Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 49. Pangeran dalam Kurungan pt.3


__ADS_3

Aku berjalan meninggalkan Stevent untuk ke suatu tempat. Tempat yang kupikir akan menjadi tempat di mana aku akan menemukan diriku kembali. Semoga saja memang benar.


"Rasyid!" Suara seorang perempuan dari jauh memanggilku.


Aku menoleh ke arahnya, seorang siswi yang bahkan lupa kalau aku sedang berpacaran dengannya berjalan mendekat ke arahku.


"Ha... kupikir anda tidak masuk karena absen?" Dahlia mengatur nafas setelah mengejarku.


"Aslinya seperti itu, tapi tidak jadi. Rapat yang seharusnya diadakan malah batal. Haah..." Aku berbohong seperti biasa sambil menghela nafas untuk lebih meyakinkannya.


"Sayang sekali... padahal sudah ambil ijin." Dahlia terlihat percaya dengan apa yang kukatakan.


"Tidak apa, aku juga sudah membatalkan ijin itu. Tapi aku baru boleh mengajar besok," ucapku tersenyum datar ke arahnya.


"Benarkah, pasti murid anda akan terkejut saat melihat wajah anda kembali." Dia tertawa sampai matanya tertutup karena ingin melihat reaksi murid-muridku.


"Semoga saja tidak, nanti mereka malah mengira aku sedang membuat rencana jahat." Aku bercanda dengannya.


"Tenanglah, wajah anda yang konyol sangat tidak mendukung untuk membuat murid anda percaya, kalau anda sedang melakukan rencana jahat." Dahlia tersenyum mengejek.


"Kau ini ya..." Aku menggosok-gosok rambut Dahlia yang lembut dengan tanganku.


Rambutnya yang diikat membentuk 2 bola sangat menggangguku saat mengelus rambutnya. Kenapa dia memakai gaya rambut seperti itu? Dia akan sangat terlihat bodoh kalau saja dia mengerti trend fashion saat ini.


"Ngomong-ngomong, anda mau kemana sekarang?" Dahlia tiba-tiba bertanya privasiku.


Aku sebenarnya agak terganggu saat dia menanyakan ini, tapi ya sudahlah...


Aku bukanlah kakakku. Kuikuti saja keinginannya, namun masih dalam batas wajar.


"Pergi ke mall, mencari sesuatu..." Aku tidak perlu memberitahunya, nanti dia tahu sendiri saat ke sana.


"Sesuatu apa...?" Tanyanya penasaran.


"Kenapa, kok kepo sih?" Ucapku memancingnya.


Dia cemberut dan melengkukkan bibirnya. Wajah imutnya saat kesal terlihat di depanku.


'Ayolah, dia sudah seimut ini tapi kenapa aku tidak merasakannya?!' Aku hanya bisa menatap datar dirinya.


"Kalau begitu, aku ikut!" Dia merangkul tangan kananku dan tidak akan melepaskannya.


"Jika kau sangat ingin tahu, terserahlah..." Mataku memelas karena sudah tahu ini.


Dengan begitu, aku pergi ke mall untuk mencari sesuatu dengan dirangkul oleh Dahlia. Jika dilihat-lihat, ini sangat memalukan.


Mataku meliriki orang-orang sekitar. Mereka tampak tidak peduli dengan kami, namun ada beberapa mata yang terus mengawasi kami.


Apakah karena keirian? Atau hal lain, mungkinkah itu para pengincar batu akik yang dikatakan Nova?!


Tidak, sebaiknya aku membiarkannya saja. Aku akan berpura-pura tidak memerhatikan mereka saja. Lagipula aku dengar figure di mall itu terbatas, jika saja aku telat maka aku akan kehabisan.


"Ayo..., kita jalan!" Aku memberitahunya untuk bergerak.


"Okeh okeh!" Dahlia masih saja merangkulku dan seperti tidak ada tanda-tanda ingin melepaskannya sebelum tahu tujuanku.


Saat kami sudah sampai, ada sekitar 10 mata yang mengarah kami. Dahlia tentunya tidak menyadarinya. Namun aku sadar, kekuatan Anityaku bisa melihat apa yang mereka lihat.


Sekitar 6 orang yang melirik ke arah kami, semuanya menatapku dengan tatapan tajam. Sedangkan 4 sisanya hanya menatap Dahlia dan aku dengan keirian.


"Ayo Rasyid, mana tempat yang ingin kau kunjungi?" Dahlia tiba-tiba mengganti nadanya dari 'anda' menjadi 'kau'.


"Ada di lantai atas, ayo jalan!" Aku memberitahunya sambil melihati sekitar.


Jumlah mata semakin banyak, tapi yang menatap tajam ke arahku masih sama. Tidak perlu kukhawatirkan lagi, jumlah mereka sudah pasti.


Kami berjalan ke lantai dua dan sampai pada tempat yang kuingin tuju. Toko mainan, terlihat aneh tapi begitulah Nusantara ini masih menggunakannnya.


Beberapa dari mereka masih menggunakan kata 'mainan' untuk menjual figure mereka. Orang-orang juga tidak terlihat mempermasalahkannya, mereka telah terlatih untuk tahu apa yang ada di dalam ruangan mall sebelum komplain ke pihak mall.


"Toko mainan? Bukannya ini toko mainan untuk para OTAKU? Namanya terlihat menipu, tapi sebenarnya ini menjual barang-barang seperti figure, game konsol anime, dan lain-lainnya, kan?" Dahlia menjelaskan tanpa kubutuhkan.


"Hmm(mengangguk), nilai 100 untukmu! Ada figure yang ingin aku beli di sini," ucapku sambil menoleh ke arahnya dengan sedikit tersenyum.


"Oh... figure apa yang akan kau beli, Syid?" Dahlia menatapku kebingungan.


"Cuman sesuatu yang berhubungan dengan sejarah..." ucapku sambil menyembunyikan sedikit kegiranganku karena sudah akan mendapatkannya kembali.


"Aku harap bukan sesuatu yang..." Dahlia mendekatkan mulutnya ke kupingku. "...4no.." tiupan angin mengenai kupingku sehingga membuat kupingku geli.

__ADS_1


"Tenanglah, ini sungguhan figure sejarah." Aku mengatakannya dengan wajah yang sangat terlihat mempercayai.


"Ya sudahlah, ayo masuk!" Dahlia berjalan dengan senyum lebar mendahuluiku ke tempat itu.


"hmm(mengangguk)..." Aku berjalan mengikutinya dengan senyum kecil terlukis di wajahku.


Sampainya di sana, banyak barang-barang yang berhubungan dengan anime berada di rak-rak toko. Semua di sana terlihat masih baru dan belum ada yang menyentuhnya.


Aku membawa Dahlia ke tempat yang ingin kutuju. Sebuah tempat yang kunanti-nanti kedatangannya.


Figure terbatas, karakter tiga negara, mulai dari pemimpin mereka (Cao cao, Liu bei, dan Sun Quan), sampai jenderal kebanggan mereka tepampang di rak-rak itu.


Note: Bentuk karakternya diambil dari Dynasty Warrior 8


"Jadi ini?! Yang anda cari?!" Dahlia menatapku dengan terheran-heran.


"Memang, kenapa?" Tanyaku datar.


"Yah, kupikir saat anda mengatakan karakter sejarah pikiranku langsung ke sana..." Dahlia tersenyum hampa ke arahku.


"Kalau begitu, permisi... Aku sedang mau ambil tangkapan besar!" Aku sedkit membungkuk ke Dahlia sebelum akhirnya membelinya.


Hari sudah gelap, aku sudah selesai berbelanja dan mendapatkan apa yang kuinginkan. Figure yang kubeli merupakan figure para pemimpin di kisah itu, dari Cao Cao, Liu bei, Sun Jian, Sun Ce, Sun Quan, Yuan Shao, Dong Zhuo, Zhang Jiao, Lu Bu, dan Sima Zhao. Masih ada beberapa yang kuinginkan, tapi kamarku terlalu kecil untuk itu.


Sekarang, tinggal membawanya(Dahlia) untuk makan, ya...? Biasanya harus seperti itu bila orang lain bersama pacarnya.


"Wah... anda terlihat berbeda sekali saat di sana!" Dahlia merentangkan tangannya untuk merelakskan dirinya.


Nada bicaranya kembali ke sopan. Mungkin dia hanya melakukan itu bila bersamaku di tempat-tempat tertentu saja.


"Jujur, anda yang seperti itu terlihat lebih menyenangkan dibandingkan yang biasanya. Wajah anda yang tersenyum konyol selalu membawa tawa pada orang sekitar, bahkan pelayan tadi saja kau buat tertawa dengan tatapan konyolmu." Dahlia tertawa keras saat mengingat-ingat apa yang kulakukan di toko tadi.


Aku hanya terdiam sambil tersenyum saat dia mengatakan kalau sisiku yang satu ini agak mengejutkan. Jarang sekali ada orang melihat sisiku yang seperti ini. Bila kuingat, hanya Sophia dan Erika saja yang tahu.


"Tapi, kedua sifat anda. Tetaplah bagian Rasyid, bila salah satu sifat itu hilang. Mungkin Rasyid bukanlah Rasyid." Matanya sedikit menutup melas.


Saat melihatnya seperti itu, aku teringat. Semua yang kulakukan secara tidak sengaja pada muridku saat itu. Itu merupakan dampak dari sifatku yang dahulu kala saat masih dibangku SMA.


Diriku yang suka membantu tanpa pamrih, dan bergerak dalam kegelapan untuk menyelesaikan misteri-misteri di sekolah. Itu semua bagian diriku.


Aku mengangkat kedua tanganku dan menatapinya. Inikah aku yang sebenarnya? Apakah aku sudah kembali? Semoga saja...


"Apa?" Wajahnya tampak bingung.


"Ayo ke kafe dan cari makan?" Aku mengulurkan tanganku mencoba memegang tangannya.


Dia tidak menjawab, hanya tersenyum khas seorang kuudere sambil menggapai tanganku yang kuulurkan.


"Hei hei, lihat apa yang kita temukan di sini?" Seseorang dengan badan tinggi, sangat putih, dan rambutnya pirang menyapa kami.


Orang barat ya? Dia mau cari masalah apa ke sini?


"Seorang guru, dengan muridnya berduaan di malam hari? Apa kalian berpacaran, uh... sungguh cerita yang mesra sekali..." Orang itu melakukan pose-pose aneh yang mengejek.


ZASH


Sebuah tebasan es dari Dahlia melesat ke arah bule itu.


CTANG!


Orang itu menghancurkan bongkahan es dengan tangannya yang diberi sihir api. Wajahnya yang tersenyum merendahkan membuat Dahlia semakin kesal


"Apa yang kau inginkan?!" Dahlia menatap tajam bule itu.


"Oh tenang saja, aku tidak akan melukaimu. Apalagi tuan pacar sedang ada bersamamu." Senyumnya semakin mengesalkan.


"Tapi itu berbeda lagi kalau aku mengepung kekasihmu duluan!" Bule itu mencoba memanggil komplotannya dan menyuruh mereka mengelilingiku.


Kini aku dan Dahlia terpisah, aku masih bisa mendengarkan apa yang mereka katakan. Tapi wajah para bule ini membuatku kesal. Aku dibuat mendongak ke atas hanya untuk melihat tatapan menyebalkan mereka.


"Yo, lokal pendek. Ayo kita sedikit bermain-main..." ucap salah satu dari mereka yang mengejek kependekan tinggi badan dariku.


"Aku sudah dapat informasi tentang Anityamu, jadi jangan melawan mengerti?!" Mereka mencoba mengintimadasiku dengan mengeluarkan sihir es yang mereka pamerkan di telapak tangan mereka.


Seperti biasa, yang mereka dapat adalah informasi palsu yang ada di data sekolahku.


Aku menghela nafas karena melihat betapa bodohnya mereka. Bagaimanapun juga Dahlia sedang dalam masalah. Bila aku tidak menyelamatkannya aku akan dalam masalah.


Sayangnya tas yang kubawa menggangguku. Aku tidak bisa bertarung dengan cara professional jika seperti ini. Kalau begitu aku pakai cara lama saja.

__ADS_1


"CODE NAME: UNKNOWN, DESTROY THE BONE OF EVERY MAN AROUND ME: DO ONLY ONCE, AFTER IT: DO NOTHING" Aku mengucapkan mantra terlarang yang hanya dimiliki 3 orang pemilik Anitya.


"Eh, kenapa badanku?" Mereka mulai meresakan rasa sakit di tubuh mereka.


KRAK!


Semua orang yang mengitariku tersungkur dengan keadaan badan mengalami terkilir mengerikan di seluruh badan mereka.


Bule pemimpin mereka yang masih menggoda Dahlia langsung terkejut setelah melihat bawahannya kukalahkan.


"Bagaimana bisa?! Mereka semua kalah secara seketika?!" Bule itu ketakutan, tapi dia bukannya takut malah datang menghadapku dengan tatapan yang marah.


"Dasar pendek! Berani-beraninya kau!" Dia mencoba mengeluarkan pageblugnya.


DOR DOR DOR


Sekitar 24 tembakan ditembakkan ke arahku.


Aku mencoba menghindarinya dengan berlari menyamping.


PRAKK!


Sayangnya tas berisi barang yang baru kubeli terjatuh dan hancur karena terkena tembakan dari peluru Ak-47 itu.


Mataku meloto tajam pada bule itu dan berlari ke arahnya.


Matanya tidak terlihat takut sama sekali dengan kedatanganku. Dia terlihat malah seperti menyambuntnya.


Aku mencoba melakukan tendengan menengah untuk mengenai perutnya. Namun dia malah menangkap kakiku dan mengeluarkan sihir listrik ke kakiku.


Tentu saja aku kebal terhadap sihir, tapi akan aneh jika Dahlia melihatnya.


Aku membuat sebuah pedang dari tanah yang nantinya kuayunkan ke arahnya.


Seketika buke itu melepaskan kakiku dan mundur ke belakang. Dia tidak sama sekali mencoba mengincar Dahlia, mungkin rencananya sudah berubah sejak aku menghancurkan bawahannya.


Jaraknya sekarang cukup jauh. Mungkin ini saatnya...


"CODE NAME: UNK-


CRATT!


Sebuah pisau dari es yang terbakar mengenai perut bule itu.


Wajah Dahlia yang menatap tajam bule itu terlihat dari sini. Dia seperti sudah muak dengan ocehannya


"Dahlia?" Aku menatap Dahlia yang dengan berani juga ikut bertarung bersamaku.


Aku menutup mataku dan memikirkan tindakanku. Mungkin sebaiknya aku tidak terlalu bergantung pada kekuatan KODE.


Aku mengeluarkan pageblug dan mengaktifkannya. "Dahlia mundurlah! Biar aku yang menyelesaikannya!" Aku menyuruhnya mundur.


Dengan cepat Dahlian mundur dari orang itu dan memberiku jalan untuk menebasnya.


Saat kondisi kurasa aman, aku berlari ke arahnya dan menebasnya secara cepat saat jarak kami berdua sudah kurasa dekat.


SLASH!


Aku menebas tubuh orang itu, dia seketika tepar setelahnya.


Mungkin ini terlalu berlebihan buatnya. Dia bahkan tidak diberi waktu untuk menggunakan sihirnya.


Aku membalikkan badanku dan menatapnya dengan mata tajam.


"Rasyid?! Kau berhasil!" Dahlia datang ke arahku dengan raut muka senang dan secara tidak sadar menggunakan nada itu lagi.


"Tenanglah, mereka bukan apa-apa bagiku!" Ucapku sedikit menyombongkan diri.


Tapi raut mukaku kembali sedih setelah melihat barang bawaanku yang baru saja kubeli. Mereka semua tergeletak di tanah dengan keadaan hancur karena peluru.


Dahlia melihat apa yang kulihat. Tak ada satupun kata yang terpikir olehnya untuk menenangkanku. Yang dia bisa lakukakn hanyalah mengelus pundakku saja.


"Tidak apa, itu hanyalah sebuah figure..." ucapku sambil mengelus balik rambutnya yang lembut.


Mereka sudah bergerak, dan sekarang ini sepertinya mereka mengincar para murid sekolah.


Tatapanku tiba-tiba teralihkan oleh mobil yang membawa seorang siswa di dalamnya.


"Hakam?!" Mataku melebar karena terkejut.

__ADS_1


__ADS_2