Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 96. Pelayan yang Memimpin pt.2


__ADS_3

"Apa yang sedang mereka bincangkan?" Aku bertanya-tanya pada monitor layarku sendiri.


Hal itu jelas akan segera diperthatikan Ryan yang menatapi monitornya sendiri. Ngomong-ngomong, tempak kami berdua tidak dibatasi oleh sesuaty sehingga kami berdua bisa saling melihat apa yang terjadi pada antar tim.


"Dari apa yang kulihat, mereka sepertinya sedang membuat rencana?" (Ryan)


Rencana?


"Perasaan aku sudah kasih mereka rencana sebelumnya?"


Apakah rencanaku sangatlah buruk sampai mereka tidak menganggap itu akan berhasil. Hal seperti berkelompok memanglah bukan bidangku. Namun kalau sudah masuk hal menyusup, setidaknya aku bisa.


Apakah cara penyampaiaanku saja yang kurang? Mereka tidak terlihat mempercayai keputusanku saat di ruang tunggu tadi.


Entahlah, akan kuanggap ini sebagai penilaian saja. Mau apa tidak mereka mengikuti rencanaku itu tergantung mereka sendiri. Asalkan menang, itu cukup untuk membuktikan mereka.


"Murid-muridmu sepertinya tidak percaya denganmu..."


"Kelihatan dengan jelas, tapi tidak apa. Asalkan mereka menang, itu saja sudah cukup."


Aku mengatakan sesuatu yang aneh. Bahkan Ryan langsung menatapku dengan tatapan yang tidak percaya.


"Kau mengatakan itu lagi?"


Aku sering mengatakan itu? Tapi kapan?


"Ha?"


"Tidak... Bukan apa-apa."


Dari glagatnya, aku tahu dia sedang menyembunyikan sesuatu yang tak kuketahui. Untuk sekarang aku akan bermain peran orang bodoh saja.


"Aku tak tahu kau main peran orang bodoh buat menipuku saat ujian sekarang atau hal lain. Aku ingatkan sekali lagi, aku tidak akan jatuh pada perangkap aktingmu."


Tapi sepertinya aktingku langsung ketahuan. Terkadang aku lupa dia adalah sepupuku. Dia juga menjadi teman mainku saat masih sd sampai smp. Jelas saja dia akan langsung menyadari kejanggalan wajahku.


"..."


"..."


Kesunyian datang di antara kami berdua. Dia yang bisa membaca aktingku langsung membuatku diam. Dia pula yang sadar akan itu juga ikut diam karena merasa bersalah.


Sepertinya...


Dia adalah orang yang mudah gak enakkan. Maklum saat kecil dia dianiaya, jadinya seperti itu.


......................


Point of View: Hakam Surya


Ujian akan dimulai.


Para murid di kelasku sudah berkumpul. Mereka mengelilingiku. Beberapa dari mereka bahkan ada yang membentuk grup sendiri.


"Jadi, apa yang akan kita lakukan?" Rizal bertanya di antara kerumunan itu.


Pilihanku sudah tetap. Bila harus kukatakan, saat ini adalah percaya pada diri sendiri. Bukan pada orang lain.


Maka pilihan yang tepat adalah...


"Awalan, kita akan mengikuti rencana Rizal. Yaitu dengan melelehkan gerbang baja utama itu."


Mendengar itu, Rizal langsung melengkukkan mulutnya dan membuat sebuah senyuman puas. Dia puas akan aku yang memilih rencananya ketimbang guruku itu.


Tapi...


"Apa kau beneran milih ini...?" Stevent yang ada di sampingku berbisik ke arahku.


"Ya..."


"Aku tidak keberatan dengan ini. Tapi bersiaplah jika rencana ini gagal maka kita ha-"


Aku memotong ucapan Stevent. Dia tertalu bergantung pada guru itu. Padahal dia dulu sering menghinanya.


"Tidak, rencana ini saja sudah cukup buatku."


Aku harus memilih. Bila tidak, maka aku tidak akan berhasil seperti mereka.


Lihat saja, cepat atau lambat, aku akan memperlihatkan kalau aku bisa tanpa harus bergantung pada guru itu.


Dia sudah membantuku, dan aku berterima kasih. Tapi jika terus dilembuti oleh kemudahan, maka aku tidak akan berkembang.


Maka karena itu, aku akan berusaha tanpa harus diberi rasa iba pada olehnya.


"Akhirnya kau lihat, betapa hebatnya strategi yang sudah kurancang ini!" Senyuman sombong Rizal terpampang jelas di wajahnya.


Sebentar lagi ujian akan berlangsung, dan strategi Rizal adalah yang akan mereka gunakan di tahap awal.


Untuk tahap kedua, asalkan ada yang bisa mengalahkan pasukan pertahanan itu sudah cukup. Lagipula yang terpenting di sini adalah menyerang dengan menyelinap.


......................


3....


2....

__ADS_1


1....


Waktu ujian telah dimulai.


Terlihat ada 4 murid yang berdiri di atas menara dekat gerbang yang harus kami hancurkan.


Dari peran penempatan mereka, senjata yang mereka gunakan pastilah senjata jarak jauh seperti busur atau senjata api.


"Semuanya! Serang?" Aku memberi perintah kepada mereka semua.


Aku memajukan seluruh kelasku.


Beberapa murid yang memiliki sihir es atau tanah membuat sebuah perisai untuk melindungi diri mereka dari tembakan 4 siswa yang berada di sana.


Tapi...


DOR DOR DOR DOR


Perisai itu mungkin kebal terhadapa serangan busur, namun saat berurusan dengan senjata api yang bertipe assault riffle. Mereka jelas kalah telak.


Riffle itu menghancurkan perisai-perisai mereka dengan cepat.


"Semuanya, buat perisai menjadi tebal! Lapiskan sihir es dan tanah kalian!" Moka mengambil komando.


Kenapa dia mencuri komando?!


"Moka, kenapa kau mengambil komando?!" Ucapku kesal.


"Mau bagaimana lagi?! Kita ditembaki terus! Sedangkan menara itu melindungi mereka dari serangan kita! Bila begini terus, kita akan kalah bahkan sebelum menghancurkan gerbang awal!" Dia memakiku.


Entah kenapa, saat dia mengatakan itu. Mataku sekektika melihati 2-4 murid yang gugur karena tertembak oleh peluru dan anak panah dari penjaga itu. Moodku untuk memimpin seketika hancur.


Apakah aku tidak begitu cepat tanggap saat melihat ini?


Apakah aku sebaiknya menyerahkannya saja?


Tidak, ini tidak benar!


Guru itu memilihku karena dia menganggap kalau akulah yang paling rendah di antara kami berlima. Jika seperti itu, aku akan menunjukkannya. Semua kebolehanku.


"Kumohon, percayakanlah komando padaku! Aku setidaknya ingin mencobanya!" Semoga permohonanku dikabulkan ketua kelasku.


Moka menatapku dengan nafas yang terengah-engah. Tatapan matanya seakan menusukku ke dalam hati.


Apakah dia percaya padaku, atau tidak?!


"Bailklah, tapi aku akan mengambil alih beberapa tugas bila kau lelet menanggapi!" Dengan kepercayaan itu, Moka meninggalkanku dan maju ke medan perang.


"Terima kasih..." Aku memegangi dadaku.


"Tenanglah, kita ini teman! Aku akan percaya padamu! Kita harus bisa melewati ini bersama, 'kan?!" Dia tersenyum sambil berjalan mundur.


Senyuman itu, akan kulindungi.


Kepercayaanku kembali. Aku menatapi kembali gerbang baja itu.


Menara-menara yang terus menembaki kami itu terus kuanalisa. Menara itu seperti memiliki segalanya. Perlindungan, tempat tinggi, dan penglihatan yang terbuka.


Hanya dari sana saja, semua siswa dari kelasku bisa terlihat.


Bila begitu...


"Semuanya! Yang memiliki sihir tanah dan bersenjata jarak jauh, buatlah tanah yang diinjak para petarung jarak jauh meninggi! Saat itu juga, mereka yang sudah di atas tembaklah mereka dari ketinggian itu!" Aku berteriak keras.


Mereka mendengarkanku. Mereka percaya padaku.


Aku tidak akan menyia-nyiakannya!


Tak lama, para murid yang bersenjatakan busur dan senjata api berdiri di dekat mereka yang memiliki sihir tanah. Ada juga yang melakukannua sendiri karena mereka memiliki keduanya(sihir tanah dan bersenjata jarak jauh).


"Pilihan yang cukup bijak, Kam!" Gita memberikan jempol padaku sebelum dia naik ke atas.


Sekarang ada beberapa menara sederhana di bagian kami. Ada sekitar 10 murid yang memiliki senjata jarah jauh di sini.


Mereka dengan serius memberikan tatapan yang menyilet mata para penjaga menara itu.


Saat ini mereka sedang menunggu aba-abaku.


Tahan... (Ada yang masih mengisi peluru)


Tahan... (Ada yang masih mengambil ancang-ancang)


Tahan... (Tinggal langkah akhir, penyelarasan)


"Sekarang!" Teriakku dengan keras.


Tembakan yang bagaikan bintang jatuh itu melesat ke arah menara musuh itu.


Mereka(musuh) yang berada di atas sana tidak bisa menembaki teman-temanku. Posisi mereka terbalik, teman-temanku menginjakkan kaki di tempat yang lebih tinggi ketimbang mereka. Dengan begini, mereka hanya bisa menunggu waktu sampai K.O.


DOR DOR DOR!


STUCK STUCK STUCK!


Mulai dari peluru sampai anak panah terus menghantam atap dari menara itu. Sedikit demi sedikit, atap itu kian hancur dan membuat 4 penjaga itu terlihat.

__ADS_1


"Gyah!"


"Augh!"


"Sial!"


"Curang!"


Dengan jumlah tembakan yang sebanyak itu, melawan balik menjadi hal yang mustahil.


Musuh berhasil dikalahkan. Maka kini tinggal gerbangnya.


Aku dengan segera menatapi para murid yang memiliki sihir api.


Namun...


Hampir separuh dari mereka ada di atas.


"Hakam, bagaimana ini?! Kita kekurangan sihir api untuk melelehkannya!" Salah satu teman kelasku bertanya.


Sebenarnya tidak apa mengambil waktu cukup lama untuk melelehkannya. Penjaganya saja sudah tidak ada. Namun, sesuatu mengangguku.


Bukankah itu akan membuat kelas lainnya menunggu kami sampai selesai?


Apakah ujian ini memiliki waktu?


Bukankah ini hanya berlangsung sehari?


Saat itu juga, aku sadar...


Meskipun tidak ada waktu penyelesaian. Tapi membuat kelas lain menunggu lama karena kami yang lamban. Maka nilai itu akan dimasukkan ke nilai moral.


Seingatku, membuat orang menunggu adalah hal yang bertentangan dengan moral.


Maka dari itu...


Mau tidak mau!


Mataku berkeliling, aku mencarinya. Orang yang terlupakan oleh kelas.


Dapat!


"Sophia! Aku butuh bantuanmu!" Ucapku sambil berlari ke arahnya.


"Bantuan apa?" Jawabannya kosong seperti orang mati.


Ini bukan waktunya memikirkan itu, dia hanyalah satu-satunya yang bisa melakukannya.


Hanya dia yang bisa mendobrak gerbang itu!


"Buatlah ram, dan dobrak gerbang itu!" Di saat yang bersamaan juga, aku menyadarinya.


Guruku menyuruhku melakukan ini, bukan karena terdengar masuk akal atau yang lainnya. Dia menyarankanku menggunakan strategi ini karena bisa dilakukan dengan cepat bahkan hanya dengan satu orang.


"Baiklah..." Dia masih seperti putri es.


Seketika, sebuah partikel es bersatu dan membentuk sebuah benda yang mirip dahan kayu.


Dari kejauhan, benda itu bersiap melesat.


"Semuanya menyingkir dari jalannya gerbang!" Sebaiknya aku memperingati mereka.


Mereka terkejut denganku yang tiba-tiba merubah rencana.


Bahkan Rizal yang tadi seperti mendukungku sekarang menatapku dengan kesal. "Woy, kenapa kau mengganti rencana?!"


Tapi tepat setelah dia menyelesaikan kalimatnya.


Dahan kayu es itu melesat cepat ke arah gerbang. Seketika itu juga, gerbang terbuka hanya dalam satu kali pukulan.


Pakaian dan rambut mereka terhempas angin oleh efek dari karena berdiri di dekat jalannya dahan itu.


Rizal yang tadi mau menegurku lebih jauh sekaeang terdiam seribu bahasa. Dia melupakan kalau orang yang kusuruh ini adalah yang terkuat di kelas ini.


Dia adalah Kanda Sophia.


......................


Point of View: Rasyid Londerik.


"Ketahuan, ya?!"


"Apanya?!" (Ryan)


"Tidak, bukan apa-apa."


Di depan monitor ini, aku tersenyum tipis. Tak kusangka laki-laki itu menyadarinya. Bahkan semua maksud dari perkataanku sebelumnya.


Mungkin pelatihannya sebagai pelayan meningkatkan kepekaan itu ada benarnya juga. Kukira itu hanyalah candaan.


***


Sisa murid dari kelas 1 Fisik 1 : 26 murid(dari 30)


Sisa murid dari kelas 1 Sihir 4 : 27 muird(dari 31)

__ADS_1


__ADS_2