
Beberapa prajurit memasuki penginapan dengan senjata dan perisai mereka, membuat banyak pengunjung penginapan ketakutan.
"Dimana yang bernama Noran?!" teriak sang kapten prajurit.
Beberapa pengunjung mengenali zirah yang di pakai oleh para prajurit itu, mereka adalah pasukan dari Duke Russel.
"Pasukan dari Duke Russel ada disini, dan mereka terlihat marah."
"Siapa yang membuat mereka marah?"
"Sepertinya mereka akan menghukumnya dengan keras."
Beberapa saat kemudian terlihat lima orang menuruni anak tangga, yang berada paling depan adalah Noran dan di belakangnya adalah Sin dan yang lainnya.
"Aku Noran, ada keperluan apa?" tanya Noran.
Kapten prajurit menatapnya dan tersenyum, bukan senyuman tetapi seperti menyeringai.
"Kamu Noran? Kamu akan ikut dengan kami. Tangkap dia!" ucap sang kapten penjaga.
Noran berjalan maju dan menatap pria itu, Sin dan Mike telah memegang gagang mereka, berniat melawan para prajurit Duke Russel.
Noran memberikan tanda agar mereka tidak melawan, ia penasaran seperti apa wajah Duke Russel saat ini.
Dua penjaga memegang tangan Noran dan membawanya pergi, dua tombak juga terlihat di arahkan kepada Noran.
"Prajurit Duke Russel? Beraninya ia menahan tuan kita." ucap Sin.
Karena Noran menyuruh mereka tenang, mereka menaatinya. Menyaksikan puluhan prajurit itu pergi dan menahan Noran.
"Cepat, kita juga harus pergi." ucap Sin.
"Tapi, bukankah tuan menyuruh kita untuk tidak menyerang?" ucap Toun.
Sin tersenyum, memandang ketiga rekannya itu.
"Tidak menyerang bukan berarti tidak boleh pergi, ayo cepat." ucap Sin.
Keempatnya bergegas pergi mengikuti prajurit Duke Russel yang membawa Noran.
Di tempat lain...
Kediaman Duke Aaron...
Terlihat seorang penjaga berlari menuju mansion, membuka pintu dan segera bergegas menuju ruangan Duke Aaron.
Ekspersi panik terlihat jelas padanya, ia segera masuk dan memanggil-manggil Duke Aaron dengan berteriak.
"Tuan! Tuan!" teriaknya.
Duke Aaron mengerutkan kening, mengapa penjaganya berteriak dengan keras di dalam mansion.
Beberapa saat, pintu ruangannya terbuka, terlihat seorang penjaga memasuki ruangan dengan wajah penuh keringat dan nafas tidak beraturan.
"Ada apa denganmu?" tanya Duke Aaron.
__ADS_1
"Ada berita penting tuan!" ucap sang penjaga.
"Berita penting? Berita penting apa?" tanya Duke Aaron.
Ia merasa penasaran apa yang membuat bawahannya begitu panik.
"Tuan muda Noran...Tuan muda Noran..." ucapnya dengan terputus putus.
"Ada apa dengan Noran?!" Duke Aaron merasa marah karena cara bicaranya yang tidak jelas.
"Tuan muda Noran, ditangkap oleh Duke Russel!" ucapnya terkejut karena di bentak Duke Aaron.
"Duke Russel menangkap Noran? Kenapa bisa?!" tanya Duke Aaron.
"Dari yang aku dengar, Tuan muda Noran telah melukai putra Duke Russel, tuan muda Leon." ucap sang penjaga.
"Melukai Leon? Mengapa ia melakukannya?" pikir Duke Aaron.
"Siapkan para penjaga, kita akan segera ke sana." ucap Duke Aaron.
"Baik tuan." ucap sang penjaga.
Dirinya segera turun dari ruangan dan menaiki kuda miliknya, dirinya berangkat dengan 20 penjaga mengikuti dibelakangnya.
Dengan pedang bersama mereka, Duke Aaron merasa ini akan menjadi sesuatu yang buruk.
...
Kediaman Duke Russel.
50 prajurit bersenjata lengkap berbaris rapi, melihat Noran yang telah di buat bertekuk lutut dengan paksa.
Duke Russel kemudian berjalan keluar, melihat pemuda yang melukai anaknya telah ditangkap, ia merasa senang.
Ia melangkah mendekat, dan tersenyum senang.
"Beraninya kau melukai putraku, aku akan membuatmu menyesal." ucap Duke Russel.
Pah...
Tamparan melayang dan mengenai wajah Noran, Noran tersenyum memandang pria tua tersebut.
"Anak adalah cerminan ayahnya." gumam Noran.
Pukulan demi pukulan mendarat di wajah Noran, membuat bekas merah di pipinya.
"Kau harus mengajari anakmu, untuk tahu siapa yang tidak bisa ia singgung." ucap Noran.
Duke Russel semakin marah dan menamparnya lebih keras. Noran merasa ia sudah cukup banyak menamparnya.
"Gantung dia!" ucap Duke Russel.
Dua penjaga membawa Noran ke sebuah tiang gantungan yang telah di siapkan mereka.
Di saat itulah, sekelompok orang datang ke kediaman Duke Russel. Mereka adalah Duke Aaron dan bawahannya.
__ADS_1
"Duke Russel! Hentikan sekarang juga!" teriak Duke Aaron.
Kedua prajurit itu berhenti dan memandang siapa yang berteriak, mereka melihat ke arah Duke Aaron yang menunggang kuda.
"Duke Aaron, mengapa kamu ikut campur urusanku?" Nada berbicaranya menjadi berubah.
Ia merasa kesal pria tua itu ikut campur urusannya, bahkan membawa banyak bawahannya.
Para prajurit Duke Russel segera berbaris, menghadang Duke Aaron dan bawahannya. Dua pasukan kini saling berhadapan.
Duke Aaron kemudian turun dari kudanya dan berjalan beberapa langkah.
"Lepaskan dia." ucap Duke Aaron.
Duke Russel mengerutkan keningnya, mengapa ia harus melepaskan orang yang melukai putranya.
"Aku tidak akan melepaskannya, lanjutkan menggantungnya!" ucap Duke Russel.
Noran adalah penyembuh istrinya, sudah seharusnya ia melindungi penyembuh istrinya.
"Lepaskan Noran! Aku tidak ingin melakukannya dengan kekerasan." ucap Duke Aaron.
"Oh? Kekerasan?" Duke Russel tersenyum dan menoleh ke arah Duke Aaron.
"Kekerasan? Hahaha, kekerasan seperti apa? Jika itu 2 tahun yang lalu, aku mungkin akan takut.
Tapi sekarang, kekuatanmu tidak ada apa-apanya. Menggertakku? Itu tidak akan berhasil." ucap Duke Russel.
Pasukannya telah menarik pedang mereka, mengarahkannya kepada Duke Aaron dan melindungi Duke Russel.
Duke Aaron merasa marah, pria tua itu begitu licik, baru pagi hari ia datang dan bersikap manis di depannya, dan sekarang ia berniat menyerangnya.
Duke Aaron melepaskan pedangnya dari sarungnya, bawahannya mengikutinya dan bersiap menyerang mereka.
Duke Aaron berjalan maju ke depan pasukan, memegang sebuah pedang di tangannya dan menatap Duke Aaron dengan tajam.
"Sudah lama aku menunggu kesempatan ini, kini waktunya bagiku untuk menyerang wilayahmu." ucap Duke Russel.
Duke Aaron menyadarinya, jika ia mengambil langkah terhadap Duke lainnya, besar kemungkinannya mereka akan menggunakannya sebagai alasan untuk menyerangnya.
"Untuk penyelamat putri dan istriku, aku juga akan menyelamatkannya." gumam Duke Aaron.
Dirinya menggertakkan giginya dan memandang Duke Russel dengan tajam.
"Hari ini, aku menyatakan perang terhadapmu Duke Russel!" ucap Duke Aaron.
Kedua pasukan berhantaman, dengan kedua Duke itu sebagai pusatnya.
"Duke Aaron?" Noran terkejut mendengar perkataan terakhir Duke Aaron.
Menyatakan perang kepada Duke Russel yang berkali-kali lebih kuat pasukannya adalah hal buruk, ia menyadari jika ini di sebabkan olehnya.
"Battle Aura!" teriak Noran.
.............................................................
__ADS_1
Mohon maaf jika kurang memuaskan, ini karya pertamaku, silahkan di vote dan komen ya? Makasih.
.............................................................