Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi

Aku Dipaksa Menjadi Guru di Sekolah Petarung Bergengsi
Episode 93. Paksaan


__ADS_3

Di ruangan tunggu, aku dan murid-muridku sedang bersiap untuk ujian siege battle yang akan di mulai hanya dalam hitungan menit.


Mataku menjelejah dari wajah ke wajah para muridku. Dari apa yang kutangkap sekarang, mereka sudah tidak terlalu memikirkan kejadian kemarin.


Tak kusangka mereka akan melupakannya secepat ini? Apakah kemanusiaan sudah semakin mundur?


Saat Anitya belum ditemukan, melihat kematian adalah hal normal. Seharusnya setelah Anitya keluar, kematian menjadi hal langka dan mengerikan.


Tapi sepertinya semua terlihat berbeda dari apa yang kupikirkan. Wajah mereka tidak terlihat seperti itu. Mereka malah lebih fokus ke ujian ketimbang mengingat masa lalu.


Entah ini karena langkah untuk terus maju tanpa melihat kebelakang, atau mereka memang tidak peduli. Yang terpenting saat ini, mereka sudah tidak memikirkannya lagi.


Tunggu...


Dimana Sophia?


Aku baru menyadari kalau sejak awal aku belum melihat batang hidungnya sama sekali.


Pandanganku terus menjelaja ke setiap sisi ruangan, namun hasilnya nihil.


Akan gawat bila anak itu menghilang. 30% sumber kekuatan kelas ini berasal darinya. Jika dia absen saat ini, maka kelas hanya tersisa 70% atau kurang kekuatan.


"Anda mencari siapa, pak?" Gita yang daritadi diam saat awalan tiba-tiba menanyaiku.


"Kau tahu, 'kan?"


Tidak perlu berlagak bertanya. Anak ini pasti tahu apa yang sebenarnya kucari.


"Jika anda mencari Sophia, maka anda hanya akan hanya akan membuang-buang waktu."


"Kenapa?"


Aku terkejut dengan maksud Gita. Jarang sekali dia mengatakan hal yang negatif padaku di saat-saat seperti ini.


Saat mau menjawab, Gita menatap papan peta yang ada di ruang tunggu itu. "Mau bagaimana lagi, para murid di kelas-kelas ini seketika sudah melupakan apa yang terjadi waktu itu. Sophia yang menjadi yang satu-satunya selamat merasa dia dikucilkan."


Ternyata apa yang kutakutkan menjadi kenyataan. Para murid yang sudah melupakan insiden saat itu malah akan membuat Sophia tertekan karena merasa dia terlupakan.


"Tak ada yang mau bicara dengan anak itu(Sophia)..." Gita menambahkan. "Moka, Stevent, Hakam, dan aku sudah berusaha agar membuatnya bicara. Namun itu kurasa tidak cukup. Apalagi setelah mendengar berita kalau anda dibebas tugaskan dari posisi mengajar. Dia langsung down akan itu."


"Sungguh merepotkan..." ucapku sambil mencoba pergi.


"Mau kemana anda?" Gita menghentikanku.


"Tentu saja mencarinya!"


Bukankah ini adalah hal yang jelas? Lalu kenapa dia mencoba menghalangiku?


"Sebelum bapak seenaknya pergi dan meninggalkan kami tanpa pengawasan. Saya ingin bertanya satu hal pada anda." Nada bicara Gita berubah serius, dan tatapan mata yang diberikannya padaku bagaikan menyayatku.


Gita yang terlihat easy going, telah berubah menjadi mode serius. Jika dia sudah masuk mode ini. Maka arah pembicaraan akan berubah serius.


Aku harus mendengarkannya dan jangan buat langkah yang salah. Kemungkinan aku malah akan merusak segalanya bila aku gegabah.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" Tanyaku balik dengan berkeringat.


"Menurut anda... Sophia itu apa?"

__ADS_1


Sebuah pertanyaan simpel tapi sulit dijawab. Aku tidak bisa langsung jawab kalau dia adalah muridku begitu saja.


Jawabanku harus yang spesifik. Namun bila terus kupikirkan, aku malah tidak menemukan jalan keluarnya sama sekali. Yang kutemui setiap saat hanyalah jalan buntu.


Setiap kali aku mengingat namanya, yang kupikirkan dia adalah muridku yang pertama kali melihat eksistensiku sebagai guru.


Sejak kuselamatkan dia dari Fajri saat itu, dia terlihat berubah sedikit demi sedikit. Banyak yang bilang, bahkan Erika sekalipun mengatakan kalau Sophia adalah anak pendiam. Hawa keberadaannya bagaikan ratu es yang sulit didekati.


Banyak yang bilang, kalau Sophia sudah berubah dan berubah. Sifat pendiamnya mulai hilang dan menjadi aktif layaknya murid seperti biasanya.


Apakah itu karenaku? Tidak, atau karena sebuah uluran tangan?


Seketika mulutku terbuka dan menatap wajah muridku. "Aku tidak tahu Sophia bagiku itu apa, tapi yang kutahu. Dia adalah muridku!"


Aku menepis ucapan Gita. Aku memang tidak tidak tahu bagiku Sophia itu apa. Tapi yang kutahu saat ini, dia sedang kesulitan. Maka aku sebagai guru harus segera menyelesaikannya.


"Berhentilah..." Gita mengeluarkan nada yang dingin. "Saya agak kecewa, anda sudah berubah, pak. Anda yang dulunya selalu sediki-sedikit pakai nalar. Sekarang malah selalu melakukan apapun dengan gegabah. Kemana Pak Rasyid yang dingin dan menakutkan itu?! Kenapa dia saat ini menjadi jenaka dan lemah seperti ini?!"


Kalimat Gita menyayatku sampai ke hati. Dia mengatakan sebuah fakta. Fakta kalau aku sudah lebih bergerak sesuai perasaan ketimbang logika. Jika ini aku yang dulu, maka aku akan diam dan menunggunya kembali.


Dan jika dia masih tidak kembali juga, aku akan mulai berpikir dan mencari cara. Baru saat sebuah ide kutemukan, aku bergerak mencarinya.


Mendengar apa yang Gita katakan membuatku yang sedang memegang gagang pintu langsung melemas.


Gagang yang kupegang langsung kulepas dan kembali menatapi para murid-murid yang mengobrol soal ujian ini.


"Anda paham, 'kan?" (Gita)


Mungkin ini adalah waktunya, aku sebaiknya merencanakan apa yang seharusnya mereka lakukan di ujian ini ketimbang memikirkan murid itu.


Langkahku mulai bergerak ke meja yang berada di tengah-tengah ruangan itu. Di atasnya ada sebuah miniatur dari bentuk Istana Tyas yang akan dipakai untuk bertarung.


"Semuanya, bisa kuminta perhatian kalian sebentar?!" Ucapku dengan volume tinggi.


Para murid melihat ke arahku yang ada di samping meja.


Saat mereka mengerti maksudku, mereka berkumpul mengelilingi meja itu. Strategi, itu adalah yang harus dilakukan saat ini.


......................


"Strategi, apakah kalian sudah memikirkannya?" Tanyaku untuk memastikan.


Mereka saling menatap satu sama lain dengan bertanya-tanya. Itu menjawab kalau mereka belum memikirkan ini sama sekali.


"Kalau begitu, kita mulai dari sini!" Tunjukku pada sebuah gerbang utama yang mengelilingi istana itu.


"Di sini, sebuah gerbang yang terbuat dari baja berdiri."


"Kalian bisa melompatinya dengan sihir elemen kalian, tapi melakukan itu malah akan berakhir dengan kalian yang meninggalkan teman kalian di belakang sana."


"Jadi, aku menyarankan kalian membuat sebuah Ram dengan sihir es atau tanah untuk membuka paksa gerbang itu!"


"Apakah ada yang dipertanyakan?"


Aku menjeda penjelasanku untuk melihat apakah ada yang bertanya atau tidak.


Tak lama, salah satu murid mengangkat tangannya. "Kenapa kita tidak membuat tangga menggunakan sihi es tau tanah saja?" (Murid 1)

__ADS_1


"Itu pertanyaan bagus!"


"Kenapa kalian tidak melakukak itu? Jawabannya simpel, karena jika kalian mencoba melakukan itu. Maka kalian akan menjadi sasaran empuk untuk para murid dari kelas lawan yang menggunakan senjata jarak jauh!"


"Saat di atas dinding, kalian tidak hanya akan melewati dinding itu. Para penjaga akan menembaki kalian sampai jatuh. Jatuh dari ketinggian akan menguras kesadaran kalian dan membuat kalian keluar dari pertarungan!"


"Pertanyaan pertama sudah bapak jawab! Apakah ada pertanyaan lagi?!"


Kini tidak ada yang mengangkat tangannya.


"Kalau begitu, mari bapak lanjutkan!"


"Setelah masuk, kalian akan berada di halaman istana. Gunakan beberapa fasilitas di sana untuk berlindung dari tembakan-tembakan dari menara pengawas yang berada di puncak istana."


"Di sana kalian juga akan memulai pertarungan sengit! Pihak lawan jelas akan mengeluarkan beberapa anggota untuk menghadang kalian!"


"Di saat itu, sebisa mungkin bertarung dengan 2 lawan 1. Jangan mengeroyok mereka, kalian hanya akan berakhir menyerang satu sama lain jika kalian memaksa melakukan hal bodoh seperti itu!"


Para murid kelihatannya paham akan maksudku.


"Saat itu, setelah para penjaga berhasil dikalahkan. Kalian tinggal membuka paksa istana itu, gunakan ram atau tinggal bakar saja juga tidak apa-apa!"


"Kalian yang bisa terbang atau berjalan di tembok menggunakan elemen angin, cahaya, atau es bisa mencoba masuk lewat balkon kerajaan dan membuat serangan kejutan."


"Membuat serangan kejutan tidaklah mudah, para penjaga jelas sudah memikirkan langkah kalian yang akan masuk lewat balkon!"


"Jadi sebisa mungkin, bersiaplah untuk yang terburuk saat memilih rute itu!"


"Jika kalian berhasil lewat balkon, maka sebaiknya mereka yang ada di sana menunggu rekan kalian yang lainnya masuk lewat pintu depan.


"Saat rekan kalian masuk dan berhadapan dengan sang pemimpin, mereka yang ada di balkon segera turun dan menutup jalan keluar pemimpin itu. Buat pemimpin mereka terjebak dan kalahkan."


Apa yang kutakan terlihat gampang, tapi sulit dilakukan. Akan ada banyak hal yang membuat ini sulit.


Pertama, jumlah siswa yang gugur di sana tidak kuhitung


Kedua, aku tak tahu strategi apa yang akan Ryan gunakan.


Ketiga, aku hanya tahu bentuk luar istana ini dari miniatur yang ada di depanku.


Apa yang berada di dalam dan bagaimana denah ruangannya, aku tidak tahu sama sekali.


Aku mengerti soal muridku tapi tidak paham soal musuhku. Maka kemungkinan menang adalah 50:50.


Ini taruhan yang menyusahkan.


Tak lama setelah aku memberikan arahan. Hakam mengangkat tangannya untuk bertanya. "Pak, saya mau tanya."


"Tanya apa?"


"Soal pemimpin kita, siapa yang dipilih?"


Ternyata mereka belum memikirkannya. Padahal aku sudah memberitahu mereka berempat kalau hal seperti ini haruslah secara sukarela bukan karena paksaan.


Mendengar pertanyaan Hakam tadi, aku menoleh ke arah empat orang yang kuanggap pantas mengisi posisi itu.


"Hakam, Stevent, Moka, dan Gita... Pilihlah salah satu dari mereka!" Ucapku kepada para murid yang berkeliling di antara meja itu.

__ADS_1


Siapa yang akan menjadi ketuanya?


__ADS_2