten Rater merasa cukup ragu.
Ia telah melihat sendiri kekuatan Noran, yang mampu menghadapi ratusan prajurit seorang diri.
"Saya rasa itu patut di lakukan." ucap kapten Rater.
"Patut di lakukan?! Apa kamu gila? 5.000 pasukan bukanlah jumlah kecil! Dan mereka juga harapan kita untuk mengalahkan para pemberontak itu." ucap sang jenderal.
Keduanya berdiri dan saling menatap, otot tubuh keduanya menjadi tegang sepenuh.
"Ya, aku tidak cocok memimpin 5.000 pasukan." ucap Noran.
Dirinya bangkit dan memandang semua orang dengan tersenyum.
"Saya hanya akan memimpin pasukan saya sendiri." ucap Noran.
Dirinya pergi bersama Grim, keduanya meninggalkan ruangan rapat dan berkeliling melihat seberapa baik pertahanan mereka.
"Sedih? Untuk apa? Aku bahkan tidak memperdulikannya." jawab Noran.
Grim mengangguk dan terus mengikuti Noran mengelilingi benteng istana. Beberapa kali mereka bertemu dengan prajurit yang berpatroli di sekitaran benteng.
Perlengkapan yang cukup bagus dan layak, serta kekuatan mereka cukup layak untuk di gunakan sebagai prajurit.
"Berapa lama mereka akan tiba?" ucap Noran.
Dirinya berhenti tepat di atas gerbang, memandang ke kejauhan di mana padang rumput yang luas terhampar.
"Tuan, mereka akan tiba saat matahari tenggelam." ucap Grim.
"Gunakan perlengkapanmu, kamu akan memiliki beberapa pekerjaan kali ini." ucap Noran.
Grim mengangguk dan pergi meninggalkan Noran. Angin berhembus lembut dan membuat rambut hitam Noran berkibar.
Sosok pemuda tampan berjalan mendekati Noran, itu pangeran Arexes dengan busur di punggungnya.
"Halo." sapa sang pangeran.
"Pangeran." sapa Noran.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya sang pangeran.
"Hanya berjalan-jalan melihat ibukota." ucsp Noran.
__ADS_1
Pangeran Arexes tersenyum, berbicara dengan Noran terasa begitu menenangkan baginya. Ia merasa seperti berbicara dengan kembarannya.
"Apakah pangeran pemanah?" tanya Noran.
"Ya, aku seorang pemanah. Lebih tepatnya penembak jitu." ucap sang pangeran.
"Bisakah pangeran menunjukkannya padaku?" tanya Noran.
Pangeran Arexes awalnya merasa ragu, namun akhirnya keduanya setuju pergi menuju lapangan latihan.
Pangeran Arexes membidik target dari kejauhan, jaraknya sekitar 2 kali lipat dari para pemanah lainnya.
Shua...
Panah melesat dari busur emas dengan cepat dan menancap tepat di tengah target. Noran melihatnya dan mengangguk.
"Keahlian memanah yang hebat." ucap Noran.
"Tidak, aku masih buruk bila di bandingkan dengan ibu." ucap pangeran Arexes.
Dirinya kembali teringat dengan sang ratu, ekspresinya segera menjadi muram dengan tangan terkepal erat.
"Pangeran, saya memiliki sesuatu untuk ada, namun ini mungkin tidak menarik prrhatian pangeran." ucap Noran.
Noran memegang sebuah busur hitam, busur yang mirip dengan busur normal lainnya.
Pangeran Arexes melihat busur di tangan Noran, matanya menjadi lebih cerah. Hatinya mengatakan busur di tangan Noran bukanlah busur biasa.
"Busur apa ini?" tanya pangeran Arexes.
"Hanya busur hitam biasa. Pangeran bisa mencobanya, jika menyukainya pangeran bisa memilikinya." ucap Noran.
Pangeran Arexes menyimpan busur miliknya dan mengambil busur hitam itu, ia membidik ke arah target.
Ia terkejut, penglihatannya menjadi lebih tajam dan lebih fokus daat menggunakan busur itu.
Shua...
Panah melesst dengan lebih cepat, dan terlihat lapisan mana tipis di mata panah tersebut.
Svvoomm..
Target berlubang dengan panah yang menancap di tanah. Semua orang yang hadir melihat ke arah pangeran dengan mulut terbuka.
Pangeran Arexes juga terkejut melihat dampak dari panah tersebut. Ia tahu seberapa bagus busur itu dari sekali mencobanya.
"Apa peringkat busur ini? Busur ini pasti bukan busur normal." ucap pangeran Arexes.
Noran tersenyum, " ini busur yang aku dapatkan dengan keberuntungan. Saya juga tidak yakin, mungkin peringkat super Rare?"
"Su-super rare?!" ucap semua orang.
Kerajaan kecil seperti Mecius kingdom tidak mungkin memiliki senjata tingkat super Rare atau di atasnya.
Senjata terbagus yang bisa di temukan adalah senjat tingkat Rare. Terlebih, senjata itu sangat langka dan mahal.
__ADS_1
"Apakah kamu yakin?! Ini senjata yang langka." ucap pangeran Arexes.