7 KINGDOMS : conqueror

7 KINGDOMS : conqueror
182.di luar kendali part 2


__ADS_3

keduanya tiba di rumah besar itu, Noran kemudian duduk di sofa panjang yang ada dengan Esline di sampingnya.


Noran mendekatkan wajahnya dan menghirup rambut Esline yang harum.


"apa yang kamu lakukan?!" Noran menjerit keras.


ia benar-benar marah terhadap sosok di hadapannya. ia tidak tahu bagaimana harus bertindak setelah semuanya.


sosok itu tidak menghiraukan Noran dan masih melanjutkan, mendekatkan wajah Noran menjadi lebih dekat.


wajah keduanya sangat dekat saat ini, bsgitu dekat hingga nafasnya yang beraturan bisa di rasakan.


"bisakah... kamu... hentikan ini?" ucap Esline dengan lirih.


"kamu membenciku?" ucap Noran.


"eh?! bu-bukan seperti itu..." ucap Esline.


ia melihata wajah Noran, wajahnya terlihat murung saat ini. ia merasa bingung dan panik, memikirkan apa yang harus ia lakukan.


"maafkan aku." ucap Esline.


ia menggenggam tangan Noran dan berusaha menghiburnya kembali. Noran sedikit terkejut.


ia belum pernah melihat sisi Esline yang sekarang, terlihat begitu imut dan menggemaskan.


"kamu! lihatlah apa yang akan kulakukan padamu nanti." ucap Noran.


aura hitam mengelilingi Noran, menunjukkan mata merahnya. mata merah yang terlihat seperti api berkobar, membuat sosok itu gemetaran.


"hi!!"


aphrodite gemetaran ketakutan saat mengingat perasaan itu. dewa kurcaci tertawa kencang dan meminum minumannya.


"hahaha! ia bisa menakutimu, sungguh bocah yang menarik. seperti apa jalan hidupnya nanti ya?" ucap dewa kurcaci.


"aura hitam itu..." ucap dewa perang.


"ya, kamu juga merasakannya? aura hitam pekat yang mematikan." ucap dewa pedang.


"tentu saja, aura itu akan menarik perhatian semua monster undead di radius 10 kilometer.


meski itu masih lemah, itu lebih dari cukup untuk menarik undead berlevel 200." ucap dewa pedang.


"aura hitam apa itu?" tanya dewi air.


dewa dunia tersenyum, " itu aura hitam atau di kenal death aura. aura yang hanya di miliki undead kuat seperti death knight ataupun undead lain yang lebih kuat." ucap dewa dunia.


"death aura?" semua orang melihat ke arah dewa dunia.


mereka penasaran dengan yang di sebut death aura itu. mereka belum pernah mendengarnya ataupun melihatnya.


"yah, ini sesuatu yang baru aku ciptakan. death aura mirip dengan battle aura yang di buat oleh dewa perang atau knight aura yang di but oleh dewa pedang.


namun, death aura lebih kuat dan lebih unggul. itu mampu membuat pengguna kebal terhadap rasa sakit dan takut untuk beberapa saat." ucap dewa dunia.

__ADS_1


"apa?!" semua orang terkejut.


mereka menatap dewa dunia dengan tajam dan emosi, terlebih dewi aphrodite yang terlihat sangat kesal.


"pak tua! apa kamu tahu seberapa berbahaya yang kamu buat itu?!" ucap dewi aphrodite.


dewa dunia tersenyum dan menggaruk pipinya yang sudah berkeriput, "ya, aku tahu itu memang benda berbahaya.


death aura seperti pedang bermata dua. itu mampu membuat penggunanya kebal terhadap sakit dan takut untuk sementara waktu, lalu ada kemungkinan untuk mengendalikan undead sebagai rekan.


namun, jika death aura tidak cocok, itu akan memanggil dan memancing banyak undead kuat, membuatnya menjadi bencana bagi orang tersebut." ucap dewa dunia.


"pak tua! kamu sudah keterlaluan sekarang!" ucap dewi aphrodite.


semua orang mengangguk, memandang dewa dunia dengan tajam. dewa dunia kembali tersenyum canggung.


"ahaha, itu sepertinya kesalahan. secara tidak sadar aku juga memberinya aura menakutkan itu padanya." ucap dewa dunia.


semua orang menatap dewa dunia dengan kosong.


...


Noran memeluk Esline, membuat Esline diam dan menunduk malu. Noran mendekatkan wajahnya pada telinga Esline.


"kamu sanhat cantik, seperti malaikat." ucap Noran.


Esline hanya mengangguk, ia tidak mengerti mengapa Noran begitu berbeda namun ia merasa senang dengan hal itu.


di dalam pikiran Noran, Noran sekuat tenaga mencoba melepaskan tali berwarna merah muda dan biru muda yang mengikatnya.


bunyia sesuatu pecah terdengar, kedua tali sihir yang di gunakan aphrodite dan dewi air hancur.


aphrodite dan dewi air terkejut, meski tali sihir yang mereka gunakan tidak terlalu kuat, mereka yakin jika tali itu bisa menahan siapapun di dunia Acadia.


"tali sihirnya hancur!" ucap dewi air.


"hahaha, bocah yang menarik." ucap dewa kurcaci.


ia merasa lebih tertarik pada Noran setelah berhasil menghilangkan tali sihir dua dewi itu.


dewa pedang dan dewa perang melihat kuali dengan antusias. mereka merasakan fluktuasi yang kuat saat tali sihir itu hancur.


"kamu merasakannya?" tanya dewa perang.


"ya, aura yang kuat, namun masih belum terbangun." ucap dewa pedang.


mereka penasaran dengan aura misterius yang muncul itu. bukan death aura maupun battle aura, itu terasa berbeda dan memiliki kekuatan intimidasi yang luar biasa.


"eh?!" dewi aphrodite terkejut.


Noran tersenyum, dua tanduk ilusi berwarna kemerahan muncul di dahinya, dengan mata merahnya membuatnya terlihat menakutkan.


"apa yang harus kulakukan padamu?" ucap Noran sembari tersenyum.


"apa yang akan kamu lakukan?!" dewi aphrodite gemetaran.

__ADS_1


ia merasa takut melihat sosok Noran yang menakutkan, ia terlihat bisa melahap segalanya saat ini.


"kamu mengambil alih tubuhku, membuatku kehilangan martabatku di depan pasukan dan bawahanku, kamu juga mempermainkan tunanganku, hukuman apa yang cocok untukmu?" ucap Noran.


"hi!! jangan hukum aku!" ucap dewi Aphrodite.


ia merasakan ketakutan luar biasa, ia mencoba keluar dari pikiran Noran. namun, ia tidak berhasil melakukannya.


"apa yang terjadi? kenapa aku tidak bisa kembali?" ucap dewi Aphrodite.


"ah, aku lupa. aku juga memberinya perlindungan jiwa." ucap dewa dunia.


"pak tua! kau lagi penyebabnya!" ucap dewi Aphrodite dengan kesal.


Noran mendekat ke arah dewi Aphrodite dan menarik lengannya, tak lama terlihat sosok wanita dewasa yang sangat cantik.


Noran masih tidak memperdulikannya dan menghukumnya. suara tawa terdengar, tubuh dewi Aphrodite bergetar tanpa henti, dengan ekspresi geli di wajahnya.


"sebagai hukuman, aku akan menggelitikmu sampai aku puas, hahaha." ucap Noran.


suara tawa tanpa henti terdengar di dunia para dewa. dewa kurcaci maupun dewa lainnya hanya bisa tersenyum kecut.


"hukumannya..."


"terlalu..."


"mengerikan..."


"menakutkan!" ucap dewi air.


ia juga menggigil melihat dewi Aphrodite yang tertawa tanpa henti. ia takut dirinya yang akan menjadi korban selanjutnya.


tertawa tanpa henti untuk waktu yang lama, tidak ada siapapun yang mau dengan itu. bahkan dewa dunia merasa sedikit merinding saat melihatnya.


selama beberapa waktu, lebih tepatnya beberapa jam akhirnya Noran selesai. satu jam di Acadia sama dengan satu hari di dunia para dewa, sekitar 24 kali lebih cepat.


"sudah 6 hari dia tertawa tanpa henti." ucap dewa perang.


"bukankah ia terlalu kejam?" ucap dewa pedang.


"hahahaha, ini mengagumkan, melijat dewi cinta yang selalu mempermainkan orang, tengah di permainkan oleh orang lain." ucap dewa kurcaci.


dewi Aphrodit perlahan bangkit dan memegang perutnya. wajahnya nampak begitu buruk, ekspresinya terlihat begitu lelah.


"terlalu kejam.." ucap dewi Aphrodite.


"kamu yang telah berlebihan." ucap dewa dunia.


"aku hanya ingin membuatnya merasakan indahnya cinta, kenapa ia membalasku begini?" ucap dewi Aphrodite sembari memperlihatkan ekspresi sedih.


"hahaha, dan selanjutnya adalah kamu." ucap dewa kurcaci.


dewa kurcaci menunjuk dewi air, dewi air nampak gemetar ketakutan. di tempat lain, Noran berpikir apakah dirinya telah berlebihan.


"Anu.. sampai kapan kamu ingin memelukku?" ucap Esline dengan malu.

__ADS_1


__ADS_2