7 KINGDOMS : conqueror

7 KINGDOMS : conqueror
220.serangan black assassin


__ADS_3

Dua assassin kini telah tiba di markas black assassin. Mereka menemui boss mereka dan para petinggi lainnya.


Ruangan luas berwarna merah dan hitam, dengan beberapa pembunuh bertopeng perak yang duduk di sisi sang pemimpin.


Kedatangan keduanya membuat mereka semua mengalihkan pandangan. Apa berita yang di bawa oleh kedua orang itu?


"Apa yang ingin kalian sampaikan?" tanya sang pemimpin.


"Tuan, kami telah mendapatkan informasi penting." ucap salah seorang assassin.


"Apa itu?" ucap sang pemimpin.


Ia menjadi tertarik ketika mereka mengatakan menemukan sesuatu yang penting untuk di katakan.


"Tuan, mereka sepertinya berniat membangun sebuah kota. Bahkan terlihat beberapa budak Troll mengangkut batu besar untuk pembangunan." ucapnya.


"Membangun kota? Mengapa mereka membangun kota? Dimana mereka membangunnya? Tunjukkan padaku." ucap sang pemimpin.


Ia bingung mendengar laporan bawahannya. Mengapa musuhnya malah membangun sebuah kota tiba-tiba? Apakah ia ingin membuat tempat perlindungan baru?


Meski begitu, ia yakin akan membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan pembangunan sebuah kota yang kokoh dan kuat.


Dalam waktu singkat, sang pemimpin berpikir mereka hanya bisa membuat kota dengan semua bangunan di buat dari kayu, bukan batu.


Setelah peta Artenia di gelar, banyak titik merah di atas peta itu. Masing-masing merupakan kelompok bandit besar yang berbahaya bagi kelompok black assassin miliknya.


Meski kelompoknya masih bisa menang, korbannya akan sangat tinggi, membuat black assassin akan lemah dalam waktu singkat.


"Dimana mereka membangun kora baru?" tanya sang pemimpin.


"Tuan, mereka membangun di sini." ucap sang assassin.


Ia mengarahkan jarinya ke salah satu tempat di atas peta. Sebuah tanah dengan cekungan berisi air laut.


"Di sini? Di tepi laut?" ucap sang pemimpin.


Ia menjadi semakin bingung dengan tujuan musuhnya. Namun, ia juga merasa senang, dan dirinya memiliki rencana lain yang ia rasa sempurna.


"Bagus, kumpulkan semua anggota, kita akan segera bergerak." ucap sang pemimpin.


"Baik tuan!" jawab semua assassin.

__ADS_1


Ia bangkit dan mengambil pedang miliknya sebelum keluar dari ruangan.


Para pembunuh topeng perak mengikutinya, sementara dua assassin yang memata-matai Noran menghilang untuk mengumpulkan semua anggota mereka.


3000 assassin telah berkumpul dengan sekitar 50 pembunuh topeng perak. Semantara pemimpin black assassin sendiri mengenakan topeng berwarna hitam.


Ia berjalan dan memimpin seluruh pasukannya sebelum bergerak dan menghilang di tengah gelapnya malam.


Bulan semakin meninggi, dan memancarkan cahaya biru redup. Udara dingin dan suasana dingin membuat sebagain besar penduduk kora terlelap. Kini, kota Whitehorn berada dalam suasana yang damai.


Dari balik semak semak, beberapa pria terlihat mengendap-endap, mengawasi para petugas yang terus berpatroli.


"Tuan, hanya ada satu jalan masuk." ucap seorang topeng perak.


"Lalu bagaimana jika mereka hanya punya satu pintu masuk? Kita akan menerobos dari atas.


Bagi pasukan menjadi beberapa kelompok dan menyebarlah! Sesegera mungkin berkumpul di pusat kota." ucap sang pemimpin.


Pria itu mengangguk dan memimpin beberapa orang pergi ke sisi lain tembok kota. Beberapa kelompok lain juga melakukan hal yang sama dengan diam-diam.


Para penjaga kota Whitehorn masih sepenuhnya sadar, mereka masih waspada dengan sekitar, dan setiap tim patroli berjumlah 5 orang.


Tak hanya itu, terdapat juga beberapa menara jaga yang membuat pengamanan kota menjadi lebih ketat.


Ia bergerak secepat angin dan menaiki tembok yang tingginya beberapa meter dengan mudah.


Sresh!


Sebuah belati segera di tebaskan, membuat seorang petugas patroli tersungkur. Tak hanya sampai di situ, lebih banyak assassin muncul dan menghabisi tim patroli.


Setelah membunuh tim patroli yang mereka temui, sang pemimpin dan semua bawahannya memasuki kota dan menyebar ke segala arah.


Rencana mereka adalah melumpuhkan sebanyak mungkin petugas musuh ssbelum menuju ke bangunan terpenting kota ini, mansion.


Satu jam berlalu, ribuan assassin telah berhasil menerobos masuk kota, namun penjagaan kota juga menjadi lebih ketat setelah di temukan banyaknya penjaga yang terbunuh.


"Sepertinya mereka tahu kedatangan kita, segera pergi ke mansion!" ucap sang pemimpin.


ia memimpin 6 assassin, 3 bertopeng perak dan tiga bertopeng merah. Mereka melesat menuju mansion, begitu pula dengan banyak assassin lainnya.


Tak butuh waktu lama untuk para penjaga, pembantu dan pelayan di bersihkan. Bahkan, mereka dengan terang-terangan menggantung semua mayat di dinding luar mansion.

__ADS_1


"Lapor tuan, semua petugas mansion telah di bersihkan." ucap seorang assassin.


"Bagus, bersihkan tempat ini!" ucap sang pemimpin sambil tertawa.


Perasaan membantai orang-orang musuhnya sangat menyenangkan, di tambah ini adalah perasaan balas dendam atas semua anggotanya yang di bunuh sebelumnya.


Seorang assassin lain kembali muncul dan menunduk di hadapannya.


"Tuan, kami menangkap 4 gadis muda yang cantik." ucap sang assassin.


"Gadis muda yang cantik?" tanya sang pemimpin.


"Ya, masing-masing memiliki penampilan sangat cantik tuan. Tuan pasti akan menyukai mereka." ucap sang assassin.


Assassin itu memunculkan kilatan dingin di matanya dan tersenyum jahat, begitu juga dengan sang pemimpin.


"Bawa mereka ke markas, aku akan menjadikan mereka menjadi selirku!" ucap sang pemimpin.


"Baik tuan!" jawab sang Assassin.


Ia kembali menghilang dan melaksanakan tugasnya. Namun, keempat gadis itu berada di ruangan yang sama, dan ia dilindungi oleh seorang pelayan yang cukup kuat.


Grim berjuang sekuat tenaga melawan puluhan assassin dalam waktu bersamaan. Tubuhnya di penuhi oleh pisau lempar, tebasan belati dan sumpit jarum yang tajam.


Setelah berjuang lama, sebuah belati menebas perutnya dan membuatnya tak sadarkan diri.


"Tuan.... Saya telah gagal..." ucap Grim lirih.


Para assassin menerobos masuk dan membawa paksa Esline dan yang lainnya. Kaki dan tangan mereka di rantai, lalu mereka membawanya pergi menuju markas black assassin.


Bala bantuan tiba setelah menelusuri setiap bagian kota. 300 pria bersenjata lengkap kini menjelajahi mansion yang telah kosong.


Hanya beberapa saat sebelum mereka tiba, para assassin telah pergi. Mereka hanha melihat banyaknya mayat yang di gantung di sspanjang dinding, menciptakan suasana horor.


Tak hanya itu, para petugas yang berpatroli juga di gantung tepat di depan gerbang kota.


"Kita sudah terlambat. Kirimkan kabar ke tuan!" teriak salah seorang pemimpin pasukan.


"Baik!" seorang petugas berlari untuk segera menulis surat dan mengirimnya pada Noran.


Di sisi lain, Noran merasakan tubuhnya terasa sakit, seakan sesuatu telah mengiris-iris tubuhnya sebelum berangsur-angsur menjadi hangat dan begitu dingin.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" gumam Noran.


Ia merasakan tubuhnya sangat tidak nyaman, begitu juga dengan perasaan dan pikirannya. Ia menjadi gelisah tanpa sebab yang jelas.


__ADS_2