
Grim segera menarik pedangnya dan meletakkannya di leher Arexes, ia menatapnya dengan tajam.
"siapa kamu?!" teriak Grim.
Arexes merasakan perasaan mengancam dari pelayan di hadapannya, nyawanya kini dalam bahaya.
"aku pangeran kerajaan ini, pangeran Arexes dari kerajaan Mecius." ucap Arexes.
"di mana tuan kami?!" ucap Grim.
dirinya khawatir dengan keselamatan Noran. meski tuannya termasuk kuat, masih banyak sosok lain yang lebih kuat dari Noran.
"aku tidak tahu siapa yang kamu panggil tuan." ucap Arexes.
selama beberapa waktu, Grim terus menginterogasinya dan mengikatnya di bawah pohon.
sementara itu, Esline dan yang lainnya hanya duduk menunggu di kereta dan memperhatikan apa yang di lakukan Grim.
tak lama, terlihat segerombolan besar orang bersenjata mendekat ke arah mereka. Grim menjadi lebih waspada, melihat siapa yang mendekati mereka.
dirinya kini berdiri tegak dengan tangan yang tergenggam dengan erat, melihat cukup banyak prajurit berzirah yang berjalan ke arah mereka.
saat berikutnya membuatnya terkejut, ia mengenali siapa yang memimpin mereka. pemuda berpakaian putih bersih dan berambut hitam.
Noran melihat Grim yang dalam keadaan waspada, ia merasa cukup senang dengan kewaspadaannya.
"tuan, kemana saja anda?" tanya Grim.
"grim, hanya ada sedikit urusan." ucap Noran.
ia melihat kereta kudanya terparkir tidak begitu jauh, lalu ia menoleh dan melijat pemuda yang mirip dengannya terikat di batang pohon.
"tuan muda! apa yang mereka lakukan pada anda?!" ucap kapten Rater.
sekarang, ia yakin pria yang di ikat adalah si pangeran yang mereka cari. kapten Rater segera berlari ke arah Arexes dan melepaskan ikatannya.
"beraninya kalian mengikat pangeran seperti penjahat." ucap kapten Rater.
ia menjadi geram dan melihat Grim dengan tajam. Grim hanya bisa tersenyum kaku saat mendengarnya.
'sepertinya dia memang seorang pangeran..' gumam Grim.
"ini hanya kesalahpahaman. Grim, kita tidak akan pergi dari ibukota. ada sesuatu yang harus kita urus dahulu." ucap Noran.
"apa itu tuan?" tanya Grim.
"akan ku jelaskan nanti." ucap Noran.
__ADS_1
Grim masih takjub melihat seseorang bisa memiliki wajah yang begitu mirip dengan tuannya, bahkan para prajurit milik Arexes masih mengusap matanya berulang kali.
"jadi, bagaimana pangeran? masih ingin pergi ke istana?" tanya Noran.
ia tersenyum ke arah pangeran Arexes, pangeran Arexes juga masih bingung. mengapa ada orang yang begitu mirip dengannya.
ia merasa seperti sedang bercermin, melihat bayangannya berbicara padanya.
"eh? tentu saja aku masih ingin pergi ke istana. tapi, siapa kamu?" tanya pangeran Arexes.
Noran hanya tersenyum, "kalau begitu, mari kita berangkat sekarang."
Noran mempersilahkan Pangeran Arexes masuk ke dalam kereta kudanya, keduanya duduk berdampingan membuatnya terlihat semakin mirip.
Esline dan yang lain bingung melihat keduanya, mereka seperti melihat Noran yang di belah menjadi dua.
perlahan, kereta kuda berjalan menuju istana dengan pengawalan pasukan kapten Rater.
tak butuh waktu lama agar mereka tiba di istana, istana yang luas dan megah. jika di bandingkan dengan 7 kerajaan besar, istana ini hanya terlihat seperti tempat tinggal para duke dan bangsawan tinggi lainnya.
prajurit yang menjaga juga terlihat lebih kuat dengan persenjataan yang lebih baik. kapten Rater berjalan mendekat ke arah prajurit penjaga gerbang.
setelah beberapa percakapan, prajurit itu mengangguk dan menyuruh gerbang untuk di buka.
kereta kuda perlahan masuk dan berhenti di depan pintu utama istana. Noran dan yang lainnya turun, mereka di sambut para pelayan.
"apa yang terjadi dengan kerajaan ini? mengapa terasa berbeda dari yang terlihat?" ucap Noran.
"yah, kerajaan Mecius memang terlihat damai. namun sebenarnya kerajaan Mecius mengalami konflik internal." ucap kapten Rater.
"konflik internal? apakah tentang perebutan kekuasaan?" tanya Noran.
kapten Rater mengangguk. saat keduanya hendak lanjut berbincang, mereka telah tiba di pintu istana yang luas.
"kita sudah sampai di ruang singgasana." ucap pangeran Arexes.
semua orang menghentikan percakapan mereka dan bersiap masuk, dua pintu besar yang indah perlahan terbuka.
terlihat sebuah singgana berdiri di tempat tertinggi ruangan ini. beberapa prajurit berarmor lengkap juga terlihat menjaga sang raja.
pangeran Arexes memimpin semua orang masuk. hanya ada sang raja di ruangan ini, dua singgasana yang lebih rendah di sampingnya kini kosong.
tak ada satupun bangsawan yang terlihat di ruangan ini, Noran memperhitungkan segalanya dari yang terlihat.
"ini masalah yang serius, tak heran pangeran diminta menjauhi ibukota." gumam Noran.
"ayahanda." ucap pangeran Arexes.
__ADS_1
dirinya menunduk hormat, di ikuti orang-orang di belakangnya. setelah memberikan penghormatan pada sang raja, Arexes maju mendekati ayahnya.
"kenapa kamu kembali?!" teriak sang raja.
dirinya terlihat marah dengan datangnya sang pangeran ke istana. pangeran Arexes tidak berani menatap ayahnya secara langsung.
"Rater, bukankah aku menyuruhmu untuk membawanya pergi apapun yang terjadi?" ucap sang raja.
"yang mulia, maafkan hamba yang ridak berguna ini." ucap kapten Rater sembari berlutut.
pangeran Arexes terlihat gemetaran saat mendengar perkataan ayahnya, ia merasa bersalah terhadap kapten Rater.
"ayah, ini bukan salah paman Rater! ini salahku! aku yang meminta kembali!" ucap Arexes.
sang raja bangkit dan berjalan mendekat ke arah Arexes. ketika cukup dekat, ia mengangkat tangannya dan menamparnya.
"kenapa kamu kembali?! pergilah menjauh, pergilah sejauh mungkin!" ucap sang raja.
tangannya gemetaran setrlah menampar putranya sendiri, matanya terlihat berkilauan karena air mata.
"kapten, sekarang bawa dia pergi. jangan pedulikan apapun dan pergilah sejauh mungkin." ucap sang raja.
"apakah itu karena istrimu telah terbunuh?" ucap Noran.
sang raja membuka matanya, ia terkejut mendengar ucapan Noran. ia telah menyuruh semua orang di istana untuk turup mulut.
bagaimana mungkin ada orang luar yang masih mengetahuinya?
"siapa kamu?!" ucap sang raja.
ia melihat Noran dengan waspada, setelah melihatnya ia menyadari ada sesuatu yang aneh dengan pemuda itu.
ia mengernyitkan dahinya, menoleh kembali untuk melihat putranya sendiri. wajah mereka sangat mirip, jika saja Arexes tidak memanggilnya ayah, ia tidak yakin bisa membedakan keduanya.
"aku hanya seseorang yang beristirahat di kerajaan yang mulia." ucap Noran sembari tersenyum.
"apa maksudmu ratu terbunuh?!" ucap kapten Rater.
Noran tersenyum dan memandang sang raja, ia memilih mengabaikan semua pertanyaan dari orang lain.
"bagaimana yanh mulia? apakah perkataan saya benar?" tanya Noran.
"ba-bagaimana kamu tahu?!" tanya sang raja.
"itu mudah, apakah kamu ingin mengetahui siapa yang membunuhnya?" ucap Noran.
pangeran Arexes dan kapten Rater terkejut, pertanyaan sang raja sama saja menyatakan bahwa sang ratu telah terbunuh.
__ADS_1
"beritahu padaku, siapa yang membunuhnya?" tanya sang raja.