7 KINGDOMS : conqueror

7 KINGDOMS : conqueror
21.menuju ibukota kerajaan


__ADS_3

Keesokan harinya, Noran pergi menuju ke ibukota dengan kudanya. Sementara Sin dan yang lainnya berkata mereka akan mengambil misi lain dan meningkatkan kekuatan mereka dahulu.


"Tuan, kami akan menyusul anda di ibukota." ucap Sin.


Noran mengangguk, dirinya menunggang kuda miliknya dan pergi meninggalkan kota Tranduil.


Perjalanan menuju ibukota membutuhkan waktu 2 hari penuh, ini karena jaraknya yang jauh dari Tranduil.


Dirinya terus memacu kuda, di tengah perjalanan terlihat sekumpulan monster mengerubungi sebuah kereta kuda.


"Monster? Apa itu?" Noran memacu kudanya untuk lebih dekat.


Monster berbulu dengan kepala anjing dan tubuh yang di penuhi oleh bulu.


"Kobold? Kenapa ada banyak kobold?" Noran terus memacu hingga jarak kereta kuda itu sekitar 5 meter.


Noran turun dari kudanya dan mengeluarkan kedua pedangnya.


"Black steel sword! Blood monkey sword!" dua pedang muncul di tangannya, satu berwarna hitam legam dan satu berwarna merah darah.


Para kobold melihat ke arah Noran, memandangnya dengan bingung.


Kereta kuda hanya di kawal oleh 4 orang penjaga, ini lebih sedikit dari penjaga milik Esline.


Noran berlari maju dan mulai menebas mereka, monster-monster ini hanya memiliki level 70, sangat mudah baginya untuk membunuhnya.


Swing swing...


Dua kepala Kobold tertebas dan menggelinding, memunculkan notifikasi di kepala Noran.


[Ding! Membunuh kobold! Exp +100!]


[Ding! Membunuh kobold! Exp +100!]


Noran memandang 4 penjaga yang sedang bertarung di sampingnya, mereka memang menggunakan zirah dan senjata yang cukup bagus.


Namun, bukan itu masalahnya, yang membuat Noran terkejut adalah level mereka yang terlalu rendah.


Level masing-masing mereka hanya berkisar 40-50 saja. Untuk melawan seekor kobold saja dapat di pastikan mereka tewas.


Noran menebas kobold yang mendekat ke arahnya, dan menyerang mereka.


Satu ayunannya kuat dan mematikan, hampir semua kobold mati dengan saru tebasan.


[Ding! Membunuh musuh dengan menebas titik vital! Mendapat efek Critical 10%!]


"Efek critical? Ini menakjubkan!" Noran terus menebas setiap kobold sembari melindungi kereta kuda itu.


Setelah cukup lama bertarung, semua kobold telah terbunuh. Noran terlihat mereka masih baik-baik saja, sementara 4 penjaga itu terlihat kelelahan.

__ADS_1


Darah memenuhi tubuh Noran, namun ia sudah terbiasa dengan ini.


"Apa kalian tidak apa-apa?" Tanya Noran sembari mendekat ke arah para penjaga.


"Ah, kami baik-baik saja tuan, terimakasih sudah menolong kami." seorang penjaga memberi hormat kepada Noran.


Penjaga lainnya juga mengikutinya dan memberi hormat kepada Noran.


"Kenapa ada kobold di sini?" Noran merasa aneh dengan kejadian ini.


"Kami juga tidak tahu tuan, para kobold biasanya hidup di hutan, tidak pernah muncul di padang rumput." ucap seorang penjaga.


Para kobold ini bahkan muncul di jalan utama menuju ibukota, yang membuatnya merasa semakin aneh.


"Jika begitu, aku pergi dulu." ucap Noran.


Dirinya menunggang kuda miliknya dan memacunya, melanjutkan kembali perjalanannya menuju ibukota.


Di dalam kereta kuda, dua orang gadis duduk dan gemetaran ketakutan, tidak berani melihat apa yang terjadi di luar.


"Apa yang terjadi di luar.." setelah suara pertarungan yang lama berhenti, dirinya kemudian memutuskan untuk melihat.


Puluhan mayat kobold berserakan di sekitar kereta kuda mereka, juga 4 penjaga mereka terlihat sedang duduk di tanah.


"Apa yang terjadi?" tanya seorang gadis.


"Nona muda, seseorang telah membantu kita membunuh mereka." ucap seorang penjaga.


"Seorang sekitar 16 tahunan, kekuatannya sungguh luar biasa, bahkan ia bisa membunuh kobold-kobold ini dengan santai." ucap seorang penjaga.


Ia menceritakan bagaimana pemuda itu bertarung, dengan dua pedang di tangannya, ia membunuh banyak kobold dengan satu serangan.


"Satu serangan?" kedua gadis itu merasa tidak percaya.


Membunuh kobold dengan satu serangan? Seberapa kuat pemuda itu?


"Seperti apa pemuda itu?" tanya sang gadis.


Sang penjaga kemudian menceritakan seperti apa ciri-ciri pemuda yang ia sebut.


Ia memiliki penampilan dengan rambut hitam, mata coklat yang indah serta menggunakan setelan berwarna hitam.


Ia juga memegang dua pedang, satu berwarna hitam legam dan satu lagi berwarna merah darah.


"Rambut hitam? Mata coklat?" si gadis bergumam.


Belum pernah sekalipun ia melihat seseorang yang memiliki rambut hitam, juga mata berwarna coklat yang indah, membuatnya semakin penasaran.


"Pemuda itu menuju ke ibukota nona muda." ucap sang penjaga.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum, jika sang pemuda juga menuju ibukota, ada kemungkinan ia akan bertemu dengannya.


"Lanjutkan perjalanan." ucap gadis itu.


Mereka kemudian melanjutkan perjalanannya menuju ibukota.


Sementara itu, di tempat lain...


Noran kini berhenti di depan gerbang ibukota, gerbang yang ada lebih besar dan lebih tinggi dari kota Tranduil.


Selain itu gerbang juga menggunakan pintu besi raksasa sebagai gerbangnya.


Kota yang megah terlihat dari luar gerbang dan para penjaga berzirah terlihat berpatroli di sekitaran dinding kota.


"Kota yang besar..." gumam Noran.


Ibukota memiliki 4 gerbang, yang terhubung dengan 4 wilayah kerajaan mereka.


Karena Noran datang dari Tranduil, sebuah kota kecil di wilayah timur kerajaan, karena itu saat ini ia berada di gerbang timur.


Barisan panjang kereta kuda terlihat di depannya, ini berkali-kali lebih panjang dari kota Tranduil.


Noran menunggu gilirannya untuk memasuki kota, setelah beberapa lama menunggu, akhirnya gilirannya tiba.


"Tunjukkan identitas anda." seorang prajurit mendatanginya.


Noran menunjukkan kartu miliknya dan membayar 1 koin emas sebagai biaya masuk.


Bahkan di kota tranduil saja hanya 1 koin perak, biayanya terlalu berbeda.


Ini di lakukan agar ibukota tidak memiliki populasi yang melebihi kesanggupan ibukota.


Setelah membayar, Noran kemudian memasuki ibukota, menemukan jika masih ada 2 lapis benteng lain.


Dan istana yang megah terlihat di tengah ibukota, yang terlindungi oleh benteng terakhir.


Ibukota di bangun di atas sebuah bukit dan kastil di puncak bukit, membuat kastil dapat terlihat dari manapun.


Kota besar dan megah, membuat Noran terpesona dengan kota ini.


"Dimana Esline tinggal?" gumam Noran.


Dirinya kemudian menjelajahi ibukota yang luas ini, dan menyusuri jalanan utama ibukota yang ada.


"Ibukota terlalu besar, bagaimana mencari rumahnya?" Gumam Noran.


.............................................................


Mohon maaf jika kurang memuaskan, ini karya pertamaku, silahkan di vote dan komen ya? Makasih.

__ADS_1


.............................................................


__ADS_2