
ngkiiikkkkk!!
kuda putih meringkik kesakitan, bagian depan tubuhnya kini telah tertanam pedang besi yang cukup panjang. hanya gagangnya yang terlihat, sementara bilahnya telah mengoyak bagian dalam tubuhnya.
bruukkk...
Lucas terjatuh bersama kuda perangnya yang tewas. wajahnya menjadi gelap penuh amarah.
"beraninya kau mempermalukanku!" teriak Lucas.
"mempermalukanmu? bagian mana aku mempermalukanmu? ingatlah ini, aturan pertama pertarungan, jangan banyak bicara." ucap Noran.
pedang lain ia lemparkan, kecepatannya bahkan melebihi lemparan sebelumnya.
semua prajurit yang menyaksikan merasakan dingin di tulang mereka. pedang yang di lempar bahkan melebihi kecepatan anak panah.
sting!
dentuman keras terdengar saat pedang menabrak lengan kiri Lucas, armornya terlihat penyok sementara pedang yang menabraknya patah menjadi dua.
"sialan! aku akan membunuhmu!" teriak Lucas.
ia menarik pedangnya, pedang berwarna putih bersih dengan ukiran simbol aneh di atasnya.
"ignis! firewall!" teriak Lucas.
sebuah tebasan ia lepaskan, membuat tanah terbakar api merah yang menyala. api membentuk tembok api yang mengarah lurus ke arah Noran.
Noran mengangkat tangannya, membuat dinding api di sisi kanannya. dua api yang bertumbukan seharusnya membuat panas semakin tinggi dan ganas, namun Noran memiliki kontrol yang kuat atas sihirnya.
firewall di halau dengan mudahnya, Lucas kembali mengayunkan pedangnya dan firewall lain terbentuk di sisi kiri Noran.
kini, langkah Noran telah di tutup oleh dua firewall. Lucas terkekeh melihat Noran yang diam tak bergerak.
"kematianmu sudah di tentukan." gumam Lucas.
Noran masih diam melihat senyuman licik di wajah Lucas. ia bisa menebak apa yang di pikirkannya.
"terlalu cepat kamu menentukan kematianku." ucap Noran.
"hahaha, kematianmu berada di tanganku. aku hanya butuh satu langkah untuk membakarmu menjadi abu." ucap Lucas.
ia mengambil kuda-kuda, kedua tangannya kini di selimuti api yang menyala-nyala. terdapat diagram aneh di bawah kakinya yang terbuat dari api kecil.
"meteor crush!" teriak Lucas.
tanah mengepal menjadi bola lava yang menyala-nyala, semua orang dapat merasakan seberapa panas bola meteor tersebut.
dengan ayunannya, bola meteor melesat lurus ke arah Noran. Noran mengangkat dua tangannya dan merapal sihirnya.
"fireball!" ucap Noran.
selusin lebih bola api yang berukuran bola basket melayang di belakangnya, membuatnya terlihat lebih berkharisma dan berwibawa.
"m-mu-mustahil! seorang penyihir?! bukankah kamu pengguna pedang?!" ucap Lucas.
__ADS_1
"kamu tak perlu tahu." ucap Noran sembari tersenyum.
syuuutt...
belasan bola api melesat ke arah yang sama, mengincar satu objek yang sama, yaitu meteor yang melesat ke arah Noran.
bang!!
ledakan keras terdengar di penjuru ibukota, membuat semua orang terkejut karenanya. tidak ada yang berani melihat apa yang terjadi di luar sana.
kawah seluas 20 meter dan sedalam 15 meter tercipta di antara keduanya, hanya menyisakan sedikit ruang untuk mereka berdiri.
"dia seorang penyihir! penyihir tingkat mage!" ucap Lucas.
kapten Rater masih terkagum-kagum dengan ledakan di hadapannya, sihir itu begitu kuat.
sekarang dirinya percaya dengan yang di katakan banyak orang. di tangan seorang master penyihir, bahkan sihir tingkat rendah bisa mematikan dan berbahaya.
Lucas terjatuh, menatap kawah di hadapannya dengan tak percaya. api masih terlihat menghiasi permukaan kawah, membuatnya terlihat mengakutkan.
shuaaa..
Noran melesat menggunakan skill miliknya, tak butuh waktu lama agar dirinya sampai di hadapan Lucas.
"ksatria licik, pemarah dan tamak, kamu lebih mirip seperti bos bandit daripada ksatria." ucap Noran.
shing!
pedang merah berdengung dan muncul dari kekosongan. semua orang memperhatikan dengan tenang, menunggu apa yang akan terjadi sebelumnya.
"jangan bunuh aku! aku akan melakukan apapun untukmu!" ucap Lucas.
"apapun?!" ucap Noran.
"ya, apapun. asalkan tuan tidak membunuhku." ucap Lucas.
Noran terkekeh, hati seorang penghianat memang mudah berbalik. di hadapan maut mereka bisa memilih pihak lain dengan mudah.
"aku tidak akan membunuhmu, tapi ada satu hal yang harus kamu kerjakan." ucap Noran.
"apa itu tuan?" tanya Lucas.
Noran merasakan amarah ketika mendengar pria dihadapannya memangilnya tuan. Noran mengalihkan pandangannya pada prajurit yang tersisa.
"kamu harus membantuku." ucap Noran.
puluhan bilah angin yang tajam melesat, mengejar para bawahan Lucas yang mencoba berlari.
puluhan prajurit yang beberapa detik sebelumnya hidup, kini telah tewas tercincang. tidak ada siapapun yang berani bernafas kuat kuat.
sejak kapan pangeran menjadi orang yang dingin dan kejam? itulah yang di pikirkan kapten Rater dan para penjaga.
"ba-baik! saya akan melakukannya dengan baik tuan." ucap Lucas.
"sebelum itu, minumlah ini dahulu." ucap Noran.
__ADS_1
Lucas melihat botol potion di tangan Noran dengan ekspresi kecut. ia menebak botol di tangan Noran adalah racun atau hal sejenisnya.
"apa ini tuan?" tanya Lucas.
"ini potion, minumlah. jika kamu menipuku, kamu akan mati meledak." ucap Noran.
*gulp*
Lucas menelan ludahnya, membayangkan dirinya meledak dan hancur berkeping keping terasa menakutkan. namun jika ia melaksanakannya dengan baik, ia memiliki kemungkinan untuk hidup atau mengikuti tuan baru yang lebih kuat.
di bawah pengawasan Noran, Lucas meminum potion itu. setelah menghabiskannya, Noran mengangguk puas dan memberi beberapa potion berwarna hitam.
"campurkan ini dengan makanan para prajurit. aku akan menemuimu lagi nanti." ucap Noran.
"baik tuan." jawab Lucas.
Lucas segera pergi meningalkan tempat, begitu juga dengan Noran dan pasukan pelindung pangeran.
"tuan, apa yang tuan lakukan dengan melepaskan orang itu? dia berbahaya." ucap kapten Rater.
"aku sudah memikirkannya. sekarang, kita akan mencari sebuah kereta kuda mewah." ucap Noran.
"kereta kuda mewah?" ucap kapten Rater.
semua orang menampilkan ekspresi bingung. mengapa tuan mereka memilih mencari kereta kuda mewah? apakah kereta kuda mereka tidak nyaman baginya?
"baik." jawab kapten Rater.
di tempat lain...
"tuan, kita akan segera meninggalkan ibukota." ucap Grim.
"meninggalkan ibukota?! tidak! aku akan pergi ke istana!" ucap sang pangeran.
keretq kuda berhenti, Grim dan yang lain juga bingung. mengapa tiba-tiba ingin pergi ke istana?
"tuan, anda menyuruh kita segera pergi bukan?" tanya Grim.
"aku ingin ke istana! biarkan aku keluar!" teriak sang pangeran.
dirinya mencoba keluar, namun di tahan Grim dengan mudah. sang kusir juga memperhatikan dengan seksama.
semua orang merasa ada yang aneh dengan tuan mereka hari ini. namun, tidak ada yang tahu apa yang membuatnya terlihat berbeda.
"tuan, kita akan pergi dari ibukota sesegera mungkin." ucap Grim.
"tidak, aku ingin pergi ke istana dan menemui ayah!" ucap sang pangeran.
"istana? ayah?" ucqp semua orang.
"ya, aku pangeran Arexes serentou vi mecius! pangeran pertama!" ucap Arexes.
Grim segera menarik pedangnya dan meletakkannya di leher Arexes, ia menatapnya dengan tajam.
"siapa kamu?!" teriak Grim.
__ADS_1