7 KINGDOMS : conqueror

7 KINGDOMS : conqueror
27.Duchess Emma


__ADS_3

"Siapa?" tanya Noran.


"Ini aku, Esline." sebuah suara yang manis dan imut terdengar.


Noran membuka pintu kamarnya, melihat Esline yang tersenyum ke arahnya.


"Apa ada yang kamu perlukan?" tanya Noran.


"Tidak ada, ayah menyuruhku memanggilmu." ucap Esline.


Noran merasa bingung, kenapa Duke Aaron tiba-tiba memanggilnya. Noran kemudian mengikuti Esline menuju ke tempat Duke Aaron berada.


Noran memperhatikan, bahwa gadis di depannya masih memakai jepit rambut yang ia berikan.


"Kamu masih memakainya?" tanya Noran.


Nafas Esline menjadi tidak beraturan saat mendengarnya, dirinya mengangguk.


"Aku menyukai jepit rambut ini." ucapnya.


Bahkan tanpa sepengetahuan Noran Esline telah memberi jepit rambut itu sebuah nama, yaitu White flowers karena warnanya yang putih keperakan.


Keduanya akhirnya sampai di depan sebuah pintu besar, ada dua pintu di hadapannya.


Esline kemudian membuka pintu itu dan menarik Noran masuk, Terlihat seorang perempuan duduk diatas ranjang sembari memandang halaman belakang mansion.


Duke Aaron duduk di sampingnya dan menggenggam erat tangan perempuan itu. Tubuh yang kurus, dan kulit pucat, membuatnya terlihat menyedihkan.


"Kamu sudah datang, duduklah." ucap Duke Aaron.


Noran dan Esline duduk di kursi yang telah di sediakan, keduanya menatap perempuan yang tersenyum lembut ke arah mereka.


"Apa ini istri anda?" tanya Noran.


Meski keadaannya sudah seperti ini, masih ada aura kecantikan terpancar darinya.


Noran bahkan menebak saat perempuan ini sedang dalam kondisi sehat, pasti memiliki penampilan yang sangat cantik.


"Ya, ini istriku, Emma. Sudah cukup lama ia berada dalam kondisi seperti ini.


Setiap harinya, kondisinya selalu memburuk dan menjadi lebih parah." ucap Duke Aaron.


Mata Duke Aaron maupun Esline telah berkaca-kaca, air mata mereka bisa tumpah kapan saja.


"Kulitnya mulai menghitam dan matanya mulai memerah, seperti ini." ucap Duke Aaron.


Pergelangan tangan yang begitu pucat dan hitam di tunjukkan Duke Aaron kepada Noran.


[Nama : Emma Von Rosvelt


Ras : human


Job : wife of 4th Duke

__ADS_1


Level : 40


Peringatan! Penyakit misterius menyerangnya!]


[Ding! Quest tersembunyi terdeteksi.


Tingkat : B


Sembuhkan istri Duke Aaron dari penyakit misteriusnya.


Hadiah :


Duke Aaron +500 favoritable / Duchess Emma +500 favoritable / Esline +1000 favoritable / +100 poin hubungan dengan Rosvelt mansion / +10.000 exp ]


Hadiah yang ada kebanyakan meningkatkan hubungannya dengan keluarga Duke Aaron.


Noran tidak memandang isi hadiah, melainkan deskripsi misi yang tertulis. Penyakit misterius, itu begitu samar untuk di pecahkan.


Noran langsung menerimanya, dirinya kemudian memandang ke arah Duke Aaron.


"Penyakitnya begitu serius, aku mungkin belum bisa menyembuhkannya, namun aku memiliki sesuatu."


Noran kemudian mengambil 30 botol potion miliknya, dan memberikannya kepada Duke Aaron.


Ia melihat Bar Hp milik duchess Emma yang berkurang puluhan setiap harinya.


"Potion pemulihan? Kami sudah mencobanya namun itu tidak berhasil." Duke Aaron memandang botol-botol itu.


"Kita coba kembali, mungkin akan ada perbedaan." ucap Noran.


Duchess Emma meminum potion itu perlahan-lahan dan menghabiskan seluruh potion.


Setelah lima detik, Bar Hp Duchess Emma hampir penuh. Kulitnya berangsur menjadi putih cerah.


Kulit hitamnya berangsur memudar dan menghilang, kini kondisinya menjadi lebih baik.


Wajah Duke Aaron dan Esline menjadi lebih cerah, keduanya kemudian memeluk Duchess Emma dengan haru.


Meski hanya memulihkan untuk sementara, setidaknya istrinya tidak lagi begitu sengsara, itulah pikiran Duke Aaron saat ini.


"Itu hanya mampu bertahan sehari penuh, minum potion itu setiap hari, gejala penyakit akan menjadi berkurang signifikan.


Itu hanya akan menekan perkembangannya, dan sampai saat itu, aku akan mencari penawarnya." ucap Noran.


"Kami sungguh berterima kasih, meski hanya mampu memperlambatnya ini sudah bagus.


Sudah banyak priest maupun tabib yang datang, namun semuanya gagal, terimakasih sudah membuatnya menjadi lebih baik." ucap Duke Aaron.


Duke Aaron memeluk Noran dengan erat, air mata terasa di bahu Noran.


"Hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Aku masih memiliki 335 ramuan lainnya, ini cukup untuk setahun." ucap Noran.


335 potion lain segera muncul di lantai dan terlihat menumpuk, Duke Aaron terkejut dan memeluk Noran lebih keras.

__ADS_1


"Aku tidak akan melupakan bantuanmu!" ucap Duke Aaron sembari menangis bahagia.


Sudah bertahun-tahun ia melihat istrinya terbaring di ranjang, dan untuk setahun kedepan, Duke Aaron dapat melihatnya kembali seperti biasa.


Ini adalah hari yang selalu ia nantikan selama beberapa tahun terakhir.


"Baiklah, aku mengerti, tapi kamu memelukku terlalu keras. Aku tidak bisa bernafas." ucap Noran.


Duke Aaron melepaskan pelukannya dan tersenyum ke arahnya.


"Maafkan aku, aku terlalu senang." ucap Duke Aaron.


"Ya, aku mengerti." ucap Noran.


"Kita harus mengadakan pesta!" ucap Duke Aaron.


Kediaman Duke Aaron menjadi ramai, pesta diadakan dengan meriah.


Setiap pelayan, penjaga dan orang yang ada menjadi begitu bahagia.


Noranpun di seret Duke Aaron untuk ikut dalam pesta, banyak makanan dihidangkan di meja, semua orang begitu bahagia dan senang.


"Jangan berhenti sebelum perut kalian kenyang semua!" ucap Duke Aaron.


Pesta berlangsung cukup lama, semua orang begitu kenyang memakan banyak hidangan lezat ini.


Bahkan Noran yang telah kenyang masih di paksa untuk makan lagi dan lagi.


"Aku sudah kenyang." ucap Noran.


Noran kemudian pergi dari mansion dan berlatih pedang di halaman belakang mansion. Baginya, keahlian bertempur adalah satu-satunya pertahanan untuk bertahan hidup di dunia ini.


Esline mendatangi Noran yang sedang berlatih, memandangnya beberapa lama sebelum mendekat ke arahnya.


"Noran!" Esline memanggilnya, membuat Noran menghentikan latihannya.


Noran menatap ke arah Esline, sepertinya ada sesuatu yang ingin ia katakan.


"Esline, ada apa?" tanya Noran.


"Aku ingin berterimakasih kepadamu." ucap Esline.


"Tentang ibumu? Aku belum bisa menyembuhkannya." ucap Noran.


"Uhm," Esline menggelengkan kepalanya dengan lembut, "itu sudah cukup bagiku untuk bisa melihat ibu segar dan bahagia." ucap Esline.


Setelah itu dirinya pergi dengan tergesa-gesa, sepertinya ia merasa malu mengatakannya.


"Hm? Ada apa dengannya?" Noran bingung dengan sikapnya, ia lalu melanjutkan latihannya kembali.


.............................................................


Mohon maaf jika kurang memuaskan, ini karya pertamaku, silahkan di vote dan komen ya? Makasih.

__ADS_1


.............................................................


__ADS_2