
"Aku mencintaimu..." Dahlia mengatakan itu dengan sangat merona sambil menahan malu.
Sebuah kata-kata yang tidak pernah kudengar semenjak cukup lama. Biasanya para pria akan sangat senang mendapatkan pernyataan cinta dari seorang wanita.
Sayangnya, saat ini aku tidak merasakan apa-apa. Meskipun Dahlia sudah menciumku sekalipun, tidak ada perasaan spesial yang membuatku tertarik padanya.
Aku menatap Dahlia dengan wajah datarku. Sebuah jawaban harus kuberikan padanya, aku tidak boleh berbohong soal ini. "Maaf, aku tidak bisa." Aku menatap Dahlia dengan mataku yang melirik ke samping.
Aku sudah siap untuk dipukul.
Aku sudah siap dicap sebagai kejam karena telah membuat anak ini menangis.
Aku hanya bisa berserah diri pada takdir.
Aku menutup mataku menunggu reaksinya.
Terkena serangan fisik maupun mental sudah biasa bagiku. Aku tidak akan kesakitan meskipun sesakit apapun itu.
"Ternyata memang tidak bisa, ya?" Dahlia tersenyum sambil menahan air mata.
Mataku terbuka dan terkejut. Dia mengatakan sesuatu yang diluar dugaanku. Kenapa dia hanya tersenyum seperti itu, bukankah itu menyakitkan bagimu?
Tanpa kusadari, mulut Dahlia melengkung membentuk senyuman yang terlihat kejam.
"Aku sudah melihat masa lalumu, Pak..." Dahlia menatapku dengan senyumannya.
Tubuhku merinding mendengar pernyataannya. Apakah itu juga efek dari Kode?
"Saat anda melakukan entah apalah padaku saat penilaian guru. Aku merasakan sesuatu masuk pada diriku, dari sana aku juga tahu kalau itu terjadi karena ulah anda. Semua ingatan anda tentang wanita itu, wanita yang merupakan mantan kekasih anda yang tercuri oleh temanmu. Aku melihatnya...." Dahlia tersendat sambil menundukkan kepalanya. "Aku melihatnya, bagaiamana kau membunuh mereka berdua dengan sihirmu. Mereka berdua terbakar jadi abu tanpa meninggalkan sedikitpun jejak." Kekosongan di mata Dahlia bukanlah kebohongan.
Dia benar-benar melihat masa laluku dari serangan KODE yang kulakukan saat itu.
Secara refleks aku yang ketakutan langsung mengeluarkan pageblugku keluar dari sakuku untuk berjaga-jaga.
Keringat keraguan turun dari wajahku. Tanganku bergetar saat rahasia itu didengar oleh orang lain. Pastinya mereka yang melihat itu hanya bisa berkata.
"Kau bodoh sekali, dasar tidak peka pada pacar. Kau pantas menerimanya!"
"Ha ha ha, konyol sekali. Kau ketikung?! Mungkin itu karena kau kurang saja?! Ha ha ha!"
"Kau pantas mendapatkannya, karena bla bla bla."
Kata-kata terakhir mereka teringat dalam pikiranku.
Apakah aku harus mengayunkan pedangku pada muridku sendiri? Dilema menghantuiku, aku hanya menahan gigiku.
"Tenang saja, aku akan bilang sekali lagi." Dahlia mengatakannya dengan datar. "Aku mencintaimu, ayo kita bersama-sama mengobati trauma kita." Suara Dahlia yang mengulurkan tangannya ke arahku terdengar seperti ingin meminta tolong.
"Trauma kita? Tunggu, apakah kau juga pernah mengalami hal yang sama?!" Ucapku kaget.
Sesuatu hal yang tidak kupikir ternyata pernah terjadi pada gadis dengan wajah datar namun murah senyum ini.
Dahlia memaksa senyumnya untuk keluar. "Tidak, masalahnya berbeda tapi sama-sama membuatku takut akan berhubungan dengan para laki-laki." Dahlia menahan dadanya yang seperti sedang kesakitan.
"Para lelaki?" Aku menahan kata-kataku, seketika insiden yang terjadi pada Sophia teringat padaku. "Apakah kau-?!" Aku tidak mungkin berkata 'Apa kau pernah dilecehkan?!'
"Apakah kau... pernah mengalami kejadian buruk saat bertemu pria?" Aku mengubah kata-kataku.
"Mungkin seperti itu, sesaat sebelum kesucianku jadi korban. Seseorang menolongku, dia menghancurkan para lelaki yang mencoba menyerangku dengan sekali tembakan panahnya. Tangan lembutnya yang mencoba memegang tanganku teringat jelas padaku. Sejak saat itu, orang itu selalu kuanggap sebagai seorang pangeranku." Dahlia menatap ke langit sambil meneteskan air matanya.
__ADS_1
Aku tidak terlalu mengerti apa yang terjadi, tapi pangeran yang ia maksud pasti Astra. Dia satu-satunya laki-laki yang dekat dengan Dahlia, dan juga saat penilaian guru, Dahlia tanpa banyak kata langsung menuruti kata-kata Astra.
Aku menutup mataku yang datar. Di dalam kegelapan itu, aku berpikir sambil menentukan keputusan.
Di dalam kegelapan itu aku juga berpikir seusatu. 'Aku menjadi sesuatu yang paling kubenci.'
Jawaban sudah kudapatkan, aku membuka mataku. "Jadi kau lebih memilihku daripada Astra, kenapa?"
Aku merasa bersalah karena melakukannya. Meskipun aku tidak melihat Dahlia sebagai lawan jenis, tapi aku tidak bisa juga melepasnya.
Kekuatan KODE ini terlalu rumit.
"Kenapa anda mengatakan itu, bukannya anda yang membuatku seperti ini?" Dahlia mendekatkan wajahnya padaku.
Wajahnya yang malu-malu terlihat jelas dimataku, ini sudah terlalu dekat. Meskpun wajahku datar seperti biasanya, tapi suasana ini akan membuat orang lain salah paham.
Matahari terbenam di balik bayangan siswi yang ada di depanku. Gelapnya dunia sudah mendatangi alun-alun itu. Para pengunjung mulai meninggalkan tempat itu.
Sepertinya tidak ada pilihan lagi. Aku sudah melakukannya, tanggung jawab harus kulakukan.
Aku menghela nafasku dan menatapnya. "Baiklah, aku turuti saja keinginanmu saat ini, tapi ingat jangan harap sesuatu yang disebut kepekaan padaku. Kau tidak akan mendapatkannya." Aku menatap Dahlia dengan ekspresi datarku yang terlihat konyol, meskipun begitu rona di pipiku tetap tidak keluar.
Dahlia memundurkan wajahnya yang dekat denganku dan tersenyum yang membuat matanya tertutup. "He he he..." Dia tidak bisa berkata apa-apa selain melebarkan senyumnya yang malu, tapi itu tidak perlu buatku. Wajahnya yang merah sudah menjawab segalanya.
Dahlia kembali duduk di pinggirku dan senden ke bahuku. Tangannya merangkul tanganku, dia memegangnya dengan sangat lembut tapi juga kuat. Tanganku akan sulit lepas dari ikatannya.
"Aku ingin bersamamu sedikit lebih lama." Dahlia tersenyum bahagia sambil menutup matanya.
Aku hanya bisa melihatnya yang senang sambil mengawasi sekitar. Suara-suara dari para muridku juga sudah menghilang. Apa yang terjadi, kenapa mereka mundur?
Pikiranku sudah berat untuk memikirkannya saat ini. Aku membiarkannya, dan memfokuskan diriku pada Dahlia.
Dalam pikiranku aku bertanya. 'Inikah yang terbaik buatku?'
Saat itu di pesta.
Sophia berjalan ke arah Erika yang duduk sendirian menatapi ponselnya sambil tersenyum-senyum sendiri. Rasyid dan guru-guru lainnya sudah pulang duluan.
"Selamat malam, Bu Erika." Sophia menyapa gurunya dengan sopan.
Meskipun Sophia terlihat tersenyum tapi niat jahatnya terlihat dari wajahnya.
"Ah, selamat malam, Sophia. Maaf ibu sedang melamun terus hari-hari ini," ucap Erika yang terkejut sambil menutup layar ponselnya.
Erika menutup layar ponselnya yang berisi artikel tentang mental manusia.
"he he he, tidak apa. Beban pikiran itu hal yang normal." Sophia terkikih kecil.
"Jadi ada apa, Sophia?" Erika menanyai Sophia dengan senyum lebar di wajahnya.
Sudah lama sekali sejak terakhir kalinya mereka berdua berbicara. Jika diingat, terakhir kali mereka berbicara satu sama lain tepat setelah kejadian Fajri.
"Maaf kalau agak tidak sopan, tapi apakah anda dengan Pak Rasyid berpacaran?" Sophia bertanya dengan ragu.
Tak lama setelah itu, matanya menatap tajam wanita itu, dia serius ingin mengoprek-oprek isi pikiran gurunya sendiri.
Erika yang mendengar itu langsung membeku sambil mengeluarkan keringat di wajahnya.
__ADS_1
"Pa-pacaran? Mana mungkinlah aku bersama si pembawa masalah itu! Ha hahaha." Erika mengelak dengan muka yang sudah kayak tomat.
Sophia terdiam mendengar jawaban guru itu, tapi dia mencoba membuat guru itu berbicara lebih dalam lagi.
"Oh benarkah, padahal rumor di sekolah sudah tersebar luas." Sophia melengkungkan mulutnya.
"Eh?! Tersebar luas?! TIDAK TIDAK TIDAK!" Erika panik saat mendengarnya.
Yang dikatakan Sophia adalah kenyataan, tapi rumor tetaplah sebatas rumor. Sudah tidak ada yang membicarakannya lagi semenjak seminggu ini.
"Tenanglah bu, itu cuman rumor!" Sophia memegangi bahu Erika yang sudah tak terkontrol.
Sesaat kemudian, Erika akhirnya sudah tenang dan bisa mengatur nafasnya.
Sophia menjadi merasa bersalah setelah mengatakan itu, matanya memelas dan khawatir.
"Sudah tenang?"
"Sudah!" Erika mengangkat jempolnya.
"Kembali ke masalah, apakah ibu menyukainya!"
"Heh? Ke-kenapa kamu memaksaku untuk membahas guru menyebalkan itu?" Erika memundurkan wajahnya yang memerah.
"Karena aku menyukainya!" Sophia memegang dadanya dengan wajah yang serius. "Makanya aku harus memastikannya, apakah anda adalah sainganku atau bukan!"
Mata Erika terbelalak setelah mendengar pernyataan Sophia. Murid yang dia pikir akan membenci seorang laki-laki karena kejadian itu malah menyatakan tepat di depannya kalau dia mencintai orang yang sama.
Erika menarik nafasnya lalu membuangnya.
"Aku juga menyukainya..." suara Erika pelan tapi cukup terdengar oleh Sophia.
Erika yang mengelak soal hubungannya dengan guru itu, langsung berbalik dan mengatakan yang sebenarnya.
"Tapi, jika aku ingin bersamanya, akulah yang harus menembaknya duluan. Karena dia tidak mungkin/akan melakukaknnya" Erika mencengkram dadanya dengan sedih.
Sophia melihati kesedihan Erika yang duduk di sofa itu. Kata-kata yang dikatan saat sebelum pesta oleh orang yang dicintainya teringat di kepalanya. Bagi orang itu, Erika hanyalah penyelamatnya.
Kenapa orang itu hanya bisa berpikir sejauh itu? Apakah dia punya maksud lain sehingga hanya bisa menganggap Erika tidak lebih dari itu?
Pembicaraan itu terus diingat oleh Sophia yang saat ini sedang berjalan pulang menggunakan mobil milik Stevent bersama teman-temannya. Dia pikir lawannya hanyalah guru itu, namun banyak hal yang diluar nalarnya sehingga membuatnya lengah.
Siswi itu hanya menahan tangisnya di dalam mobil itu.
Besok paginya, aku diajak muridku bertemu.
Anak itu duduk menungguku di lorong kota sambil mengelap busurnya dengan lap.
Aku berjalan pelan sambil memasukkan tanganku di saku untuk berjaga-jaga.
Aku sudah mengantisipasi ini akan terjadi.
"Kau datang juga akhirnya, Pak Rasyid." Mata tajam Astra menatapku dengan perasaan marah.
Dia mengarahkan busurnya ke arahku seperti siap memanah isi kepalaku.
Aku sudah bersiap untuk ini. Mari kita lihat seberapa sejatinya dirimu.
__ADS_1