7 KINGDOMS : conqueror

7 KINGDOMS : conqueror
203.pemberontakan di kerajaan Mecius


__ADS_3

"Apakah kamu yakin?! Ini senjata yang langka." ucap pangeran Arexes.


"Ya, busur itu akan lebih berguna di tangan pemanah hebat sepertimu." ucap Noran.


Saat keduanya tengah berbincang, sebuah suara dengungan keras terdengar.


Duuuuuuu!!!!


Suara terompet keras terdengar di seluruh penjuru ibukota, barisan prajurit berzirah terlihat di kejauhan, dengan bendera yang berwarna merah di barisan mereka.


"Tuan, pasukan musuh telah tiba." ucap Grim.


Noran mengangguk dan meninggalkan lapangan latihan, sang pangeran dan kapten Rater mengikuti Noran.


Mereka berdiri di atas benteng dan melihat banyaknya prajurit yang menuju ke arah mereka.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Grim.


"Tidak ada, biarkan mereka mengurusnya." ucap Noran.


Noran berbalik dan turun dari atas benteng, ia berhenti ketika menuruni anak tangga.


"Pangeran, kamulah yang akan memimpin pasukanmu." ucap Noran.


"Bagaimana aku memimpin mereka?! Aku bahkan belum pernah bergabung dalam pertempuran." ucap pangeran Arexes.


Ia mencoba menahan Noran dan membuatnya bergabung dalam pertempuran, namun Noran menolak.


"Pangeran, saya bukan bagian dari kerajaan ini ingat? Dan apakah anda pernah bergabung dalam perang, saya tidak perduli.


Silahkan pimpin pertempuran ini sendirian. Grim, kita akan pergi." ucap Noran.


Kapten Rater dan pangeran Arexes terkejut mendengarnya, mereka tidak menyangka Noran bisa mengatakannya dengan wajah tersenyum hangat.


"Pangeran, ia benar. Dia tidak memiliki kewajiban untuk bergabung dalam pertempuran ini. Saya akan membantu pangeran memimpin pasukan." ucap kapten Rater.


"Ya, mari berjuang." ucap pangeran Arexes.


Keduanya mulai memimpin prajurit untuk bersiap dalam pertempuran, ribuan pemanah segera berbaris rapi di atas benteng.


Di belakang gerbang juga terlihat ribuan pasukan berkerumun dengan perisai dan pedang mereka, menunggu gerbang untuk di dobrak paksa.


"Pasukan di bawah hanya akan mati dengan mudah." gumam Noran sembari terus berjalan.


Noran telah memastikan keamanan Esline dan yang lainnya, dengan Faltra dan Trevis yang menjaga, ia tidak merasa cemas.


Di tempat lain...


Di kamp utama musuh...

__ADS_1


Ertios dan kelompoknya tengah duduk bersama dan membahas strategi mereka untuk menaklukan istana.


Mereka berbincang dengan serius ketika seorang ksatria berambut merah datang dan membawa beberapa gelas dan sebuah teko yang mewah.


"tuan, saya membawa minuman untuk tuan dan yang lainnya." ucap Lucas.


ia bersikap normal dan membawa minuman di tangannya dan menuangkannya ke gelas gelas yang ia bawa.


Ertios mengangguk dan masih melanjutkan pembahasannya bersama para bangsawan lainnya.


"apakah menurutmu penyerangan kita akan berhasil?" tanya Ertios.


"tuan, apa yang tuan takutkan? pasukan kita lebih banyak, juga perlengkapan kita lebih baik.


menaklukan istana adalah hal yang pasti, dan anda akan menjadi kerajaan Meixus tak lama lagi.


saya membawa anggur ini untuk merayakan kemenangan tuan yang telah pasti, bukan begitu tuan tuan?" ucap Lucas.


"ya, itu benar. kemenangan sudah berada di tangan kita." ucap seorang bangsawan gemuk.


Ertios mengangguk dan merasa senang dengan sanjungan para rekan dan bawahannya. ia mengangkat cawan anggur dan bersiap untuk bersulang.


"untuk kemenangan kita!" ucap Ertios.


"untuk kemenangan kita!" ucap yang lainnya serentak.


para bangsawan segera meminum anggur mahal itu, sementara itu Ertios mencoba meminumnya.


mata terbuka lebar dan tangan mencengkeram erat dada mereka. wajah mereka pucat pasi dan nampak kosong.


Ertios merasa ada sesuatu yang aneh, ia melemparkan cawannya dan melihat ke arah Lucas. Lucas bergetar ketakutan.


"kamu mencoba meracuniku. Lucas, ini hari kematianmu!" ucap Ertios dengan marah.


masih tersisa beberapa bangsawan yang masih hidup di tenda itu, dan mereka semua menarik pedang mereka.


masing masing menatap Lucas dengan geram. mereka menyerang Lucas bersamaan. dari 3 yang tersisa, 2 terbunuh dan satu bangsawan terluka, tangannya terpotong saat melumpuhkan Lucas.


Lucas kini terduduk di tanah, memegang lengannya yang terluka parah. tubuhnya juga di penuhi luka sayatan.


"kamu adalah bawahan yang aku anggap setia. aku berencana mengangkatmu menjadi jenderal, namun kamu menghianatiku." ucap Ertios.


swing!


pedangnya terayun dan menebas menembus leher Lucas. setelah membunuh Lucas, Ertios melihat bangsawan terakhir dan tersenyum.


"apa yang akan terjadi jika aku mengatakanmj terbunuh dalam penghianatan Lucas?" ucap Ertios.


"Ertios! dasar rubah licik! beraninya kamu berpikir untuk menghianatiku." ucap sang bangsawan.

__ADS_1


ia marah dan mengutuk Ertios berulang kali, namun ia akhirnya terbunuh juga.


Ertios menemui para pemimpin pasukan dan memberitahu kejadian penghianatan Lucas, ia mengatakan semua bangsawan itu terbunuh di tangan Lucas.


tidak ada yang mengatakan apapun, tuan mereka kini telah terbunuh, dan mereka tahu bahwa Ertios akan menjadi tuan mereka yang baru.


"dengan ini, saya akan mengambil alih tugas dan kewajiban tuan kalian. seperti rencana, kita akan menggulingkan raja mecius yang licik!" ucap Ertios.


semua pemimpin pasukan mengangguk dan pergi untuk memimpin pasukan mereka. Ertios sendiri kini menunggang kudanya dan pergi ke barisan terdepan.


...


"paman, jumlah mereka terlalu banyak!" ucap pangeran Arexes.


pangeran Arexes terus memanah setiap prajurit musuh yang mencoba naik ke atas benteng.


ratusan pemanah sudah terbunuh di tangan prajurit musuh, pangeran Arexes tidak bisa menjatuhkan prajurit yang memanjat, jumlah mereka terlalh banyak.


"pangeran, perintahkan prajurit berperisai untuk melindungi para pemanah." ucap kapten Rater.


"baik paman." jawab pangeran Arexes.


ia memerintahkan prajurit berperisai untuk melindungi para pemanah, yang membuat pergerakan para pemanah menjadi terganggu.


pasukan pelindung gerbang kini berkurang setengahnya. sang raja dan jenderal berdiri di benteng sisi lain dan terlihat cemas. mereka bisa merasakan kejatuhan kerajaan ini hanya tinggal waktu.


"jenderal, berapa lama kastil kita akan jatuh?" tanya sang raja.


"kita pasti berhasil melawan serangan mereka." ucap sang jenderal.


sang raja hanya tersenyum kecut, tangannya telah tergenggam erat pada pedang di pingganggnya.


"saya sendiri akan bergabung dalam pertempuran. jika kerajaan ini harus hancur, aku juga akan hancur bersamanya." ucap sang raja.


"yang mulia, tetaplah di dalam istana. biarkan saya yang melawan mereka." ucap sang jenderal.


"sudah tidak ada harapan lagi." ucap sang raja.


shiiingg!


desingan pedang terdengar saat pedangnya ia tqrik dari sarungnya. pedang perak dengan desain indah dan hiasan permata mahal di gagangnya.


"ijinkan saya menemani anda yang mulia." ucap sang jenderal.


sang raja mengangguk, pedang besar yang tajam terlihat di genggaman sang jenderal.


Noran menyaksikan segalanya dari tempat tertinggi istana, menara pengawas di atas benteng.


"Grim, sudah waktunya untukmu bergerak." ucap Noran.

__ADS_1


"baik tuan." jawab Grim.


__ADS_2