
Keesokan harinya, Noran menemui kedua pria paruh baya tersebut. Jenderal Kuva dan Duke Aaron memandangnya dengan ragu.
"Kamu akan ke sana sekarang?" tanya Duke Aaron.
"Ya, aku akan kesana." ucap Noran.
Noran kemudian berjalan keluar dari mansion bersama keduanya. Sepertinya Lisa juga sudah bangun dan memakai perlengkapan tempur miliknya.
"Faltra!" ucap Noran.
Kiakkk!!
Burung besar itu memekikkan suaranya dan turun, membuat debu berhamburan di halaman mansion.
"Mari, kita berangkat." ucap Noran.
Lisa mengangguk, keduanya lalu naik ke atas garuda dan memimpin ratusan falcon rider menuju ke kota Keriol. Sementara, ratusan goblin rider dan pasukan Dark Order mengikuti mereka dari bawah.
"Berapa lama agar kita sampai di sana?" tanya Lisa.
"Mungkin beberapa jam agar kita sampai di sana." ucap Noran.
Beberapa jam kemudian, Noran dan pasukannya akhirnya tiba di kota Keriol. Kota ini telah sepenuhnya jatuh ke tangan pasukan kekaisaran.
Terlihat bendera kekaisaran di kibarkan di seluruh penjuru kota. Terlihat juga banyak prajurit kekaisaran berpatroli di gerbang maupun di dalam kota.
"Apa itu?" gumam seorang prajurit.
Ia melihat banyak siluet hitam di atas langit, lalu ada kepulan debu tebal di kejauhan.
"Itu serangan musuh! Cepat! Bunyikan tanda peringatan!" teriak sang prajurit.
Prajurit lainnya mengangguk dan segera menarik sebuah terompet di pinggangnya. Ia lalu meniupnya dengan sekuat tenaga.
Buuummmm.......
Suara terompet keras dan panjang terdengar, ribuan prajurit kekaisaran segera berkumpul di gerbang utama kota.
Di atas tembok, telah berdiri ribuan pemanah dengan para jenderal dan komandan kekaisaran. Terlihat juga puluhan penyihir di antara pasukan tersebut.
Noran memandang ribuan pasukan kekiasaran yang telah siap, dirinya lalu mengeluarkan dua pedang miliknya dan memakai armor helmnya.
"Persiapkan dirimu, kita akan bertempur sebentar lagi." ucap Noran.
Lisa mengangguk, beberapa saat kemudian mereka tiba di dekat benteng kota.
"Tembakkan panah kalian!" teriak sang jenderal.
Ribuan panah melesat ke arah Noran dan pasukan Falcon rider miliknya.
Puluhan falon rider terjatuh dengan panah menembus mereka, Noran memandang mereka yang terjatuh dan mati.
"Hindari anak panahnya!" ucap Noran.
Semua night falcon terbang menyebar dan menjauh, membuat kemungkinan mereka di tembak jatuh lebih kecil.
Faltra saat ini tak jauh dari benteng, Noran mengeluarkan sihir api miliknya dan melemparkannya ke gerbang kota.
__ADS_1
Buumm..
Bola api besar meledak dengan kuat, membuat belasan pemanah di atas gerbang terjatuh. Gerbang juga hancur berkeping-keping.
"Serang mereka!" teriak Noran.
Dark order dan goblin rider menerobos masuk, menyerang prajurit kekaisaran dan mulai membabat mereka satu persatu.
Noran melompat dari atas Faltra, mendarat di atas gerbang dan mulai mengayunkan dua black sword miliknya.
Para pemanah kekaisaran berjatuhan, Noran menebas mereka dan beberapa kali ia mendorong mereka jatuh dari benteng yang tingginya beberapa meter.
Para goblin melompat dari atas night falcon dan menancapkan tombak mereka pada prajurit kekaisaran yang ada di bawah.
Ratusan wind wolf menyerang mereka dengan ganas, dan terlihat juga ratusan night falcon menyerang mereka dengan sihir petir, cakar maupun paruh mereka yang tajam.
"Jenderal! Pasukan musuh terlalu kuat!" ucap seorang prajurit.
"Habisi mereka! Mereka hanya berjumlah beberapa ribu." ucap sang jenderal.
Noran terus membabat mereka satu persatu dan bergerak ke arah sang jenderal.
'Siapa dia?' pikir sang jenderal.
Ksatria berzirah hitam, ia belum pernah mendengar apapun tentangnya. Dalam waktu singkat, ratusan pemanah telah terbunuh di tangan Noran.
"Wind Slash!" teriak Noran.
Bilah angin yang tajam melesat ke arah para pemanah dan membelah mereka menjadi dua.
15 prajurit miliknya terbunuh hanya dalam sekali serang, bilah angin itu sepertinya cukup kuat.
"Hentikan dia!" teriak sang jenderal.
Ia menarik pedangnya dan bergerak ke arah Noran. Sementara itu suara pemberitahuan terdengar di kepala Noran.
Ding!
[Skill wind slash level up! Level saat ini : 15!]
Noran menebaskan kembali pedangnya, mengkombinasikannya dengan fire ball maupun wind slash berulang-ulang.
Dalam beberapa menit, 2.000 pemanah terbunuh di tangannya. Kini zirah hitam miliknya telah tertutupi oleh darah merah.
Noran kemudian menggunakan silent step miliknya, menyerang prajurit kekaisaran yang mengelilinginya.
Tanpa suara Noran membunuh mereka lebih banyak. Kini, banyak prajurit yang menyerangnya secara bersamaan.
"Battle Aura!" teriak Noran.
Buumm!
"Swordmanship!"
"Acceleration!"
"One Handed Sword!"
__ADS_1
"Silent Step!"
5 skill ia gunakan dalam waktu bersamaan, membuat kekuatannya meningkat dengan pesat.
Noran lalu melesat dan menyerang setiap prajurit yang mendekat ke arahnya. Puluhan prajurit terbunuh hampir dalam waktu bersamaan.
Gerakannya terlalu cepat dan tanpa suara, membuat serangan Noran semakin berbahaya dan mematikan.
"Wave Crusher!" teriak Noran.
Bilah angin tajam memanjang dan melesat ke arah ribuan prajurit di hadapannya, membentuk semacam gelombang bilah angin tajam.
Ssssrrrreeeeesshhhhh....
2.000 prajurit kekaisaran terbunuh dengan tubuh terpotong-potong, sang jenderal juga terlempar bersama beberapa komandan kekaisaran. Mereka menderita luka cukup berat dan kehilangan banyak darah.
Masih ada puluhan ribu pasukan kekaisaran yang harus ia bunuh untuk membebaskan kota Keriol dari tangan pasukan kekaisaran.
Puluhan sihir dengan berbagai elemen melayang dan melesat ke arah Noran. Bola api, panah petir, bilah angin, dan tombak tanah dalam jumlah cukup banyak melesat ke arahnya.
Noran memandang sihir itu dan berdiri dengan kedua pedang tertancap cukup dalam di tembok benteng.
Sudah tidak ada waktu untuk menghindari serangan sihir mereka, ia mempercayakan serangan itu kepada armor miliknya.
Bum bum bum.
Suara keras terdengar beberapa kali, asap tebal mengepul di sekitar Noran. Para penyihir kekisaran tersenyum dengan hasil serangan mereka.
"Noran!" teriak Lisa.
Ia berdiri di bawah, di jalan utama kota. Puluhan prajurit kekaisaran mengelilinginya. Namun ia masih fokus kepada Noran yang di serang oleh puluhan sihir itu.
Puluhan goblin dan wind wolf mengelilingnya, melindungi Lisa dari pasukan kekaisaran.
Beberapa saat kemudian, debu menghilang. Noran berdiri dan menegapkan tubuhnya.
Dengan pelan, ia menepuk-nepuk armornya, menyingkirkan debu yang menempel di zirahnya.
"Huft.."
Noran menghela nafas, ia mengira jika armor ini akan hancur begitu terkena puluhan sihir itu.
"Ini... Tidak mungkin?!" teriak seorang penyihir.
Mereka telah meluncurkan puluhan sihir secara bersamaan. Meski tidak membunuh musuh mereka, setidaknya mereka memperkirakan jika Noran akan terluka parah.
Namun, yang terjadi adalah Noran baik-baik saja. bahkan tidak terlihat satupun goresan di atas zirah Noran.
"Sekarang giliranku." ucap Noran.
Noran mencabut kedua pedang miliknya dan berlari menuju ke arah mereka.
.......................................................................
Mohon maaf jika kurang memuaskan, ini karya pertamaku, silahkan di vote dan komen ya? Makasih.
.......................................................................
__ADS_1