Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 29 Arc 1. Penilaian Guru pt. 7


__ADS_3

Aku duduk dibangku penonton. Nama-nama kembali diacak, rata-rata mereka adalah guru kelas lain.


Nama Fredrica muncul di papan itu.


Aku tiba-tiba menegakkan badanku karena sangat tertarik dengan pertarungannya. Terlebih lagi, dia adalah salah satu mantan dari kakakku.


"Halo, Rasyid." Seseorang menyapaku dengan berdiri di sampingku.


Aku menoleh ke orang itu. Seorang ibu muda dengan menggendong bayi tersenyum padaku.


"Haniyah?"


"Lama tidak berjumpa, Syid."


"Jalan-jalan bersama anakmu?"


Salah satu muridku berdiri dari duduknya dan menyilahkan Haniyah duduk.


"Hahaha..., kurang lebih seperti itu. Zulfikri sangat senang setiap kali melihat pertarungan seperti ini." Haniyah duduk di kursi itu.


"Bukannya tidak baik untuk melihatkan anak-anak sebuah pertarungan?"


"Kan tidak ada darah? Meskipun aku tidak tahu bagaimana cara Anitya bekerja..., setidaknya kini aku bisa lebih tenang. Zul tidak akan perlu melihat darah seperti saat-saat itu."


"Tapi dia masih di bawah umur..., Anitya baru boleh disuntikkan ketika anak-anak berumur di atas 5 tahun."


"Tenanglah, dia akan selalu aman dipelukanku."


Aku dan Haniyah duduk bersebelahan saling bercanda.


Haniyah adalah istri dari Jauhari, dia juga merupakan teman sekelasku dan Jauhari saat masih dibangku SMA. Saat ini, dia sedang menyembunyikan sedihnya setelah ditinggal Jauhari. Pasti sulit disuruh membesarkan anak sendiri tanpa bantuan seorang suami.


Saat sebelum Jauhari menghembuskan nafas terakhir, aku dan dia sempat berbicara.


"Waktumu tidak akan lama lagi, Jauhari..." Aku menatap tubuh Jauhari yang terbaring di kasur rumah sakit dengan kosong.


"Tidak apa, jika ini sudah takdir. Biarkan Tuhan mengambil nyawaku." Dia tersenyum meskipun selang infus menusuknya.


"Apa yang akan terjadi pada istrimu? Dia pasti akan kesulitan mengurus anak sendiri lo..."


"Aku juga takut memikirkan itu-..."


"-Mungkin ini egois bagiku, tapi kumohon. Saat anakku tumbuh dewasa, bisakah kau ajarkan dia menjadi petarung handal sepertimu?"


"Dengan senang hati, aku juga akan membantu finansialnya juga jika kau mau."


Jauhari memegang tanganku. "Tidak perlu, itu saja sudah cukup."


"Bagaimana denganmu? Apa kau sudah ada kemajuan?" Jauhari bertanya dengan lemah.


"Hmm..." Aku tersenyum dan mengangguk, tapi semuanya adalah bohong, aku tidak sama sekali mengalami peningkatan sama sekali.


"Begitu ya, kelak suatu hari. Kau mendapatkan apa yang kau butuhkan." Dia sadar bualanku, tapi tetap tersenyum.

__ADS_1


Jauhari perlahan melepas tangannya padaku dan menutup matanya.


Aku keluar dari ruangan itu masih dengan tatapan kosong. "Selamat tinggal, Jauhari...," suara lirirhku mengiringi jalanku.


Kembali ke saat ini.


"Jika Zul sudah tumbuh dewasa, aku akan menjadi guru personalnya." Aku mengatakan sesuatu yang kupegang menjadi janjiku.


"Benarkah? Kalau begitu, terima kasih." Haniyah tersenyum.


Kami berdua menonton jalannya pertandingan antar Fredrica dan guru kelas 3 fisik 5. Guru itu bernama Meri Andika, merupakan seorang pengguna tombak dua sisi.


Mereka berdua bertarung dengan keadaan yang saling menekan satu sama lain.


"ngomong-ngomong, siapa tante di sebelah anda, Pak Rasyid?" Sophia yang dari tadi duduk bergeser dariku menjadi ke sebelah Haniyah akhirnya bertanya.


"Anu..., jangan panggil tante bisa?" Haniyah tersenyum kesal.


"Dia istri temanku." Aku menjawab dengan senyum untuk menenangkan mereka berdua.


"Kemana suami anda?" Dia bertanya dengan polos.


Haniyah hanya tersenyum sambil membalikkan pandangannya ke pertandingan. Zul yang mendengar kata ayah langsung menangis. "Huaaa!"


"Heee? Aku berbuat apa?" Sophia terkejut.


"Dia sudah meninggal..." Aku mengatakan itu agar dia tidak semakin ngerocos.


Sophia langsung terbelalak dan meminta maaf. "Maafkan aku atas kelancanganku!" Dia menundukkan kepalanya karena malu.


Haniyah berdiri. "Sepertinya Zul sudah mengantuk, aku akan pulang ya, maaf sudah mengganggu. Selamat tinggal." Haniyah pergi dari alun-alun meninggalkan kami.


Mata Sophia masih tidak berani bertemu denganku. "Maaf..., apakah tadi itu menyakiti hatinya?"


"Mungkin, tapi itu sudah sering terjadi..., kuharap dia kuat."


Aku tidak tahu seberapa kuat atau lemah hatinya saat ini. Setidaknya saat ini, aku tidak boleh lengah mengawasinya. Hal buruk mungkin akan terjadi pada Zulfikri.


"Tenanglah..., kau tidak salah bila bertanya. Saat kau merasa bersalah karena sudah melakukannya saja sudah cukup." Aku mengelus rambutnya.


Aku melihat wajah Sophia memerah saat aku melakukannya.


Sophia mendangakkan kepalanya dan tersenyum ke arahku. Dia menjadi lebih jinak daripada sebelumnya.


"Kenapa atmosfer di sini jadi panas?" Stevent bertanya-tanya pada sekitar.


"Ini di alun-alun, makanya panas." Hakam menjawab secara logis tapi salah mengerti pertanyaan tuannya.


"Mungkin ini yang disebut gombal warming." Gita menjawab benar tapi tetap salah tangkap.


"Itu global warming. Lagian tidak ada yang nyambung." Moka menahan keningnya.


"Terserahlah, biarkan saja mereka." Stevent menyilangkan badannya dengan pasrah karena tidak ada yang nyambung saat diajak bicara.

__ADS_1


Moka hanya bisa tersenyum paksa ke arah Stevent.


 


"HYAAGHH!" Suara erang dari arena terdengar keras.


Tubuh Fredrica terpental setelah terkena angin kencang yang dibuat Meri dengan memutarkan tombaknya dengan cepat.


Meri tidak menyianyiakan kesempatan.


Dia maju dan memutar-mutarkan tombaknya layaknya sedang menari ke arah Fredrica.


Sebuah tebasan angin merobek tubuh wanita malang itu.


Fredrica tidak bisa bertahan menggunakan pisaunya yang pendek. Typenya sama seperti Moka, dia harus pintar menghindar dari pada bertahan. Tapi di situasi seperti ini, mustahil buatnya untuk bergerak, bahkan bangkit dari tubuhnya yang terbaring.


Meri melompat dan menusuk tubuh Fredrica yang terbaring. Sebuah pusaran angin yang membentuk bor berputar menembus tubuhnya.


Fredrica pingsan karena mendapat trauma. Seperti yang dikatakan, guru kelas 3 suka main kotor. Bahkan mereka dengan tega membuat lawannya mendapat trauma seperti itu.


"SERANGAN YANG SANGAT DAHSYAT!!! FREDRICA SAMPAI PINGSAN BEGITU SAJA SETELAH MENERIMANYA!!! PEMENANGNYA ADALAH MERI ANDIKA DARI KELAS 3 FISIK 5" Bahar menyatakan pemenangnya.


Suara sorak penonton terdengar tapi tidak sedikit juga yang pergi karena terlalu ekstrem. Mereka pergi membawa anak-anaknya.


"Wah mengerikan sekali..., Guru itu tidak tahu cara bertindak lembut pada wanita." Moka menggigit jarinya setelah melihat kejadian itu.


"Mereka semua sangat licik." Mata Sophia melebar.


"Bisa dibilang ini adalah dunia dewasa. Mereka tidak peduli, pria atau wanita, yang terpenting adalah diri sendiri." Aku mengatakan itu dengan tenang sambil melihat tubuh berlubang Fredrica yang dibawa oleh tim medis keluar dari arena.


Aku melihat ke arah kelasnya Erika untuk melihat ekspresinya. Namun dia tidak ada dibangkunya.


Mataku menelusuri jalan dari bangku-bangku di alun-alun. Akhirnya, aku menemukannya di antara para pengunjung yang pergi. Dia berlari dengan khawatir menuju Fredrica.


"Kau terlalu baik, Erika. Padahal kau sudah tahu keburukannya...," aku berbisik pada diriku sendiri.


Sementara itu, di tempat operator komentator. Bahar dan Presiden sedang duduk di sana.


"Menakjubkan, aku mau lihat bagaimana Rasyid akan menghadapinya. Sebuah simponi apa yang akan terjadi? Jika melawan Lodo saja sudah membuat pertunjukan cahaya yang memukau, apalagi di final." Presiden tersenyum dari ruangan itu.


Di sisi lain, sekumpulan siswa yang tadi, sedang mengawasiku lagi.


"Hey Dahlia, cari informasi soal guru itu!"


"Siap laksanakan, Ketua Astra Arjuna." Siswi berambut yang diikat seperti sepasang bola itu membuka laptopnya.


Aku yang merasakan bahaya langsung mematikan Anitya siswi itu. "CODE NAME: DAHLIA K2M4, REMOVE ANITYA FOR 5 MINUTES. IF 'TRY TYPE MY NAME'. IF NOT, 'DO NOTHING'." Aku mengucapkan sebuah kode.


Siswi bernama Dahlia itu langsung pingsan saat mencoba menulis namaku di laptop. Orang yang Anitya-nya terlepas akan mengalami pingsan sebentar.


"Woy Dahlia?! Apa yang terjadi?!" Astra menahan tubuh Dahlia yang tumbang.


Laptopnya yang dia pakai jatuh dan rusak. Mata Astra melihat ke arahku. Kami saling bertatapan meskipun jarak kami berdua sangat jauh.

__ADS_1


Astra langsung ketakutan saat aku mengetahui niatnya. 'Jangan coba-coba mengorek namaku, paham?' Tatapanku memberi sebuah isyarat padanya.


Astra dengan kepala yang sudah bermandikan keringat mengangguk dengan gugup lalu pergi bersama kelompoknya.


__ADS_2