
pertempuran di kerajaan Mecius kini membuat Noran semakin sadar, daratan Artenia ini adalah tanah yang kejam dan penuh dengan konflik.
hanya menghitung para bandit, ada ribuan dari mereka baik kelompok kevil maupun kelompok besar dengan markas seperti kota.
juga, di sepanjang perbatasan masih banyak kerajaan kecil maupun keluarga kuat yang menjadi tuan tanah atau bangsawan independen.
"tanah yang kacau." ucap Noran sembari tersenyum sinis.
"tanah ini memang kacau, padang rumput luas yang menjadi pemisah dua kerajaan besar menjadi tanah yang menarik bagi setiap pihak.
potensi kerajaan kecil berkembang sangat tinggi, dan begitu juga dengan resikonya." ucap Esline.
Noran mengangguk. selain potensi yang besar, namun bahaya juga besar. bisa di pastikan dua sisi dari kerajaan besar melakukan perlawanan kecil dan tersembunyi.
sabotase, adalah kemungkinan yang tertinggi. dengan membuat kelompok bandit dan terus melemahkan musuh adalah strategi sederhana namun efektif.
Noran berpikir mungkin itulah penyebab banyaknya bandit di tanah Artenia. Noran masih menghawatirkan dengan pegunungan Andora. bandit gunung juga terkenal di beberapa wilayah lain, membuat kemungkinan terdapat bandit di sana.
'tempat tinggal kami terlalu rumit.' pikir Noran sembari tersenyum kecut.
selama perjalanan, Noran memeriksa misi miliknya. Ia telah memutuskan untuk segera membersihkan sisi selatan daratan dan memotong Artenia menjadi dua.
prioritas terpenting adalah jalur laut, selain sebagai jalur transportasi antar benua, ini memungkinkan membuat angkatan laut.
Noran teringat mengapa kerajaan raksasa nusantara mampu membentuk dinasti mereka yang kokoh. kunci menaklukan Nusantara adalah armada lautnya.
selama perjalanan, Noran menghabiskan waktu berbincang dengan Esline dan yang lainnya. merek terlihat bahagia saat berbincang.
satu hari perjalanan terlewati begitu saja. untuk sampai di kamp setidaknya butuh beberapa jam lagi.
pasukan berhenti dan mulai membangun tenda, menyiapkan makan malam dan bersiap untuk bermalam.
"tuan, ada laporan dari pasukan falcon rider." ucap Grim.
"laporan?" ucap Noran.
ia membaca surat yang di bawa Grim, setelah membacanya ia hany tersenyum dan mengganti pakaiannya menjadi zirah perang.
"baiklah, sepertinya kita harus berburu malam ini, Trevis!" ucap Noran.
harimau putih berukuran besar muncul, menunjukkan taringnya yang setajam pisau.
surai hitam juga cakar panjangnya membuatnya terlihat lebih agung dan gagah.
"ho! kamu memamerkan diri lagi?" ucap Noran mrlalui telepati.
__ADS_1
"tentu saja, tunggangan tuan harus berwibawa!" jawab Trevis melalui telepati.
kiakk!!
burung garuda terbang di langit dan menyemburkan api miliknya, menunjukkan kehadirannya yang mengintimidasi.
tatapannya seakan menyiratkan jika Trevis terlalu sombong, dan kini Faltra menunjukkan dominasinya padanya.
"hahah!" Noran hanya tertawa melihat tingkah keduanya.
"Grim, Ruli, atur pasukan dan buat formasi pertahanan. kami akan berkeliling sebentar.
pasukan kavaleri, kalian akan ikut bersamaku. ada musuh yang harus kita buru malam ini." ucap Noran.
"ooohhh!!!" para penunggang kuda berteriak dengan bersemangat.
mereka berdiri dan segera menunggangi kuda mereka dan berbaris dengan rapi. pedang tipis yang panjang mereka tarik dan acungkan ke langit, menunjukkan semangat tempur luar biasa.
"pergi!" teriak Noran.
sosok ksatria berzirah hitam, dengan rambut hitam yang berkibar terlihat menunggangi harimau putih yang nampak buas.
Noran memimpin para penunggang kuda menuju kelompok bandit terdekat. para bandit masih bersantai dan menikmati malam mereka dengan meminum anggur dan hal lainnya.
ketika melihat datangnya pasukan berkuda dengan perlengkapan penuh, mereka terkejut.
"mu-mu-mu-musuh! serangan musuh!" teriak salah seorang bandit.
namun tak lama dirinya di tusuk oleh pedang panjang. pedang tipis yang panjang menembus perutnya dan mengoyaknya ke samping.
"serangan musuh!" teriak bandit lainnya.
lebih banyak bandit yang berteriak. Noran dan pasukannya mengitari tenda-tenda mereka dan menebas setiap bandit yang muncul.
"arghh!!"
jeritan kesakitan dan lolongan kesedihan memenuhi malam itu, bercampur dengan lolongan serigala di kejauhan.
"sialan! siapa yang berani membuat kekacauan di markasku?!"
seorang pria tua dengan janggut tebal dan wajah garang keluar. ia mengenakan zirah dari semacam sisik yang melapisi sebagian besar tubuhnya.
pedang panjang dengan satu bilah, serta cerutu di mulutnya ia berjalan dengan marah. melihat pasukan berkuda yang mengitari markasnya dan terus menebas bawahan-bawahannya.
"pasukan kerajaan?! kerajaan mana yang berani menyerang kelompokku?!" teriak sang pemimpin bandit dengan marah.
__ADS_1
saat berikutnya, seekor harimau putih melompat dan berhenti di hadapan sang pria. dengan sosok pemuda berzirah di atasnya, sang pemimpin bandit terkekeh.
"bahkan dengan pemuda lemah ini yang memimpin?! sialan! jangan harap aku akan berbaik hati!" teriak sang pemimpin bandit.
dua macan kumbang bertanduk muncul dan berdiri di sisi sang pemimpin bandit, mencoba mengintimidasi Trevis namun tidak berhasil.
'hanya macan kumbang ingin menakuti raja ini? raja para harimau putih?' ucap Trevis dalam telepatinya.
tatapannya menjadi tajam dan penuh dengan permusuhan, menatap dua macan kumbang di hadapannya seperti mangsanya.
"bunuh orang itu!" teriak sang pemimpin bandit.
kedua macan kumbang melompat dan melesat menuju ke arah Trevis. Noran segera melompat turun, membiarkan Trevis melaju melawan dua macan kumbang itu.
di sisi lain, sang pemimpin bandit telah mendekati Noran dan menebaskan pedang miliknya. Noran yang belum menarik pedangnya, menangkis tebasan itu dengan lengannya.
bang!
dengungan keras memenhhi telinga keduanya, sang pemimpin bandit terkejut melihat pedangnya tertahan di tangan Noran.
"tidak mungkin?!"
pemimpin bandit terkejut menyaksikannya. di tengah keterkejutannya, sebuah pedang dingin menebas lehernya.
[ding! membunuh pemimpin bandit! exp +3.000!]
[ ding! membersihkan kelompok bandit kecil! exp+ .... ]
pemberitahuan terus berlanjut, mengisi bar exp miliknya secara perlahan. 200 bandit di bantai tanpa sisa, setelah itu harta rampasan di kumpulkan bersama zirah dan senjata mereka.
mayat mayat di tumpuk menjadi satu dan dibakar, untuk mencegahnya menjadi mayat hidup. setelah selesai, Noran dan pasukannya kembali melanjutkan untuk membersihkan kelompok lainnya.
ada 5 kelompok lain yang mereka musnahkan. rampasan yang di dapat juga cukup besar, dengan tambahan 750 kuda milik para bandit.
harta lainnya juga cukup banyak, ada setumpukan besar koin dan perhiasan di cincin ruang Noran bercampur dengan pakaian pakaian sutra terbaik.
"kekayaan para bandit luar biasa. membersihkan area dan merampas harta mereka, itu ide yang bagus." gumam Noran.
ketika pagi hari tiba, Noran dan yang lainnya kembali melanjutkan perjalanan mereka.
sementara itu, di tempat lain..
ruangan yang sangat gelap dengan penerangan dari beberapa lilin. seorang pria duduk dan menarik nafas dengan berat.
ia menggenggam sebuah tongkat kayu di tangannya dan duduk di kursi yang mirip singgasana dari batu.
__ADS_1
"bagaimana hasil akhirnya?" tanya sosok itu.
suara berat dan dingin tanpa sedikitpun emosi di dalamnya. hanya mendengar suaranya mampu membuat orang lain ketakutan.