Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 57. Pangeran dalam kurungan End


__ADS_3

Aku dan Stevent berdiri menyenden di pagar teras kelas kami.


Berhubung kelas kami ada di lantai 2, maka teras itu berada di atas.


Di sana kami melihati matahari bersama.


Bukan hanya berdua saja lo. -_-


Murid-murid yang tadi kuajak, kini lebih memilih berada di dalam kelas itu.


"Bagaimana, pak?! Apakah aku sudah melampaui anda?!" Stevent menatapku dengan antusias.


Aku ingin menjawabnya dengan jujur. Kekuatan Stevent memanglah kuat, namun intuisinya untuk dalam pertarungan masihlah lemah.


Kemenangan Stevent tadi hanya disebabkan oleh musuhnya yang lengah. Namun bila dia mencobanya lagi, itu tidak akan mungkin.


"Hmm(mengangguk)... Kau sudah berbeda dari sebelumnya. Caramu dalam mengeksekusi sebuah rencana cukuplah bagus, namun..." Aku mengatakan penilaianku padanya.


"Namun?" Dia kebingungan.


Aku katakan saja, tidak baik bila aku menahannya.


"... Taktik kalian... Tidak akan berfungsi saat melawan sihir kelas atas!" Aku mengatakan sebuah fakta.


Stevent membelalakan matanya ke arahku. Dia tidak percaya kalau semua itu terlihat sia-sia.


"Si-sihir kelas atas? Ke-kenapa tidak mempan?!" Stevent mengangkat kedua bahunya.


Sudah kuduga, ia pasti akan kebingungan dan akan masuk dalam jurang pertanyaan.


"Yang kau... (menggelengkan kepala), yang kalian lakukan tidak lebih hanyalah sebuah trik rendahan!" Aku mengalihkan pandanganku ke lapangan yang ada di depanku.


Stevent menundukkan kepalanya. Rautnya terlihat kesal atas pernyataanku, bibirnya mengkerut dan bunyi "Tch!" Terdengar dari mulutnya.


Aku diam saja, tidak baik mengatakan lebih panjang.


Itu hanya akan menyakitinya saja.


"Aku masuk ke kelas..." Aku pamit pergi ke kelas.


Di dalam kelas, terdapat 7 orang murid yang sedang berbincang-bincang dengan temannya.


Sophia berbincang dengan Moka, Astra dengan Gita, Hakam, dan Maul.


Dahlia terlihat sendirian memainkan ponselnya. Raut mukanya terlihat marah akan sesuatu.


Sebaiknya aku tidak ikut campur terlebih dahulu.


"Ehmm!" Aku berdehem untuk mendapatkan perhatian mereka sambil berjalan ke depan papan.


"Pak Rasyid?"


"Oh?"


Pandangan mereka semua beralih ke arahku.


Tapi tak lama setelah itu, sebuah tangan ingin bertanya diangkat oleh Astra.


"Bagaimana hasilnya, Pak? Apakah kami ada kemajuan? Apakah kerja sama kami bisa dibilang lancar?" Wajahnya yang tersenyum lebar sambil menahan kacamatanya sangat tergambar jelas di sana.


Aku merasa kasihan karena aku harus menghancurkan senyum itu. Tapi itu sudah tugasku, jadi aku tidak peduli.


"Untuk hasilnya..." Aku menyilangkan tanganku sambil memasang wajah layaknya berpikir. "Kalian mengalami kemajuan..." Aku menatap mereka semua dengan datar.

__ADS_1


Kebahagiaan terlihat dari wajah mereka semua.


'Maaf tapi itu tidak akan lama.'


"Hanya sedikit..." Senyum mereka tiba-tiba lenyap. "Bahkan bila diubah ke persen, kemajuan kalian hanyalah 0,001%!" Aku menggebrak papan digital itu.


Mereka terdiam dengan mulut yang masih terlihat membuka karena kebahagiaan tadi. Raut yang tadi dipenuhi kesenangan, kini berubah menjadi penuh tanya.


"Me-menurut anda, kesalahan kami ada di mana?!" Moka berdiri dan menanyakan itu padaku.


Hal itu jelas akan menjadi pertanyaan yang akan ditanyakan.


Dimana kesalahan mereka? Kenapa mereka yang tadi sudah bertarung sempurna masih disebut gagal?


Semua jawaban itu sudah jelas.


Mereka yang tidak pernah melihat sisi terkejam dunia(Dunia orang dewasa) tidak akan pernah tahu kesalahan mereka.


Memang tidak terlihat, namun saat mereka mulai memasuki dunia itu.


Mereka akan segera menyadarinya.


Bahwa kesalahan yang mereka lakukan adalah kefatalan, yang teramat fatal.


Bila mereka abai soal ini, mungkin saja mereka hanya akan dijadikan kambing hitam di saat itu kelak.


Mataku menajam ke arah mereka. Dengan perlahan aku mulai menatapi mereka dari kanan ke kiri.


"Pertama, soal kekompakan... Kalian hanya bisa melakukan serangan combo hanya bila kalian bersama orang yang kalian sudah akrab, kan?" Aku menatapi Moka dan Astra dengan wajah yang seram.


Mereka tidak terlihat bisa membalas perkataanku. 'Hey, ayolah! Lawan kata-kataku!'


"Padahal kalian berada di satu kelas ini sudah selama lebih dari 6 bulan... Tapi kalian masih tidak hapal dengan gerakan pola kawan kalian?!" Aku semakin merendahkan mereka.


Sejujurnya aku ingin mereka berdua melawan perkataanku saat ini.


"Kedua, soal mengingat tujuan dari pertandingan kalian!" Aku menatap Sophia dan Dahlia dengan raut yang kecewa.


Aku tidak akan pilih kasih.


Tanganku kusilangkan dan punggungku kusendenkan ke papan.


"Aku sangat kecewa karena kalian lupa akan goal dari pertandingan kalian! Bagaimana pertarungan yang seharusnya menjadi ajang perebutan bendera lawan malah berakhir menjadi pertarungan biasa?! Kalian berdua hanya akan merusak martabat kalian sendiri bila kalian melakukan kesalahan itu tepat saat ujian berlangsung! Aku hanya berharap... Kalian tidak melakukannya lagi!" Aku menutup mataku dan mengembalikan posisiku ke semula.


Tidak baik bila terus dalam keadaan tegang.


"Ketiga, kalian lambat! Bukan dari kecepatan bergerak melainkan dalam memilih sebuah pilihan! Musuh kalian tidak akan tinggal diam saat kalian berdiskusi seperti tadi! Mereka akan lebih memilih untuk membuat lingkaran sihir tepat di bawah kalian dan membakar kalian semua yang sedang diskusi!" Ungkap kecewa dalam kata-kata.


"Keempat, kalian sering mengalami keadaan lengah! Sudah berapa kali kalian masuk kondisi ini dalam pertarungan tadi?!" Tanyaku pada mereka, tapi tidak ada jawaban dari mereka. "Sangat banyak, bahkan jika kalian melawan kelas fisik sekalipun, kalian akan kalah!" Aku tersenyum merendahkan mereka.


"Kelima dan terakhir, adanya kurang moralitas, etika, dan sopan santun. Aku tidak membicarakan ketiga hal itu ke arah musuh kalian, melainkan ke arah kawan kalian!" Mataku menatap tajam dan kesal.


"Bisa-bisanya kalian menunduk dan merasa tidak peduli saat ditanya siapa yang ingin menjadi ketua tim. Itu sama saja tidak menghargai teman kalian! Jika tidak bisa melakukannya, setidaknya berikan alasannya, soal menyakiti hati kawan kalian setelah kalian mengatakan hal itu merupakan urusan belakang!" Aku mulai berjalan ke belakang kelas melewati mereka semua dengan perlahan.


"Itu setidaknya lebih baik daripada mengabaikan kawan kalian. Bukankah perasaan yang dihiraukan itu sudah pernah kalian rasakan?! Itu sakit, bukan?!"


Saat semuanya sudah kukatakan, aku kembali berjalan ke papan dan menulis sesuatu.


"Aku akan membuat sebuah urutan!"



Moralitas, etika, dan sopan santun

__ADS_1


Kekompakan


Kecepatan memilih.


Fokus


Goal



"Kelima hal ini akan saling berkaitan satu sama lain dan bisa dibilang terstruktur!"


"Nomor kelima tidak akan terjadi bila kalian melupakan ke empat, keempat tidak akan berjalan dengan baik bila kalian gagal dalam ketiga, ketiga akan terjadi dengan baik bila nomor kedua didapat, dan kedua berasal dari pertama!"


Aku menjelaskan maksudnya pada mereka.


"Bila Moralitas, etika, dan sopan santun saja tidak bisa di dapat. Maka semua yang kutulis adalah hal yang tidak mungkin!"


Saat setelah aku menjelaskan itu pada mereka. Raut akan paham maksudnya terlihat disetiap wajah mereka.


Sepertinya berhasil?


"Dan itulah, kenapa point pertama memiliki nilai tertinggi dalam ujian ini!" Aku lebih memperjelasnya.


Namun wajah Astra dan Dahlia terlihat tak paham maksudku.


Aku akan menghiraukannya saja. Soal seperti ini adalah di tangan guru mereka, bukan tanganku.


Paham apa tidaknya mereka bukan urusanku.


......................


Hari mulai gelap, aku tidak boleh membuat murid berada di sekolah lebih lama lagi.


"Sepertinya itu saja yang bisa kukatan!" Aku mengakhiri kelas tambahan ini.


"Moka, kau bisa menyiapkan?" Ucapku menyuruhnya.


Kelas berakhir, dan para murid sudah kembali ke rumah mereka masing-masing.


Entah kenapa aku merasa kalau aku tadi sudah berlebihan dalam menyerang mental mereka. 'Apakah tadi aku melakukan kesalahan besar?'


Tak lama setelah itu, sebuah bayangan terlihat di pintu kelas.


"Stevent?!" Aku menyebut namanya.


"Pak! Tangkap!" Dia melemparkan sebuah sesuatu ke arahku.


Aku menangkapnya, saat kulihat, ini adalah figure yang kucari-cari.


Benda itu sama seperti yang rusak saat diserang para penculik tadi malam.


Meskipun cuman dapat satu, tapi itu mengembalikan kesenanganku.


Aku setidaknya bisa mendapatkannya kembali.


Tatapanku kukembalikan ke arah Stevent.


"Anggap saja itu sebagai ucapan terima kasihku buat anda! Dan ingatlah, suatu hari(mengepalkan tangannya ke arahku)... Aku akan melampaui anda!" Stevent tersenyum lalu pergi dari sana.


Aku tidak bisa berkata-kata dan melihat kepergiannya dari kelas itu, namun tiba-tiba aku tertawa kecil. "Bwa hahahaha!"


"Tenanglah, kau mungkin akan bisa melampauiku! Dan terlebih lagi, ini benar-benar berharga buatku! Benarkan, Tuan Cao Cao?!" Aku menatapi figure itu layaknya orang sungguhan.

__ADS_1


Aku sangat senang saat ini.


Kuharap hal itu juga akan segera mendatangi mereka.


__ADS_2