7 KINGDOMS : conqueror

7 KINGDOMS : conqueror
72.menjadi ksatria


__ADS_3

Noran kini telah sampai di ibukota, Noran tidak langsung menuju ibukota, melainkan pergi menuju akademi ksatria.


"Grim, bawa mereka ke kediaman Duke Aaron." ucap Noran.


"Baik tuan." ucap Grim.


Sin mengikuti Noran di belakangnya, sementara Mike, Ruli dan Toun mereka bertugas memimpin pasukan di masing-masing kota.


"Tuan, kenapa anda pergi menuju akademi?" tanya Sin.


"Saya masih ada urusan di sana, ini hanya akan menghabiskan sedikit waktu." ucap Noran.


Keduanya berjalan masuk ke akademi, Noran berjalan menuju ke ruangan tuan Neil yang berada di lantai 2.


Creakk...


Pintu perlahan terbuka, menampilkan pria tua yang tengah menghisap cerutu.


"Ada apa nak?" tanya Neil.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." ucap Noran.


"Hm?" Neil menatap Noran dan menyuruhnya duduk, "apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Mungkin aku sudah tidak bisa berada di akademi ini." ucap Noran.


"Kenapa?" tanya Neil.


Noran melepaskan steel tiger ring miliknya, menampilkan kekuatan besar miliknya.


"Kamu level 210?!" Neil terkejut.


Level setinggi ini, mampu mengimbangi seorang jenderal kerajaan.


"Oh, ayolah, aku tahu levelmu di angka 300." ucap Noran sembari tersenyum.


"Dari mana kamu tahu?" Neil menjadi waspada.


Noran berdiri, meletakkan kedua tangannya ke belakang dan tersenyum ringan.


"Neil, salah satu dari 10 jenderal kerajaan Rosvelt, the Crusader, gelar yang menarik." ucap Noran.


Noran mampu membaca level title dan beberapa informasi sederhana lainnya.


"Siapa kamu?" tanya Neil.


"Aku? Aku hanya anak muda biasa." ucap Noran.


"Hahaha, tak kusangka ada yang bisa membongkar identitasku di akademi ini.


Sepertinya kamu sudah lulus sekarang, apa kamu ingin rekomendasi ke imperial knight?" tanya Neil.


Noran menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin terlibat dengan urusan istana yang rumit.


"Tidak, menjadi ksatria garis depan lebih menarik." ucap Noran.


Neil mengambil dua lencana dan memberikannya kepada Noran, satu lencana bergambar dua pedang disilangkan dan bertuliskan Knight.


Satu lencana lainnya, memiliki gambar armor helm kesatria dengan sebuah tulisan di atasnya the commander.


"Lencana kepemimpinan?" ucap Noran.


"Hei nak, dengan levelmu saat ini, akan lebih berguna jika kamu memimpin pasukan kerajaan." ucap Neil.


"Sepertinya mereka tidak akan percaya." desah Noran.

__ADS_1


"Apa kamu ingin mendapatkan lencana yang lainnya?" tanya Neil.


"Lencana apa?" tanya Noran.


Neil menunjukkan lencana serupa, namun gambar tersebut memiliki semacam rambut memanjang di helm hingga ke belakang dan bertuliskan general.


"Masih ada 3 tempat, apa kamu mau satu?" tanya Neil sembari tersenyum.


"Tidak, aku akan memimpin pasukanku sendiri." ucap Noran.


Noran kemudian berjalan menuju ke akademi, ia ingin bertemu dengan gadis di mansion Baroness Rianna tempo lalu, Lisa.


Setelah beberapa saat berkeliling, Noran akhirnya menemukan Lisa tengah berlatih bersama para gadis lainnya.


"Kenapa kamu tidak berlatih di kelasmu?" ucap sang instruktur kepada Noran.


"Aku sudah lulus." ucap Noran sembari tersenyum tipis.


Ia menunjukkan lencana ksatria miliknya, membuat hampir setiap orang yang ada terkejut.


"Jika kamu sudah lulus, mengapa kekuatanmu masih rendah?" tanya sang instruktur.


Ia tersenyum mencibir ke arah Noran. Noran melesat menuju instruktur, mengambil pedangnya dan kembali ke posisinya.


"Bagaimana kamu melakukannya?" tanya sang instruktur dengan tidak percaya.


Gerakan Noran begitu cepat, ia bahkan tidak bisa melihat ataupun mendengar saat Noran bergerak.


"itu rahasia, aku ingin berbicara sebentar dengan Lisa." ucap Noran.


Lisa kemudian menemuinya dan keduanya berbicara di bawah sebuah pohon.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Lisa.


"Yah, kaisar meminta hal itu, kerajaan kekurangan pasukan untuk berperang." ucap Lisa.


Sembari berbincang Noran membuat pedang lainnya, kali ini ia menggunakan 25 ingot baja yang ada.


"Apakah kalian juga akan di kirimkan ke medan perang?" tanya Noran.


"Itu sekitar 1 minggu lagi, kami akan di kirim ke garis depan." ucap Lisa.


"Kalau begitu, ambil ini, ini akan membantumu dalam pertempuran." ucap Noran.


Noran memberikan sebuah cincin dan kalung kepada Lisa, membuat wajahnya memerah tiba-tiba.


"Kenapa tiba-tiba?" tanya Lisa.


"Apa yang tiba-tiba?" Noran merasa bingung.


Mengapa setiap gadis selalu bersikap seperti ini? Noran memberikan kedua benda itu kepadanya dan pergi.


"Sampai jumpa di medan perang." ucap Noran.


Lisa masih termenung, ia menatap cincin dan kalung di tangannya dengan wajah memerah.


"Noran..." ucapnya dengan lirih.


ia merasa senang mendapatkan hadiah ini, dirinya kemudian memakai cincin dan kalung itu, ia lalu kembali ke lapangan dan berlatih kembali.


Sementara itu, Noran berjalan menuju ke ruangan tuan Neil kembali, meningkatkan damage pedang tipis tersebut.


[Blue Rose sword : Epic


Durability : 1.500 / 1.500

__ADS_1


Damage : 3.500 / 3.500


Sebuah pedang dengan ukiran mawar biru diatasnya, menampilkan keangguan dan kelembutan pada setiap ayunannya.


Efek : +10% Agility ]


"Ada apa lagi Nak?" tanya Neil.


"Aku hanya ingin menitipkan pedang ini." ucap Noran.


Ia memberikan Blue Rose Sword kepada Neil, Neil memandang pedang ini dan merasakan jika pedang ini cukup spesial.


"Berikan ini kepada Lisa, aku akan pergi sekarang." ucap Noran.


"Ho~ Duke Emirr? Menarik." gumam Neil.


"Sin, mari berangkat." ucap Noran.


"Baik tuan." ucap Sin.


Ia merasa antusias, Tuannya telah secara terang-terangan melamar seorang gadis, mungkin hanya beberapa waktu sebelum mereka memiliki tuan muda.


"Jadi tuan, kapan anda akan melangsungkan pernikahan?" tanya Sin.


"Ughk... Apa maksudmu? Aku bahkan belum memiliki pacar." ucap Noran.


"Hm? Bukankah anda sudah memiliki pasangan?" tanya Sin.


"Siapa?" tanya Noran.


"bukankah itu Nona Lisa?" tanya Sin.


Noran hanya tersenyum, ia meggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Dia hanya kenalanku saja." ucap Noran.


"Lalu, kenapa anda melamarnya?" tanya Sin.


"Melamar?" Noran nampak bingung.


"Ya, melamar, memberi cincin emas kepada seorang gadis berarti melamarnya." ucap Sin.


Noran meneguk ludahnya, ia memikirkan saat ia memberi cincin pada 3 gadis itu, bukankah ia sudah melamar tiga gadis tanpa sadar?


"Apakah itu benar?" tanya Noran.


"Ya, itu adalah tradisi yang ada, dan tuan kini telah melamar 3 orang gadis sekaligus." ucap Sin sembari terkekeh.


"Aku tidak tahu itu, bisakah aku memintanya kembali?" tanya Noran.


"Tidak boleh atau tuan akan mendapatkan kutukan dari dewi Aphrodite, dewi cinta." ucap Sin.


Sebuah pesan muncul di hadapan Noran, ini mengejutkannya.


[»chat


"Itu benar, jika kamu mengambil cincin cincin itu, aku akan mengutukmu menjadi jomblo seumur hidup." Pengirim : Aphrodite ]


Noran merasa tersedak saat membaca pesan itu, ia kemudian menutupnya dan berjalan keluar dari akademi.


.............................................................


Mohon maaf jika kurang memuaskan, ini karya pertamaku, silahkan di vote dan komen ya? Makasih.


.............................................................

__ADS_1


__ADS_2