7 KINGDOMS : conqueror

7 KINGDOMS : conqueror
23.Duke Aaron


__ADS_3

"Jadi, apakah kamu yang menyelamatkan putriku di hutan?" Duke Aaron bertanya.


Saat putrinya kembali bersama Guran, mereka menceritakan bahwa mereka mengalami bahaya, kereta mereka di serang oleh sekelompok goblin.


Dan seorang pemuda berambut hitam menolong mereka, membunuh para goblin itu dengan mudah.


Pemuda itu kemudian pergi dan hanya mengatakan namanya adalah Noran.


Sebenarnya Esline dan Guran hendak membawanya ke ibukota untuk menerima imbalan yang sesuai, namun Noran telah pergi.


"Begitu, terimakasih telah menyelamatkan putriku." ucap Duke Aaron.


Duke Aaron mengeluarkan sebuah kantung kecil yang berisi penuh dengan koin emas, jumlahnya tidak kurang dari 100 koin emas atau bahkan mungkin lebih.


"Tidak tuan, aku hanya kebetulan lewat dan bertemu mereka sedang di serang goblin." ucap Noran.


Noran menolak koin-koin emas itu, ia menolong bukan untuk mendapatkan imbalan, melainkan memang ingin menolong saja.


Selain itu, ia juga naik tingkat karena para goblin itu, itu sudah setimpal baginya.


"Baiklah jika kamu menolak, apa kamu sedang mencari putriku?" tanya Duke Aaron.


mencari bukan kata yang tepat untuk saat ini, ia hanya berkunjung, namun itu kurang lebih memang seperti yang di katakan Duke Aaron.


Duke Aaron kemudian menyuruh seorang pelayan untuk memanggil putrinya.


"Jadi, kenapa kamu datang ke ibukota?" tanya Duke Aaron.


Ia merasa penasaran, apakah pemuda dihadapannya memang hanya berkunjung atau sekedar ingin bertemu dengan putrinya saja.


"Aku berencana untuk menikmati festival yang akan di adakan, aku dengar banyak acara yang di buat." ucap Noran.


Tak lama Esline turun dari lantai dua, mengenakan gaun putih yang membuatnya nampak lebih cantik.


"Ayah memanggilku?" Esline tidak memperhatikan tempat ayahnya duduk, hanya berjalan dan memandang ke arahnya.


"Ya, ada seseorang yang ingin menemuimu." ucap Duke Aaron.


Noran terbatuk, ia hanya berkunjung namun Duke Aaron mengatakan sesuatu yang ambigu.


"Seseorang ingin menemuiku?" Esline mencoba mengingat kembali, namun ia tidak ingat memiliki janji dengan siapapun.


Esline menjadi penasaran dan berjalan mendekat ke ayahnya, saat cukup dekat ia menyadari siapa yang duduk di hadapan ayahnya, itu adalah Noran.


"Noran?" Esline terkejut melihat Noran berada di kediamannya.


"Ya ini aku, aku telah menerima suratmu." ucap Noran.


Melihat Esline yang memakai gaun putih, membuatnya nampak terlihat begitu cantik.


"Hahaha, putriku sudah di sini, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Duke Aaron.


"Bukan apa-apa." ucap Noran.


Ia merasa malu dengan perkataan pria paruh baya di depannya itu, berkali-kali ia memojokkannya.


"Ayah! Jangan menggodanya!" Esline mendengus melihat sikap ayahnya.


Ia merasa lucu melihat sikap Noran yang malu-malu itu.

__ADS_1


"Baiklah, aku tidak akan mengganggu, nikmati waktu kalian." ucap Duke Aaron.


Duke Aaron kemudian bangkit dan meninggalkan ruangan itu, kembali naik ke lantai dua.


Esline kemudian duduk dan memandang Noran.


"Akhirnya kamu datang, aku sudah menunggumu selama sebulan." ucap Esline.


"Aku sedang menjalankan beberapa misi di hutan." ucap Noran.


Noran menceritakan misinya yang terakhir kali, membunuh ratusan Orc dan berhadapan dengan Orc cheif.


"Orc Cheif?!" Esline terkejut mendengarnya.


"Ada apa?" Noran merasa kebingungan dengan sikap Esline ini.


"Hah...Kamu memang bukan manusia biasa..." ucap Esline.


Noran tersenyum, sepertinya dirinya terlalu aneh di dunia ini.


"Dalam tingkatan monster, ada beberapa tingkat. Yang terendah adalah monster normal dan pemimpin para monster.


Ada beberapa tingkat dalam pemimpin para monster:


Cheif


Lord


King


Emperor


Hero


Untuk monster Orc, mereka umumnya berlevel 80-90, dan untuk Orc cheif setidaknya akan berada pada level 170 atau bahkan lebih tinggi.


"Kenapa kamu melawan mereka?" tanya Esline.


"Itu adalah permintaan dari seorang teman." ucap Noran.


"Teman?" Esline merasa tidak percaya.


Pemuda dihadapannya berani berhadapan dengan maut hanya karena permintaan.


"Jangan bahas itu, aku ke sini untuk berjalan-jalan, maukah kamu memanduku?" tanya Noran.


Memilih Esline sebagai pemandunya adalah pilihan tepat, ibukota terlalu luas untuk dirinya.


Ia akan mudah tersesat di kota sebesar ini, selain itu ia juga tidak mengenal banyak tempat menarik dari kota ini.


"Berjalan-jalan? Tentu, aku akan menemanimu." ucap Esline.


Keduanya kemudian hendak pergi dari Mansion, namun duke Aaron menghentikan mereka.


"Berhenti dahulu, apa kamu mengajak putriku kencan?" tanya Duke Aaron.


"Kencan? Uhk.. Bukan, aku hanya ingin ia memanduku ke tempat menarik." ucap Noran.


Tanpa di sadari Noran, Esline juga berpikiran sama, ia mengira jika Noran mengajaknya kencan hanya saja ia mengatakannya dengan halus.

__ADS_1


"Apa kamu juga berpikir begitu Esline?" Duke Aaron memandang putrinya.


Noran merasa penasaran dan melihat ke arahnya, wajah yag memerah dan menunduk malu.


"Apa ia berpikiran sama?" Noran merasa terkejut, mengapa mereka bisa dengan mudah memikirkan kencan.


"Aku tidak mengajaknya kencan hanya meminta untuk memanduku, apakah itu salah?" tanya Noran.


Ia merasakan pusing di kepalanya, kenapa pemikiran para bangsawan begitu jauh.


"Nak, seorang pria dan wanita berjalan bersama tanpa ada orang lain, apa itu bukan kencan namanya?" tanya Duke Aaron.


Yah, yang dikatakannya masuk akal, Noran memandang pria paruh baya itu dan pasrah.


"Lalu apa yang kamu inginkan?" tanya Noran.


"Aku ingin kita berduel." ucap Duke Aaron.


"Berduel?" tanya Aaron.


"Ya, berduel. Jika kamu menang, kamu boleh pergi kencan dengan putriku, jika kamu kalah, akan kupotong lehermu." ucap Duke Aaron.


Noran merasa merinding, sepertinya Duke Aaron tidak main-main.


"Apa kamu berani?" tanya Duke Aaron.


Noran memandang pria itu, melihat status yang melayang di atas kepalanya.


[Nama : Aaron von Rosvelt.


Ras : human


Job : bangsawan (Duke)


Title : the 4th Duke , ???, ???


Level : 160 ]


Noran sedikit terkejut, melihat bangsawan yang memiliki level setinggi itu sangat jarang.


Duke Aaron tersenyum melihat ekspresi Noran yang terkejut.


"Mana mungkin kubiarkan putriku dekat dengan pria sembarangan." pikir Duke Aaron.


"Bagaimana?" tanya Duke Aaron.


Untuk level 160, noran hanya tertawa di dalam hati, ia akan menang melawannya.


"Aku menerimanya." ucap Noran.


Keduanya kemudian berjalan menuju ke lapangan latihan yang ada di belakang mansion.


Keduanya mengambil sebuah pedang besi yang ada dan bersiap dengan kuda kuda mereka.


"Apakah kamu sudah siap?" tanya Duke Aaron.


"Aku selalu siap kapanpun." ucap Noran.


.............................................................

__ADS_1


Mohon maaf jika kurang memuaskan, ini karya pertamaku, silahkan di vote dan komen ya? Makasih.


.............................................................


__ADS_2